Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Rubah Wanita Itu!


__ADS_3

Setelah makan siang selesai, Carissa pamit undur diri untuk segeara pulang.


"Nyonya, terimakasih atas makan siangnya." kata Carissa santun.


"Ih, jangan panggil Nyonya. Panggil Tante Tamara aja." kata Bunda Tamara hangat lalu memeluk tubuh gadis cantik yang sudah menyelamatkan nyawanya.


"Iya, Nyon.... Tante." jawab Carissa sungkan.


"Jangan sungkan. Kamu sudah sangat berjasa dalam hidup tante. Coba kalau gak ada kamu tadi, Tante gak tau seperti apa jadinya."


"Atau kamu mau manggil, Bunda? Siapa tau kamu mau jadi menantu, Tante." ucap Bunda Tamara dengan tawa kecil.


Devian yang mendengar itu langsung melotot tajam ke arah Bunda Tamara meminta penjelasan.


Carissa hanya diam lalu tersenyum tipis.


"Terimakasih, Tante." ucap Carissa beranjak pergi lalu menjabat tangan dan mengecup punggung tangan Bunda Tamara.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam, Carissa cantik." jawab Bunda Tamara lalu tersenyum manis kepada Carissa yang sudah melangkah menjauh.


"Bunda apa-apaan sih tadi. Gimana kalau gadis itu kepedean." omel Devian kepada sang Bunda.


"Ih, kenapa? Kan Carissa cantik, baik hati juga." jawab Bunda Tamara.


"Bunda jangan tertipu dengan rubah wanita itu." ucap Devian kesal.


BUK!


Bunda Tamara tak habis pikir dengan prasangka putranya itu lalu meninju pelan perut Devian.


"Kamu ini kebanyakan nonton sinetron, jadi pikiran kamu negatif terus sama orang!" seru Bunda Tamara.


"Aaa.. sakit, Bun. Sakit!" erang Devian merasa kesakitan karena telinganya dijewer oleh sang Bunda.


"Udah sana susul si Carissa, tadi kan kakinya masih sakit." kata Bunda Tamara.


"Ih, anaknya Bunda itu aku atau Carissa sih? Baru sekali ketemu udah kaya gini." gerutu Devian lalu beranjak pergi menuruti kata sang Bunda.


Bunda Tamara terkekeh pelan melihat kelakuan putra semata wayangnya yang tidak sesuai dengan ucapannya. Tatapan wanita paruh baya itu beralih pada seragam yang tertinggal di sebelah kursi Carissa duduk tadi.


"Lho, ini bukannya seragam OG di MF Group ya?" gumam Bunda Tamara lalu mengambil kemeja warna biru langit dengan gaya zinc shirt yang ada bordiran cantik di bagian dada kanan dengan tulisan MF Group.


"Apa Carissa kerja di MF Group sebagai OG? Masa gadis cantik mau menerima pekerjaan itu?" batin Bunda Tamara penasaran.


*


*


*


"Hey, wanita kurang ajar!"


"Hey, apa kamu tuli?" Devian berjalan mendekat ke arah Carissa yang berdiri di pinggir jalan.


Carissa hanya menoleh sekilas lalu kembali melihat jalan menunggu taxi lewat.


Emosi Devian memuncak ketika wanita itu tak menghiraukan panggilannya.


"Hei, kamu! Gak dengar suara saya?" Devian berdiri dihadapan Carissa dengan kesal.


"Oh, Bapak manggil saya? Saya kira tadi ada orang gila teriak-teriak gak jelas." jawab Carissa santai tanpa menatap pria yang emosinya sudah sampai ke ubun-ubun yang berdiri dihadapannya.


"Kamu ya, berani mengatai saya lagi? Dasar wanita kurang ajar!" bentak Devian lalu mencengkeram kuat tangan Carissa.


"Ssshh..." Carissa meringis menahan sakit.


"Bapak bisa gak sih sopan sedikit? Saya gak pernah cari masalah dengan Bapak." ucap Carissa dengan suara sedikit bergetar dan berusaha melepaskan cengkraman kuat di pergelangan tangannya.


"Jangan pikir kamu berhasil karena sudah mengambil hati Bundaku! Aku tau apa yang ada dalam pikiran rubah licik sepertimu!" ketus Devian dengan pandangan meremehkan.


"Aku sudah sering melihat akting dan modus wanita murahan sepertimu! Kamu butuh uang berapa?"


PLAK!


Devian sontak kaget dengan tamparan panas yang mengenai pipi kanannya itu, seketika membuat cengkraman di tangan Carissa terlepas.


"Beraninya kau!" bentak Devian.


"Lebih baik cuci otak Bapak yang kotor itu!"


"Tidak semua wanita seperti yang Bapak pikirkan. Kalaupun saya butuh uang, saya tidak perlu repot-repot membahayakan nyawa saya sendiri. Lagipula saya sebelumnya tidak mengenal Tante Tamara. Dan saya bertemu Bapak baru beberapa kali dengan pertemuan yang selalu punya kesan menyebalkan. Saya harap buang pikiran picik Bapak itu! Untung cuma kaki saya terkilir." jawab Carissa menohok dengan suara lantang dan penuh emosi. Setelah itu ia menghentikan taxi lalu segera masuk ke dalam mobil dengan kaki sedikit pincang.

__ADS_1


BAK!


Devian terperanjat mendengar suara pintu mobil yang tertutup dengan suara lumayan keras.


Devian masih diam tak percaya melihat reaksi wanita kecil dengan tubuh langsingnya dan tinggi kurang lebih 168 cm, kepala wanita itu sejajar dengan tinggi dagu Devian.


Devian mengelus pipi kanannya yang terasa perih. Lalu segera menuju parkiran untuk menaiki mobil dan kembali ke perusahaan.


"Awas saja kau rubah sialan! Tunggu pembalasanku!" Umpat Devian lalu menyalakan mobilnya.


Devian melajukan mobilnya dengan kencang karena ia merasa sangat kesal pada wanita yang berani menamparnya tadi.


Di dalam taxi, Carissa mengatur nafasnya yang memburu. Emosinya memuncak, ia sangat kesal dengan pikiran Devian.


"Huh! Menyebalkan sekali pria narsis itu! Dia benar-benar gila!" gerutu Carissa pelan dengan emosi yang meluap-luap.


"Tujuan kemana, Non?" suara pria paruh baya dari kursi kemudi mengembalikan kesadaran wanita yang sedang menahan amarah itu.


"Aster Residence, Pak." jawab Carissa singkat.


30 menit perjalanan, taxi pun berhenti di depan gerbang rumah mewah No 12 dengan pagar besi hitam yang menjulang tinggi.


"Sudah sampai, Non." ucap sopir taxi pria paruh baya sambil melirik penumpangnya dari kaca spion di depan kemudi.


"Terimakasih, Pak." ucap Carissa lalu menyodorkan 2 lembar uang merah kepada sopir taxi.


"Kembaliannya buat Bapak aja." kata Carissa lagi lalu beranjak turun dari mobil taxi dan memasuki rumahnya.


"Alhamdulillah, terimakasih Non."


Carissa langsung menaiki tangga lalu menuju kamarnya dengan langkah pelan karena kakinya masih terasa nyeri. Ia meletakkan tasnya di atas nakas. Lalu ia bersiap-siap untuk mandi.


"Aaaaa....!" jerit Carissa kesakitan.


Tanpa sengaja pergelangan kakinya menyenggol dipan kasurnya.


"Ada apa, Non?" jawab Mbok Asih panik langsung berlari masuk ke kamar Nona Muda setelah mendengar suara melengking Carissa.


"Aduuuh.. sakit sekali." ringis Carissa mencoba untuk duduk dan mengangkat kakinya keatas kasur, ia meluruskan kakinya dan memijat betisnya perlahan. Karena Carissa tahu, pergelangan kakinya yang bengkak tidak boleh dipijat karna akan menyebabkan peradangan.


"Ya Allah, Non kenapa? Kenapa kakinya begini?" ucap Mbok Asih panik melihat kaki Carissa yang memar, bahkan sudah bengkak dan membiru.


"Tadi gak sengaja jatuh pas lagi di jalan, Mbok." jawab Carissa seadanya, ia tidak mau membuat Mbok Asih khawatir.


"Yasudah, Non tunggu dulu ya. Mbok bikinin parem."


"Siap, Non. Pelan-pelan ya." kata Mbok Asih lalu menuntun majikan mudanya menuju kamar mandi dengan sangat hati-hati.


"Nanti kalau sudah selesai, Non panggil Mbok ya. Biar Mbok bantu keluar." ucap Mbok Asih setelah itu segera menuju dapur.


15 menit berlalu.


"Mbok, Carissa sudah selesai." teriak Carissa dari kamar mandi.


"Iya, Non sebentar."


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka, Carissa dituntun Mbok Asih menuju kasurnya. Carissa duduk bersandar pada dipan lalu meluruskan kakinya yang terasa nyeri.


"Ini biar bengkaknya cepat kempes, Non." ucap Mbok Asih sambil mengoleskan parem ke pergelangan kaki Carissa dengan lembut dan hati-hati.


"Terimakasih, Mbok." ucap Carissa lembut.


"Yasudah, Non istirahat. Nanti malam mau dimasakin apa?" tanya Mbok Asih sebelum keluar dari kamar Carissa.


"Rissa mau ayam goreng kremes pakai sambal bawang aja, Mbok. Sama jus mangga." jawab Carissa.


"Siap, Non. Nanti saya antar ke kamar aja ya. Non istirahat saja." ucap Mbok Asih berlalu keluar dan menutup pintu kamar Carissa dengan pelan.


Sesaat kemudian, Carissa sudah terlelap.


*


*


*


"Bos, ini hasil penyelidikan dari Carissa Elvina. Dari identitasnya sih dia wanita biasa. Tapi kenapa dia bisa masuk ke Universitas XX yang favorit itu ya? Mungkin karena saja beasiswa." ucap Alex, karena ia tau mahasiswa Universitas itu merupakan anak dari orang-orang kelas atas. Biayanya pun terbilang sangat fantastis.


Ya karena keinginan Carissa yang ingin sukses dengan usahanya sendiri, ia meminta Papa Cakra untuk menyembunyikan identitas keluarga Carissa. Ia tidak mau orang-orang menghargainya karena latar belakangnya. Riwayat keluarganya pun diatur sedemikian rupa agar Carissa terkesan lahir dari rakyat biasa.


"Hemm.. kita lihat sekuat apa si rubah licik itu." batin Devian.

__ADS_1


"Oke, besok biarkan dia mulai bekerja disini. Pastikan dia bekerja sesuai dengan posisinya." kata Devian kepada Alex yang sedang membaca identitas Carissa.


"Emang kau tempatkan dia dibagian apa, Bos?" tanya Alex penasaran.


"Office girl." jawab Devian santai.


"HAH?"


"Gak salah kau, Dev?" tanya Alex lagi untuk meyakinkan bahwa ia tidak salah dengar.


"Ya, itu pekerjaan yang sangat cocok untuk wanita kurang ajar seperti dia." jawab Devian sambil menyeruput segelas kopi hitam yang ada di meja kerjanya.


"Kau gila! Seharusnya kau tempatkan dia di bagian fashion designer, biarkan dia merancang busana yang modis dan trendi. Atau bisa juga jadi asisten pribadimu." ucap Alex tak habis pikir dengan keputusan Bos dan sahabatnya itu.


"Diamlah! Aku lebih berhak menentukan dia kerja dimana." kata Devian malas lalu merebahkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya dan menyilangkan kaki kirinya ke atas paha kanannya.


"Tolong ambilkan aku es batu." perintah Devian kepada Alex saat ia merasakan pipinya mulai perih.


"Kenapa aku? Kau suruh saja si Dadang." kata Alex malas.


Dadang adalah salah satu office boy yang ada di MF Group. Usianya masih muda, 20 tahun. Karena ia cekatan dan rajin, ia bekerja khusus untuk menjadi office boy sang CEO. Pekerjaannya membersihkan ruangan CEO, membuatkan kopi dan membelikan makan untuk Devian.


"Dadang!" panggil Devian.


"Iya, Pak Devian." jawab Dadang memasuki ruangan CEO, karena memang ruangan kerjanya bersebelahan dengan ruang CEO. Kebetulan pintu ruangan Devian terbuka jadi Dadang bisa mendengar suara panggilan Devian dengan jelas.


"Ambilkan es batu tempatkan dalam kantong plastik." perintah Devian kepada Dadang.


"Baik, Pak." jawab Dadang sigap dan segera keluar ruangan.


5 menit, Dadang kembali ke ruangan Devian dan menyerahkan sebuah kantong plastik yang sudah terisi es batu kepada Devian.


"Ini, Pak." setelah itu Dadang langsung pergi keluar ruangan.


Devian mengambil kantong plastik itu dan menempelkan pada pipi kirinya.


"Ssshhh..." desah Devian.


Alex menoleh saat mendengar suara Devian.


"Pipimu kenapa, Dev? Habis tanding tinju dengan siapa?" canda Alex yang melihat pipi Devian yang sedikit merah.


"Ini perbuatan wanita rubah itu!" umpat Devian.


"Wanita rubah?" tanya Alex heran.


"Iya, wanita yang akan jadi office girl besok." jawab Devian kesal.


"Carissa?" tanya Alex memastikan dengan menyebut nama wanita yang mungkin dimaksud Devian.


Devian hanya mengangguk kecil.


PFFFT!


"Hahahahahhaha.." Alex tertawa terbahak-bahak.


Devian menoleh dan heran melihat sahabatnya malah tertawa.


"Apa yang lucu?" tanya Devian geram.


"Hahaha.. Ini adalah sejarah baru. Seorang Devian Mahendra ditampar wanita? Nyali wanita itu besar juga." jawab Alex yang masih terus menertawakan sahabatnya itu.


Devian hanya melirik tajam kepada Alex. Seketika Alex menghentikan tawanya.


"Maaf, maaf.." ucap Alex kemudian ia duduk di kursi depan meja kerja Devian.


"Bagaimana ceritanya? Apakah kamu melakukan perbuatan asusila padanya?" selidik Alex sambil mengedipkan matanya pada Devian.


BUK!


Sebuah map terlempar mengenai wajah Alex.


"Sialan! Jaga mulutmu dan pikiran kotormu itu. Aku tidak mungkin melakukannya." bantah Devian kemudian membuang kantong plastik yang es batunya sudah mencair ke tempat sampah yang ada di kolong meja kerjanya.


"Lalu kenapa bisa kamu ditampar Carissa?" tanya Alex penasaran.


Devian hanya diam tanpa jawaban.


"Keluarlah!" perintah Devian pada Alex.


"Lah, kok ngusir?" ucap Alex heran dengan mengernyitkan dahinya dan menatap Devian.


Devian hanya diam lalu memejamkan mata dan menyandarkan punggungnya kembali ke kursinya.

__ADS_1


"Dasar aneh!" umpat Alex dalam hati. Kemudian ia masuk ke ruang kerjanya yang masih berada di ruangan yang sama dengan ruang kerja Devian hanya disekat dengan PVC.


-BERSAMBUNG


__ADS_2