
"Ma, Rissa besok mau pulang." ucap Carissa saat melakukan panggilan suara dengan Mama Allisa.
"Kok pulang kenapa Sayang?" tanya Allisa heran memancing rasa penasaran Cakra yang sedang duduk di sebelah Allisa.
"Studi Rissa udah selesai, Ma. Rissa sudah lulus." jawab Carissa gembira.
"Kamu serius, Nak? Bukannya masih satu bulan lagi?" tanya Allisa lagi yang membuat Cakra merebut ponselnya.
"Kamu beneran sudah selesai studinya, Nak?" tanya Cakra memastikan.
"Benar, Pa. Rissa sudah lulus, makanya besok mau pulang." jawab Carissa meyakinkan.
"Kamu memang anak Papa." sahut Cakra dengan senyum bangga diwajahnya.
"Terimakasih, Pa. Oh iya Rissa minta tolong jangan kasih tau Om Adhi dan Tante Tamara ya, Pa. Devian gak tau kepulangan Rissa." ucap Carissa mengingatkan.
Cakra dan Allisa saling menatap mendengar ucapan putrinya yang sudah di mode loudspeaker.
"Kamu tenang saja, Sayang. Orangtuamu ini bisa dipercaya." ucap Allisa dengan tersenyum manis.
"Baiklah, terimakasih Ma Pa." jawab Carissa antusias.
"Nak, apa kau sudah siap menikah dengan Devian?" Cakra bertanya pada putri semata wayangnya dengan hati-hati.
Terdengar suara helaan nafas Carissa, membuat Cakra dan Allisa pasrah jika putrinya menolak.
"Kapan rencananya, Pa?" suara Carissa akhirnya terdengar.
"Harusnya bulan depan setelah kamu menyelesaikan studimu. Tapi karena kamu lulus lebih cepat bisa saja pernikahanmu juga dipercepat." jawab Cakra dengan nada sangat hati-hati.
"Baiklah. Lebih cepat lebih baik." sahut Carissa penuh semangat.
Cakra melirik Allisa masih terkejut dengan jawaban Carissa.
"Kamu setuju Nak? Kamu gak keberatan?" tanya Allisa meyakinkan.
"Bagaimana mungkin Rissa keberatan, Ma? Bukannya ini pernikahan yang Papa dan Mama inginkan? Lagipula Rissa juga mencintai Dev." jawab Carissa tegas dan penuh keyakinan.
Allisa menitikkan airmata bahagia, ia terharu dengan putrinya yang sudah dewasa. Cakra menarik tubuh Allisa dalam dekapannya. Cakra juga merasakan kebahagiaan.
"Ma Pa? Ada apa kenapa diam? Apakah keputusan Rissa salah?" tanya Carissa yang beberapa saat tak mendengar suara kedua orangtuanya.
"Tidak, Sayang. Papa dan Mama sedang menangis bahagia. Tidak menyangka kamu sekarang sudah dewasa. Bahkan sebentar lagi akan menghabiskan hidupmu bersama orang lain. Papa dan Mama akan membuat pesta pernikahan paling megah untukmu." ucap Cakra yang masih diselimuti rasa haru.
Carissa terkekeh pelan.
"Pa, Ma. Tak perlu megah, menikah kan sebuah ikatan yang sangat sakral. Lebih baik uang pestanya buat Rissa buka butik saja." ucap Carissa yang disambut tawa Allisa dan Cakra.
__ADS_1
"Kamu persis Mama mu yang perhitungan." sahut Cakra yang melirik Allisa lalu terkekeh pelan.
"Rissa bukan perhitungan, Pa. Hanya tidak mau menghamburkan uang." ucap Carissa tegas.
"Baiklah. Tapi Papa tetap ingin merayakan pernikahanmu, Papa ingin berbagi kebahagiaan dengan rekan-rekan bisnis Papa. Kamu tidak boleh keberatan. Anggap saja Papa sedang mengadakan syukuran." Cakra masih tak mau mengalah.
"Baiklah. Terserah Papa yang penting uang buat buka butik Rissa tidak berkurang." Carissa bersikeras dengan rencananya.
Allisa tertawa mendengar jawaban Carissa.
"Kamu ini memang sangat berbakat dalam bisnis, Sayang." sahut Allisa mendukung keputusan putrinya.
Cakra terkekeh mendengar pemikiran dua orang wanita yang ia cintai sangat bagus dalam masalah uang.
"Tenang saja, Nak. Papa akan memberimu modal untukmu membuat butik yang sangat besar." ucap Cakra senang.
"Baiklah. Deal ya Pa." sahut Carissa antusias yang membuat Cakra dan Allisa tertawa.
"Oh iya Sayang kamu sudah pesan tiket?" tanya Allisa yang tak sabar menyambut kedatangan putrinya.
"Sudah, Ma. Jadwalnya besok pagi berangkat, lusa Carissa sudah mendarat di Indonesia." jawab Carissa.
"Baiklah, disana pasti sudah larut bukan? Cepat istirahat biar tidak kesiangan ke bandaranya." Allisa melihat hari yang sudah menjelang siang.
"Baik, Ma. Rissa tidur dulu ya. Seeyou Pa, Ma. Assalammu'alaikum." pamit Carissa.
"Wa'alaikumsalam." tutup Allisa kemudian mematikan panggilan suara di ponselnya.
Allisa menggenggam tangan Cakra lembut kemudian menatap wajah tampan suaminya yang sudah mulai keriput.
"Pa, Mama juga merasakan hal yang sama. Rasanya baru kemarin Rissa ada di perut Mama, masih ku timang-timang, ternyata waktu begitu cepat berlalu." ucap Allisa kemudian meletakkan kepalanya ke pundak kokoh suaminya.
Cakra membelai lembut bahu istrinya untuk saling menguatkan.
"Semoga Devian bisa membahagiakan Rissa dan selalu menjaga Rissa dalam keadaan apapun. Jika suatu hari Devian menyakiti Rissa maka tidak segan-segan Papa membawa Rissa pulang." ucap Cakra mantap yang disambut tawa kecil Allisa.
"Papa gak boleh begitu. Biarkan Dev dan Rissa membina rumah tangganya dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Kita sebagai orangtua harus bijak dan tidak boleh mencampurinya. Mama yakin Dev bisa diandalkan. Mama percaya Dev mencintai Rissa dengan tulus." sahut Allisa yang memeluk erat pinggang suaminya.
Cakra menghembuskan nafas pelan.
"Baiklah. Papa sangat berharap Rissa bahagia bersama Devian." ucap Cakra kembali memeluk tubuh mungil istrinya lalu mengecup kening Allisa beberapa kali.
Dua paruh baya itu saling menguatkan dan penuh keharuan.
*
*
__ADS_1
*
Pagi hari di New York.
Carissa sudah siap menyeret kopernya dan masuk ke dalam taxi. Carissa menuju ke bandara untuk segera terbang ke tanah air. Tak lupa ia mengetik sebuah pesan pada ponselnya.
Sayang, aku merindukanmu.
Setelah mengirim pesan itu kepada Devian, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang kecilnya. Carissa menatap jalanan melalui jendela mobil menikmati suasana kota sebelum meninggalkan New York.
15 menit perjalanan, Carissa sudah sampai di bandara. Tak jauh dari kursi tunggu ada Georgia yang sudah menunggunya.
"Pagi, Rissa." sapa Georgia yang langsung memeluk erat Carissa.
"Pagi, Madam. Apa Anda menungguku sudah lama?" tanya Carissa yang dibalas anggukan kepala Georgia.
"Aku ingin menemuimu sebelum kau kembali dan mungkin saja kita takkan bertemu lagi." ucap Georgia berat.
Carissa melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah cantik Georgia.
"Madam, aku akan mengunjungimu. Mungkin saja aku bisa merencanakan honeymoon di kota ini." Carissa mencoba menghibur wanita yang sudah mendampinginya 1 bulan ini dengan penuh kesabaran.
Georgia tersenyum lalu menghapus air yang sudah menetes dari pelupuk matanya.
"Baiklah, kau bisa mengajak suamimu berlibur kesini. Aku akan menyambut kalian dengan senang hati. Aku berharap pernikahanmu bahagia dan selalu bersama dalam suka dan duka. Maaf aku hanya bisa memberimu ini." ucap Georgia menyerahkan sebuah bingkisan untuk Carissa.
"Madam tak perlu repot-repot. Doa baik dari Madam sudah cukup untukku. Terimakasih untuk bimbingan Madam selama ini." Carissa menerima dengan senang hati bingkisan dari Georgia.
"Sama-sama. Aku senang bisa mendampingi mahasiswa secerdas dirimu." sahut Georgia mengulas senyum lebar kepada Carissa.
"Madam terlalu menyanjungku. Semua ini tak lepas dari bimbingan dari Madam yang sangat kritis dan selalu penuh semangat." puji Carissa pada wanita yang sudah menemaninya selama melanjutkan studi di New York.
"Baiklah, sepertinya aku harus segera ke kampus masih banyak mahasiswa yang membutuhkanku. Semoga perjalananmu menyenangkan, Rissa." pamit Georgia kemudian memeluk tubuh Rissa sekilas.
"Terimakasih banyak, Madam." sahut Carissa yang membalas pelukan Georgia lalu melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.
Georgia sudah pergi dan Carissa segera melakukan check in. Carissa mengikuti peraturan perjalanan di bandara dengan senang hati.
30 menit kemudian Carissa sudah masuk ke pesawat.
"Bismillah.. tunggu aku pulang, Dev." gumam Carissa dalam hati dengan mengulas senyum cerah diwajahnya.
10 menit kemudian pesawat yang Carissa tumpangi sudah lepas landas meninggalkan kota New York.
-BERSAMBUNG
*
__ADS_1
*
*