
"Aku sudah menghubungi Arya. Kalian bisa bertemu nanti sore, tempatnya menyusul." kata Devian.
Tidak ada jawaban dari Carissa membuat Devian heran.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Devian yang melihat Carissa memandangnya penuh curiga.
"Aku sedang mencari api cemburu dimatamu." jawab Carissa polos.
"Aaaawwww!" ringis Carissa sambil mengusap hidungnya yang dicubit oleh Devian.
"Kau ini masih saja meledekku." kata Devian gemas.
"Bukan meledek, hanya aneh saja. Biasanya tidak akan memperbolehkanku bertemu dengan pria lain." sahut Carissa jujur.
"Iya itu dulu. Sekarang aku akan perlahan merubahnya. Kalau aku terlalu cemburu juga akan membuatmu tidak nyaman." ucap Devian yang disetujui oleh anggukan kepala Carissa.
"Suamiku sudah lebih dewasa." puji Carissa seraya memberikan kecupan singkat dibibir suaminya.
"Sesuai dengan kesepakatan kita semalam, jangan mencampur adukan masalah pribadi dengan bisnis." kata Devian lagi.
"Baiklah. Terimakasih, Sayang." balas Carissa yang tubuhnya langsung ditarik dalam pelukan Devian.
Setelah pembicaraan singkat, mereka berdua sarapan. Selesai mengisi perut, Devian bersiap-siap berangkat ke perusahaan dan sebelumnya ia akan mengantarkan istrinya ke butik terlebih dahulu.
Jalanan pagi ini lumayan padat, butuh waktu 30 menit untuk sampai di butik Carissa. Setelah menurunkan istrinya, Devian bergegas menuju perusahaan karena pagi ini ada meeting dengan klien.
Jam masih menunjukkan pukul 9 pagi, Carissa mendapati Mbak Marni dan para karyawan sudah berada di butik. Mbak Marni merupakan orang yang dipercaya Carissa untuk mengelola butik jika datang terlambat ataupun tidak bisa datang ke butik.
"Selamat pagi, Boss." sapa para karyawan melihat kedatangan Carissa.
"Selamat pagi semua." balas Carissa dengan menyunggingkan senyum diwajahnya.
"Adakah disini yang pandai menjahit?" tanya Carissa.
Ada 4 orang dari 8 orang karyawan yang mengangkat tangannya, salah satunya adalah Mbak Marni.
"Baiklah, kalian ikut ke ruangan saya. Ada yang ingin saya bicarakan." titah Carissa yang langsung diikuti oleh 4 orang itu.
"Yang lain tetap lakukan sesuai tugas masing-masing. Satu jam lagi butik dibuka." pesan Carissa kepada karyawan yang lain.
"Baik, Boss." ucap mereka serempak.
Carissa dan 4 orang karyawannya menuju ke ruangan kerjanya. Carissa mempersilahkan mereka duduk di sofa yang ada diruangannya itu.
"Oke saya langsung ke intinya saja ya. Kebetulan nanti sore saya akan bertemu dengan mitra bisnis yang akan mensuplai kebutuhan bahan produksi kita." kata Carissa tanpa basa-basi.
"Melihat stok di butik sudah menipis, saya akan segera memproduksi beberapa gaun agar pelanggan tidak kekurangan stok pilihan fashionnya." jelas Carissa.
"Apakah kalian pernah punya pengalaman menjahit pakaian atau kursus sebelumnya?" tanya Carissa.
"Saya kebetulan lulusan SMK jurusan Tata Busana, Non. Untuk teknik menjahit sudah saya kuasai, mungkin hanya perlu menyesuaikan model yang Nona buat." jawab Mbak Marni mewakili.
Carissa tersenyum kemudian mengangguk-anggukan kepalanya pertanda puas dengan jawaban Mbak Marni.
"Kalau saya, ibu dikampung membuka jasa jahit seragam dan juga permak. Meskipun hanya penjahit rumahan tapi saya juga selalu ikut membantu saya sedari saya kecil. Kurang lebih saya juga paham menjahit." jawab gadis muda yang usianya masih belia, yang kebetulan tahun ini baru tamat SMA.
__ADS_1
"Bagus. Nanti kita bisa belajar bersama." sahut Carissa membuat senyum diwajah gadis muda itu mengembang.
"Kalian berdua?" tanya Carissa melirik kearah 2 orang wanita yang mungkin usianya seumuran atau lebih tua darinya.
"Saya pernah beberapa kali ikut workshop menjahit yang diadakan di daerah saya. Tapi saya baru bisa menjahit atasan saja, untuk gaun-gaun mewah saya belum pernah melakukannya." jawab wanita berambut ikal yang mempunyai lesung pipi di pipi kirinya.
"Hem, baik. Kita bisa upgrade skill seiring berjalannya waktu." sahut Carissa percaya diri.
"Kalau saya belum pernah ikut kursus ataupun membuka jasa jahit. Saya hanya belajar otodidak lewat youtube." jawab wanita yang memiliki kulit kuning langsat dan tubuhnya sedikit berisi.
"Are you realy?" tanya Carissa tak percaya.
Wanita itu menganggukkan kepala kemudian merogoh ponsel disaku celananya kemudian membuka galeri.
"Ini ada beberapa foto hasil jahit coba-coba saya selama ini." wanita itu menunjukkan layar ponselnya kepada Carissa.
"Boleh aku melihatnya?" tanya Carissa meminta izin.
"Tentu, Boss." jawab wanita itu.
Carissa mengambil oleh ponsel karyawannya itu. Mata Carissa benar-benar dibuat takjub melihat foto-foto beberapa karya yang ditunjukkan karyawannya itu.
"Kau membuat ini hanya melalui youtube?" tanya Carissa penasaran.
"Iya, benar." jawab wanita berisi itu.
Carissa meyambutnya dengan tepuk tangan. Ada rasa kagum dengan wanita yang menjadi karyawannya saat ini memiliki bakat.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan mengandalkan kalian untuk menciptakan karya-karya terbaru dan terbaik yang akan dimiliki Butik Carvil. Saya mohon kerjasamanya." ucap Carissa bersemangat.
"Baik, Boss. Kami akan melakukan yang terbaik." jawab keempat wanita itu secara bersamaan.
Tanpa menunggu aba-aba dari Carissa lagi, keempat wanita itu sudah kembali ke posisinya masing-masing.
Carissa menghembuskan nafas lega, kini ia tidak perlu pusing lagi mencari karyawan untuk menjahit.
"Semoga pertemuanku dengan Arya bisa mendapat kesepakatan yang baik." gumam Carissa penuh harap.
*
*
*
Di perusahaan MF Group.
"Dev, aku rencana akan mengambil cuti 1 minggu. Apakah boleh?" tanya Alex hati-hati.
Devian mengangkat kepalanya lalu menatap Alex dengan tajam.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku mau bulan madu dengan istriku. Bagaimanapun aku dan istriku ingin rehat sejenak dari kesibukan pekerjaan." tambah Alex menjelaskan.
"Kau menyindirku?" kata Devian yang tatapannya semakin menakutkan.
"Ti-tidak. Aku tidak bermaksud begitu, Dev." jawab Alex terbata, sadar kalau tidak sengaja sudah menyindir atasan sekaligus sahabatnya itu.
__ADS_1
Bagaimana tidak, sudah beberapa bulan menikah Devian dan Carissa belum ada tanda-tanda rencana bulan madu.
"Sial, aku salah ngomong lagi." batin Alex merasa bersalah.
Melihat Devian yang hanya menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun membuat Alex bergidik ngeri.
"Maaf, Dev. Kalau tidak kau izinkan, tidak apa-apa. Aku akan mengubah jadwal yang tepat." ucap Alex berusaha memperbaiki keadaan.
Terdengar suara tawa Devian membuat Alex semakin diselimuti rasa takut.
"Kenapa dia tertawa? Aku tambah merinding." gumam Alex mencoba menetralkan degup jantungnya yang sudah seperti genderang perang.
"Haha... Kau tenang aja, nikmatilah bulan madumu itu. Satu minggu saja sudah cukup?" tanya Devian membuat Alex kebingungan.
"Jadi kau memberi aku dan istriku cuti ini?" tanya Alex mencoba memastikan jika telinganya tidak salah dengar.
Devian hanya menganggukkan kepalanya. Wajah bengis yang dilihat oleh Alex tadi sudah berubah menjadi Devian yang normal.
"Kau memang bos dan sahabat terbaikku, Dev!" puji Alex dengan riang.
"Menjijikan sekali." umpat Devian yang hanya dibalas dengan tawa Alex.
"Kapan kau akan berangkat?" tanya Devian.
"Lusa aku berangkat." jawab Alex bersemangat.
"Cepat sekali." sahut Devian.
"Tentu saja. Aku sudah mempersiapkan semuanya dari jauh-jauh hari. Hanya tinggal menunggu izin cuti darimu." kata Alex mantap.
"Bagaimana kalau aku tidak memberimu izin?" tanya Devian penasaran.
"Tidak mungkin. Kau adalah sahabatku yang baik hati, kau pasti tidak akan membiarkan sahabatmu ini melewatkan bulan madu seperti dirimu." jawab Alex membuat Devian membulatkan matanya.
"Sialan! Beraninya kau mengolokku!" umpat Devian.
"Oh tidak. Aku tidak mengolokmu. Aku hanya merasa sedih karena sahabatku ini ternyata tidak ingat tentang hal penting seperti itu. Aku penasaran bagaimana perasaan istrimu memiliki suami ceroboh sepertimu ini?" kata Alex sengaja memancing emosi Devian lagi.
"Keluar kau!" perintah Devian.
"Ck ck.. Jangan marah." ucap Alex membuat Devian semakin kesal.
"Keluar kau atau aku tarik izin cutimu agar kau tidak jadi bulan madu!" ancam Devian membuat Alex buru-buru beranjak dari ruangan Devian.
"Baiklah. Selamat bekerja, bos! Aku mau packing untuk berangkat bulan madu dengan istriku." ledek Alex.
"Enyahlah!" teriak Devian.
Beruntung Alex segera berlari dan menutup pintu ruangan Devian, kalau terlambat sedetik saja sepatu pantovel Devian sudah mendarat diwajahnya.
"Berani sekali dia mengolokku!" geram Devian.
Devian mengatur nafasnya agar tidak semakin tersulit emosinya.
"Sepertinya aku harus mempercepat rencana bulan madu dengan istri tercintaku." gumam Devian sembari membayangkan wajah cantik Carissa.
__ADS_1
"Aku akan memberikan bulan madu terbaik untukmu, istriku." tekad Devian dalam hati.
-BERSAMBUNG