Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Seriusnya Istriku


__ADS_3

Keesokan harinya Devian dan Carissa bersiap menuju MF Group untuk melihat proses pembuatan gaun pernikahan Aninda, sahabat Carissa. Saat di New York Carissa memang meminta bantuan Devian untuk menggunakan jasa pekerja MF Group. Namun Aninda sendiri tidak mengetahui itu karena gaun itu dibuat di bekas ruang kerja Carissa.


"Sudah siap Sayang?" tanya Devian pada Carissa.


"Sudah Sayang. Ayo berangkat." jawab Carissa antusias kemudian menggandeng tangan Devian.


Devian dan Carissa menuruni tangga kemudian menuju ruang makan.


"Kalian mau kemana?" tanya Mama Allisa mendapati pengantin baru sudah berpakaian rapi.


"Mau ke perusahaan Devian sebentar, Ma." jawab Carissa.


"Ma Ayah dan Bunda dimana?" tanya Carissa menyadari ketidakhadiran kedua mertuanya.


"Semalem mereka pulang. Karena kalian sudah masuk kamar jadi tidak ingin mengganggu kalian." jawab Allisa sambil tersenyum dan mengedipkan matanya menggoda Carissa.


Carissa tersenyum kemudian menundukkan wajahnya yang tersipu.


"Bagaimana ini Dev aku jadi gak enak sama Ayah dan Bunda. Padahal kemarin kita sudah janji akan menginap sehari lagi." ucap Carissa tidak enak hati.


"Tidak masalah nanti kita ke rumah lagi saja. Sekalian mengambil barang kan." sahut Devian sambil mengelus rambut Carissa.


Carissa menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Devian.


"Papa dimana Ma?" tanya Carissa yang tidak melihat sosok Papa Cakra.


"Papamu ada di ruang kerjanya. Sebentar lagi juga menyusul." jawab Mama Allisa yang sedang sibuk mengoleskan selai kacang pada lembaran roti tawar.


"Ayo sarapan dulu." ajak Mama Allisa kepada putri dan menantunya.


"Maaf Ma, Rissa sama Devian mau sarapan di jalan aja. Rissa dan Devian pamit ya." tolak Carissa lembut.


"Hem yasudah. Hati-hati di jalan ya." ucap Mama Allisa.


Devian dan Carissa menjabat tangan Mama Allisa bergantian.


"Titip pamit ke Papa ya Ma." ucap Carissa dengan tersenyum manis dan dibalas anggukan kepala Mama Allisa.


"Dev dan Rissa jalan dulu ya Ma. Assalammu'alaikum." pamit Devian.


"Wa'alaikumsalam." sahut Mama Allisa.


Tak lama setelah Devian dan Carissa pergi Papa Cakra baru datang di ruang makan.


"Anak-anak belum bangun Ma?" tanya Cakra yang melihat meja makan hanya istrinya seorang.


"Sudah pergi katanya mereka mau ke perusahaan Devian." jawab Allisa sembari menyodorkan setumpuk roti tawar berselai kacang yang sudah dipanggang dengan taburan keju parut.


"Mereka sudah sarapan?" tanya Cakra lagi.


Allisa menggelengkan kepalanya.


"Mereka sarapan di jalan katanya." jawab Allisa kemudian meletakkan secangkir kopi dihadapan suaminya.


Cakra menganggukkan kepalanya sembari menikmati roti panggang buatan istrinya dan sesekali menyeruput kopi hitamnya.


Mobil Devian dan Carissa berhenti didepan pedagang kaki lima bubur ayam yang pernah mereka kunjungi sebelum menikah. Dulu saat hubungan mereka masih belum dekat dengan pertemuan yang tidak disengaja.


Kurang lebih dalam waktu 30 menit Devian dan Carissa sudah selesai menikmati bubur ayam pinggir jalan itu. Devian kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan.


"Sayang apakah kita punya rencana untuk honeymoon?" tanya Carissa pada Devian yang fokus dengan kemudinya.


Devian menoleh Carissa sekilas dengan senyuman hangat kemudian kembali menatap ke depan jalanan.


"Tentu Sayang. Ada tempat yang ingin kau kunjungi?" tanya Devian.


Carissa berpikir sejenak kemudian menggelengkan kepalanya.


"Entahlah. Aku belum kepikiran tempat yang cocok." jawab Carissa seadanya.


Devian mengulas senyum tipis kemudian menghela nafas.


"Bagaimana kalau ke sebuah pulau yang berada di tengah laut?" tanya Devian menawarkan.


"Boleh juga. Aku sudah lama tidak menikmati suasana laut." jawab Carissa sumringah.


"Tapi di daerah pegunungan sepertinya juga seru. Aku rindu hawa dingin." ucap Carissa lagi membuat Devian terkekeh.


"Baiklah nanti kita searching lokasi yang memiliki dua tempat seperti yang kau mau." sahut Devian.


"Terimakasih suamiku." ucap Carissa kemudian mengecup pipi Devian sekilas.

__ADS_1


20 menit perjalanan tibalah di perusahaan MF Group.


Devian dengan sigap turun lebih dulu lalu membukakan pintu mobil istrinya.


Devian meraih tangan Carissa agar merangkul lengannya yang kokoh itu.


"Dev haruskah kita seperti ini?" tanya Carisaa canggung.


"Tentu. Kita kan suami istri." jawab Devian penuh semangat.


"Aku malu. Bagaimana kalau para karyawan membicarakan kita?" tanya Carissa tak enak hati.


"Memang kenapa kalau dibicarakan? Lagipula kita tidak melakukan kesalahan." jawab Devian yang membuat Carissa menghela nafas.


Devian dan Carissa berjalan masuk ke perusahaan yang disambut dengan dua orang satpam.


"Selamat pagi Pak CEO dan Ibu CEO." ucap dua satpam serempak.


Devian tersenyum tipis dan juga Carissa yang tersenyum canggung.


"Tegakkan kepalamu Sayang. Mulai sekarang kamu harus terbiasa dan percaya diri dengan panggilan itu." bisik Devian kepada istrinya.


"Baiklah." sahut Carissa pelan kemudian mengatur nafasnya dan mengeratkan rangkulannya pada lengan Devian.


Devian mengulas senyum kemudian kembali melangkahkan kakinya memasuki perusahaan.


"Selamat pagi Pak CEO dan Ibu CEO." sapa Tiara sebagai resepsionis di MF Group.


"Dev sebentar ya aku mau ngobrol sama Tiara." ucap Carissa pelan meminta izin pada suaminya yang dijawab dengan anggukan.


Carissa segera menghampiri Tiara kemudian memeluk orang yang pertama kali bersikap ramah kepadanya saat masuk ke MF Group.


"Kamu jangan manggil terlalu formal dong. Seperti biasanya saja." bisik Carissa pada Tiara.


"Kalau di perusahaan saya harus begitu Bu CEO." sahut Tiara sambil tersenyum manis.


"Baiklah. Tapi kalau diluar perusahaan kamu harus panggil namaku ya." ucap Carissa.


"Ehm." suara deheman Devian terdengar.


"Tuh Pak CEO sudah ngode." ucap Tiara yang disambut kekehan Carissa.


"Memang Pak Devian hanya bersikap lembut dan tersenyum dengan Rissa." batin Tiara yang sedari tadi mendapat tatapan dingin dari Devian.


Ting!


Pintu lift terbuka, Devian dan Carissa segera menuju ruangan yang menyimpan gaun pernikahan Aninda yang sedang dalam proses.


"Cantik sekali." ucap Carissa takjub.


Carissa segera melepaskan tangannya dari lengan Devian dan berlari kecil melihat gaun sahabatnya.


"Kamu tidak ingin menggunakannya sendiri?" tanya Devian melihat ekspresi bahagia di wajah Carissa.


Carissa menoleh kepada suaminya kemudian menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak. Aku sudah berjanji pada Aninda kalau aku akan memberikan sebuah gaun untuk pernikahannya." jawab Carissa.


"Kamu tidak lupa resepsi pernikahan kita bulan depan kan?" tanya Devian lagi.


Carissa tersenyum kemudian menghampiri suaminya.


"Tentu saja aku mengingatnya, Sayang. Mana mungkin aku lupa hari penting kita." jawab Carissa dengan senyuman manis.


"Lalu apakah kamu tidak ingin membuat gaun untuk dirimu sendiri?" tanya Devian yang sedikit kesal.


Carissa mencubit hidung mancung Devian gemas.


"Tenang saja suamiku. Aku sudah menyiapkannya bahkan termasuk tuxedo untuk suamiku." jawab Carissa membuat Devian membulatkan matanya.


"Benarkah?" tanya Devian tak percaya yang dijawab anggukan kepala Carissa.


"Aku ingin melihatnya." ucap Devian penasaran.


Carissa terkekeh melihat suaminya yang penasaran.


"Tidak boleh." sahut Carissa yang membuat Devian kecewa.


"Ayolah sayang, aku ingin melihatnya. Boleh ya?" rengek Devian seperti anak kecil yang merayu ibunya untuk membelikan sebuah permen sontak membuat Carissa tertawa geli.


"Hentikan, Dev. Kamu tidak cocok dengan ekspresi ini." ucap Carissa kemudian mencubit pelan kedua pipi Devian yang terlihat menggemaskan.

__ADS_1


"Kalau begitu izinkan aku melihatnya." ucap Devian memaksa yang membuat Carissa semakin terkekeh.


"Baiklah. Tapi jangan sekarang masih ada beberapa yang belum aku selesaikan." sahut Carissa yang semakin membuat Devian.


"Tunggu. Kapan kamu membuatnya? Bukankah kamu baru saja pulang minggu kemarin dan beberapa hari ini kamu selalu denganku." ucap Devian yang timbul beberapa pertanyaan dibenaknya.


"Rahasia." jawab Carissa yang membuat Devian dengan cepat menarik pinggang istrinya dan memagut bibir istrinya itu.


Carissa yang terkejut dengan tindakan Devian berusaha mendorong tubuh Devian namun sia-sia.


"Siapa suruh kau memancingku." ucap Devian setelah puas bermain dengan bibir istrinya.


"Kau menyebalkan Dev!" umpat Carissa kesal yang hampir saja mati kehabisan oksigen gara-gara ulah suaminya.


"Maafkan aku istriku. Salah siapa kau bermain rahasia-rahasiaan dengan suamimu ini." ucap Devian dengan terkekeh pelan.


Carissa memanyunkan bibirnya kemudian melepaskan diri dari cengkeraman serigala liar yang tak lain adalah suaminya. Carissa kembali fokus mengamati gaun milik sahabatnya itu.


"Kamu marah Sayang?" tanya Devian lembut namun tak ada jawaban.


"Sayaaang..." panggil Devian membuat Carissa menghela nafas kemudian menarik tangan suaminya itu.


"Lebih baik kau duduk disini dulu. Aku ingin fokus mengecek gaun ini. Nanti setelah pulang aku akan menunjukkan tuxedo milikmu." ucap Carissa yang membuat Devian tersenyum puas.


"Terimakasih banyak istriku." ucap Devian senang.


Carissa kembali fokus mengamati gaun yang ada di ruangan itu. Carissa mendapati masih ada beberapa detail yang belum sempurna. Carissa dengan cepat mencatat beberapa item yang kurang pada notebook kecil yang ia bawa. Pemandangan itu tidak luput dari mata Devian yang membuatnya semakin kagum dengan istrinya.


"Beruntungnya aku menikahi gadis cantik sepertimu, Rissa." batin Devian yang takjub dan sangat bersyukur telah memiliki istri seperti Carissa.


Kurang lebih 1 jam Carissa telah selesai memeriksa gaun yang ia siapkan sebagai hadiah untuk pernikahan sahabatnya.


"Sudah selesai sayang?" tanya Devian kepada istrinya.


"Sudah sayang. Kamu pasti bosan menunggu ya?" tanya Carissa menghampiri suaminya yang duduk di soffa yang sedari tadi menemaninya tanpa protes.


"Tidak sayang. Aku senang bisa melihat wajah cantik istriku yang sangat serius dengan pekerjaannya." jawab Devian kemudian menarik tangan Carissa dan membuat tubuh istrinya duduk di pangkuannya.


"Sayang jangan begini nanti kalau ada karyawan yang masuk." protes Carissa namun tak dihiraukan Devian.


Devian memeluk tubuh Carissa kemudian menelusupkan kepalanya pada ceruk leher istrinya.


Carissa tak memprotes apalagi mendorong tubuh Devian. Carissa membalas pelukan Devian kemudian membelai lembut punggung suaminya.


"Ayo pulang." ucap Carissa setelah beberapa saat.


"Baiklah." sahut Devian kemudian melepaskan pelukannya.


Carissa bergegas turun dari pangkuan Devian kemudian merogoh ponselnya.


Cekrek!


Carissa memotret gaun putih itu kemudian mengetik sesuatu.


"On progress..." ketik Carissa kemudian segara mengirimkan pesan bergambar itu kepada sahabatnya, Aninda.


"Sudah?" tanya Devian yang dijawab anggukan Carissa.


"Ayo pulang." ajak Carissa antusias menggandeng tangan Devian.


Devian tersenyum kemudian mengeratkan genggaman tangannya dan melangkah keluar ruangan.


Dua sejoli itu kembali memasuki lift eksekutif kemudian meninggalkan perusahaan.


-BERSAMBUNG


*


*


*


Maaf ya Readers, minthor beberapa hari kurang enak badan karena cuaca sedang tidak menentu. Terimakasih yang setia menunggu kelanjutan cerita DevRissa ❤❤


Semoga suka ya ❤


Mohon tinggalkan like dan komentar ya 🤗


Kalau boleh bantu vote dan rate bintang ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ nya yaa DevRissa lovers ❤


Salam hangat dari Minthor 🤗

__ADS_1


__ADS_2