Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Kabar Bahagia


__ADS_3

"Sayang, maaf aku tidak bisa menemanimu bertemu dengan Arya. Tiba-tiba ada meeting mendadak dengan klien dari Singapura." ucap Devian melalui panggilan suara.


"Tidak masalah, kirimkan alamat dimana aku harus bertemu dengannya saja." sahut Carissa santai.


"Baiklah. Nanti aku akan meminta sopir mengantarmu." ucap Devian, suaranya terdengar berat.


"Tidak perlu. Aku bisa naik taxi online." tolak Carissa.


"Yasudah, nanti selesai meeting biar aku menyusulmu." kata Devian merasa tak enak hati.


"Aku baik-baik saja, Sayang. Jangan khawatirkan aku. Fokuslah dengan pekerjaanmu." ucap Carissa seolah mengetahui keresahan hati suaminya.


"Hemm.. Aku mengerti istriku." kata Devian terdengar helaan nafas berat.


"Aku akan menjaga diriku dan menunggumu untuk menjemputku. Percayalah padaku, Sayang." ucap Carissa mencoba menenangkan suaminya.


"Aku percaya padamu. Aku hanya khawatir kalau Arya..." perkataan Devian tiba-tiba berhenti.


"Bagaimana kalau aku menghubungi Arya dan memintanya mengundur jadwal pertemuan?" lanjut Devian.


"Suamiku, tidak perlu seperti itu. Arya pasti mempunyai jadwal yang sangat padat. Kau lupa kesepakatan kita tadi malam?" ucap Carissa mencoba mengingatkan suaminya.


"Aku tentu mengingatnya. Tapi..."


"Jangan memikirkan hal-hal buruk yang belum terjadi, Sayang. Kau percaya padaku, kan?" tanya Carissa membuat Devian tersadar bahwa dirinya terlalu berlebihan.


"Ya, aku sangat mempercayaimu." jawab Devian mantap.


"Baguslah. Jadi berhentilah berpikiran yang tidak-tidak. Aku hanya mencintaimu dan insyaaAllah akan terus seperti itu. Aku akan bekerja seprofesional mungkin." ucap Carissa menambahkan membuat Devian bernafas lega sekaligus merasa bersalah.


Sifat posesif Devian memang semakin kuat ketika ia mengetahui siapa Arya. Devian takut kalau istrinya akan berpindah hati. Bukan Devian mencurigai istrinya namun ia lebih takut kalau Arya akan menggunakan seribu macam cara untuk merebut Carissa dari sisinya.


"Maafkan aku, Sayang." kata Devian lirih.


"Tidak apa-apa. Aku mencintaimu, Dev." sahut Carissa membuat Devian tersenyum.


Memang hanya Carissa yang sangat sabar menghadapi sifat-sifat aneh Devian.


"Aku juga mencintaimu, istriku." balas Devian.


"Yasudah, lanjutkan pekerjaanmu. Jangan lupa makan siang." ucap Carissa mengingatkan.


"Istriku juga ya." sahut Devian dengan nada menggoda.


"Iya suamiku." balas Carissa tidak kalah menggoda.


Terdengar suara tawa Carissa dan Devian bersamaan. Setelah panggilan suara pun berakhir.


"Aih, beginilah punya suami seperti mengurus anak kecil. Tapi lucu juga kalau Devian sedang posesif seperti itu." gumam Carissa kemudian terkekeh mengingat Devian memiliki sisi lain yang tidak sesuai penampilannya.


"Ah, suamiku memang unik." batin Carissa senang kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.


Selang waktu berganti, jam sudah menunjuk angka tiga sore. Carissa segera bersiap-siap menuju sebuah cafe yang akan menjadi tempat pertemuannya dengan Arya, calon rekan kerja serta teman lamanya yang sudah lama tidak bertegur sapa.


"Mbak Marni, Rissa titip butik ya. Nanti tutup saja sesuai jadwal. Saya mau pergi karena ada urusan penting." kata Carissa berpamitan dengan Mbak Marni.


"Baik, Non. Hati-hati dijalan ya." ucap Mbak Marni yang dibalas senyuman dan juga anggukan kepala Carissa.


Setelah itu Carissa bergegas menuju mobil yang sudah menunggunya, taxi yang ia pesan melalui aplikasi online.


Butuh waktu 10 menit untuk Carissa sampai di sebuah cafe yang ada dipusat kota. Tempat tongkrongan santai yang banyak pemuda-pemudi sudah memenuhi beberapa kursi disana. Carissa langsung masuk dan disambut lambaian tangan Arya di meja yang terletak di pojok ruangan dan dekat dengan jendela.


Carissa memesan sebuah minuman terlebih dahulu setelah itu baru menyusul ke tempat Arya duduk.


"Selamat sore, Nyonya Devian." sapa Arya formal dengan posisi berdiri dan mengulurkan tangannya.


"Sore, Tuan Arya." balas Carissa tak kalah formal.


Keduanya berjabat tangan kemudian saling tatap dan duduk ke kursi masing-masing.


"Terimakasih atas waktunya, Tuan Arya." ucap Carissa mengawali pembicaraan.


"Aku merasa terhormat bisa berbicara dengan Nyonya Devian." sahut Arya.


"Tidak perlu terlalu formal. Anda bisa memanggil nama saya saja." kata Carissa yang memancing senyuman aneh diwajah Arya.


"Ah, saya rasa itu akan menjadi tidak sopan. Saya khawatir Tuan Devian akan mempermasalahkan itu." ucap Arya memancing.


"Suami saya orang yang berpikiran terbuka. Saya rasa dia tidak akan keberatan. Tapi jika Anda nyaman dengan panggilan seperti itu, maka saya tidak akan mempermasalahkannya." kata Carissa seketika membuat Arya tertegun.


"Aura dingin ini cocok sekali dengan Devian. Ternyata kau punya sisi yang seperti ini, Rissa. Menarik sekali." batin Arya yang mengakui perubahan diri Carissa.

__ADS_1


"Nona Devian memang pantas menjadi istri Tuan Devian. Sepertinya hubungan kalian sangat baik ya?" tanya Arya.


"Tentu saja. Tapi kehadiran saya disini bukan untuk membahas kehidupan pribadi. Jadi apakah Tuan Arya masih ingin berbasa-basi?" perkataan Carissa seketika membuat Arya terdiam.


"Sekali berkata langsung bisa membungkam lawan bicaranya. Keterampilan yang bagus, Nyonya Devian." gumam Arya yang sangat terpukau dengan perubahan diri Carissa.


"Baiklah, seperti yang Nyonya Devian inginkan." sahut Arya kemudian barulah mereka berdiskusi masalah bisnis.


30 menit berlalu pembicaraan itu berakhir dengan kesepakatan yang baik.


"Saya berharap kerjasama kita akan berjalan lancar dan menghasilkan banyak keuntungan." ucap Arya dengan senyuman tampannya walaupun bagi Carissa senyuman Devian lebih tampan.


"Terimakasih, Tuan Arya. Saya juga berharap begitu." sahut Carissa kemudian keduanya kembali berjabat tangan tanda kerjasama telah dimulai.


Setelah itu dua piring spaghetti bolognese disajikan oleh pelayan yang tiba-tiba membuat Carissa mual.


"Apakah Nyonya baik-baik saja?" tanya Arya khawatir yang hanya dijawab anggukan kepala Carissa.


"Kenapa aku tiba-tiba mual karena mencium aroma spaghetti ini?" tanya Carissa dalam hati.


"Sepertinya saya harus ke toilet dulu." pamit Carissa kemudian segera berlari menuju toilet.


Tidak ada yang keluar dari mulut Carissa tapi perutnya tiba-tiba saja merasa sangat tidak nyaman.


"Aku makan siang tepat waktu tapi kenapa tiba-tiba mual seperti ini?" ucap Carissa bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Setelah merasa lebih baik barulah Carissa kembali ke tempat duduknya. Terlihat Arya yang sedang menunggu dengan panik.


"Nyonya benar baik-baik saja?" tanya Arya memastikan.


"Iya saya baik-baik..." belum selesai dengan ucapannya tiba-tiba Carissa merasa ingin muntah kembali saat mencium aroma makanan yang tersaji diatas meja itu.


Carissa dengan cepat kembali ke toilet namun dari mulutnya tidak bisa mengeluarkan apapun membuat tubuh Carissa lemas.


Carissa kembali ke tempat duduknya dengan jalan yang sedikit gontai. Arya bisa melihat wajah Carissa yang sudah berubah pucat.


Hampir saja Carissa terjatuh kalau tidak dengan cepat ditahan oleh Arya.


Carissa terkejut dengan tangan Arya yang menopang tubuhnya. Dengan cepat Carissa melepaskan dirinya takut ada kesalahpahaman yang akan terjadi nantinya. Carissa juga tidak ingin ada pria lain yang menyentuhnya selain suaminya, Devian.


"Maaf bukan saya tidak sopan. Tapi hanya ingin membantu Nyonya agar tidak terjatuh." ucap Arya paham dengan sikap Carissa.


"I-iya terimakasih." sahut Carissa.


"Tidak perlu, saya baik-baik..." belum selesai dengan ucapannya Carissa kembali lunglai.


Untung saja tangan Arya dengan sigap menopang tubuhnya sehingga Carissa tidak tersungkur dilantai.


"Sepertinya Anda memang harus ke rumah sakit. Maaf atas kelancangan saya, saya hanya ingin membantu Anda." kata Arya yang langsung menggendong tubuh Carissa, tak lupa juga membawa tas milik Carissa.


Carissa meronta namun tidak membuat Arya menurunkannya. Karena tubuhnya yang semakin lemas membuatnya tidak bertenaga dan akhirnya membiarkan Arya membawanya.


"Anda tenang saja, saya tidak akan macam-macam. Saya hanya ingin memastikan kalau Anda baik-baik saja." ucap Arya lagi namun tidak mendapat tanggapan dari Carissa.


Carissa yang merasakan tubuhnya semakin lemas dan kepalanya pusing hanya memejamkan matanya. Berharap tubuhnya kembali baik-baik saja.


Perjalanan 15 menit mobil Arya sampai di parkiran rumah sakit. Arya dengan cepat menggendong Carissa menuju IGD. Kali ini Carissa hanya menurutinya karena benar-benar sudah tidak bertenaga.


"Suster tolong cepat panggilkan dokter untuk memeriksa rekan saya." ucap Arya panik.


"Baik, silahkan mendaftar dulu ya, Pak." sahut suster itu namun segera disela oleh seorang dokter yang kebetulan lewat.


"Pak Arya bisa langsung bawa pasien ke ruangan saya." kata seorang dokter wanita cantik yang mungkin usianya baru 25 tahun.


"Lain kali jika Pak Arya datang kamu bisa langsung panggil saya. Pak Arya adalah salah satu pemilik saham dirumah sakit ini." bisik dokter kepada suster yang sepertinya baru bekerja di rumah sakit ini.


"Ba-baik, Dok." sahut suster gugup. Dia tidak tahu kalau pria yang baru saja datang merupakan orang penting yang mungkin ia singgung.


"Maafkan saya, Pak." ucap suster itu kepada Arya yang hanya dijawab anggukan kepala.


Dengan cepat Arya mengikuti langkah dokter wanita cantik itu menuju ruangannya.


"Tolong letakkan disini." ucap dokter Mira.


Dengan hati-hati Arya membaringkan tubuh Carissa yang sudah tidak sadarkan diri diatas ranjang rumah sakit.


"Pak Arya bisa menunggu diluar." kata dokter Mira yang langsung disetujui oleh Arya.


20 menit berlalu, dokter Mira baru selesai memeriksa Carissa.


Ceklek!

__ADS_1


Arya langsung menghentikan langkahnya yang sedari tadi mondar-mandir karena khawatir kepada Carissa.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Arya panik.


"Apa wanita ini istri Anda?" tanya dokter Mira.


"Bukan, dia adalah rekan bisnis saya." jawab Arya menumbuhkan senyum diwajah dokter cantik itu.


"Sepertinya Bapak harus segera menghubungi suaminya." ucap dokter Mira.


Arya mengerutkan keningnya.


"Apakah kondisinya parah?" tanya Arya panik.


Mira menghela nafasnya kemudian tersenyum manis.


"Tidak. Dia baik-baik saja. Hanya sebuah kabar bahagia." jawab Mira semakin membuat Arya tidak mengerti.


"Kabar bahagia?" tanya Arya bingung.


"Iya, rekan Anda sedang mengandung." jawab Mira membuat Arya terdiam.


DEG!


"Baiklah, saya akan memeriksa pasien yang lain dulu. Nanti saya akan kembali kesini." pamit Mira yang hanya dibalas anggukan kepala Arya.


Seketika tubuh Arya lemas, ia terduduk di kursi. Mendengar wanita yang ia sukai menikah saja sudah membuat hatinya hancur apalagi sekarang mengetahui bahwa sang wanita itu mengandung anak orang lain.


Arya termenung sejenak. Saat ini dipikirannya terlintas ingatan saat dirinya dan Carissa masih duduk dibangku SMA. Sangat indah namun Tuhan selalu punya rencana yang tak bisa ditebak.


Arya masuk ke ruangan dan melihat Carissa yang masih terlelap dengan tenang.


"Apa kau bahagia bersamanya, Sa?" tanya Arya.


"Sekarang bahkan kau sudah mengandung buah cinta kalian. Ada kesempatan apalagi diriku untuk memilikimu?" tanya Arya lagi.


"Ah, Tuhan memang selalu punya kejutan."


"Tadi pagi saat Devian menghubungiku, aku masih berpikir akan punya kesempatan untuk merebutmu. Tapi sekarang, Tuhan sepertinya telah menunjukkan bahwa apa yang sudah Dia takdirkan tidak akan bisa diubah oleh manusia sepertiku."


"Lucu sekali aku sempat mempunyai pikiran kotor seperti itu." kata Arya yang berdialog dengan dirinya sendiri.


Arya kembali keluar ruangan kemudian menelpon Devian.


"Dev, cepat ke rumah sakit sekarang." kata Arya to the poin.


"Rumah sakit? Ada apa? Terjadi sesuatu dengan istriku?" tanya Devian panik.


"Lebih baik kau kesini sekarang." jawab Arya kemudian memutuskan panggilannya.


"Beruntung sekali kau, Dev." batin Arya kemudian merebahkan dirinya di kursi tunggu.


15 menit kemudian, Devian sudah datang dengan wajahnya yang panik.


"Ada apa dengan istriku? Kau berani melukai istriku?" tanya Devian yang langsung menarik kerah Arya.


"Apa Anda suami dari Nona Carissa?" tanya Mira yang datangnya tepat waktu jadi tidak perlu ada keributan di rumah sakit.


"Iya, Dok." jawab Devian sambil mengatur emosinya.


"Mari ikut ke ruangan saya." ajak Mira.


Devian melirik Arya sekilas yang membuang muka darinya, barulah ia masuk ke ruangan dokter.


"Ini hasil pemeriksaan istri Anda, Tuan." ucap Mira menyerahkan 3 lembar hasil USG.


"Apa ini, Dok? Apakah istri saya mengidap penyakit yang parah?" tanya Devian tak mengerti dengan foto hitam putih yang ia terima.


Mira tertawa kecil membuat Devian semakin kebingungan.


"Selamat, Tuan akan menjadi seorang ayah." jawab Mira.


"Ayah?" tanya Devian yang dijawab dengan anggukan kepala Mira.


Devian yang menerima jawaban itu tiba-tiba terdiam. Perasaanya kini terasa campur aduk. Devian tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Sepertinya istri Anda belum sadarkan diri. Apakah ingin rawat inap?" tanya Mira.


"Iya. Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya, Dok." jawab Devian mantap.


"Baik, saya akan meminta petugas untuk menyiapkan kamar." ucap Mira setelah itu keluar dari ruangan membiarkan Devian memiliki waktu dengan istrinya.

__ADS_1


-BERSAMBUNG


__ADS_2