Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Keraguan


__ADS_3

Setelah makan malam romantis dan mengungkapkan perasaan masing-masing, dua sejoli yang sudah menjadi sepasang kekasih itu memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan Devian tak melepaskan genggamannya pada tangan Carissa.


Mobil Devian berhenti di depan gerbang rumah Carissa.


"Terimakasih untuk malam ini, Dev." ucap Carissa yang akan turun dari mobil namun dengan cepat ditahan Devian.


Carissa menatap Devian.


"Ada apa?" tanya Carissa.


"Kau belum memberiku hadiah." protes Devian.


"Hadiah? Memangnya kau sedang ulang tahun?" tanya Carissa polos.


Devian kesal dengan kepolosan Carissa. Dengan cepat Devian menangkup wajah Carissa lalu ******* bibir Carissa.


Carissa kaget dengan serangan tiba-tiba Devian. Carissa mendorong tubuh Devian dengan kuat namun sia-sia. Setelah Carissa hampir kehabisan nafas barulah Devian melepaskan pagutannya.


Carissa terengah-engah, ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


"Kau gila, Dev!" umpat Carissa kesal.


"Maaf, Sayang. Kamu gak peka sih, jadi aku sendiri yang mengambil hadiahku." sahut Devian dengan senyum mengembang.


Carissa mencubit pipi Devian, ia kesal dengan Devian.


"Kan bisa bilang dulu. Jangan langsung nyosor." gerutu Carissa yang mengerucutkan bibirnya dan membuat gembungan di kedua pipinya.


Devian terkekeh pelan, ia membelai lembut kepala Carissa lalu mengecup keningnya.


"Hem, baiklah. Aku akan izin lebih dulu sebelum ...... " ucap Devian sambil memonyongkan bibirnya dan mengedip-ngedipkan matanya.


"Dev, berhenti menggodaku!" ucap Carissa malu-malu.


Devian melihat semburat merah di kedua pipi Carissa.


"Kenapa masih malu-malu, Sayang? Kita kan sepasang kekasih. Bahkan aku ingin kita menuju jenjang yang lebih serius." ucap Devian penuh harap.


Carissa mendongakkan kepalanya lalu menatap wajah Devian yang penuh dengan keseriusan.


"Apakah kamu tau identitasku, Dev?" tanya Carissa.


"Aku tak peduli dengan identitasmu, Rissa. Kau tak bisa memilih lahir dari keluarga kaya atau miskin. Tapi yang aku tau saat ini, aku ingin menemanimu meraih masa depan yang indah." ucap Devian sembari menggenggam tangan Carissa.


Carissa menatap Devian lalu menghela nafas. Carissa tidak tau harus bahagia atau khawatir dengan pernyataan Devian.


"Dev, bagaimana jika ada sesuatu yang aku sembunyikan darimu?" tanya Carissa.


Devian menatap wajah Carissa lekat.


"Apakah kamu tidak ingin mengatakannya padaku?" tanya Devian.


Carissa hanya diam tanpa jawaban.


"Jika memang ada yang kau sembunyikan dan belum ingin menunjukkannya padaku maka aku hargai keputusanmu. Aku yakin kamu pasti punya alasan sendiri. Dan aku berharap, aku adalah orang yang kau percayai dan kau bisa selalu jujur denganku." ucap Devian lalu mengangkat dagu Carissa untuk melihat wajah Carissa. Devian tak bisa menyimpulkan dan menebak rahasia apa yang disembunyikan Carissa. Devian hanya mencoba untuk memahami Carissa. Bukankah itu yang sepatutnya dilakukan oleh orang yang menjalin hubungan? Memahami dan percaya.


Carissa terharu dengan perkataan Devian. Carissa tersentuh dengan ketulusan Devian. Namun Carissa masih belum ingin mengungkapkan jatidirinya. Carissa masih belum yakin tentang perasaannya, dan ia akan meneruskan rencananya untuk bisa menemukan pria yang menerima dirinya apa adanya.


"Terimakasih atas pengertianmu, Dev. Terkadang semua hal tak bisa selalu ditampakkan, ada beberapa hal yang perlu disembunyikan. Aku berharap kau adalah pria yang bisa kupercayai dan bisa ku andalkan." ucap Carissa.


"Beri aku waktu, Dev. Aku harap pada hari kau mengetahui kebenarannya, kau takkan kecewa denganku. Dan semoga Allah merestui kita." ucap Carissa yang kemudian mengecup pipi Devian lembut.


Devian menatap wajah Carissa lekat lalu memeluknya cukup lama. Devian tak ingin melepaskan pelukkannya, ia seolah takut kehilangan Carissa.


"Sudah larut, Dev. Aku masuk dulu ya. Sampai jumpa besok pagi." ucap Carissa yang menguraikan pelukkannya lalu turun dari mobil Devian.


"Hati-hati di jalan, Dev." ucap Carissa yang menutup kembali pintu mobil lalu melambaikan tangan pada Devian.


Devian tersenyum pada Carissa lalu melajukan mobilnya.


20 menit perjalanan, Devian sampai dirumahnya.


"Darimana, Dev?" tanya Ayah Adhitama yang duduk si ruang tamu menunggu kedatangan Devian.

__ADS_1


"Makan malam sama Carissa, Yah." ucap Devian lalu menuju soffa untuk duduk di samping ayahnya.


"Sudah sejauh apa hubungan kalian?" tanya Adhitama.


"Baru pacaran, Yah." jawab Devian.


Adhitama menghembuskan nafas kasar.


"Sebenarnya ada hal besar yang perlu Ayah sampaikan kepadamu." ucap Adhitama.


Devian menatap wajah serius ayahnya.


"Ada apa, Yah?"


"Kamu sebaiknya jauhi wanita itu." ucap Adhitama.


Devian mengernyitkan dahinya.


"Bukannya Ayah kemarin sudah menyetujui hubunganku dengan Carissa?" tanya Devian heran.


"Sepertinya dia bukan wanita baik-baik." jawab Adhitama.


Devian terdiam sejenak.


"Yah, selama Devian mengenalnya dari awal dia adalah wanita baik. Devian tak masalah dengan statusnya." ucap Devian meyakinkan.


"Apa kau benar-benar telah jatuh hati pada wanita itu? Kamu tak takut kalau ternyata dia hanya menginginkan hartamu?" tanya Adhitama lagi.


Devian sejenak berpikir. Devian menilai Carissa bukanlah wanita yang gila harta.


"Insha Allah, Devian yakin Carissa bukan wanita seperti itu." jawab Devian mantap.


Adhitam menghela nafas, ia melihat kegigihan putranya yang sedang dibutakan cinta. Percuma saja menasehati orang yang sedang jatuh cinta.


"Baik. Ayah akan mencoba mengetes wanita itu. Tapi kamu jangan protes dengan apapun cara Ayah lakukan." ucap Adhitama.


Devian memandang wajah ayahnya dengan curiga.


"Ayah, apa rencanamu?" teriak Devian namun sia-sia karena Adhitama sudah menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


*


*


*


Pagi hari di MF Group


Setelah sekian lama, hari ini Adhitama Mahendra menuju perusahaan tanpa sepengetahuan Devian.


"Kita lihat saja, Dev." gumam Adhitama.


"Alex, adakan pertemuan rapat sekarang!" perintah Adhitama pada asisten pribadi Devian.


"Baik, Pak." ucap Alex yang langsung melaksanakan perintah Adhitama.


20 menit kemudian, ruang rapat sudah dipenuhi dengan karyawan tak terkecuali Devian dan Carissa.


Sesaat kemudian pintu ruangan terbuka dan masuklah Adhitama Mahendra yang disambut para karyawan.


"Selamat pagi, Pak." ucap mereka serempak.


Adhitama duduk di kursi sebelah Devian.


"Ada hal yang penting yang perlu saya sampaikan kepada kalian semua."


Devian menolehkan kepalanya lalu menatap heran kepada ayahnya.


"Hari ini saya memutuskan untuk mencabut jabatan CEO pada anak saya, Devian Mahendra. Untuk sementara akan digantikan oleh Alex." ucap Adhitama yang membuat semua orang didalam ruangam terkejut.


"Apa maksud Ayah?" ucap Devian yang juga sangat terkejut dengan keputusan ayahnya.


"Kamu masih ingat apa yang kita bicarakan tadi malam bukan?" jawab Adhitama dengan berbisik.

__ADS_1


"Sekian pengumuman dari saya. Silahkan keluar." ucap Adhitama.


Satu per satu karyawan meninggalkan ruangan dan hanya meninggalkan Adhitama dan Devian.


"Apa yang Ayah rencanakan?" tanya Devian.


"Kalau kamu ingin tau wanita itu benar-benar atau tidak maka mulai dari sini. Ikuti saja rencana Ayah." jawab Adhitama yang kemudian menepuk pundak Devian.


"Tapi kalau begini aku yang repot, Yah. Sekarang aku jadi pengangguran." protes Devian.


"Tenang saja kau masih CEO di MF Group. Kau bisa memantau perusahaan dari Alex. Lagipula ini untuk kebaikanmu, Dev. Apakah wanita itu pantas untuk kau perjuangkan atau tidak." ucap Adhitama.


Dua pria itu akhirnya keluar dari ruangan. Adhitama memutuskan untuk kembali ke rumah. Saat sampai di lobby tanpa sengaja ia berpapasan dengan Carissa. Adhitama hanya menampilkan ekspresi datar. Berbeda dengan Carissa yang menyapa dengan senyuman lembut lalu menganggukkan kepalanya.


Carissa menuju ruang Devian. Carissa juga sangat terkejut dengan keputusan ayah Devian. Carissa bermaksud untuk mengetahui keadaan Devian yang mungkin saat ini akan sedih.


"Dev, apakah aku boleh masuk?" tanya Carissa yang berdiri di ambang pintu.


"Masuklah." sahut Devian.


Carissa masuk lalu menutup pintu ruangan Devian rapat-rapat.


"Apa kamu baik-baik saja, Dev?" tanya Carissa pada Devian yang duduk di soffa dekat ruang istirahat Devian.


"Menurutmu?" ucap Devian yang menampakkan wajah lesu.


Carissa menghampiri Devian dan duduk di sebelahnya. Carissa membelai lembut punggung Devian.


"Aku pikir anak seorang pemilik perusahaan tidak akan diberhentikan kerja." ucap Carissa yang terus memerhatikan wajah Devian.


Devian seketika menoleh pada Carissa, ia menatap wajah Carissa penuh tanda tanya.


"Apa kau keberatan?" tanya Devian.


"Maksudmu?" ucap Carissa balik bertanya.


"Apa kau tidak keberatan kalau aku sekarang seorang pengangguran?" tanya Devian yang menatap Carissa mencoba mencari sesuatu disana.


Carissa terkekeh pelan yang membuat kening Devian mengernyit.


"Meskipun kau pengangguran, kau tetaplah anak pemilik perusahaan. Mana mungkin hidupmu susah." jawab Carissa.


Devian mencoba mencerna jawaban Carissa. Devian tak mengerti dengan perkataan Carissa.


"Apa yang kau khawatirkan?" tanya Carissa yang melihat Devian melamun.


Devian menyelidiki wajah wanita yang ada dihadapannya saat ini.


"Aku pikir kau akan meninggalkanku." ucap Devian.


Carissa tertawa mendengar jawaban Devian.


"Apa kau pikir aku adalah wanita yang mengincar hartamu?" tanya Carissa pada Devian dengan tatapan penuh selidik.


Devian hanya diam tanpa menjawab.


"Kau terlalu menilai rendah diriku, Dev." ucap Carissa seraya memalingkan wajahnya dari Devian.


Devian yang menyadari itu langsung memeluk tubuh Carissa. Devian merasa bersalah sempat meragukan Carissa.


"Maafkan aku, Sayang." ucap Devian lembut.


Carissa menguraikan pelukkanya dan menatap wajah Devian.


"Dev, jika kau pikir aku adalah wanita yang gila harta, kau salah besar. Bagiku hartamu itu adalah milikmu. Aku tak butuh hartamu, Dev. Aku bisa mencarinya sendiri." ucap Carissa.


Devian menarik tubuh Carissa untuk kembali dalam dekapannya.


"Maafkan aku." ucap Devian sembari mengecup pucuk kepala Carissa.


Carissa mengeratkan pelukannya di tubuh Devian. Mereka berpelukan cukup lama, tanpa sepatah kata. Mereka saling mencoba untuk menghapus keraguan yang masih tersimpan di hati.


-BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2