
Devian dan Carissa masuk ke dalam kamar setelah haru mulai gelap. Pasangan muda itu baru saja selesai berkeliling taman di belakang rumah.
"Aku mandi duluan ya, Dev.. sayang." ucap Carissa yang belum terbiasa memanggil suaminya dengan sebutan sayang.
Devian tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Setelah Carissa masuk ke kamar mandi, Devian mengambil ponselnya yang ada diatas nakas.
"Bunda? Ada apa ya?" tanya Devian saat mendapati notif 2 panggilan tak terjawab.
Devian segera melakukan panggilan suara kepada ibundanya.
"Hallo, Bun.. Ada apa telpon Dev? Maaf tadi Dev baru saja jalan di taman sama Rissa." sapa Devian saat panggilannya terhubung.
"Tadi Bunda sama Ayah berniat untuk mengajak kalian dinner. Bunda sudah lama tidak makan diluar. Tapi lain kali saja." sahut Bunda Tamara.
"Kenapa tidak malam ini saja Bun?" tanya Devian.
"Sudah menjelang malam, Nak. Lagipula Bunda dan Ayah belum reservasi restoran." jawab Bunda Tamara.
"Bunda tenang saja. Masih sempat kok. Kebetulan Dev punya kerabat yang punya resto bintang 5." sahut Devian.
"Benarkah?" tanya Bunda Tamara yang terdengar antusias.
"Benar, Bun. Nanti Dev hubungi Bunda lagi, jam dan tempatnya." jawab Devian.
"Baiklah. Kamu memang anak Bunda yang pengertian. Bunda juga rindu dengan menantuku yang cantik." ucap Bunda Tamara bersemangat.
Bunda Tamara mematikan panggilan suara itu. Seketika Devian menelpon seseorang untuk menyiapkan tempat untuk dinner bersama istri dan orangtuanya.
Ceklek!
Carissa keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrope. Carissa mendapati Devian yang baru saja selesai menelpon.
"Telpon dari siapa sayang?" tanya Carissa membuat Devian berbalik badan.
"Sudah selesai mandinya? Ini sayang, habis telpon temanku pemilik Taste Resto untuk menyiapkan tempat." jawab Devian.
__ADS_1
"Untuk siapa? Memangnya kita mau makan diluar?" tanya Carissa lagi.
"Iya sayang. Tadi Bunda nelpon ingin makan malam bersama diluar. Katanya juga kangen sama menantu cantiknya." jawab Devian.
"Baiklah, sudah beberapa hari kita belum ketemu Bunda dan Ayah. Sekarang giliranmu mandi, nanti kusiapkan pakaianmu." sahut Carissa menuju walk in closet sedangkan Devian masuk ke kamar mandi.
40 menit kemudian, Carissa dan Devian sudah siap berangkat ke resto yang menjadi tempat untuk makan malam bersama Ayah Adhitama dan Bunda Tamara. Devian sudah mengirimkan nama dan juga alamat Taste Resto kepada Bunda Tamara melalui pesan teks.
"Mbok, Rissa sama Devian mau makan diluar sama Ayah dan Bunda. Nanti kalau Papa dan Mama sudah pulang tolong sampaikan ya." ucap Carissa kepada Mbok Asih yang sedang sibuk di dapur.
"Baik, Non. Nanti Mbok sampaikan." sahut Mbok Asih.
Carissa dan Devian sudah berada didalam mobil. Devian menginjak gas mobilnya menuju Taste Resto yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman orangtua Carissa.
Menempuh perjalanan selama 20 menit mobil Devian sudah memasuki area parkir restoran bintang 5 milik teman Devian bersamaan dengan mobil orangtua Devian yang juga baru saja datang.
"Kebetulan sekali bisa bareng datangnya." ucap Bunda Tamara saat sudah keluar dari mobil bersama dengan Ayah Adhitama.
"Bunda kangen sekali sama kamu Rissa sayang." kata Bunda Tamara menghampiri Carissa dan langsung memeluk menantunya.
"Rissa juga kangen sama Bunda. Maaf kemarin Rissa cuma menginap semalam dirumah Bunda." sahut Carissa merasa bersalah.
"Ayo ngobrolnya dilanjut didalam saja." ucap Ayah Adhitama membuat Bunda Tamara melepaskan bpelukannya dari Carissa.
"Ayah mengganggu saja, kan Bunda sedang melepaskan rindu dengan menantu kesayangan Bunda." gerutu Bunda Tamara membuat Carissa dan Devian tertawa kecil.
"Nanti dilanjutkan lagi. Ayah sudah lapar." ucap Ayah Adhitama.
Pasangan muda dan paruh baya itu memasuki resto dan menduduki tempat yang sudah dipesan sebelumnya. Tak perlu menunggu lama, para pelayan sudah berdatangan untuk menyajikan makanan.
"Bunda senang sekali akhirnya bisa makan malam bersama diluar seperti ini. Ayah dan Dev sangat sibuk dengan pekerjaan." ucap Bunda Tamara menyindir suami dan anaknya.
"Maafkan Dev, Bunda." kata Devian merasa bersalah.
"Sekarang kamu harus sering menyempatkan waktu untuk Rissa. Mengajaknya makan malam diluar atau menemaninya belanja. Jangan sampai istrimu bosan dirumah menunggumu." ucap Bunda Tamara sambil melirik ke arah suaminya.
"Hem mulai deh drama." gumam Ayah Adhitama yang mendapat lirikan sinis dari Bunda Tamara.
__ADS_1
"Dev akan berusaha untuk punya waktu lebih bersama Rissa, Bunda." sahut Devian.
"Harus itu Dev. Jangan seperti ayahmu yang gila kerja sehingga lupa dengan keluarga." ucap Bunda Tamara membuat Ayah Adhitama hampir saja tersedak.
"Itu kan dulu waktu Ayah masih muda, Bun. Sekarang Ayah sudah sering menghabiskan waktu bersama Bunda dirumah." sahut Ayah Adhitama membela diri.
"Ehm. Sudah-sudah. Ayah dan Bunda kalau mau berdebat nanti saja dilanjut dirumah. Jangan merusak suasana makan malam ini." sela Devian membuat Bunda Tamara dan Ayah Adhitama tersadar dan menghentikan perdebatannya.
Carissa hanya tersenyum mendengar perdebatan mertuanya kemudian melanjutkan untuk menikmati hidangan yang ada dihadapannya.
"Rissa kapan-kapan temani Bunda ke mall ya. Kita shoping sepuasnya untuk menghabiskan uang suami kita." ucap Bunda Tamara.
Ayah Adhitama dan Devian seketika saling melempar pandang dan menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Bunda Tamara.
"Boleh Bun. Bunda telpon Rissa saja waktu Bunda ingin pergi keluar. Insha Allah Rissa bisa temani Bunda." sahut Carissa membuat Bunda Tamara senang.
"Menantuku ini memang paling pengertian." ucap Bunda Tamara tersenyum puas.
Carissa membalas ucapan Bunda Tamara dengan senyuman manis.
"Kapan kalian menginap lagi dirumah?" kali ini Ayah Adhitama yang bertanya.
"Lusa mungkin, Yah. Dev juga harus berkemas barang-barang Dev untuk pindah ke rumah kami sendiri." jawab Devian membuat Bunda Tamara dan Ayah Adhitama seketika berubah ekspresi.
Carissa yang menyadari raut sedih si wajah mertuanya menyenggol bahu Devian dan memberi kode kepada suaminya untuk menghibur orangtuanya.
"Kami akan mengusahakan untuk mengunjungi Ayah dan Bunda seminggu sekali. Atau bisa saja dengan makan malam seperti ini." ucap Devian yang akhirnya paham dengan kesedihan orangtuanya.
"Bunda belum terbiasa saja, Nak. Sekarang kamu sudah menikah dan memang sudah seharusnya memiliki kehidupan baru dan tinggal di rumah sendiri bersama istrimu." sahut Bunda Tamara yang sudah nampak senyum diwajahnya.
"Rissa tidak keberatan Bunda kalau sering main ke rumah. Lagipula Dev mencari rumah yang letaknya strategis. Jaraknya berada ditengah-tengah, tidak jauh dari rumah Bunda dan rumah orangtua Rissa." ucap Carissa.
"Kamu memang istri yang sangat pengertian, Sayang. Beruntung Dev memilikimu. Bunda sangat bersyukur punya menantu sepertimu, Nak." ucap Bunda Tamara menatap wajah Carissa lekat.
"Bunda terlalu menyanjungku. Justru Carissa yang beruntung memiliki mertua seperti Ayah dan Bunda yang menerima Rissa dan menyayangi Rissa seperti anak sendiri." sahut Carissa.
"Memang sudah seharusnya seperti itu, Nak." ucap Ayah Adhitama tersenyum hangat kepada menantunya.
__ADS_1
Devian yang menyaksikan interaksi hangat kedua orangtua dan istrinya merasa bahagia. Seperti harapan Devian selama ini kalau istrinya bisa memiliki hubungan baik dengan orangtuanya.
-BERSAMBUNG