Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Kabar Bahagia


__ADS_3

1 bulan berlalu.


Hari ini Devian seharian tak bertukar kabar dengan Carissa. Pesan yang dikirim Devian sedari pagi sampai menjelang malam tak satupun mendapat balasan dari Carissa. Berulang kali Devian mencoba melakukan panggilan tak ada yang tersambung.


"Sayang kamu dimana?" gumam Devian khawatir.


Devian mulai berpikiran negatif. Devian takut terjadi sesuatu dengan Carissa.


"Kalau sampai besok belum ada kabar, aku akan menyusulmu Sayang." tekad Devian dalam hati.


Devian duduk di teras rumah yang terdapat taman kecil di halamannya. Devian terlihat gusar, mengecek ponsel beberapa kali namun tak ada pesan ataupun panggilan masuk dari Carissa. Bunda Tamara yang melihat Devian tak tenang memutuskan untuk menghampiri putra semata wayangnya itu.


"Dev, kamu kenapa? Ada masalah?" tanya Bunda Tamara yang membuat Devian menoleh.


Devian terdiam, tanpa jawaban dengan tatapan sendu.


"Ada apa Sayang? Kamu sangat gelisah. Cerita sama Bunda." ucap Tamara yang sudah duduk di samping Devian.


"Bun.. seharian ini Dev gak bisa hubungin Rissa. Pesan satupun gak ada yang dibalas, telpon gak diangkat. Dev khawatir terjadi sesuatu sama Rissa." jawab Devian yang tak bisa menyembunyikan kekhawatiran diwajahnya.


Bunda Tamara menggenggam tangan Devian lalu menatap lembut wajah putranya.


"Sayang.. coba tenangkan dirimu. Mungkin saja Rissa sedang sibuk dengan studinya." ucap Bunda Tamara berusaha menenangkan Devian.


"Tapi, Bun."


"Singkirkan pikiranmu yang tidak-tidak. Do'a kan yang terbaik untuk Rissa. Percaya Allah akan jaga Rissa." potong Bunda Tamara sebelum Devian semakin panik.


Devian menatap Bunda Tamara, ia berharap apa yang dikatakan Tamara bisa membuatnya tenang. Devian mendongakkan kepalanya untuk menatap langit hitam lalu menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan. Devian memejamkan matanya, ia mencoba menghapus semua perasaan gelisah yang sudah memenuhi dadanya.


"Bunda benar. Devian shalat isya dulu, Bun." ucap Devian.


"Yasudah shalat dulu. Do'a sama Allah agar Rissa diberikan perlindungan." Tamara mengulas senyum lembut dan menepuk pelan pundak kokoh putranya.


Devian tersenyum lalu bergegas menuju kamarnya.


Setelah Devian mengambil wudhu, ia pun melaksanakan shalat dengan khusyuk. Tak lupa Devian berdo'a meminta perlindungan untuk Carissa. Selesai shalat dan berdo'a, Devian menuju tempat tidurnya. Devian membuka ponselnya kembali berharap ada kabar dari sang pujaan hati, namun nihil. Devian menghela nafas.


"Sayang. Semoga kamu baik-baik saja." harap Devian dalam hati.


Devian larut dalam lamunan, terbayang jelas wajah cantik Carissa dalam pikirannya. Saat Carissa tersenyum, tertawa, kesal, marah dan menangis terbayang jelas dalam pikiran Devian. Ia sangat merindukan wanita yang saat ini sudah memenuhi ruang di hatinya. Devian tidak tau pasti, kapan ia mulai jatuh cinta pada Carissa. Namun saat Carissa tidak ada disampingnya, ia merasakan sesak. Seperti hari ini, Devian hampir gila karena tak mendapat kabar dari Carissa. Devian rasanya ingin sekali terbang ke New York malam ini juga untuk menemui Carissa. Devian ingin bertanya langsung kepada Carissa. Namun Devian mencoba menahannya, jika esok pagi masih belum ada kabar dari Carissa maka ia memutuskan untuk menyusul sang pujaan hati.


Devian mencoba berpikir positif, tak lupa mendo'akan keselamatan Carissa. Matanya mulai terasa berat, dengan terpaksa Devian tertidur dengan perasaan yang campur aduk dan berharap besok pagi Carissa sudah bisa dihubungi.

__ADS_1


"Pa, gimana rencana pernikahan Devian dan Rissa?" tanya Mama Allisa yang sedang menyeduh teh bersama Papa Cakra di ruang keluarga.


"Mama tenang saja. Persiapannya sudah diatur Adhitama. Tinggal menunggu putri kita kembali." jawab Cakra sembari menyesap teh.


"Apa Rissa sudah setuju, Pa? Maksud Mama, apa gak sebaiknya kita bicarakan dulu dengan Rissa, Pa?" tanya Mama Allisa.


Cakra menghela nafas pelan lalu menatap wajah cantik istrinya yang tak pudar dimakan usia.


"Mama meragukan Rissa? Tentu saja dia akan setuju, Ma. Tidak akan ada penolakan." ucap Papa Cakra yakin.


"Kenapa Papa yakin sekali? Kita sama sekali belum membahasnya pada Rissa." Mama Allisa masih ragu dengan ucapan suaminya.


"Ma.. jangan khawatir. Papa yakin Devian sudah sering membicarakannya dengan Rissa. Aku tau bagaimana sifat putri kita itu." jawab Cakra diiringi tawa kecil.


Allisa menghembuskan nafas kasar. Allisa tak mengerti dengan pemikiran Cakra.


"Do'akan saja yang terbaik, Ma. Dan rencana ini berjalan dengan lancar. Lagipula kita sudah sangat mengenal calon besan kita bukan?" ucap Papa Cakra yang melihat kebingungan Allisa.


"Baiklah. Mama hanya mengharapkan kebaikan untuk putri kita, Pa." ucap Allisa menggenggam erat tangan Cakra.


Cakra membalas genggaman Allisa lalu membelai lembut rambut panjang istrinya.


"Mama tenang saja. Devian adalah pria baik, ia pantas menjadi pendamping Rissa. Papa yakin, ia bisa menjaga Rissa dan bisa diandalkan." ucap Cakra kemudian memeluk erat tubuh istrinya.


"Aamiin. Mama juga berharap begitu." sahut Allisa dan membalas pelukan suaminya erat. Allisa mencoba menepis semua keraguannya dalam dekapan pria yang akan menjadi teman hidupnya hingga maut menjemput.


Pagi hari di New York.


Carissa sudah bersiap menuju kampus untuk mengumpulkan beberapa tugas yang sudah direvisi. Carissa mengambil ponselnya yang ada diatas meja.


"Astaga! Pantas saja dari kemarin aku tak mendengar bunyi ponselku." ucap Carissa yang segera mengaktifkan ponselnya.


Kemarin Carissa memang disibukkan dengan tugas hingga larut malam. Saat kembali ke homestay ia mengecas ponselnya yang kehabisan daya.


"Pasti Devian marah." batin Carissa yang sudah mendapatkan 24 pesan masuk dari Devian.


Carissa langsung menekan nomor Devian dan melakukan panggilan suara.


Tut Tut Tut


"Pasti Devian sudah tidur." gumam Carissa melihat arlojinya yang menunjukkan pukul 10.00 waktu New York.


Carissa mencoba memanggil Devian lagi.

__ADS_1


Tut Tut Tut


"Aku kirim pesan saja." ucap Carissa sembari mengetik sebuah pesan lalu mengirimkannya kepada Devian.


Carissa bergegas menuju kampus untuk segera menyerahkan tugas yang sudah ia revisi semalaman.


10 menit perjalanan, Carissa sampai di depan gerbang kampus. Carissa segera memasuki kampus dan menuju ruangan Georgia.


"Pagi, Madam." sapa Carissa yang mendapati Georgia sedang duduk di bangkunya.


"Pagi, Rissa. Apakah semua sudah selesai?" tanya Georgia dengan mengulas senyum tipis.


Carissa menganggukan kepalanya dengan semangat dan segera menyerahkan tugasnya yang telah direvisi.


Georgia segera menerima dan meneliti tugas Carissa dengan seksama.


"Wow. Kamu sangat brilian!" puji Georgia yang sangat takjub dengan Carissa.


"Aku tak menyangka, revisinya bisa seperti ini. Melebihi ekspektasiku, Rissa." imbuh Georgia yang masih terkagum dengan kecerdasan Carissa.


"Aku mengubah beberapa konsep dan menambahkan ide yang terlintas di pikiranku." ucap Carissa mengulas senyum puas.


"Baiklah. Aku sangat suka dengan hasilmu. Kamu sudah dinyatakan lulus bahkan tanpa merevisi tugas terakhirmu ini." ucap Georgia sambil mengulurkan tangan kepada Carissa.


"Madam serius?" tanya Carissa memastikan.


Georgia menganggukkan kepalanya lalu tersenyum pada Carissa.


Carissa menerima uluran tangan Georgia. Carissa masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Selamat Rissa! Kemarin saat aku melihat tugasmu, aku sangat yakin kamu bisa lebih dari yang kemarin kamu buat. Dan hari ini kamu membuktikannya. Sekali lagi selamat." Georgia memeluk Carissa.


Carissa menyambut pelukan Georgia dengan penuh haru. Carissa masih tak menduga studinya akan berakhir secepat ini.


"Terimakasih, Madam. Semua ini berkat Madam yang tak lelah memberiku bimbingan yang sangat luar biasa. Ini adalah hasil dari kerja keras kita bersama." ucap Carissa yang menitikkan airmata bahagia.


"Baiklah. Selamat atas kelulusanmu, Rissa. Maukah kau mengajakku makan malam?" tanya Georgia kepada Carissa.


"Tentu. Ayo kita rayakan nanti malam." ucap Carissa penuh semangat lalu menguraikan pelukkannya dari tubuh Georgia.


-BERSAMBUNG


(Maaf ya Readers baru up cerita lagi. Beberapa hari kemarin minthor lagi kuran sehat. Cerita Devian dan Carissa masih berlanjut kok. Do'akan semoga kesehatan minthor cepat pulih ya, biar bisa up episode banyak! Terimakasih DevRissa Lovers yang sudah setia menunggu kelanjutan kisah "Gejolak Cinta Tuan dan Nona Muda" ❤❤❤)

__ADS_1


__ADS_2