
"Wow, kau menyiapkan ini semua Dev? Aku tak menyangka dirimu benar-benar suami yang romantis." puji Carissa.
"Kau meremehkanku." sahut Devian membuat Carissa terkekeh.
"Terimakasih banyak suamiku. Pasti sangat merepotkan menyiapkan ini semua kan? Aku benar-benar tersanjung." kata Carissa lalu memberikan pelukan kepada suaminya.
"Apa kau bahagia?" tanya Devian membalas pelukan istrinya erat.
"Tentu. Aku sangat-sangat bahagia. Terimakasih banyak Dev." ucap Carissa tak terasa menitikkan airmata haru.
"Kau menangis? Apa aku menyakitimu?" tanya Devian panik saat merasakan dadanya basah.
"Aku menangis karena bahagia, Dev. Aku benar-benar beruntung bisa dipertemukan pria sepertimu." jawab Carissa membuat Devian lega.
"Kau menakutiku saja." sahut Devian.
"Tidak perlu berterimakasih, Sayang. Hal wajar kalau aku sebagai suami ingin membuatmu bahagia. Lagipula harusnya bulanmadu ini sudah kita lakukan saat kita baru saja menikah. Maafkan aku yang melalaikan hal penting ini." ucap Devian sembari mengecup pucuk kepala istrinya.
"Jangan merasa bersalah seperti itu. Bukankah setiap hari kita juga sudah berbulan madu? Apapun asalkan kita bersama itu sudah cukup bagiku." kata Carissa.
"I love you, Sayang." ucap Devian.
"I love you too, Dev." sahut Carissa.
...****************...
"Aaaa!!!" teriak Aninda.
"Sayang, ada apa?" tanya Alex panik.
Alex mencoba mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi yang terkunci.
"Sayang, kau baik-baik saja? Tolong jawab aku!" teriak Alex khawatir.
CEKLEK!
"Kau kenapa?" tanya Alex panik dengan mengecek seluruh tubuh istrinya memastikan bahwa Aninda baik-baik saja.
Aninda tak mengucap sepatah kata pun hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Sayang kenapa menangis? Apakah kau terluka?" tanya Alex semakin panik.
"Ini lihatlah." ucap Aninda sembari menyerahkan sebuah testpack bertanda dua garis merah kepada Alex.
"Ini apa Sayang?" tanya Alex bingung.
"Aku hamil." jawab Aninda.
Alex terdiam sejenak kedua matanya membola dan mulutnya terbuka.
"Kau berkata apa? Coba ulangi lagi." pinta Alex.
"Aku hamil, Sayang. Kau akan jadi seorang ayah." ucap Aninda.
Alex melompat kegirangan kemudian memeluk Aninda dan membawanya berputar.
"Aku akan jadi Ayah. Hore!" teriak Alex gembira.
__ADS_1
"Sayang, turunkan aku." pinta Aninda memberontak.
"Ah maaf istriku. Aku terlalu senang." ucap Alex bersalah.
"Aku tidak menyangka jika reaksimu akan seheboh ini." kata Aninda.
"Terimakasih istriku. Aku benar-benar bahagia." ucap Alex bersyukur tak henti sambil mengecupi wajah Aninda.
"Sayang hentikan. Kau membuatku geli." protes Aninda.
"Akhirnya aku bisa menyaingi si Dev itu. Aku juga tidak kalah dengannya." kata Alex.
"Ini anak kita bukan ajang perlombaan. Awas saja kau!" ancam Aninda membuat Alex terkekeh.
"Tenang saja, Sayang. Aku akan menjagamu dan juga calon anak kita dengan baik. Ayo sekarang kita kerumah sakit." ajak Alex.
"Baiklah. Aku bersiap dulu." sahut Aninda.
...****************...
"Bagaimana dengan jawabanmu?" tanya Dewa.
"Maaf Pak ini masih di perusahaan, saya harap tidak membahas masalah pribadi disini." jawab Saras enggan.
"Ada apa denganmu? Kenapa beberapa hari ini kau menghindariku? Apa aku melakukan kesalahan? Katakan saja." tanya Dewa.
Setelah makan malam romantis dan menyatakan perasaannya, Dewa merasa Saras menjauhi dirinya. Padahal sebelumnya Saras berkata akan memikirkan jawabannya dan seolah memberinya harapan.
"Pak, tolong masih ada beberapa pekerjaan yang belum saya selesaikan." pinta Saras memohon.
"Apa yang Bapak lakukan? Lepaskan saya sebelum saya teriak!" protes Saras.
"Silahkan teriak saja. Aku sudah mengunci ruangan ini dan semua ruangan diperusahaan kedap suara. Aku ingin lihat siapa yang bisa menolongmu." tantang Dewa yang sudah mulai habis kesabarannya.
"Pak, saya mohon tolong lepaskan saya." pinta Saras mengiba.
"Aku akan melepaskanmu tapi jawab dulu pertanyaanku." ucap Dewa tak mau kalah.
"Baik." sahut Saras pasrah.
"Kenapa kau menghindar dariku?" tanya Dewa menatap Saras lekat.
Saras bisa merasakan kehangatan tubuh Dewa dan juga tatapan sendu diwajah pria itu.
"Saya tidak menghindar. Hanya saja saya masih butuh waktu, Pak." jawab Saras dengan memalingkan wajahnya.
"Coba tatap aku. Berapa lama lagi aku harus menunggumu?" tanya Dewa menarik wajah Saras hingga pandangan keduanya saling bertemu.
"Maafkan saya, Pak." ucap Saras bersalah.
"Maaf? Apakah sekarang kau menolakku? Bukankah waktu itu kau seolah memberiku harapan? Jangan mempermainkan perasaanku." kata Dewa.
"Bukan begitu." sahut Saras lirih.
"Lalu? Apa sebenarnya tujuanmu? Apakah bagimu menyenangkan membuatku seperti ini?" tanya Dewa yang genggaman tangannya sudah mengendur.
Kini Dewa sudah mundur beberapa langkah, wajahnya tertunduk lesu. Saras merasa hatinya berdenyut nyeri.
__ADS_1
"Katakan saja kalau kau tidak menyukaiku sehingga aku tidak terbuai dalam harapan palsu." ucap Dewa lirih.
Saras memeluk Dewa erat, tak terasa tangisannya luruh dalam dekapan pria itu.
"Maafkan aku." ucap Saras terisak.
Dewa membalas pelukan dan membelai lembut punggung Saras dengan penuh kasih sayang.
Setelah tenang, barulah Dewa mengurai pelukannya.
"Ada apa? Bicaralah." ucap Dewa lembut.
"Aku takut. Aku takut tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu." kata Saras.
"Apa maksudmu?" tanya Dewa bingung.
"Orangtuaku bercerai. Aku pernah menyaksikan pertengkaran hebat diantara mereka. Tetapi mereka menyesal bahkan sampai keduanya meninggal mereka tidak pernah menikah lagi." jawab Saras.
"Jadi kau takut jika akan mengalami hal serupa?" tanya Dewa yang dijawab anggukkan kepala Saras.
"Bukankah itu lebih baik? Itu menandakan bahwa orangtuamu saling mencintai sampai akhir hayat mereka walaupun sudah tak lagi bersama." ucap Dewa.
"Terkadang cinta itu memang ditakdirkan tidak saling memiliki." tambah Dewa lagi.
"Bagaimana dengan orangtuamu? Apakah mereka akan menerimaku seorang yatim piatu?" tanya Saras khawatir.
"Jadi itu yang kau takutkan?" tanya Dewa memahami perasaan Saras.
"Kau tidak perlu khawatir. Orangtuaku sudah tahu siapa dirimu. Mereka dengan senang hati menerimamu." kata Dewa.
"Benarkah?" tanya Saras tak percaya.
"Kau bisa mempercayaiku." jawab Dewa membelai lembut kepala gadis yang ada dihadapannya.
Saras menatap Dewa lekat, ia bisa melihat tidak ada kebohongan dimata pria itu.
"Jadi apakah kau mau menjadi istriku?" pertanyaan yang sama terlontar kembali dari mulut Dewa.
Saras menganggukkan kepalanya malu-malu membuat Dewa menghembuskan nafas lega.
"Terimakasih." ucap Dewa senang.
"Persiapkan dirimu. Minggu depan kita akan menikah." kata Dewa membuat Saras kaget setengah mati.
"APA?? Minggu depan? Apa itu tidak terlalu cepat?" tanya Saras terkejut.
"Tidak. Itu karena kau yang memberikan jawaban terlalu lama. Aku sudah menyiapkan semuanya sejak aku menyatakan perasaanku padamu malam itu." jawab Dewa santai.
"Apa? Kau curang sekali." gerutu Saras tak terima.
"Bukan curang. Hanya penuh perencanaan." elak Dewa membuat Saras memanyunkan bibirnya.
"Hey, tersenyumlah calon istriku." goda Dewa.
"Sial! Aku sudah terjebak." gumam Saras tak berdaya.
-BERSAMBUNG
__ADS_1