Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Rencana


__ADS_3

"Pa, Mama kangen Rissa." curhat Allisa kepada suaminya.


"Mama bisa telpon Rissa atau besok datang ke butiknya saja." saran Cakra.


"Iya Mama besok ke butiknya saja. Kalau telpon malam ini takutnya mengganggu jam Rissa istirahat." kata Allisa.


"Kenapa Mama masih cemberut begitu?" tanya Cakra melihat wajah istrinya yang masih ditekuk.


"Sebentar lagi Mama akan dipanggil Nenek, Pa. Ternyata Mama sudah tua ya, rasanya kemarin aku masih gadis." ucap Allisa memancing tawa Cakra.


"Mama ini menolak tua ya? Wajar sih Ma, Papa juga merasa begitu." sahut Cakra terkekeh.


"Huu kalau Papa sih cocok dipanggil kakek karena rambut Papa sudah beruban. Coba bandingkan dengan Mama, masih terlihat seperti abg kan?" kata Allisa percaya diri.


Cakra tertawa mendengar perkataan istrinya.


"Papa jangan tertawa. Apa yang Mama katakan benar kan? Mama gak kalah dengan anak muda jaman sekarang." gerutu Allisa merajuk dengan suaminya.


"Iya Mama masih muda. Tapi tetap saja kalah dengan aku yang katanya sudah tua ini kalau diatas ranjang." ucap Cakra menggoda istrinya.


"Papa! Jangan membahas soal itu!" kata Allisa yang sudah tersipu malu.


"Mama ini masih saja malu-malu seperti pengantin baru saja. Kita sudah bersama 23 tahun, Ma." sindir Cakra sambil tertawa mendapati istrinya masih saja malu kalau membahas urusan ranjang.


"Stop! Papa diam saja jangan dilanjutkan lagi." ucap Allisa yang tidak tahan digoda suaminya.


Cakra tertawa semakin kencang karena melihat pipi Allisa yang sudah seperti udang rebus. Itulah yang membuat cinta Cakra tidak pernah pudar. Allisa terlihat sangat menggemaskan saat dirinya malu, tidak jauh berbeda dengan Carissa. Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.


*


*


*

__ADS_1


Dewa sedang berbaring diranjang kamarnya. Entah kenapa bayangan wajah Saras selalu menghantuinya beberapa hari ini. Bahkan sampai membuat Dewa sulit untuk memejamkan mata.


"Kenapa wanita ini muncul lagi sih dipikiranku? Apa ada bagian dari otakku yang bermasalah ya?" gumam Dewa mencoba menghilangkan wajah Saras yang terus saja menghantuinya.


Dewa mencoba untuk mengusir Saras dari pikirannya namun tidak berhasil. Justru senyuman Saras semakin jelas terekam didalam memorinya.


"Tidak mungkin kalau aku mulai menyukainya kan?" tanya Dewa dengan dirinya sendiri.


"Aaarrrggghh!" erang Dewa kemudian bangun dan menuju kamar mandi.


Dewa membasuh mukanya berkali-kali mencoba menghilangkan bayangan Saras. Setelah merasa Saras tidak lagi hadir dalam pikirannya, Dewa duduk disofa kamar kemudian memainkan ponselnya.


Dewa mencoba mengalihkan pikirannya dengan berselancar disosial media. Dewa memilih membuka postingan informasi yang bermanfaat dari akun-akun yang ia ikuti. Benar saja, Dewa yang disibukkan dengan informasi itu sudah tidak terganggu dengan bayangan Saras yang hadir didalam pikirannya.


Sebenarnya baik Dewa maupun Saras, keduanya sudah memiliki rasa ketertarikan satu sama lain. Hanya saja keduanya memiliki gengsi yang sama besarnya. Dan mereka berdua juga belum yakin dengan perasaan yang hadir dihati mereka masing-masing. Entah perasaan suka atau hanya sekedar rasa kagum.


Dewa dan Saras tidak ingin terlalu terburu-buru untuk mengartikan perasaan mereka. Terlebih lagi keduanya memiliki sifat yang saling bertolak belakang. Bisa jadi perasaan mereka hanya sesaat karena kebetulan akhir-akhir ini sering berinteraksi masalah pekerjaan.


"Sial! Kenapa kau selalu menghantuiku?" ucap Dewa.


Dewa terus berusaha untuk memejamkan matanya karena ia besok pagi harus bekerja. Setelah cukup lama membolak-balik badan, akhirnya Dewa terlelap juga karena kelelahan.


*


*


*


Pagi hari, MF Group.


"Masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus. Sepertinya minggu ini akan beres." gumam Devian yang sudah disibukkan dengan tumpukan dokumen dimejanya.


Devian dengan teliti memeriksa setiap lembaran kertas yang ia hadapi agar tidak ada kesalahan sekecil apapun yang lolos dari matanya.

__ADS_1


"Minggu depan aku akan menyiapkan surprise untuk istri tercintaku." batin Devian bahagia.


Devian memang sengaja menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat agar memiliki waktu untuk berbulan madu dengan Carissa. Devian khawatir jika terus menundanya maka rencananya akan gagal karena perut Carissa seiring waktu akan membesar. Devian tidak ingin membuat istrinya kelelahan.


"Alex, kau sudah bersenang-senang. Setelah ini kau yang harus mengurus pekerjaanku." gumam Devian sembari tersenyum licik.


Tentu saja Devian tidak akan meninggalkan pekerjaan yang mudah untuk Alex. Walaupun Devian sudah menangani hal-hal penting yang memang hanya dirinya yang bisa menyelesaikan. Devian sengaja memberikan tugas yang akan merepotkan Alex setelah pulang dari bulan madu. Itulah Devian, selalu punya cara untuk membuat Alex tersiksa.


"Sayang, aku ingin makan siang diluar. Bisakah kita makan bersama?"


Sebuah pesan masuk diponsel Devian yang berasal dari sang istri, Carissa.


"Tentu. Aku akan menjemputmu saat jam istirahat." balas Devian yang mendapatkan emot hati berwarna merah dari Carissa.


Devian tersenyum, kemudian kembali fokus dengan pekerjaannya. Devian harus segera menyelesaikannya agar Carissa tidak menunggu terlalu lama. Devian tahu mood ibu hamil akan mudah berubah-ubah. Untuk itu Devian ingin mencegahnya dan segera menemui istrinya.


Tak jauh berbeda dengan Devian, Carissa juga disibukkan dengan tumpukan kain dibutiknya. Pagi tadi Arya memberi kabar bahwa sudah mengirimkan berbagai bahan kain yang bisa dijadikan sampel sebelum melakukan pengiriman dengan jumlah besar.


Terlihat jelas Carissa yang begitu antusias dengan kain-kain dihadapannya.


"Kualitasnya memang tidak mengecewakan." gumam Carissa senang.


"Kalian bantu aku untuk memilah kain-kain ini dulu. Nanti setelah makan siang, kita akan menyiapkan ruangan untuk kita menjahit." titah Carissa kepada seluruh karyawannya.


"Baik, Bos." ucap mereka serempak.


Carissa kembali fokus dengan kain-kain dihadapannya. Nampak ada beberapa kain yang sudah Carissa pilih sesuai dengan kriterianya. Carissa memang paling antusias kalau masalah kualitas. Bagi Carissa kualitas pakaian yang nyaman dengan bahan terbaik merupakan hal yang paling penting.


Untuk masalah harga, Carissa akan menyesuaikan dengan harga bahan, tenaga dan pikiran yang ia curahkan serta tingkat kerumitan model yang ia buat.


Dalam dunia penjualan sudah pasti ada kualitas ada harga. Jadi Carissa tidak mempermasalahkan dengan harga yang akan ia pasang pada gaun-gaun karyanya karena dirinya yakin konsumen pasti akan mencari pasarnya sendiri. Jika seseorang tidak tertarik dengan pakaian yang Carissa buat atau bahkan protes kalau harganya mahal maka orang itu bukanlah target pasar Carissa. Terlebih lagi rezeki sudah diatur, tugas manusia hanya berdoa dan berusaha. Tapi untuk latar belakang yang dimiliki Carissa sepertinya tidak terlalu memikirkan tentang untung rugi. Carissa mencintai dunia fashion dan ia hanya ingin berkarya. Namun tidak dipungkiri kalau Carissa tetap punya tanggungjawab karena dirinya sudah memiliki karyawan yang bisa dikatakan harus ia topang kesejahteraannya.


-BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2