
1 minggu berlalu.
Carissa sudah beradaptasi dengan baik diposisi barunya. Carissa sangat teliti saat memeriksa bahan-bahan yang akan digunakan untuk produksi pakaian, tas dan sepatu. Carissa juga sangat cermat saat memeriksa produk sebelum dipasarkan, ia tidak mau kecolongan kecacatan produk sekecil apapun.
Beberapa karyawan yang melihat cara kerja Carissa sangat bersyukur. Mereka senang karena dengan begitu tidak akan ada konsumen yang komplain produk riject.
Huft!
Carissa menghela nafas dengan berat.
"Ternyata pekerjaan ini melelahkan." gumam Carissa yang memijat pelan pelipisnya. Matanya tertuju pada tumpukkan tas yang berantakan memenuhi ruangan besar yang saat ini ia kunjungi.
Kurang lebih ada 200 buah tas yang tidak memenuhi standar kualitas produk. Ada jahitan yang tidak rapi, resleting yang macet, kancing tas yang tidak berfungsi dan lainnya.
"Bagaimana dengan tas yang riject ini?" tanya Carissa pada karyawati yang bernama Linda.
"Biasanya produk ini akan dijual dibeberapa mall dengan diskon besar-besaran pada akhir tahun, Bu." jawab Linda menjelaskan.
"Padahal kan kerusakannya tidak parah, hanya tinggal diperbaiki sedikit pasti tidak akan menurunkan harga jual tas ini." ucap Carissa yang sedang menilik beberapa tas yang riject yang sudah dikumpulkan disebuah keranjang besi besar.
"Itu sudah keputusan perusahaan, Bu. Produk yang tidak lolos quality control akan dijual ke beberapa mall yang memang sudah memiliki perjanjian kerja sama dengan MF Group." jelas Linda lagi.
14.00
Carissa menuju ke ruangannya, ia ingin merebahkan tubunya sebentar. Carissa merasa sangat lelah karena seharian ini ia mondar-mandir untuk melakukan pemeriksaan produk. Tidak seperti hari-hari sebelumnya saat ia menjadi office girl.
Carissa duduk di kursi kerjanya, ia memukul pelan betisnya yang terasa pegal. Carissa meregangkan tubuhnya yang terasa kaku.
Kring!
Kring!
Dering telepon dimeja kerja mengusik Carissa yang sedang memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa lelahnya.
"Rissa, ke ruangan saya sekarang."
Carissa mendengus nafas kesal mendengar suara yang sangat ia kenali itu, baru saja ia ingin istirahat sudah ada pekerjaan lain.
"Baik, Pak." jawab Carissa lalu menutup telepon.
Carissa bergegas menuju lantai 10 yang tak lain adalah ruang kerja Devian.
Tok Tok!
"Masuk." sahut Devian saat Carissa mengetuk pintu ruang kerjanya.
"Ada perlu apa, Pak?" tanya Carissa.
"Tolong buatkan saya teh peppermint." pinta Devian.
Carissa mengangguk lalu bergegas menuju ruang pantry.
5 menit kemudian, Carissa sudah membawa secangkir teh peppermint lalu menyerahkannya pada Devian.
"Ini minuman Bapak." ucap Carissa.
"Terimakasih. Duduklah. Kamu sudah makan siang?" tanya Devian yang melihat ekspresi lesu di wajah Carissa.
"Be-belum, Pak." jawab Carissa yang baru sadar ia telah melewatkan jam makan siangnya.
"Sepertinya pekerjaan barumu sangat merepotkan." ucap Devian yang mengambil sebuah bingkisan diatas meja lalu membukanya.
"Ini makanlah untuk mengganjal perut." kata Devian yang menyodorkan sepotong croissant pada Carissa.
"Tidak usah, Pak. Nanti saya makan setelah pulang kerja sekalian." tolak Carissa.
"Ingat lambungmu. Nanti kalau kambuh disini, saya juga yang repot. " ucap Devian lagi.
"Hmm.. baiklah." kata Carissa lalu mengambil sepotong croissant dari tangan Devian.
"Enak."
Carissa memakannya dengan sangat lahap, ia tak menyadari ada secuil roti yang menempel di bagian atas bibirnya.
Devian mengambil tissue lalu menyeka bibir Carissa dengan lembut.
__ADS_1
Deg!
Carissa terdiam merasakan kelembutan tangan Devian yang menyentuh bibirnya. Mata Carissa menangkap tatapan lembut Devian, ia terpesona dengan bola mata Devian yang berwarna hitam pekat.
"Maaf. Tadi ada sisa roti yang menempel." ucap Devian membuyarkan pandangan Carissa pada pria tampan didepannya.
"I-iya Pak." jawab Carissa gugup lalu menundukkan wajahnya pertanda ia sedang malu.
Devian sudah melihat rona merah dipipi wanita yang sedang malu-malu dihadapannya. Devian merasa lucu dengan Carissa yang salah tingkah. Devian terkekeh pelan.
"Kamu gugup?" tanya Devian pada Carissa.
Carissa yang masih menundukkan wajahnya hanya mengangguk kecil.
Pffftt!
Devian tertawa kecil.
"Jangan diketawain, Pak." protes Carissa yang mendengar tawa kecil Devian.
"Kamu lucu. Apalagi pipimu itu, sudah seperti kepiting rebus." ledek Devian.
Pluk!
Carissa melemparkan pena yang kebetulan ada diatas meja ke tubuh Devian.
Devian mengentikan tawanya, lalu ia menatap Carissa.
"Ma-maaf, Pak." ucap Carissa langsung berdiri ke arah Devian, namun saat ingin mengambil pena yang ada dibawah kaki Devian tanpa sengaja kaki Carissa terpeleset dan membuatnya jatuh dipangkuan Devian.
Dag Dig Dig.
Wajah mereka saling bertemu. Kedua tangan Devian melingkari pinggang ramping Carissa. Jantung mereka seolah saling berpacu. Desiran aneh muncul dihati kedua insan yang saling menatap dengan jarak yang semakin terkikis.
"Perasaan apa ini?" batin Devian yang menyadari ada sesuatu yang aneh muncul dihatinya.
"Bagaimana ini? Jantungku rasanya mau copot." batin Carissa yang semakin sulit mengontrol reaksi aneh pada tubuhnya.
"Pak, saya mau turun." ucap Carissa yang seketika membuat Devian memutuskan kontak mata dengan wanita cantik yang ada dipangkuannya.
"Ah, maaf." balas Devian segera melepaskan tangannya dari pinggang Carissa.
*
*
*
Carissa sudah berada dirumahnya. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Carissa bergegas turun ke meja makan, ia merasa sangat lapar.
"Wah pas banget menunya." seru Carissa bersemangat meraih piring lalu mengisinya dengan satu centong nasi.
Tumis jamur saus tiram dan telor balado mengguhah selera makan Carissa. Ia makan begitu lahap tanpa sisa.
"Alhamdulillah.." ucap Carissa seusai menghabiskan makannya lalu meneguk air putih.
"Carissa sayang.."
Terdengar suara yang sangat dirindukan Carissa. Ia langsung berlari kearah sumber suara itu.
"Mama Papa!" seru Carissa saat melihat dua orang kesayangannya sedang meletakkan koper. Carissa langsung memeluk mereka bergantian.
"Carissa kangen." rengek Carissa manja.
"Haish.. anak perempuan Papa yang sudah besar ini manja sekali." ledek Papa Cakra sembari mengelus kepala putrinya.
"Kenapa Papa Mama lama sekali sih?" protes Carissa sambil mengajak duduk kedua orangtuanya di soffa ruang tamu.
"Kan Mama sudah bilang mau pergi 1 minggu. Biasanya kamu gak pernah protes begini lho. Ada masalah apa?" tanya Mama Allisa pada putri cantiknya itu.
Sesaat Carissa menghela nafas lalu menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Papa Cakra.
"Ya begitulah, Pa. Ternyata melelahkan." ucap Carissa.
__ADS_1
Papa dan Mama tersenyum mendengar perkataan Carissa.
"Emang kamu kerja dibagian apa sih?" tanya Mama Allisa penasaran.
"Awalnya sih jadi OG, Ma." jawab Carissa santai.
Mama dan Papa serempak menoleh dengan mulut uang terbuka lebar. Mereka tidak salah mendengar, bukan?
"OG? Office girl?" tanya Papa Cakra memastikan.
Carissa mengangguk lalu tersenyum tipis.
"Kamu ini! Kan lebih enak kamu ngurus bisnis Papa sama Mama. Gak perlu susah-susah sampai jadi OG di perusahaan orang." ucap Mama Allissa sembari mengelus punggung Carissa lembut.
"Apa sih yang kamu inginkan, Sayang?" tanya Papa Cakra menatap lembut wajah cantik putri semata wayangnya.
"Rissa cuma pengen ngerasain susahnya cari uang sendiri, Pa. Rissa juga pengen bisa punya kisah perjuangan Rissa sendiri. Papa sama Mama dulu juga berjuang dari nol, kan? Jadi Rissa gak mau cuma memanfaatkan kesuksesan orangtua. Biar Rissa bisa menghargai jerih payah Papa sama Mama." ucap Carissa yang langsung mendapatkan pelukan dari Mama Allisa dan belaian lembut Papa Cakra dikepala Carissa.
"Putri Papa sudah dewasa." ucap Papa Cakra.
"Yasudah Rissa mau istirahat ya, Ma Pa. Rissa capek besok pagi harus siap kerja lagi." kata Carissa yang merasa matanya sudah berat.
"Baiklah. Tidur yang nyenyak, Sayang." ucap Mama Allisa lalu mengecup kening Carissa begitu juga Papa Cakra.
"Papa Mama juga istirahat ya. Jangan capek-capek, inget umur." ledek Carissa dan berlalu menuju kamarnya di lantai dua. Papa dan Mama hanya tertawa mendengar ledekan putrinya.
"Pa, istirahat di kamar yuk." ajak Mama Allisa yang dibalas anggukan Papa Cakra.
Dua paruh baya itu segera membersihkan diri lalu beranjak ke tempat tidur.
"Ma, kayanya sudah saatnya." kata Papa Cakra.
"Apa, Pa?" tanya Mama Allisa.
"Masalah perjodohan Carissa dengan anak sahabat kecil Papa." jawab Papa Cakra.
Mama Allisa yang sudah tau arah pembicaraan itu menghela nafas sebentar.
"Apa Papa serius akan merealisasikan perjodohan itu?" tanya Mama Allisa memastikan.
"Iya, Ma. Mau tidak mau harus diwujudkan." jawab Papa Cakra tegas.
"Bagaimana kalau Rissa menolak?"
"Masih ada waktu sebelum Rissa berumur 25 tahun. Kalau dia bisa menemukan jodohnya sendiri maka perjodohan itu bisa dibatalkan."
"Lagipula anak sahabat Papa ini berparas tampan dan juga mapan." jawab Papa Cakra.
Mama Allisa menghembus nafas berat.
"Terserah Papa saja. Tapi kalau Rissa menolak, maka Mama akan mendukung keputusan Rissa. Dan Papa gak berhak maksa Rissa." ucap Mama Allisa tegas.
Papa Cakra hanya menghela nafas mendengar perkataan istrinya yang terkesan seperti ancaman.
-Flashback On
25 tahun yang lalu sebelum Cakra menjadi pria mapan seperti saat ini, ia merupakan seorang penjual buah di sebuah ruko. Cakra merupakan pedagang kecil yang mengutamakan kualitas buahnya. Hal itu lantas menjadikan buah yang ia jual langganan bagi orang-orang kelas atas.
Pada suatu hari, ada seorang pengusaha muda yang datang ke rukonya. Pria itu mengawasi setiap gerak gerik Cakra. Dari kualitas buah yang dijual, cara pelayanannya bahkan cara Cakra merawat buah yang belum terjual.
Hingga terjadi sebuah tragedi yang membuat Cakra bertemu lagi dengan pengusaha muda itu. Saat itu Cakra sedang dalam perjalanan menuju rukonya dengan sepeda motor bututnya. Ditengah perjalanan tanpa sengaja ia memergoki seorang pria yang sedang diserang dua orang preman. Dengan gesit Cakra menghajar dua preman yang ukuran badannya lebih besar dari dirinya dan berhasil menyelematkan pria itu. Dari situlah mereka berkenalan, karena merasa ingin membalas jasa Cakra yang sudah menyelamatkan nyawanya, pengusaha muda itu menawarkan Cakra untuk mengolah tanah kosong miliknya menjadi kebun buah. Cakra menyetujuinya namun tetap menggunakan perhitungan bisnis. Cakra tidak mau ada pihak yang dirugikan, anggap saja Cakra menyewa tanah milik pengusaha itu dan membayarnya dengan hasil panennya. Tentu jalannya tidak semulus jalan tol. Cakra pernah mengalami gagal panen dan rugi besar. Namun lagi-lagi pengusaha muda itu menolong Cakra.
Suatu hari pengusaha muda itu mengajak Cakra ke rumah sakit untuk menjenguk putranya yang baru saja dilahirkan. Pada saat itu juga pengusaha muda itu dan istrinya mengajak Cakra untuk melakukan perjanjian perjodohan jika Cakra memiliki anak perempuan. Cakra menyetujuinya. Perjanjian itu terjadi sebelum Cakra bertemu Allisa.
6 bulan setelah perjanjian perjodohan bayi itu, Cakra bertemu dengan wanita cantik yang saat ini menjadi istrinya yaitu Allisa. Perjalanan cinta mereka terbilang sangat mulus. Mereka berpacaran selama 1 tahun sebelum memutuskan untuk menikah.
1 tahun kemudian Allisa melahirkan seorang putri. Pengusaha muda yang mendengar kabar itu langsung mengunjungi rumah Cakra dengan membawa isteri putranya. Lalu mereka berjanji untuk mewujudkan perjodohan anak mereka.
-Flashback Off
*
*
(Ternyata Carissa sudah dijodohkan sebelum ia terlahir kedunia. Bagaimana reaksi Carissa saat tau dirinya sudah dijodohkan sejak bayi? Lalu bagaimana hubungannya dengan Devian yang mulai menghangat? Akankah Carissa menerima perjodohan itu? Atau justru menolaknya?)
__ADS_1
Readees, ikuti terus kisah Carissa dan Devian ya! Jangan lupa klik suka dan tinggalkan komen!
Terimakasih 🤗