
"Dev didepan itu sepertinya jual sate." ucap Carissa melihat warung di pinggir jalan mengeluarkan asap.
Devian melihat warung didepan yang dimaksud Carissa. Devian menghentikan motor tepat di depan warung itu.
"Kita makan disini saja ya?" ajak Carissa kepada Devian.
"Iya, Sayang." sahut Devian kemudian turun dari motor.
"Bang sate ayam 2 porsi." ucap Carissa kepada penjual sate.
"Mau pakai nasi atau lontong Kak?" tanya penjual pria yang lebih muda dari Carissa.
"Nasi saja." jawab Carissa sembari duduk di kursi yang tersedia di warung itu.
"Kamu mau minum apa, Sayang?" tanya Devian kepada Carissa.
"Air mineral saja." jawab Carissa.
"Bang, air mineral 1 dan jeruk hangat 1 ya." ucap Devian.
"Baik Kak. Ditunggu ya." sahut pemuda itu.
Setelah memesan, munculah pria paruh baya yang sangat lihai membakar sate di atas arang.
Tak perlu menunggu lama, sate ayam sudah tersaji di meja Devian dan Carissa. Dengan tak sabar Carissa menyantap sate itu.
"Pelan-pelan makannya, Sayang." ucap Devian saat melihat Carissa makan begitu lahapnya.
Carissa hanya tersenyum sekilas kemudian kembali sibuk melahap satenya.
"Sepertinya kita perlu memesan lagi." ucap Devian yang melihat sate dipiring Carissa tersisa 3 tusuk.
"Tidak perlu. Aku sudah cukup." sahut Carissa dengan mulutnya yang penuh daging ayam.
Devian terkekeh melihat ekspresi istrinya.
"Sepertinya kamu suka sekali dengan sate ini?" tanya Devian yang sedari tadi tak luput memandang Carissa yang sangat lahap.
Carissa menganggukkan kepalanya kemudian meneguk air mineral dihadapannya.
"Maaf ya Dev, kamu pasti risih kan melihat cara makanku ini. Aku sudah lama tidak menyantap sate madura ini. Sambal kacangnya ini sangat pas di lidahku." jawab Carissa yang sudah menghabiskan sate dan juga nasinya.
"Aku senang melihatmu bersemangat makan seperti ini." ucap Devian kemudian mengambil tisu dan menyeka sisa sambal yang menempel di sudut bibir istrinya.
"Maaf. Aku belepotan ya makannya." ucap Carissa malu kemudian mengambil tissu untuk membersihkan mulutnya sendiri.
"Kamu tidak usah malu, Sayang. Kita sudah suami istri." kata Devian sambil tertawa pelan melihat Carissa yang masih saja salah tingkah jika berduaan dengannya.
"Tetap saja, Dev. Kan kamu bisa bilang saja." sahut Carissa membuat Devian tersenyum kecil.
"Dasar istriku ini memang sangat menggemaskan." batin Devian.
Tak lama kemudian, Devian membayar lalu menaiki motornya untuk kembali ke villa.
Angin malam terasa semakin dingin. Untung saja Devian dan Carissa memakai jaket. Kalau tidak bisa saja mereka menggigil di perjalanan.
"Terimakasih, Dev." ucap Carissa saat motor sudah melaju.
Carissa melingkarkan tangannya pada perut sixpack Devian lalu menelusupkan wajahnya pada punggung tegap suaminya itu.
Devian sempat terkejut dengan pelukan istrinya yang bertambah erat namun membuatnya tersenyum senang.
Devian merasakan kebahagiaan sempurna bersama istrinya itu. Devian merasa sangat beruntung bisa dipertemukan Carissa.
*
*
*
Keesokan harinya, di villa Papa Cakra dan Mama Allisa sudah siap untuk kembali ke kota.
"Papa sama Mama mau pulang sekarang?" tanya Carissa.
"Iya Sayang. Kamu dan Dev puaskan saja berlibur disini. Papa ada urusan penting bersama klien." jawab Papa Cakra.
"Sepertinya nanti sore kami juga akan kembali ke kota, Pa. Lusa Dev sudah harus sudah kembali bekerja. Cutinya kan cuma 1 minggu." ucap Carissa.
"Menantuku ini. Dia CEO perusahaan memang tidak bisa cuti lebih lama lagi. Kan kalian masih pengantin baru." sahut Mama Allisa.
"Mama. Bagaimanapun Dev punya tanggungjawab dengan perusahaannya, Ma. Tidak boleh berlibur terlalu lama." ucap Carissa membela suaminya.
__ADS_1
"Nanti aku bilang Mbak Tamara saja biar membujuk Mas Adhi agar Dev diberi cuti lebih lama lagi." kata Mama Allisa yang membuat Papa Cakra menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak perlu, Ma. Dev harus bekerja lagi." ucap Carissa membuat Mama Allisa menghembuskan nafas kasar.
"Mama tenang saja. Setelah resepsi pernikahan kami, Dev sudah memesan tour honeymoon untuk kami." kata Devian membuat Carissa membelalakkan matanya.
"Baguslah kalau begitu." ucap Mama Allisa tersenyum senang.
"Yasudah Mama dan Papa ke kota dulu ya." pamit Mama Allisa.
"Terimakasih Dev, titip putri Papa ya." ucap Papa Cakra sembari menepuk pelan pundak menantunya.
"Baik, Pa. Hati-hati dijalan." kata Devian yang menyalami mertuanya diikuti Carissa.
"Dev memangnya kamu sudah punya tujuan kita mau honeymoon kemana?" tanya Carissa penasaran.
"Tentu saja, Sayang." jawab Devian.
"Kemana?" tanya Carissa.
"Rahasia." jawab Devian membuat Carissa mendengus kesal.
"Huh, menyebalkan!" gerutu Carissa dengan memanyunkan bibirnya.
Cup!
Devian mengecup bibir manyun Carissa yang sangat menggemaskan baginya.
"Dev, kau curang!" pekik Carissa yang terkejut saat merasakan bibir Devian menempel sekilas dibibirnya.
Devian terkekeh melihat ekspresi kesal Carissa.
"Ayo ke rumah Pak Hasan. Katanya mau bicara dengan Mbak Marni." ajak Devian mengingatkan istrinya.
"Hem." sahut Carissa yang berjalan mendahalui Devian begitu saja.
"Dia marah?" batin Devian.
Devian berlari kecil menyusul istrinya yang telah keluar menuju rumah Pak Hasan yang tak jauh dari villa itu.
"Tunggu aku, Sayang." teriak Devian namun tak membuat Carissa menoleh sedikitpun.
"Aih, istriku benar-benar marah." gumam Devian semakin mempercepat langkahnya untuk menyusul Carissa.
"Wa'alaikumsalam. Eh Non Rissa ada apa? Apa ada yang perlu saya bantu di villa?" tanya Bu Elis yang menyambut kedatangan majikan mudanya.
Dibelakang Carissa terdapat Devian yang masih mengatur nafasnya.
"Ada Den Devian juga. Mari siilahkan masuk." ajak Bu Elis.
Carissa menurut dan duduk di kursi kayu yang ada diruang tamu rumah itu disusul dengan Devian.
"Mbak Marni ada Bu?" tanya Carissa.
"Ada Non dikamarnya, sebentar saya panggilkan." jawab Bu Elis.
"Oh iya, Non sama Den mau minum apa?" tanya Bu Elis.
"Tidak usah, Bu." jawab Carissa.
"Air putih." jawab Devian membuat Carissa melirik tajam.
Bu Elis hanya mengulas senyum melihat tingkah lucu majikan mudanya.
Beberapa menit kemudian, Bu Elis sudah membawa dua botol kemasan air mineral.
"Ini Non, Den." ucap Bu Elis.
"Terimakasih, Bu." ucap Devian.
Bu Elis kembali ke dalam rumah untuk memanggil putrinya, Marni.
"Kamu marah sayang?" tanya Devian yang hanya dijawab gelengan kepala Carissa.
"Kalau tidak marah jangan jutek gitu dong." ucap Devian merayu istrinya.
"Siapa yang jutek?" tanya Carissa yang mengalihkan pandangannya tidak mau menatap Devian.
"Tuh kan. Kenapa tidak mau menatapku? Apa suamimu ini sudah tidak tampan lagi?" tanya Devian yang membuat Carissa geli mendengarnya.
"Hentikan, Dev. Kamu tidak cocok merayuku seperti itu." jawab Carissa yang saat ini menatap wajah tampan Devian.
__ADS_1
"Kamu sudah tidak marah sayang?" tanya Devian mengulas senyum yang menampakkan barisan depan gigi putihnya.
"Sejak kapan aku marah?" tanya Carissa mengernyitkan keningnya.
"Memangnya tadi kamu tidak marah?" tanya Devian lagi.
"Tidak. Aku hanya sedikit kesal denganmu." jawab Carissa membuat Devian bernafas lega.
"Kita 1 sama, Sayang." ucap Devian.
"Maksudmu?" tanya Carissa.
"Iya. Kamu masih ingat saat aku menanyakan gaun pernikahan yang sudah kau siapkan itu? Sampai sekarang kau belum menunjukkannya padaku." jawab Devian membuat Carissa membulatkan matanya.
"Astaga. Jadi karena itu kamu tidak mau memberitahuku." ucap Carissa mencubit perut Devian.
"Aw, sakit sayang." pekik Devian pelan merasakan sakit dibagian perut yang dicubit Carissa.
"Dasar pendendam." ucap Carissa gemas dengan perilaku kekanakan suaminya.
"Aku bukan pendendam, Sayang. Hanya ingin kita impas." sahut Devian.
"Sama saja." ucap Carissa kembali menghujani cubitan ke tubuh suaminya membuat Devian meringis kesakitan.
Carissa tertawa melihat ekspresi lucu Devian.
"Maafkan aku, Sayang. Kamu sih benar-benar menyebalkan." ucap Carissa sembari mengelus dan meniup bagian tubuh Devian yang telah ia cubit tadi.
Devian tersenyum kemudian membelai lembut rambut panjang Carissa. Sesaat pasangan pengantin baru itu saling menatap dan melemparkan senyum.
"Non cari saya?" tanya Mbak Marni membuat keduanya salah tingkah.
"Apa aku datang disaat yang tidak tepat?" tanya Marni dalam hati mendapati gelagat aneh kedua majikan mudanya.
"Maaf menggangu, Non. Kalau begitu saya kembali ke kamar dulu." ucap Marni hendak meninggalkan Carissa dan Devian.
"Tidak perlu. Aku ingin membahas sesuatu dengan Mbak Marni." sahut Carissa.
"Pak Hasan dimana?" tanya Devian tanpa ekspresi.
"Dibelakang, Tuan. Sebentar saya panggilkan dulu." jawab Marni yang takut dengan ekspresi datar Devian.
"Ish, Dev jangan memasang wajah menakutkan seperti itu. Lihat Mbak Marni sampai gemetaran." bisik Carissa membuat Devian terkekeh.
"Kan memang begini wajahku." elak Devian.
"Terserah kau saja." ucap Carissa malas berdebat dengan suaminya membuat Devian terkekeh pelan.
Tak lama, Mbak Marni kembali bersama Pak Hasan.
"Pak Hasan bisa menemani saya berkeliling sebentar? Istri saya ingin membicarakan hal penting dengan anak Bapak." ucap Devian.
"Ayo, Den." ajak Pak Hasan keluar dari rumah yang disusul Devian dibelakangnya.
"Ada apa, Non?" tanya Marni sedikit gugup.
"Tenang saja, Mbak. Aku cuma mau menawarkan kerjasama sama Mbak Marni." jawab Carissa membuat Marni kebingungan.
"Mbak lulusan tata busana kan?" tanya Carissa yang dijawab anggukkan kepala Marni.
"Mbak pasti bisa jahit kan? Atau tau pola dan desain gaun wanita kan?" tanya Carissa lagi.
"Iya, saya bisa Non." jawab Marni masih kebingungan.
"Jadi, aku rencananya mau buka butik. Nah, aku belum punya partner gimana kalau Mbak jadi rekan kerjaku?" tanya Carissa menawarkan.
"Tapi Non.. Saya cuma lulusan SMK, saya hanya bisa dasar menjahit itu saja tidak terlalu mahir." jawab Mbak Marni.
"Tidak masalah, Mbak. Kita bisa belajar bersama. Lagipula asalkan Mbak punya semangat juang dan mau bekerja keras, kenapa tidak dicoba saja kemampuan Mbak. Bagaimana?" tawar Carissa lagi.
"Jadi saya harus ikut ke kota, Non?" tanya Marni yang dijawab anggukkan kepala Carissa.
"Tapi saya berat meninggalkan orangtua saya dikampung ini, Non." ucap Marni sedih.
"Tidak masalah, Nak. Ibu dan Bapak baik-baik saja disini. Lagipula pekerjaan kami disini tidak berat apalagi fasilitas dari orangtua Non Rissa sudah sangat mencukupi kami. Ibu setuju kalau kamu ikut Non Rissa ke kota." ucap Bu Elis yang ternyata sedari tadi menyimak pembicaraan majikan muda dan anaknya.
"Aku akan memberimu waktu untuk memikirkannya dengan matang, Mbak. Ini kartu namaku, Mbak bisa menghubungiku di nomer ponsel yang ada disitu." ucap Carissa mengambil sebuah kartu nama dari dompetnya kemudian menyerahkannya kepada Mbak Marni.
"Baik Non, terimakasih." kata Mbak Marni.
Ketiga wanita itu kembali melanjutkan perbincangan yang lain. Bukan hanya membahas masalah kerjasama, perkebunan namun juga mengulas kehidupan pribadi untuk saling mengenal satu sama lain.
__ADS_1
-BERSAMBUNG