Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Jodoh


__ADS_3

Devian melajukan mobilnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Carissa kebingungan dengan sikap Devian yang berubah dingin.


"Dev, apakah masih jauh?" tanya Carissa mencoba mencairkan suasana.


Tak ada jawaban, mata Devian masih fokus menatap jalan.


"Dev?" panggil Carissa lembut.


Devian hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus menyetir.


Carissa menghela nafas, mencoba mengingat kesalahan apa yang telah ia lakukan. Suasana di mobil tiba-tiba menjadi sunyi.


15 menit kemudian sampailah di kediaman orangtua Devian. Mobil berhenti di garasi, Devian keluar begitu saja tanpa membukakan pintu untuk Carissa. Hal manis yang selalu ia lakukan setelah menjalin hubungan dengan Carissa.


"Kenapa lagi dia? Meninggalkanku begitu saja." gerutu Carissa bergegas menyusul Devian.


"Assalammu'alaikum." sapa Devian.


"Wa'alaikumsalam." jawab Bunda Tamara dan Ayah Adhitama.


"Mana istrimu?" tanya Ayah Adhitama yang melihat Devian berjalan seorang diri.


Devian tersadar dia telah meninggalkan Carissa karena kecemburuannya yang tidak jelas.


Cemburu? Entahlah.


"Assalammu'alaikum Ayah, Bunda." sapa Carissa menahan langkah Devian yang berniat kembali ke mobil untuk menjemput Carissa.


"Wa'alaikumsalam menantu." sambut Bunda Tamara kemudian memeluk Carissa begitu juga Ayah Adhitama.


Carissa menatap Devian dengan memanyunkan bibirnya membuat Devian merasa bersalah.


"Kalian bersih-bersih dulu. Setelah itu kita makan malam bersama. Bunda sudah menyiapkan makanan spesial untuk menyambut kalian." ucap Bunda Tamara bahagia.


"Baik, Bun." jawab Devian yang menggandeng tangan Carissa menuju kamar Devian di lantai dua.


"Maafkan aku, Sayang." ucap Devian lembut setelah pasangan muda itu berada di dalam kamar.


"Maaf untuk apa?" tanya Carissa pura-pura tidak tau.


"Maaf aku tadi sudah mendiamkanmu di mobil bahkan meninggalkanmu saat sampai di rumah ini." jawab Devian dengan perasaan bersalah.


Carissa menatap wajah Devian lalu menghela nafas sesaat.


"Kau tidak salah. Aku atau kamu dulu yang mandi?" tanya Carissa mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kita mandi bareng saja." jawab Devian semangat yang membuat tubuh Carissa meremang.


"Tidak. Kita mandi sendiri-sendiri saja. Ayah dan Bunda sudah menunggu di bawah." tolak Carissa menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.


"Itu akan lebih lama kalau kita mandi bergantian. Kita bareng saja, aku tidak akan macam-macam. Hanya mandi berdua." ucap Devian merayu Carissa dengan senyum menggoda.


"Tidak. Aku mau mandi sendiri." Carissa berlari masuk ke kamar mandi dan menguncinya.


Carissa melepas pakaiannya kemudian menyalakan shower untuk membasahi tubuhnya.


15 menit Carissa sudah selesai membersihkan tubuhnya. Carissa mencari handuk yang ternyata tidak ada di dalam kamar mandi.


"Ah aku lupa membawanya tadi." gumam Carissa.


"Dev, bisa tolong ambilkan handuk? Aku lupa membawanya." pinta Carissa membuka pintu kamar mandi sedikit yang menampakkan kepalanya.


Devian terkekeh dalam hati kemudian menyerahkan sebuah kimono handuk warna merah muda yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari khusus untuk Carissa.


Carissa menutup pintu kembali lalu memakai handuk dengan secepat kilat.


Ceklek!


"Aku sudah selesai, sekarang giliranmu." ucap Carissa yang sudah segar.


"Kamu bisa memakai pakaian yang ada di lemari itu." tunjuk Devian pada sebuah lemari besar sebelum masuk ke kamar mandi.


Carissa segera membuka lemari dengan perlahan. Mata Carissa terbelalak melihat isi lemari yang menampakkan pakaian wanita berbagai merk ternama dan beragam model.


"Apakah Devian sudah menyiapkan ini semua sejak lama? Atau jangan-jangan ini dulu milik mantan kekasihnya?" tanya Carissa dalam hati.


Carissa duduk ke atas ranjang dan masih menatap pintu lemari yang masih terbuka.


Tak berselang lama Devian sudah keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya. Devian terkejut melihat Carissa yang belum berganti pakaian.


"Kau belum ganti, Sayang? Apa tidak ada yang kau sukai dari pakaian di lemari itu?" tanya Devian heran.


"Tidak. Aku hanya takut menggunakannya." jawab Carissa.


Devian duduk di samping Carissa.


"Kenapa takut?" tanya Devian penasaran.


"Aku takut jika aku menggunakannya sembarangan. Nanti kamu marah kalau aku tidak sengaja memilih pakaian milik mantan kekasihmu." jawab Carissa polos.


Devian membulatkan bola matanya kemudian menatap wajah imut Carissa. Devian tertawa geli.


"Kenapa kau tertawa? Ada yang lucu?" tanya Carissa heran.


"Semua pakaian itu adalah milikmu, Sayang. Aku sudah menyiapkan semuanya saat kau pergi ke New York. Aku tidak pernah dekat dengan seorang wanita manapun apalagi sampai punya mantan kekasih." jawab Devian yang membuat Carissa malu sudah salah berprasangka.


"Maaf, Dev. Terimakasih banyak." ucap Carissa memeluk tubuh Devian yang masih terbuka dan sedikit basah.


"Hem. Ayo kita bersiap. Ayah dan Bunda pasti sudah lama menunggu." ucap Devian yang mengecup bibir Carissa sebentar.


Carissa segera menuju lemari dan mengambil pakaian santai. Kaos pendek warna light beige dengan rok midi a-line warna hijau. Carissa membiarkan rambut panjangnya tergerai.


Devian memakai kaos stripe putih dan merah dipadukan dengan celana pendek bahan polyester warna hitam.


Devian menggandeng tangan Carissa menuruni tangga menuju ruang makan di lantai bawah.

__ADS_1


"Malam anak-anak Bunda. Ayo kita makan." sapa Bunda Tamara yang sedang mengambil nasi untuk ayah Adhitama.


Devian menarik kursi untuk Carissa kemudian duduk di sampingnya.


Carissa mengambil piring lalu mengambil nasi, lauk dan sayur untuk suaminya. Devian tersenyum bahagia melihat Carissa yang telaten melayaninya di meja makan.


"Ternyata seperti ini rasanya punya istri." batin Devian senang.


"Terimakasih, Sayang." ucap Devian lembut.


Setelah menyerahkan piring yang sudah terisi kepada Devian barulah Carissa mengambil untuk dirinya sendiri.


Makan malam berlangsung tanpa ada obrolan hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu.


"Rissa setelah ini Bunda mau ngobrol sama kamu, bisa?" tanya Tamara.


"Bisa, Bun." jawab Carissa setelah meneguk segelas air.


"Bunda mau bahas apa sama Rissa?" tanya Devian penasaran.


"Urusan wanita. Bunda pinjam istrimu sebentar ya." jawab Tamara.


"Jangan lama-lama nanti kemaleman." ucap Devian.


"Kamu ini mentang-mentang pengantin baru ya. Kalian nginep aja disini dulu. Bunda juga pengen kenal lebih dekat sama Rissa." pinta Tamara sambil menggandeng tangan menantunya.


Carissa menatap wajah Devian meminta persetujuan.


"Baiklah." jawab Devian menuruti permintaan ibundanya.


Tamara mengajak Carissa menuju ruang keluarga meninggalkan Devian dan ayah Adhitama yang masih berada di ruang makan.


"Duduk sini, Sayang." ajak Tamara di sebuah soffa yang menghadap tv besar.


"Rissa, apakah Dev bersikap kasar padamu?" tanya Tamara membuka perbincangan.


"Tidak, Bun. Dev sangat lembut dan baik sama Rissa." jawab Carissa lalu tersenyum manis.


"Alhamdulillah. Bunda khawatir Dev akan bersikap kasar sama kamu seperti waktu di resto itu." ucap Tamara mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


Carissa terkekeh mengingat pertengkaran kecilnya dulu saat bertemu dengan Devian. Tak pernah akur.


"Bunda seneng akhirnya kamu jadi menantu Bunda. Memang cuma kamu wanita yang bisa menjinakkan anak Bunda." ucap Tamara yang membuat Carissa tertawa.


"Bunda bisa aja." sahut Carissa tersipu.


Tanpa sengaja mata Carissa tertuju pada foto kecil seorang laki-laki yang tidak asing baginya di dinding belakang soffa.


"Itu siapa, Bun?" tanya Carissa penasaran.


"Itu Dev kecil." jawab Tamara yang membuat Carissa terkejut.


"Kenapa, Sayang?" tanya Tamara panik saat melihat ekspresi menantunya.


"Apakah Rissa dan Dev sudah mengenal sejak kecil?" tanya Carissa menatap wajah mertuanya untuk memastikan.


Flashback.


Di sebuah tanah kosong yang ada di perkebunan milik Papa Cakra.


"Dev, Rissa mau naik sepeda." teriak Carissa saat melihat Devian menaiki sepeda.


"Kau masih kecil. Kau belum bisa." sahut Devian semakin cepat mengayuh sepedanya.


"Tunggu Rissa, Dev. Rissa mau naik sepeda juga." teriak Carissa sambil berlari mengejar Devian.


"Kejar aku kalau bisa." balas Devian sambil mempercepat sepedanya dan menjulurkan lidahnya pada Carissa.


Carissa berlari sekuat tenaga untuk mengejar sepeda Devian.


BRUUUK!


"Aaaa..." teriak Carissa yang terjatuh di tanah.


Carissa mencoba untuk bangun kemudian duduk. Carissa meringis kesakitan merasakan perih di kedua lututnya.


"Hiks...Hiks... Dev jahat." gumam Carissa memeluk lututnya yang berdarah.


Devian memelakan kayuhan sepedanya merasa Carissa sudah tidak mengejarnya. Devian menoleh ke belakang tak mendapati Carissa.


"Dimana dia? Apa dia sudah menyerah?" gumam Devian seketika memutar arah.


Devian melihat gadis kecil sedang meringkuk memeluk lututnya dan segera menghampirinya. Devian mendengar suara isakan membuatnya turun dari sepeda dan menghampiri Carissa.


"Kau menangis?" tanya Devian yang duduk di depan Carissa.


Carissa mendongakkan kepalanya menatap Devian.


"Dev jahat sama Rissa." ucap Carissa yang tangisannya semakin kencang.


"Sudah jangan menangis. Maafkan Dev ya." bujuk Devian berusaha menenangkan Carissa.


"Ssshhh..." Carissa meringis saat Devian tak sengaja menyentuh lututnya saat menarik tangan Carissa.


Devian melihat kedua lutut Carissa yang berdarah seketika menjadi panik.


"Maafkan, Dev ya. Dev gak bermaksud bikin Rissa terluka." ucap Devian khawatir kemudian meniup lutut Carissa untuk menghilangkan rasa perih.


"Sakit ya?" tanya Devian menatap wajah Carissa yang basah terkena air mata.


"Sakit. Rissa gak mau temenan sama Dev lagi. Dev jahat." ucap Carissa merajuk.


Devian merasa sangat bersalah dan dia juga sangat takut kalau Carissa akan menjauhinya.


"Dev minta maaf ya. Ayo kita balik ke villa, biar diobatin." ajak Devian mencoba membantu Carissa berdiri.

__ADS_1


Carissa merasakan lututnya semakin perih membuatnya kembali menangis.


"Ayo naik." ucap Devian yang sudah berjongkok di depan Carissa.


"Dev ngapain?" tanya Carissa bingung.


"Ayo aku gendong. Kalo naik sepeda nanti kakimu tambah sakit." ucap Devian menawarkan diri karena sepedanya tidak ada boncengan.


Carissa segera menghampiri dan tubuhnya sudah berada di punggung Devian. Dengan langkah kecil Devian menggendong Carissa menuju sebuah villa yang jaraknya tidak terlalu jauh.


"Rissa berat ya Dev? Rissa jalan aja." ucap Carissa tak enak hati.


"Tidak. Ini salah Dev. Dev harus bertanggungjawab." sahut Devian dengan rasa bersalah dan khawatir.


"Aku janji tidak akan membuatmu terluka lagi." batin Devian dalam hati.


Cakra melihat dari kejauhan Carissa yang digendong Devian. Cakra langsung berlari menghampirinya.


"Rissa kenapa Nak?" tanya Cakra.


"Lutut Rissa berdarah, Om." jawab Devian.


Cakra melihat lutut Carissa dan mengambil alih tubuh Carissa dari gendongan Devian dengan hati-hati.


"Kita obati di dalam ya." ucap Cakra menggendong Carissa yang diikuti Devian masuk ke dalam villa.


"Ma, tolong ambilkan kotak obat dan air minum." perintah Cakra saat melihat Allisa yang duduk di soffa.


"Rissa kenapa Pa?" tanya Allisa panik lalu segera menuruti perintah suaminya.


Allisa membawa sebuah nampan yang berisi kotak obat dan sebuah teko air minum bersama 2 cangkir.


Cakra menurunkan putrinya di soffa dan meluruskan kakinya dengan hati-hati.


"Maafkan Dev, Om. Ini semua salah Dev." ucap Devian penuh penyesalan.


"Minum dulu, Nak." ucap Allisa menyerahkan segelas air pada Devian yang tampak lelah dan tubuhnya berkeringat.


Devian menghabiskan air dengan sekali teguk.


Cakra membersihkan luka Carissa dengan hati-hati kemudian meneteskan obat merah yang membuat Carissa menjerit dan kembali menangis. Devian panik dan sangat khawatir. Devian segera memeluk Carissa.


Cakra meniup pelan luka Carissa lalu meletakkan kembali obat merah ke dalam kotak obat.


"Tidak apa-apa, Sayang. Besok biar cepat sembuh. Tahan ya." ucap Allisa kemudian mengecup kening Carissa.


"Om, Tante. Ini semua salah, Dev. Dev yang membuat Carissa terluka." ucap Devian.


"Apa yang terjadi? Dev bisa cerita sama Tante." ucap Allisa yang mendekati Devian.


"Tadi Dev naik sepeda terus Rissa pengen naik juga. Tapi Dev malah minta Rissa ngejar Dev. Akhirnya Rissa jatuh dan terluka seperti ini. Om dan Tante boleh marah sama Dev." jelas Devian merasa sangat bersalah.


Allisa dan Cakra saling memandang lalu tersenyum melihat Devian yang masih memeluk Carissa.


"Om Tante gak marah, Nak. Dev tidak sepenuhnya salah. Mungkin Rissa juga kurang berhati-hati. Rissa sudah maafin Dev?" tanya Allisa yang mendapat gelengan kepala Devian.


"Sayang, kamu mau maafin Dev gak?" tanya Allisa pada putrinya.


Carissa mendongakkan kepalanya kemudian menatap wajah Papa Mama dan Devian bergantian. Carissa menghembuskan nafas pelan.


"Iya. Rissa maafin Dev karena Dev udah mau capek-capek gendong Rissa sampai sini." ucap Carissa lalu tersenyum lembut.


"Terimakasih. Dev janji gak akan bikin Rissa sakit lagi." sorak Devian senang membuat Cakra dan Allisa tersenyum hangat.


Flashback Off.


"Ternyata Rissa dan Dev sudah mengenal sejak kecil. Tapi kenapa baru sekarang Rissa ketemu sama Dev, Bun?" tanya Carissa setelah mengingat kenangan bersama Dev kecil.


"Dulu saat Dev memasuki usia remaja harus melanjutkan sekolah ke luar negeri karena ia harus melanjutkan usaha Ayah. Jadi Dev harus siap di usianya yang masih muda. Itu membuat kalian tidak pernah bertemu lagi." jelas Tamara kemudian memeluk menantunya.


Carissa merasakan perasaan hangat kemudian mengingat perlakuan kedua orangtua Devian yang sangat baik saat Carissa masih kecil. Bahkan tak segan memarahi Devian saat tak berhenti mengganggu Carissa.


"Pantas saja Rissa merasakan perasaan familiar saat bertemu Bunda dan Ayah." ucap Carissa.


"Iya, Sayang. Dulu Bunda selalu pusing dengan kelakuan Dev yang suka sekali membuatmu menangis. Tapi kalau tidak bertemu sehari, dia akan merengek untuk mengajak Bunda dan Ayah ke rumah atau ke villamu." Tamara menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat tingkah putranya di masa kecil.


"Sekarang Bunda sangat berharap Dev bisa menjagamu dan selalu membuatmu bahagia, Sayang." ucap Tamara mengecup kening Carissa lembut.


"Tentu saja, Bun. Dev akan selalu membuat istriku bahagia. Aku akan menjaganya sepenuh jiwa dan raga." sahut Devian yang tiba-tiba datang.


Tamara melepaskan pelukkannya dari Carissa lalu menatap Devian.


"Awas saja kalau kau berani menyakiti menantu kesayangan Bunda." ucap Tamara melemparkan tatapan tajam pada Devian.


Devian terkekeh pelan kemudian menghampiri Carissa.


"Bunda tenang saja. Dev akan berusaha membuat Rissa bahagia. Dev akan melindungi istri dan calon ibu dari anak-anak Dev sekuat tenaga." ucap Devian lembut membuat Carissa tersipu malu.


Tamara tersenyum melihat menantunya yang malu-malu.


"Sudah malam, sekarang giliran Dev sama Carissa ya Bun." Devian menggandeng tangan Carissa lalu mengajaknya menuju ke kamar.


"Dasar pengantin baru." gerutu Tamara.


"Rissa istirahat dulu ya Bun." pamit Carissa tak enak hati.


"Iya, Sayang. Dev jangan sampai Rissa kelelahan." ucap Tamara membuat Carissa menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang semerah tomat.


Devian terkekeh mendengar ucapan ibundanya.


"Bunda tenang saja. Do'a kan semoga Bunda dan Ayah segera menimang cucu." Devian menatap Bunda Tamara yang tersenyum bahagia.


-BERSAMBUNG


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2