Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Wanita Tangguh


__ADS_3

Pagi ini Carissa tengah bersiap untuk hari pertama ia bekerja. Setelah mandi ia membuka tasnya bermaksud untuk mengambil seragam kerjanya.


"Loh, kok gak ada?" gumam Carissa.


Carissa mencoba untuk mengingat dimana ia menyimpan seragamnya itu.


"Astaga!"


"Kayanya ketinggalan di resto kemarin deh." ucap Carissa sambil menepuk jidatnya sendiri dengan pelan.


"Dasar ceroboh!" batin Carissa merutuki dirinya yang pelupa.


Akhirnya Carissa memutuskan untuk memakai baju bebas. Nanti siang ia akan kembali ke Nusantara Resto untuk menanyakan seragamnya yang tertinggal disana.


Carissa memilih blouse lengan sepanjang sikut warna khaki dengan aksen kerah rebah dan lipatan dibagian lengan bajunya warna hitam dipadukan celana model cuffed pants dengan warna senada. Carissa menata rambutnya dengan gaya ponytail yang menambahkan kesan elegan pada tampilannya. Lalu ia memoles wajahnya dengan make up tipis agar tetap terlihat natural. Tak lupa ia menggunakan lipstik warna nude pada bibirnya yang mempunyai belahan tipis dibagian bawahnya sehingga terlihat semakin seksi.


Kemudian Carissa mengenakan sepatu model pumps warna golden brown dengan hak setinggi 3cm.


30 menit kemudian Carissa sudah sampai di perusahaan.


"Pagi Tiara." sapa Carissa menghampiri meja resepsionis di lobby.


"Pagi, Rissa." balas Tiara dengan senyum diwajahnya.


"Kira-kira ruangan office girl dimana ya, Ti?" tanya Carissa karena ia belum tau dimana letak ruangannya itu.


Tiara mengernyit heran kenapa Carissa menanyakan ruangan itu. Namun ia tak mau banyak bertanya dan langsung menunjukkan arah ruangan itu pada Carissa.


"Makasih, Ti." ucap Carissa berlalu menuju ruangan yang ada di balik lift lantai satu.


"Eh, ada karyawan baru ya." sapa seorang wanita yang tak sengaja berpapasan dengan Carissa yang menatapnya sinis.


"Iya, mbak." jawab Carissa acuh berlalu begitu saja. Ia sedang malas berbasa-basi.


"Cih! Sombong sekali." umpat wanita yang baru saja diacuhkan Carissa itu.


Carissa masuk ke ruangan office girl lalu duduk di kursi kosong yang ada di ruangan itu dan meletakkan tasnya diatas meja.


"Aku harus ngapain ya?" gumam Carissa bingung harus bagaimana ia mulai bekerja. Ia belum tau apa tugasnya. Ia berpikir untuk menunggu perintah saja dari atasannya.


"Hey, office girl baru!" panggil seorang pria yang sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Carissa.


Carissa mendongak dan melihat ke arah pria yang baru saja memanggilnya.


"Buatkan satu teh manis dan satu kopi dengan gula sedikit." perintah pria itu.


"Antarkan ke ruang kerja di lantai 3." sambung pria itu lalu beranjak pergi.


"Baik." jawab Carissa lalu ia menuju meja pantry di ruangan itu dengan segera untuk membuat minuman yang dipesan pria barusan.


Untung saja Carissa sudah terbiasa untuk membuat teh atau kopi. Dulu semasa kuliah, Carissa belajar mandiri ia memilih hidup di kos yang sederhana. Ia sudah belajar untuk menyiapkan dan membuat apapun kebutuhannya sendiri. Jadi pekerjaan ini sangat mudah untuk Carissa.


10 menit, Carissa menuju ke lantai 3 untuk mengantarkan teh dan kopi yang telah dibuatnya.


"Hei, ternyata kamu office girl baru disini ya!" suara ejekan wanita terdengar dari belakang Carissa.


Carissa menoleh dan menatap datar ke arah wanita yang baru saja mengejeknya.


"Aku kira kamu kerja diposisi yang bagus. Ternyata kecantikanmu hanya mampu menjadikanmu seorang office girl." hina wanita itu dengan tatapan nyalang.


"Aku Saras, Marketing Online di MF Group." ucap wanita itu memperkenalkan diri dengan sedikit pamer.


Carissa hanya memutar kedua bola matanya dan menghela nafas. Carissa malas meladeni wanita yang penuh basa-basi itu.


"Tunggu!" teriak Saras saat melihat Carissa hendak berbalik meninggalkannya begitu saja.


Carissa terpaksa memutar tubuhnya, lalu menatap datar wanita yang saat ini berjalan semakin mendekat ke arahnya.


"Kamu ini sombong sekali! Tolong antarkan dokumen ini ke ruang Produksi di lantai 4." suruh Saras seraya menyodorkan 2 buah dokumen kepada Carissa.


Carissa menerima dokumen itu dan masuk kedalam lift lalu menekan angka 4.


Ting!


Pintu lift terbuka, tepat dihadapan Carissa ada ruangan yang bertuliskan Production.


Tok Tok!


Carissa mengetuk pintu ruangan tersebut.


"Masuk." terdengar suara bass dari dalam ruangan tersebut.


Ceklek!


Carissa berjalan memasuki ruangan yang telah terbuka dan mendapati seorang pria sedang fokus menatap layar komputer dan memainkan jarinya di keyboard dengan lihai.


Pria dengan jambang halus diwajahnya menambah kesan maskulin pada tampilan pria itu.


"Permisi, saya mau menyerahkan ini, Pak." ucap Carissa sopan sambil meletakkan dokumen ditangannya ke meja kerja pria yang kira-kira berusia 30 tahunan itu.


Pria itu menghentikan jarinya lalu melirik Carissa sekilas, lalu melanjutkan kesibukannya itu.


"Terimakasih. Silahkan keluar." kata pria itu tanpa menoleh ke arah Carissa lagi.


Carissa pun segera beranjak meninggalkan ruangan pria dingin itu. Tapi sebelum keluar Carissa sempat melirik dan membaca papan nama di atas meja kerja, Pandu Wisnutama.


Kring!


Kring!


Carissa yang baru saja kembali ke ruangannya segera mengangkat telpon saat ia mendengarnya.


"Rubah wanita, darimana saja kau?" suara pria itu terdengar keras di telinga Carissa.


Carissa sempat menjauhkan telpon dari telinganya sesaat lalu menempelkan kembali ganggang telpon itu untuk mendengar suara pria yang sudah ia kenali.


"Cepat antarkan kopi ke ruanganku!" perintah Devian kepada Carissa.


"Oh iya, kopinya dua sendok gulanya satu setengah sendok. Pastikan airnya harus benar-benar mendidih. Aku gak mau perutku sakit." oceh Devian.


"Dalam waktu 10 menit kopi itu harus sudah ada di mejaku!" kata Devian lagi.

__ADS_1


"Baik, Pak." jawab Carissa pasrah lalu menutup telponnya.


Untung saja Carissa sudah merebus air yang sebelumnya ingin ia gunakan untuk membuat teh manis, jadi ia segera membuatkan kopi untuk atasannya yang ribet itu.


Tok Tok!


"Masuk." sahut pria yang ada didalam ruangan.


Ceklek!


Carissa masuk keruangan Devian dengan membawa secangkir kopi lalu meletakkannya di meja Devian.


"Gesit juga si rubah ini." batin Devian lalu melirik arlojinya yang ia letakkan di atas meja. Devian sengaja mengatur mode stopwatch yang menunjukkan waktu 8 menit lebih 15 detik.


Devian langsung meminum kopi dihadapannya.


"Kopinya terlalu pahit. Coba buatkan lagi." perintah Devian lalu meletakkan kopinya kembali.


"Tapi takarannya sesuai dengan yang Bapak inginkan." sela Carissa.


"Jangan membantah! Cepat buatkan kopi yang baru!" perintah Devian lagi.


Carissa hanya mendengus kesal lalu mengambil kopi diatas meja Devian.


"Tunggu! Dimana seragam kerjamu?" tanya Devian menyadari Carissa tidak memakai seragam office girl.


"Maaf, Pak. Sepertinya tertinggal di resto kemarin." jawab Carissa lalu beranjak keluar dari ruangan itu.


15 menit kemudian, Carissa masuk ke ruangan Devian dengan membawa kopi yang baru.


"Ini terlalu manis! Buatkan lagi yang baru." ucap Devian.


Carissa lagi-lagi dibuat kesal dengan ulah atasannya itu.


"Sial! Sepertinya pria gila ini sengaja mempermainkanku." umpat Carissa tetapi hanya berani didalam hati.


Carissa melangkah meninggalkan ruangan Devian dengan kesal.


"Haha.. rasakan kau rubah wanita!" ucap Devian pelan dengan seringai puas.


Kali ini Carissa sengaja memasukkan 2 sendok garam kedalam kopi yang dibuatnya karena ia sangat kesal dengan sikap Devian.


"Rasakan pembalasanku!" batin Carissa dengan menyunggingkan bibirnya.


Uhuk Uhuk!


Devian segera mengambil gelas dan menegak air yang ada dihadapannya.


"Apa ini? Kenapa kopinya sangat asin?" keluh Devian sambil membersihkan mulutnya dengan tisu untuk menghilangkan rasa asin yang tersisa dari kopi buatan Carissa.


"Rasakan! Siapa suruh kamu mempermainkanku." batin Carissa tertawa menang.


"Ma-maaf, Pak. Mungkin saya keliru memasukkan garam ke dalam kopinya." jawab Carissa seolah merasa bersalah.


"Cepat buatkan lagi! Jangan coba-coba untuk meracuni saya!" bentak Devian.


Carissa bergidik ngeri melihat tatapan tajam Devian yang seolah membunuh.


"Buat lagi!"


"Kurang pas."


"Terlalu panas."


"Hmm.. kurang sedikit gula."


Kurang lebih ini kopi ke 10 yang telah dibuat Carissa.


"Semoga ini yang terakhir." batin Carissa sambil menghela nafas, lalu membawa kopi itu menuju ruangan Devian.


"Ssshh..."


Carissa merasakan pergelangan kakinya nyeri. Mungkin akibat dia harus berjalan keluar masuk lift dan bolak-balik dari lantai 1 ke lantai 10. Ia melangkah dengan perlahan memasuki ruang Devian untuk mengantarkan kopi lagi.


"Ini, Pak."


"Hmm.. saya baru ingat kalau saya tidak terlalu suka minum kopi. Jadi buatkan saya teh manis saja." ucap Devian santai seperti tanpa dosa tanpa menoleh ke arah Carissa. Devian sibuk menatap laptop yang ada dihadapannya.


Mendengar itu, rasanya Carissa ingin mengacak rambut dan mencakar wajah pria dihadapannya itu. Namun sebisa mungkin ia menahan amarahnya karena ia tak mau dipecat dihari pertamanya bekerja. Akhirnya Carissa membawa kembali kopi yang telah ia buat itu lalu berbalik dengan langkah kaki yang sedikit pincang. Carissa menahan rasa nyeri pada pergelangan kakinya yang kambuh.


PRANG!


Tubuh Carissa oleng, membuat cangkir kopi itu terjatuh di lantai dan pecah.


Seketika itu Devian terperanjat kaget dan memalingkan wajah kedepan.


"Dasar ceroboh! Bersihkan pecahan cangkir itu dan pel lantainya!" seru Devian pada Carissa.


"Ba-baik, Pak." ucap Carissa gugup.


Carissa melangkahkan kakinya dengan perlahan. Ia sudah tidak sanggup menahan rasa nyeri pada pergelangan kakinya itu.


"Aaaa...!" jerit Carissa, tiba-tiba ia terjatuh saat ia mau keluar ruangan Devian.


Carissa mencoba untuk berdiri.


"Aawww.." Carissa meringis kesakitan. Sepertinya kakinya terkilir lagi.


Carissa mencoba lagi untuk berdiri, namun gagal.


"Ssshh.." desah Carissa pelan merasakan nyeri yang tak tertahankan pada kakinya. Setetes cairan bening otomatis menetes dari pelupuk mata Carissa.


Devian beranjak dari kursinya segera menghampiri Carissa. Ada rasa tidak tega melihat ekspresi kesakitan di wajah Carissa. Devian berjongkok lalu mendekap tubuh Carissa.


HAP!


Devian menggendong Carissa ala bridal style. Carissa refleks mengalungkan tangannya pada leher Devian dengan erat. Devian berjalan menuju ruang istirahat lalu membaringkan tubuh Carissa di ranjang kecil ukuran 90×200 miliknya dengan perlahan. Netra hitam Devian bertemu dengan netra cokelat milik Carissa, tatapan mereka seolah terkunci. Mereka saling menatap satu sama lain dalam waktu yang cukup lama.


Tok Tok!


Suara ketukan pintu membuyarkan tatapan Devian dan Carissa. Mereka tersadar dan membuat mereka berdua salah tingkah. Devian segera menemui orang yang sudah mengetuk pintu kerjanya.

__ADS_1


"Huft.. hampir saja." batin Devian canggung.


Dag Dig Dug


Devian mengambil nafas dan membuangnya perlahan.


"Loh, Pak Agung. Ada apa, Pak?" tanya Devian pada sopir pribadi Bunda tercinta.


"Ini, Mas Devian.. saya mau mengantarkan seragam ini. Kata Nyonya ini punya Nona Carissa. Kemarin tertinggal di resto." jawab Pak Agung lalu menyerahkan kemeja biru kepada Devian.


"Terimakasih, Pak." ucap Devian lalu meletakkan kemeja itu diatas meja kerjanya.


Setelah Pak Agung berpamitan, Devian keluar menuju ruangan sebelah.


"Dadang!" seru Devian.


"Iya, Pak Devian." sahut Dadang segera menuju ke sumber suara.


"Ambilkan es batu masukkan ke kantong plastik." perintah Devian.


"Baik, Pak."


Dengan sigap Dadang membuka kulkas yang ada di ruang pantry, lalu mengambil beberapa kotak es batu dan memasukkannya kedalam kantong plastik.


"Ini, Pak." ucap Dadang sambil menyodorkan kantong plastik kepada Devian.


Devian langsung mengambil kantong plastik dan bergegas kembali ke ruangannya.


Carissa masih mencoba menetralkan rasa gugupnya. Ia mengambil nafas lalu mengeluarkannya, ia lakukan berkali-kali.


Tak Tak Tak.


Suara derap sepatu semakin mendekat.


Carissa menoleh dan melihat Devian membawa sebuah kantong plastik ditangan kirinya.


Devian menyeret kursi mendekat ke ranjang, lalu mendudukinya. Pandangan mata Devian tertuju pada pergelangan kaki Carissa yang terlihat bengkak.


"Dasar wanita ceroboh! Sudah tau kaki sakit, malah pake sepatu begini." batin Devian.


Devian menjulurkan tangannya ke arah kaki Carissa, namun dengan sigap tangan Carissa menahannya.


"Mau apa, Pak?" tanya Carissa dengan tatapan curiga.


Devian menghembus nafas dengan kasar.


"Mau lepasin sepatu kamu, biar bisa dikompres pake ini." jawab Devian sambil menunjukkan kantong plastik yang berisi es batu pada Carissa dengan ekspresi sedikit kesal.


Carissa terkekeh kecil.


"Maaf, Pak. Biar saya saja." ucap Carissa yang malu dengan pemikiran liarnya.


Devian tertegun melihat rona merah pada wajah Carissa.


"Pak Devian."


"Pak?" panggil Carissa sambil menepuk pundak Devian.


Devian tersadar dan mengedipkan matanya beberapa kali, melihat ekspresi heran pada wajah cantik Carissa.


"Sial! Kenapa wajahnya seperti punya magnet yang terus menarikku." batin Devian.


"Saya bisa kompres sendiri, Pak." ucap Carissa ingin meraih kantong plastik yang ada ditangan Devian.


"Biar saya saja." dengan cepat Devian menarik tangannya lalu menempelkan kantong plastik itu lada pergelangan kaki Carissa.


"Ssshhh..." desah Carissa merasakan ngilu pada kakinya.


"Tahan sedikit." ucap Devian lembut.


Carissa langsung mendongak menatap Devian.


"Aku gak salah dengar kan? Pria gila ini bisa bicara dengan lembut?" tanya Carissa dalam hati.


"Tutup mulutmu. Jangan ngiler lihat cowok ganteng didepanmu." ucap Devian saat memergoki Carissa menatap dirinya.


"Dih, pria narsis!" balas Carissa namun terdengar samar.


"Lain kali kalau memang sakit jangan dipaksakan masuk kerja." kata Devian dengan wajah datar.


Carissa melirik sekilas ke arah Devian mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar.


"Yaah.. sebenarnya tadi pagi kakiku sudah sembuh. Hanya saja tadi ada pria kejam yang menyiksaku sampai kakiku seperti ini." gerutu Carissa dengan bibir manyunnya yang terlihat menggemaskan.


Devian tertawa kecil.


"Maaf."


Carissa seketika menoleh ke arah Devian.


"Bapak tadi bilang apa?" tanya Carissa dengan raut wajah tak percaya.


"Maaf." ulang Devian lalu tersenyum tipis pada Carissa.


"Hahahahaha.."


"Kenapa kamu malah tertawa? Ada yang lucu?" tanya Devian heran dengan Carissa yang tiba-tiba tertawa.


"Haduuh.. ya Bapak yang lucu." jawab Carissa yang masih tertawa.


Devian mengernyitkan dahinya menatap Carissa.


"Ya, gak nyangka aja Bapak bisa bilang maaf. Biasanya Bapak kan selalu bicara kasar sama saya." jelas Carissa yang sudah berhenti tertawa.


"Iya, mungkin saya telah salah menilai kamu. Ternyata kamu wanita yang cukup tangguh." ucap Devian lalu beranjak dari kursinya untuk membuang kantong plastik ke tempat sampah.


Carissa yang mendengar itu hanya tersenyum tipis.


(Cieee.. si kutub sudah mulai lembut nih sama si rubah betina 😁😁😁. Siapakah yang akan jatuh hati lebih dulu? Devian atau Carissa?)


-BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2