
Devian kembali melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya. Carissa berniat untuk mengemasi barang-barangnya yang masih ada dikamarnya sebelum tinggal di rumah baru yang sudah Devian beli.
"Assalammu'alaikum." Carissa dan Devian memberikan salam saat masuk ke dalam rumah.
Rumah tampak sunyi tak ada balasan salam dari dalam rumah.
"Mungkin Papa dan Mama sedang istrirahat." gumam Carissa melihat hari sudah mulai terik.
Matahari sudah memancarkan sinarnya tepat diatas kepala. Carissa menuju dapur untuk mengambil air dingin guna melepas dahaganya.
"Eh Non sama Tuan muda sudah pulang?" sapa Mbok Asih yang kebetulan sedang mencuci peralatan dapur selesai memasak untuk makan siang.
"Lho Mbok ada dirumah? Tadi kok gak jawab salam Rissa?" tanya Carissa yang sedang membuka kulkas kemudian mengambil sebuah botol kaca besar yang berisi air mineral.
"Maaf Non, Mbok gak dengar." jawab Mbok Asih tak enak hati.
Dengan sigap Devian mengambil gelas kaca yang ada di meja mekan kemudian menyodorkannya kepada istrinya. Carissa tersenyum kemudian menuangkan air kedalam gelas hingga penuh. Sebelum tangan Carissa mengambil alih gelas itu ternyata Devian lebih cepat dan menenggak habis air didalam gelas itu membuat Carissa memanyunkan bibirnya.
"Kamu curang!" umpat Carissa kesal yang disambut kekehan Devian.
"Maaf sayang, aku juga sangat haus." ucap Devian dengan sigap ia mengisi ulang air kedalam gelas kemudian menyerahkan kepada istrinya yang masih menggerutu.
"Ini istriku, minumlah." ucap Devian sembari tersenyum manis.
Carissa segera merebut gelas itu dan menegak airnya hingga kandas. Carissa masih menggerutu tidak jelas karena masih sedikit kesal dengan suaminya.
Mbok Asih yang melihat tingkah lucu pasangan majikan mudanya hanya menggeleng-gelengkan kepala kemudian tertawa kecil.
"Papa sama Mama kemana Mbok?" tanya Carissa.
"Tadi setelah Non pergi, Nyonya dan Tuan juga pergi. Sepertinya ke kebun." jawab Mbok Asih.
"Papa dan Mama kok gak bilang sama Rissa." gerutu Carissa.
"Mungkin Papa sama Mama buru-buru, Sayang." sahut Devian kemudian mengajak istrinya ke kamar.
"Apa kamu mau menyusul Papa dan Mama ke kebun?" tanya Devian saat melihat istrinya duduk di tepi ranjang dengan wajah ditekuk.
Carissa mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya serius.
"Kamu mau kesana?" tanya Carissa memastikan yang mendapat anggukan kepala Devian.
"Aku telpon Mama dulu untuk memastikan." sahut Carissa yang wajahnya sudah kembali ceria.
Tut Tut
"Hallo sayang, ada apa?" suara Mama Allisa terdengar ketika panggilan suara sudah terhubung.
"Mama sama Papa dimana?" tanya Carissa.
"Di kebun, Sayang. Ada apa?" jawab Mama Allisa kemudian kembali bertanya pada putrinya.
"Rissa sama Devian mau menyusul boleh?" tanya Carissa kepada Mama Allisa dengan nada penuh harap.
"Boleh saja. Tapi kan kamu tau perjalanannya lumayan jauh, Devian mau?" tanya Mama Allisa memastikan mengingat jarak rumah ke kebun yang butuh waktu perjalanan kurang lebih 2 jam.
Carissa menoleh menatap suaminya kemudian Devian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban tanda tidak keberatan.
"Devian mau, Ma." jawab Carissa.
__ADS_1
"Yasudah nanti Mama biar suruh Mbak Marni bersihin kamar di villa untuk kalian bermalam sekaligus belajar bulan madu." ucap Mama Allisa yang disambut tawa kecil Carissa.
"Mama sejak kapan bulan madu ada belajarnya? Yasudah Rissa sama Devian siap-siap dulu ya, Ma." sahut Carissa kemudian memutuskan sambungan telponnya.
Devian yang sedari tadi mendengar percakapan istrinya dengan ibu mertuanya yang memang di loudspeaker hanya tersenyum kecil.
"Bagaimana kalau kita menginap? Apakah kamu keberatan Dev?" tanya Carissa memastikan.
Devian mendekati Carissa kemudian merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya.
"Tentu saja aku tidak keberatan, Sayang. Benar kata Mama, hitung-hitung kita pemanasan bulan madu. Benar kan istriku?" ucap Devian yang tiba-tiba berbisik di telinga Carissa.
Carissa bisa merasakan hembusan nafas Devian mengenai wajahnya. Suara bariton Devian yang berbisik membuat tubuh Carissa meremang. Seketika wajah Carissa bersemu merah.
"Dev jangan menggodaku. Cepat kita bersiap." ucap Carissa saat menyadari senyum nakal suaminya itu.
Devian terkekeh melihat istrinya yang masih malu-malu.
"Oh iya, apa kamu mau mengambil pakaian kerumah dulu?" tanya Carissa yang menyadari saat datang ke rumah ini suaminya hanya membawa beberapa helai pakaian ganti.
"Tidak perlu. Kita nanti mampir ke mall saja. Sekalian membeli beberapa peralatan untuk pertempuran bulan madu kita." jawab Devian yang seketika membuat Carissa melongo.
"Alat tempur?" tanya Carissa.
"Memangnya kita mau perang?" tanya Carissa polos yang membuat Devian semakin ingin menggoda istrinya.
"Iya, kita akan berperang semalam penuh. Persiapkan dirimu, is-tri-ku..." jawab Devian yang menekankan kata istriku dengan senyuman memukau yang membuat Carissa tersadar apa maksud suaminya itu.
Carissa mendorong tubuh suaminya agar menjauh, ia takut tidak bisa menahan diri dengan godaan suaminya itu. Carissa bergegas mengambil koper kecil dan memasukkan beberapa pakaian. Tidak lupa peralatan mandi dan alat make up milik Carissa.
Devian masih terkekeh sambil memandangi istrinya yang sibuk berkemas.
"Baiklah. Aku akan terus menggodamu istriku. Aku ingin tau seberapa kuat kamu bisa menahan godaanku." batin Devian dengan seringai nakalnya.
Setelah semua sudah terkemas rapi, Carissa berganti pakaian dengan midi dress tanpa lengan warna navy motif bunga yang berleher tinggi. Carissa memadukannya dengan sepatu sneakers warna hitam menambahkan gaya kasual yang simpel namun tetap elegan. Carissa mengikat rambutnya dengan gaya top knot ala wanita korea. Carissa juga menambahkan cardigan oversize sepanjang dress warna abu misty.
Devian terpukau dengan tampilan classy sang istri. Carissa berjalan mendekati Devian.
"Bagaimana apakah penampilanku aneh?" tanya Carissa kepada Devian yang sedari tadi menatap dirinya.
Devian menggelengkan kepalanya cepat.
"Aku selalu suka dengan gayamu berpakaian, Sayang." puji Devian sembari mengecup lembut pipi istrinya.
"Yasudah kamu ganti baju dulu." ucap Carissa yang sudah menyiapkan t-shirt hitam dan celana denim milik Devian.
Devian bergegas mengganti pakaiannya didepan Carissa.
"Dasar kamu Dev! Kan bisa ganti di kamar mandi." ucap Carissa yang terkejut dengan kelakuan suaminya.
"Tidak mau. Disini lebih cepat dan tentunya istriku pasti akan lebih senang bisa menikmati tubuh polos suami atletismu ini." ucap Devian yang membuat Carissa tertawa geli.
"Ternyata suamiku yang terkenal dingin dimata oranglain punya sisi yang menggelikan seperti ini." batin Carissa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ayo kita berangkat sayangku." ucap Devian bersemangat setelah berganti pakaian.
Carissa menganggukkan kepalanya sembari tersenyum manis. Tangan Carissa bermaksud menarik koper namun dengan cepat koper itu sudah ditarik oleh tangan Devian.
"Biar aku saja. Tuan Putri silahkan jalan didepan." ucap Devian yang membuat Carissa tak bisa menahan tawa.
__ADS_1
Carissa memeluk tubuh Devian sekilas kemudian menyentil hidung mancung suaminya.
"Terimakasih suamiku. I love you." ucap Carissa merasa senang dengan perlakuan suaminya yang mungkin kekanakan tapi selalu bisa membuat Carissa merasa dimanjakan dan dicintai.
Devian menatap wajah Carissa yang sangat cantik itu kemudian dengan cepat meraih tengkuk istrinya dan ******* bibir merah istrinya.
"Bisa katakan sekali lagi?" ucap Devian meminta kepada istrinya.
"I love you suamiku." ucap Carissa dengan malu-malu yang membuat Devian tersenyum puas kemudian kembali memagut bibir merah istrinya.
"I love you too istriku." ucap Devian lembut kemudian membelai lembut bibir istrinya dengan ibu jari.
"Maaf jadi berantakan." kata Devian yang melihat lipstik istrinya berantakan.
"Nanti aku touch up dimobil saja. Ayo kita berangkat, katanya mau mampir ke mall dulu. Nanti kita bisa kemaleman sampai di villanya." ajak Carissa kepada suaminya.
Carissa merangkul lengan suaminya kemudian menuruni anak tangga dengan hati-hati.
"Mbok, Rissa dan Dev mau nyusul Mama sama Papa. Nitip rumah ya, Mbok." pamit Carissa saat mendapati Mbok Asih sedang menyapu lantai.
"Siap, Non. Hati-hati dijalan ya Nona dan Tuan Muda." ucap Mbok Asih yang dibalas senyuman Carissa dan Devian.
Dengan sigap Devian memasukkan koper ke bagasi mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Carissa tersenyum manis dengan perlakuan Devian.
"Dev kamu tak perlu selalu memperlakukanku seperti ini." ucap Carissa saat keduanya sudah berada didalam mobil.
"Apa kamu tidak menyukainya?" tanya Devian yang membuat Carissa menggelengkan kepalanya cepat.
"Lalu?" tanya Devian sebelum menyalakan mesin mobilnya.
"Aku hanya tidak ingin suamiku kerepotan." jawab Carissa.
"Sama sekali tidak merepotkan, Sayang. Sudah sewajarnya seorang suami memperlakukan istrinya seperti ratu bukan?" sahut Devian yang membuat Carissa terpana.
Carissa menatap wajah Devian yang tersenyum lembut kepadanya. Carissa merasakan perubahan yang luar biasa pada perlakuan Devian kepada dirinya. Carissa tahu betul, sikap Devian saat pertama kali bertemu dengannya. Namun sekarang seperti bukan Devian Mahendra yang dikenal banyak orang.
"Apakah kamu Dissociative Identity Disorder?" tanya Carissa yang membuat Devian tersedak air liurnya.
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" tanya Devian yang terkejut dengang pertanyaan istrinya.
Carissa terkekeh pelan kemudian memandang Devian yang memasang ekspresi bingung.
"Karena aku merasa kamu sangat berbeda, Sayang. Sikapmu dulu seperti apa saat pertama kali kita bertemu. Tapi sekarang kamu sangat lembut dan memanjakanku." jawab Carissa yang membuat Devian menggenggam tangan istrinya erat.
"Maafkan aku, Sayang. Maaf kalau dulu aku sering menyakitimu." ucap Devian sedih.
Carissa segera meraih wajah suaminya dan memberikan senyum manis.
"Aku sudah memaafkanmu, Sayang. Maaf aku tidak bermaksud mengungkit masa lalu kita dan membuatmu sedih. Tapi pasti banyak orang yang akan berpikiran seperti diriku, Dev. Aku sangat bahagia bisa dicintai oleh pria sepertimu. Aku wanita beruntung yang mendapat perlakuan lembutmu." ucap Carissa membuat Devian memeluk tubuh istrinya.
"Aku yang beruntung, Sayang. Aku sangat beruntung bisa menikahi wanita cantik, berbakat, mandiri dan baik hati sepertimu. Aku sangat bahagia kamu mau menerimaku setelah semua perlakuan kasar dan kata-kata burukku kepadamu dimasa lalu." sahut Devian sembari menghujani kepala istrinya dengan kecupan.
-BERSAMBUNG
*
*
__ADS_1
*