Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Nasib


__ADS_3

Setelah puas berkeliling resort, Carissa dan Devian memutuskan untuk kembali ke kamar.


Drt Drt


Ponsel milik Devian bergetar.


"Hallo, Bun. Ada apa?" tanya Devian.


"Dev, Bunda dan Ayah mau berlibur ke luar negeri." jawab Bunda Tamara.


"Ke luar negeri? Kapan Bun?" tanya Devian lagi.


"Lusa, Nak." jawab Bunda Tamara membuat Devian terkejut.


"Lusa? Kenapa mendadak sekali?" protes Devian.


"Bunda dan Ayah juga ingin honeymoon lagi, Sayang. Kami juga ingin berduaan seperti kamu dan Rissa." jawab Bunda Tamara membuat Devian terkekeh.


"Baiklah, Bunda dan Ayah jaga kesehatan ya." ucap Devian perhatian.


"Tenang saja, Nak. Sebaiknya kamu dan Rissa yang harus lebih semangat untuk memberikan kami cucu." kata Bunda Tamara membuat Devian melirik Carissa yang sedang duduk disampingnya.


"Ada apa, Dev?" tanya Carissa penasaran namun hanya dijawab dengan senyuman aneh Devian.


"Bunda tenang saja. Kami akan berusaha." ucap Devian membuat Carissa semakin penasaran.


"Baguslah. Yasudah Bunda tutup dulu ya. Selamat berjuang anak-anak Bunda." pamit Bunda Tamara lalu menutup sambungan telponnya.


"Apa ada sesuatu hal yang terjadi, Dev?" tanya Carissa.


"Sepertinya istriku ini sangat penasaran." jawab Devian kemudian meletakkan ponselnya ke atas nakas.


"Kalau tidak mau memberitahu yasudah." ucap Carissa mengerucutkan bibirnya membuat Devian terkekeh.


"Istriku menggemaskan sekali." kata Devian sambil mengecup kening Carissa.


"Aku akan memberitahumu hanya saja mungkin kamu belum siap." kata Devian.


Carissa mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Devian.


"Maksudmu?" tanya Carissa semakin penasaran.


Devian tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya kepada istrinya lalu berbisik yang membuat tubuh Carissa menegang.


"Bunda ingin kita lebih semangat untuk memberikannya cucu." bisik Devian.


Carissa bisa merasakan hembusan nafas Devian menyentuh bulu kuduknya. Seketika wajah Carissa memerah membuat Devian tersenyum.


"Bagimana istriku? Apakah kamu siap?" tanya Devian menggoda istrinya.


"Emm.. Itu..." jawab Carissa gugup.


Devian tertawa kecil, lalu menarik tubuh Carissa kedalam dekapannya.


"Kamu tenang saja, sayang. Aku tidak akan memaksa. Kita program kalau kamu sudah siap ya." ucap Devian lembut.


"Memangnya kamu sudah ingin punya anak?" tanya Carissa.


"Belum, aku masih ingin kita menghabiskan waktu berpacaran lebih lama." jawab Devian membuat Carissa bernafas lega.


"Bukannya aku belum siap, Dev. Kita jalani saja ya, kalau memang Allah langsung memberikan kita amanah, kita juga tidak bisa menolak kan?" ucap Carissa membuat Devian menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Kamu benar sayangku. Jadi kita bisa mulai program dari sekarang?" tanya Devian menggoda.


"Dasar maniak!" umpat Carissa kesal lalu memukul dada Devian.


"Haha. Aku bercanda sayang." ucap Devian terkekeh lalu kembali memeluk erat istrinya dan menghujani pucuk kepala Carissa dengan kecupan.


*


*


*


MF Group


"Nin, bagaimana persiapan pernikahanmu?" tanya Saras kepada Aninda yang kebetulan makan siang bersama di kantin perusahaan.


"Alhamdulillah.. Sudah hampir 100%." jawab Aninda sumringah.


"Hem.. Syukurlah." ucap Saras kemudian lanjut menyantap makan siangnya.


Aninda menyadari perubahan ekspresi Saras yang tiba-tiba sendu.


"Kenapa, Ras?" tanya Aninda.


"Gakpapa, Nin." jawab Saras datar.


"Kalau ada masalah cerita aja sama aku. Jangan sungkan." kata Aninda membujuk Saras.


"Tidak, Nin. Hanya kepikiran saja, kamu sebentar lagi menikah. Rissa sudah menikah. Sedangkan aku masih jomblo aja." ucap Saras melas.


"Ya ampun, aku kirain ada masalah apa ternyata curhatan jomblowati." sahut Aninda sembari tertawa kecil.


"Bagus, tertawa saja diatas penderitaan temanmu ini." gerutu Saras membuat Aninda semakin tertawa keras.


"Hemm.. Maaf maaf. Aku gak bermaksud begitu." ucap Aninda tak enak hati.


"Huuuh. Pasti ke depannya kalian akan melupakan aku. Apalah dayaku yang belum punya pasangan ini." kata Saras lirih membuat Aninda prihatin.


"Jangan begitu, Ras. Kita kan sahabat, mana mungkin melupakan kamu. Hanya saja pasti kamu akan lebih sering jadi obat nyamuk. Hahaha." ucap Aninda membuat Saras ikut tertawa.


"Sialan kamu, Nin. Malangnya nasibku punya sahabat tak berakhlak seperti kamu." kata Saras.


"Maaf maaf. Eh ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Pak Dewa?" tanya Aninda.


Uhuk!


Pertanyaan Aninda membuat Saras tersedak. Dengan cepat Saras membuka botol mineral dan meneguk airnya hingga setengah.


"Kamu gakpapa kan, Ras?" tanya Aninda panik.


"Nin kenapa kamu tiba-tiba tanya hubunganku sama Pak Dewa sih?" protes Saras.


"Lah bukannya memang ada hubungan?" tanya Aninda.


"Hubungan? Hubungan apa yang bisa kuharapkan dari pria dingin seperti dia." jawab Saras kesal.


"Tapi kamu punya perasaan kan sama dia?" goda Aninda membuat Saras termenung sejenak.


"Haha perasaan apa? Belum jatuh cinta aja sudah dibuat kecewa. Aku benci dengannya." jawab Saras kesal mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


"Awas hati-hati nanti benci jadi cinta." ucap Aninda membuat Saras semakin kesal.

__ADS_1


"Sudahlah kamu hanya bisa mengejekku. Lebih baik kamu kembali ke ruanganmu sana." kata Saras yang melihat piring Aninda sudah kosong.


"Yakin nih aku tinggal?" tanya Aninda memastikan.


"Iya, daripada aku darah tinggi terus-terusan mendengar perkataanmu." jawab Saras membuat Aninda terkekeh pelan.


"Oke oke, aku minta maaf. Aku duluan ya." pamit Aninda kemudian meninggalkan Saras di kantin.


Saras menghembuskan nafas kasar sembari melanjutkan makan siangnya.


Waktu istirahat siang sudah hampir habis, Saras pun bergegas kembali ke ruangannya. Namun saat baru saja berdiri dari kursi dan berjalan beberapa langkah, ia menabrak seseorang.


BRUKK!


"Aww..." teriak Saras spontan.


"Kalau jalan lihat-lihat dong!" umpat Saras kesal kemudian mengelus hidungnya yang terasa sakit karna terbentur otot dada pria tegap yang menabraknya.


"Sepertinya kamu yang tidak lihat-lihat." ucap pria itu.


DEG!


Suara pria itu terdengar familiar di telinga Saras, perlahan ia mendongakkan kepalanya dan benar saja pria dihadapannya itu membuatnya terkejut.


"Pa.. Pak Dewa.." ucap Saras gugup.


"Sakit?" tanya Dewa memastikan.


"Ti-tidak. Maaf sepertinya saya kurang berhati-hati. Permisi." jawab Saras kemudian bergegas meninggalkan Dewa menuju lift.


"Sial kenapa harus ketemu dia sih." batin Saras.


"Eh tunggu dulu, kok dia ada disini? Berarti dia duduk dibelakangku dong tadi? Jangan-jangan dia dengar obrolanku dengan Ninda? Haduuh gawat." tanya Saras dalam hati.


"Mati aku mati. Kenapa liftnya lama banget sih." gerutu Saras pelan.


Ting!


Pintu lift terbuka, Saras segera masuk berharap bisa melarikan diri dari Dewa. Namun siapa sangka ternyata Dewa sudah ikut masuk ke dalam lift membuat tubuh Saras terpaku.


"Haduuh, kenapa harus satu lift dengan dia sih. Bodo amat ah." ucap Saras dalam hati.


"Ayolah lift, cepatlah sampai ke ruanganku sebelum aku beku bersama pria dingin ini." harap Saras dalam hati tak sabar.


Ting!


Akhirnya lift sampai di lantai ruangan Saras membuatnya bernafas lega, ia pun bergegas keluar lift tanpa berpamitan dengan Dewa.


"Akhirnya bebas juga dari pria itu." batin Saras lega, hampir saja ia mati berdiri.


Tanpa Saras ketahui, ternyata sedari tadi Dewa memperhatikan dirinya. Bahkan sejak di kantin tadi. Semua obrolan Saras bersama Aninda pun terdengar oleh Dewa.


"Sepertinya aku sudah bersikap keterlaluan padanya." gumam Dewa menatap Saras yang berlalu begitu saja.


-BERSAMBUNG


*Terimakasih DevRissa Lovers yang masih setia menunggu kelanjutan "GEJOLAK CINTA TUAN DAN NONA MUDA"


Jangan lupa like, komen dan vote ya gaes 🙏🏼


Biar lebih semangat up nya 🙏🏼

__ADS_1


Minthor ucapkan terimakasih atas antusiasnya 🥰*


__ADS_2