Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Meriang


__ADS_3

MF Group.


Devian melakukan pekerjaannya seperti biasa dengan cekatan dan teliti. Namun saat ini ada yang kosong didalam hati Devian. Ada yang hilang sejak Carissa mengundurkan diri dari MF Group dan pergi ke New York. Devian merasa hatinya sepi, ia sangat merindukan sosok wanita yang ia cintai itu.


"Baru 2 minggu berlalu. Tapi kenapa rasanya seperti 1 tahun." batin Devian gusar.


Devian ingin menelpon Carissa namun mengurungkan niatnya. Pasti saat ini Carissa sedang istirahat. Devian memilih untuk menyibukkan dirinya meniliti berkas-berkas yang lain. Devian berharap bisa menghapus sedikit kerinduannya pada Carissa.


Devian memang baru sekarang mempunyai perasaan terhadap wanita. Devian yang dulu tidak akan pernah mau berhubungan dengan wanita. Didekati wanita saja, Devian selalu menghindar. Entah kenapa sangat berbeda dengan Carissa. Tanpa didekati Carissa, justru Devianlah yang mendekati wanita. Bagi Devian Carissa bagaikan magnet yang terus memikat dirinya untuk selalu berdekatan dengan Carissa.


"Sial! Ternyata begini rasanya merindukan seseorang." gumam Devian yang merasakan sesak di dadanya saat mengingat wajah Carissa.


"Hanya 2 bulan, Dev. Hanya 2 bulan." ucap Devian dalam hati.


Andai saja Devian tidak disibukkan dengan perusahaan dan larangan Carissa, pasti saat ini ia sudah menyusul Carissa ke New York. Namun Devian tidak bisa menolak saat wanita yang dicintainya itu memperingatkan dirinya untuk tidak menyusul Carissa. Devian hanya bisa memendam rasa rindunya. Devian akan selalu menanyakan kabar Carissa walau terkadang Carissa tidak langsung membalasnya. Devian memahami kesibukan Carissa dengan tugas-tugas yang ia kerjakan. Devian senang karena Carissa juga berjuang untuk segera bertemu dengannya. Devian merasa tidak berjuang sendirian.


Drt


Drt


Ponsel Devian bergetar, ada notif 1 pesan masuk.


Devian segera membuka pesan yang masuk dari sang pujaan hati.


Carissa : "Sayang.. lagi sibuk ya?"


Devian tidak mau membuang-buang waktu, ia langsung menelpon kekasih hatinya itu.


"Ada apa sayang?" tanya Devian lembut.


Tak ada jawaban, hanya mendengar deruan nafas Carissa.


"Ada apa sayang? Kamu merindukanku?" tanya Devian lagi.


"Iya." jawab Carissa singkat.


Devian mendengar suara serak dan lemah Carissa.


"Kau sedang sakit?" tanya Devian khawatir.


"Mungkin aku kelelahan." jawab Carissa lemah.


"Kau ini. Baru 2 minggu sudah jatuh sakit begini. Bagaimana mau jauh dariku selama 2 bulan?" ucap Devian dengan nada khawatir.


"Aku gakpapa, Dev. Mungkin aku terlalu bersemangat untuk menyelesaikan tugas secepat mungkin." jawab Carissa.

__ADS_1


Devian menghela nafas mendengar jawaban Carissa.


"Jangan terlalu memaksakan diri. Selesaikanlah sesuai dengan kemampuanmu. Aku akan selalu setia menunggumu." ucap Devian yang sudah mengalihkan panggilan suaranya ke panggilan video untuk melihat wajah Carissa. Devian melihat wajah Carissa yang tampak pucat dan tak bertenaga.


"Istirahatlah. Jangan pikirkan tugas dulu, pulihkan kesehatanmu." ucap Devian lembut.


"Dev, kau perhatian sekali." ucap Carissa.


"Tentu. Memang salah jika aku perhatian dengan calon isteriku?" tanya Devian yang seketika membuat Carissa terkekeh.


"Tidak. 2 minggu ini aku berusaha mengambil tugas sebanyak-banyaknya dan menyelesaikannya secepat mungkin agar aku bisa segera pulang." ucap Carissa.


"Aku khawatir calon suamiku akan tergoda dengan gadis muda yang magang di perusahaannya." imbuh Carissa lagi.


"Hei, kau sudah cukup muda untuk menjadi isteriku. Memang kau kira aku pedofil yang akan menyukai gadis-gadis cilik." sahut Devian menggerutu.


Carissa terkekeh mendengar perkataan Devian. Carissa merasa saat ini tubuhnya mulai membaik saat menatap wajah Devian di layar ponselnya. Mungkin ini dinamakan meriang (merindukan kasih sayang).


"Dev, aku merindukanmu." ucap Carissa yang membuat Devian terkesiap.


"Kau bilang apa, sayang?" tanya Devian memastikan.


"Aku merindukanmu." ulang Carissa.


"Aku bahagia mendengarnya. Aku juga sangat merindukanmu." balas Devian yang menatap wajah Carissa penuh kerinduan.


"Baru 2 minggu tak bertemu. Ternyata seperti ini rasanya. Bahkan aku sampai sakit karena merindukanmu, Dev. Cintamu itu memang sudah menyihirku." ucap Carissa dengan ekspresi yang terlihat menggemaskan bagi Devian.


Devian terkekeh dengan ucapan Carissa.


"Sabarlah. Kau harus jaga kesehatanmu. Aku tidak mau kau sakit seperti ini lagi. Jika sampai terulang, maka aku akan menjemputmu dengan paksa." kata Devian yang terdengar mengancam.


"Kau ini, jangan galak-galak, Dev!" ucap Carissa kesal dengan Devian.


"Semua demi kebaikanmu. Makanya kamu harus menjaga kesehatanmu agar kamu bisa menyelesaikan studimu secepatnya." ucap Devian lagi.


"Baiklah. Sepertinya si pria tua sudah tidak sabar untuk menemui kekasih kecilnya." kata Carissa disertai tawa kecil.


"Siapa pria tua?" tanya Devian memicingkan matanya.


"Kau! Siapa lagi kalau bukan kau, Dev?" jawab Carissa.


"Oh kau bilang aku pria tua? Enak saja. Usia kita hanya terpaut 3 tahun. Aku masih muda." ucap Devian tak terima.


"Ya, ya memang usia kita hanya beda 3 tahun, tapi kalau kau terus marah-marah seperti itu akan membuatmu cepat tua. Aku tidak mau nanti menikah dengan pria yang sudah keriput." ucap Carissa terkekeh.

__ADS_1


"Oo.. kau sekarang mulai berani ya, rubah kecil? Tunggu saja saat kamu pulang, aku akan menghukummu." ucap Devian yang membuat Carissa menghentikan tawanya.


"Kau memanggilku rubah kecil lagi?" protes Carissa.


"Kenapa? Kau baru saja memanggilku pria tua." sahut Devian.


"Dasar pria menyebalkan!" umpat Carissa yang mengundang gelak tawa Devian.


Seketika Carissa terpana dengan tawa Devian yang selama ini ia nantikan.


Setelah Devian puas tertawa ia kembali melihat wajah Carissa yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Devian.


Carissa hanya melemparkan senyum kepada Devian.


"Aku harap kau akan selalu seperti ini, Dev. Aku suka melihatmu tertawa. Kau terlihat semakin tampan." ucap Carissa yang membuat Devian terdiam.


Devian memandang wajah Carissa, wanita yang sangat ia rindukan. Devian mengakui sejak ia mengenal Carissa, ia tidak lagi menjadi pribadi yang dingin. Devian bisa bebas mengekspresikan dirinya dihadapan Carissa. Devian bisa menjadi dirinya sendiri. Bukan Devian yang menjabat sebagai CEO yang mendominasi. Saat dengan Carissa, predikat CEO dingin dan menyeramkan itu seketika menghilang dari diri Devian.


"Kau yang membuatku seperti ini." ucap Devian.


Carissa tersenyum lembut mendengar ucapan Devian.


"Aku senang kau bisa menjadi dirimu sendiri saat bersamaku." balas Carissa sambil menguap.


"Sepertinya kau mengantuk?" tanya Devian.


"Ya, tiba-tiba mataku terasa berat." jawab Carissa yang mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Sepertinya suaraku sangat manjur seperti obat tidur." ucap Devian dengan terkekeh.


"Ya memang benar. Aku istirahat dulu, Sayang." ucap Carissa berpamitan pada Devian.


"Baiklah. Lekas pulih, Sayang. Aku menunggumu pulang." ucap Devian mengakhiri panggilan videonya pada Carissa.


(Cie cie.. siapa yang senyum senyum sendiri membaca keromantisan Devian dan Carissa. Memang begitu ya kalau sedang mabuk cinta. Semoga aja perjalanan cinta mereka mulus dan berakhir di hubungan yang seharusnya.)


-BERSAMBUNG


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2