
Dokter yang memeriksa kakek Marni keluar dari ruang pemeriksaan .
"Bagaimana keadaan Nenek saya Dok ?" todong Arya langsung .
"Maaf ! kami tidak bisa menyelamatkannya" jawab Dokter itu dengan berat hati .
Arya mematung , ia merasa seolah olah Dunia berhenti berputar . Nenek yang merawat dan menemaninya selama ini sudah tiada . Ia tidak punya siapa siapa lagi , ia akan hidup sebatang kara . Sudah tidak ada bahu tempatnya bersandar . Sudah tidak ada tangan mengusap kepalanya, sudah tidak ada tangan menarik selimut ketika ia terlelap , sudah tidak ada tangan yang menyuapinya ketika ia sakit . Sudah tidak ada tempat untuk memangku kepalanya . Sudah tidak ada tempatnya bercerita tentang apa yang ia jalani seharian . Sudah tidak ada tempatnya mencurahkan kegundahannya .
"Nak Arya ! , duduklah Nak ! kuatkan hatimu ! . Papa juga pernah berada di posisimu . Ikhlaskan kepergian Nenek Marni , biar arwahnya tenang" Pak Fariq menarik Arya , menuntun Arya duduk di kursi tunggu ."Biar Papa yang mengurus administrasinya" ucap Pak Fariq lagi , mengusap bahu Arya . kemudian berdiri berjalan meninggalkan Arya sendirian .
Arya masih duduk termenung seperti patung bernapas . Kenangan kenangan bersama Neneknya , berputar begitu saja di ingatannya seperti rekaman vidio . Matanya berkaca kaca , mengingat ia sudah tidak punya siapa siapa lagi .
"Nenek ! jangan tinggalkan Arya Nek !" lirihnya pelan . Mengusap sudut matanya yang berair .
"Ayo nak Arya !" pak Fariq menyentuh bahu Arya , membuat Arya tersadar dari lamunannya ."
Semuanya sudah beres , Jenajah Nenekmu sudah di masuki ke mobil Ambulan , tinggal berangkat" ucap Pak Fariq lagi . Arya menganggukkan kepalanya , kemudian berdiri sambil menghapus air matanya yang lagi lagi membasahi pelupuk matanya .
Jenajah Nenek Marni pun di bawa Pulang ke rumah kediaman Arya . Disana sudah tampak rame .Setelah mendengar kabar meninggalnya Nenek Marni , para tetangga , kerabat dan para guru dan sebagian siswa dan siswi berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa. Disana juga sudah ada Bunga , Mama Indah , Rania dan Sofia menyambut kedatangan Jenajah Nenek Marni .
Tatapan Bunga meneduh saat melihat sosok laki laki yang baru beberapa jam menikahinya itu turun dari mobil ambulan , terlihat sangat sedih . Entah kenapa hati Bunga terenyuh , ingin rasanya ia memeluk Arya , memberi Arya kekuatan , mengatakan kalau dia tidak sendiri . Tapi tidak mungkin , karna banyak guru guru dan dan siswa siswi SMA HARAPAN disana , bisa bisa orang akan curiga , apa hubungan mereka , jangan sampai itu terjadi , bisa rusak nama baik sekolah milik keluarga Bunga .
Eits ! kenapa begitu ?, bukankah Bunga tidak menyukai Arya ?, atau jangan jangan ..
Bunga menggelengkan kepalanya , menepis perasaannya yang tidak jelas . Cintamu hanya untuk Aldo Bunga !, kamu hanya simpati sama burung gagak itu ,batin Bunga .
Bunga pun melihat Nenek Marni untuk terakhir kalinya . Bunga hanya diam memandangi wajah yang baru seminggu ini ia kenal sebagai Neneknya .
"Apa kamu gak ingin mencium Nenek Marni sebelum di mandikan ?"
Bunga mendongangkan kepalanya " boleh Ma ?" tanya Bunga polos .
Mama Indah menganggukkan kepalanya ," boleh sayang !" jawabnya .
Bunga pun mencium Nenek yang menjaga dan merawat jodohnya itu . Bunga tidak menangis , karna Bunga belum dekat dengan Nenek Marni , hati mereka belum terpaut dengan erat .
Orang orang yang berdatangan pun , silih berganti menyalami Arya , mengucapkan turut berduka cita di dampingi keluarga Bunga.
__ADS_1
Meski tidak ada tangis yang pecah di rumah Arya , tapi suasana duka sangat terasa dengan kepergian Nenek Marni . Banyak yang terlihat bersedih akan kehilangan sosok Nenek Marni yang terkenal baik dan ramah kepada tetangga tetangganya dan orang orang yang di kenalnya . Mereka kasihan melihat Arya yang sudah tidak memiliki siapa siapa lagi .
"Bunga kok kamu ada disini ?" tanya Vani yang datang bersma rombongan murid dari sekolah . menyalim tangan Bunga sebagai anggota keluarga ahli musibah . Vani tidak akan bertanya , kenapa Bunga tidak sekolah sudah seminggu , karna itu sudah biasa Bunga lakukan .
"Aku juga gak tau kenapa aku ada disini !" jawab Bunga .
Vani lupa , kalau orang yang ditanyanya itu , orang setengah waras .
" Oh !" balas Vani , lalu pergi meninggalkan Bunga setelah menyalamnya , karna di belakangnya sudah banyak orang mengantri .
" Bunga kenapa ada disini ?" bisik Tari kepada Vani yang baru bergabung dengan sahabat mereka .
"Gak tau !" jawab Vani , karna memang dia gak tau .
"Ngomong apa tadi sama Bunga ?"tanya Tari lagi .
"Nanya kenapa dia ada disini !" jawab Vani .
"jawabnya apa ?"
Tari menggaruk kepalanya yang mendadak gatal . Apa gilanya Bunga tadi nular ya sama Vani , pikir Tari .
"Ketampanan Pak Arya bertambah kali lipat ya memakai baju koko !" bisik Tari kepada Vani .
"Siapa pun yang di taksir Pak Arya , aku akan menikungnya di sepertiga malam" Ucap Vani , pandangannya tidak lepas dari Arya , guru tampan mereka .
" Eleh ! Shalat aja kamu cuma dua kali dalam setahun , bagaimana caranya kamu bisa nikung di sepertiga malam ?." ejek Tari .
"Bisalah !"
"Caranya ?"
"Nyuri Pak Arya saat tidur !" balas Tari .
"Jangan brisik ! , gak dengar orang lagi ngaji !" tegur Gandi .
"Kangen dengan Aldo !" Vani mengerucutkan bibirnya memasang muka sedih . Mereka sudah tau dengan kepergian Aldo pindah sekolah , tapi mereka tidak tau dengan alasan sebenarnya . Yang mereka tau Aldo pindah keluar Negri karna untuk menemani Mama Aldo berobat .
__ADS_1
"Kenapa sih Aldo harus pindah ?" Tari juga merasa kehilangan dengan sosok Aldo sahabat mereka .
"Sssstttt....!" Tegur Leo , meletakkan telunjuknya di tengah tengah bibirnya . Menyuruh Tari dan Vani untuk diam ,tidak berbisik lagi .
Usai jenajah Nenek Marni di mandikan dan di shalatkan . Mereka pun mengantarkan mendiang Nenek Marni ke peristirahatan terakhirnya .
Arya ikut turun ke dalam kuburan , ia pun mengangkat Jenajah Neneknya di bantu Pak Fariq dan yang lainnya . Untuk memasukkan mayat Nenek Marni ke liang lahat . Sekuat hati Arya menahan supaya ia tidak menangis . Pilu ! , itu yang terlihat di wajah tampannya .
Selesai Jenajah Nenek Marni dimakamkan . keluarga Bunga pun ikut pulang kerumah Arya , kecuali Rania dan Sofia , mereka langsung pulang kerumah mereka .
Arya dari tadi hanya diam saja , ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga rumahnya , masuk ke dalam kamarnya .
Bunga yang melihatnya pun hanya diam memandangi Arya dari bawah tangga , sampai Arya tak terlihat .
Mama Indah menyentuh bahu Bunga ."Tinggallah disini untuk sementara waktu , untuk mengurus suamimu ! . Dia pasti membutuhkanmu !"
Bunga menolehkan kepalanya ke arah Mama Indah yang berdiri di sampingnya . Mengurus suami ! batin Bunga . Mengurus diri sendiri ia tidak bisa , malah disuruh ngurus suami .
"Temani dia dalam suka dan duka !" ucap Mama Indah lagi .
Gak ! aku tidak mau ! batin Bunga lagi . meski ia kasihan melihat Arya , bukan berarti ia mencintai Arya . Apalagi menerima pernikahan mereka , tidak ! . Bunga berpikir akan menggugat cerai Arya , Bunga pikir tidak ada lagi alasan melanjutkan pernikahannya dengan Arya . Bukankah dia menerima menikah dengan Arya karna bujukan Nenek Marni ? . Sekarang Nenek Marni sudah tiada , dan alasan menerima pernikahan pun sudah tidak ada .
Sekarang cita cita Bunga adalah menyusul Aldo kekasihnya .
"Mama sama Papa pulang dulu , nanti malam kami kesini lagi untuk acara tahlilan" pamit Mama Indah .
"Tapi Ma ! , Bunga mau ikut pulang ! , Bunga gak mau disini !." tolak Bunga
"Jangan jadi istri durhaka , nanti gak mencium bau surga ! okeh !." Mama indah mencubit pipi Bunga gemas .
Bunga mengerucutkan bibirnya , bagaimana mau cium bau surga ? , kalau hidup kaya di neraka ! batin Bunga .
"Arya Orang baik dan penyayang Nak ! , Ayah yakin dia akan menjadi suami yang baik untukmu ! . Dia gak punya siapa siapa lagi selain dirimu !" Timpal Pak fariq" Temani suamimu ! , Papa sama Mama Pulang dulu" tambah Pak Fariq lagi , sambil tangannya mengusap kepala Bunga putri kesayangan mereka .
"Tapi Pah ! , Bunga gak bawa baju ganti !" rengek Bunga , beralasan .
"Mama.. ! Papa.. !" teriak Bunga , karna kedua orang tuanya meninggalkannya begitu saja .
__ADS_1