
Mendengar pintu IGD terbuka , refleks mereka semua yang menunggu di banggu tunggu menolehkan kepalanya . Arya yang melihat Dokter yang menangani Bunga keluar , langsung berdiri dari tempat duduknya berjalan mendekati Dokter tersebut . Di ikuti Gandi Vani dan Tari .
"Bagaimana keadaan istri saya Dok ?" tanya Arya langsung .
"Kami sudah berhasil menghentikan pendarahan , hanya saja pasien mengalami kurang darah, kami sudah mendonorkan satu kantong darah , tapi sepertinya masih kurang , karna pasien tadi hampir kehabisan darah . Dan kami kehabisan stok persediaan darah dengan golongan darah O." jelas Dokter itu .
"Saya juga golongan darahnya O Dok ! , ambil darah saya aja !" ujar Arya .
"Baiklah ! silahkan Bapak periksa kesehatan , apakah Bapak layak mendonorkan darah atau tidak !" balas Dokter itu . Arya pun menganggukkan kepalanya , bernapas lega , karna Bunga terselamatkan .
Begitu juga dengan Gandi Tari dan Vani , mereka juga sama sama menghela napas kelegaan .
Tidak lama kemudian , Mama Indah , Pak Fariq , Rania dan Sofia pun datang . Mereka terlihat berjalan tergopoh gopoh , medekati Gandi Vani dan Vani yang menunggu di depan Ruang IGD .
"Bagaimana keadaan Bunga ?" tanya Mama Indah langsung kepada ketiga remaja itu .
"Kata Dokter tadi , pendarahannya sudah berhasil di hentikan , sekarang Bunga kekurangan darah tante !" Gandi yang menjawab , sebagian bajunya masih nampak merah terkena darah .
Mama Indah pun merasa sedikit lega , Bunga masih terselamatkan .
"Arya mana ?" tanya Mama Indah lagi .
"Lagi melakukan pendonoran darah kepada Bunga tante !" jawab Gandi lagi .
"Kenapa Bunga bisa pendarahan lagi ? , bukankah dia sudah mulai membaik ?" tanya Mama Indah lagi . Diam , ketiga remaja itu tidak ada yang menjawab . Vani yang merasa bersalah menunduk takut . Karna dia lah penyebab Bunga pendarahan lagi .
"Maaf tante ! , ini semua karna saya tante !" lama terdiam , akhirnya Vani mengaku kalau dia yang menyebabkan Bunga pendarahan . Kemudian Vani pun menceritakan kalau mereka awalnya hanya saling melempar kata kata bercanda ." Maaf Tante ! Vani gak tau kalau Bunga mengalami depresi ringan" ucap Vani lagi . Mama Indah hanya bisa mendesah pasrah .
"Kakak Bunga gak kenapa kenapa 'kan Pah ?" tanya Sofia kepada Pak Fariq .
"Iya sayang !" jawab Pak Fariq , Sedikit merasa bersalah , karna ia sudah gagal menjaga cucu dari Ayah angkatnya itu .
"Seharusnya Papa tidak menikahkan Bunga secepat itu !" ucap Rania tiba tiba .
Mama Indah dan Pak Fariq hanya diam , memang seharusnya seperti itu ! . Tapi bagaimana lagi ,mungkin sudah waktunya Bunga menemukan jodohnya , itu semua sudah di atur yang Kuasa .
.
.
Di sebuah cafee , kelima anak remaja masih dengan pakaian sekolah mereka . Terlihat mereka tertawa terbahak bahak dengan raut wajah bahagia .
"Mampus kamu Zoya !" ucap salah satu siswi tersebut .
"Mentang mentang dia pintar , dia pikir semua orang bodoh !" ujar teman yang satu lagi .
Mereka sangat tidak menyukai Zoya yang angkuh , karna pintar dan kaya . Karna juga sering kali Zoya meremehkan mereka karna orang tua mereka sebagai bawahan di perusaahan milik keluarganya .
"Biar tau rasa dia itu ! , mendekam di jeruji besi !. Apa dia masih punya muka ! keluar dari sana ?" ucap teman yang satunya lagi , berbicara dengan mengangkat dagunya .
"Sekali dayung dua pulau terlampaui !" ucap Satunya lagi , bibirnya tersenyum miring kesamping .Kelima musuh babuyutan Zoya itu sama sama tersenyum .
kalau dengan Bunga , mereka cemburu , karna Bunga yang mendapatkan Arya . Sekalian saja mereka memanfaatkan Zoya . Menurut mereka Bunga tidak pantas untuk Arya , karna tidak cantik dan juga bodoh dan bandel .
.
__ADS_1
.
kilas balik
"Kenapa kalian menghakimi putriku ?" tanya mama Indah , setelah kelima orang tua sisiwi yang menyeret Bunga itu sampai di ruang kepala sekolah .
"Maaf Bu !, kami di ancam supaya mau melakukannya !" jawab salah satu siswi menundukkan kepalanya .
Mama Indah terdiam menajamkan pandangannya ke arah lima siswi itu ." Siapa yang mengancam kalian ?"
Diam.
"Dewi ! siapa yang mengancammu Nak ?" tanya dari salah satu orang tua murid yang ada di ruangan itu .
"Cepat katakan ! siapa yang mengancam kalian !?" tegas Mama Indah .
"Katakan ! siapa yang mengancam kalian ?, ancaman apa ? , kenapa sampai kalian menurutinya ? , kenapa kalian sampai takut ?" tanya salah satu orang tua murid lagi .
"Kami di ancam...
Siswi yang bernama Dewi itu , menghentikan ucapannya melirik ke kiri ke kanan teman temannya .
"Zoya mengancam akan memecat orang tua kami yang bekerja di perusahaan keluarganya . kalau kami tidak mau melakukannya !" jawab Dewi , menunduk .
"Apa suami kalian sama sama bekerja di perusahaan keluarga Sanjaya ?" tanya Mama Indah kepada kelima orang tua murid itu .
"Kami juga tidak tau kalau Bunga dan Pak Arya sudah menikah , dari vidio yang beredar , kami piki.." siswi yang bernama Nala itu tidak melanjutkan bicaranya , karna mendapat tatapan tajam dari Mama Indah .
"Iya Bu Indah !" jawab kelimanya .
Setelah kelima siswi itu keluar , Mama Indah pun melanjutkan pebahasan mereka , bagaimana jalan tengahnya .
Off
.
.
Kini Bunga sudah di pindahkan lagi ke ruang perawatan . Setelah Arya mendonorkan sebagian darahnya . Keadaan Bunga langsung stabil , meski Bunga belum sadarkan diri . Arya dan keluarga Bunga sudah berkumpul di ruang perawatan Bunga . Sedangkan Gandi Vani dan Tari , mereka sudah pulang karna hari sudah malam .
Dari tadi Arya hanya duduk diam di samping brankar Bunga , netranya tidak lepas sama sekali dari wajah Bunga yang masih terlihat pucat . Tangannya pun tidak lepas memegang tangan Bunga dari tadi , sesekali di kecupnya .
"Pah ! apa yang kita lakukan Pah ? , Mama kawatir dengan kondisi Bunga !"tanya Mama Indah , kepada Pak Fariq yang duduk di sampingnya .
"Sepertinya Bunga perlu di bawa ke Psikiater deh Ma !" usul Rania .
"Iya ! kata Dokter yang menangani Bunga juga bilang begitu !" balas Pak Fariq .
"Ma ! Pah ! Sofia udah ngantuk !" ucap Sofia ,menyenderkan kepalanya ke lengan Mama Indah .
Mama Indah langsung menoleh ke arah jam dinding yang ada di ruang perawatan Bunga , ternyata sudah menunjukkan jam setengah sepuluh malam .
"Pah ! kita pulang Pah ! ,Sofia sudah ngantuk nih ! . Besok dia mau sekolah lagi" ajak Mama Indah .
"Iya Mah !" jawab Pak Fariq ,setelah ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya , kemudian langsung berdiri berjalan ke arah brankar Bunga .
__ADS_1
"Nak Arya ! kami pulang dulu ! , titip putri Papa !" Pamit Pak Fariq .
"Iya Pah !" jawab Arya setelah menolehkan pandangannya kepada Pak Fariq yang berdiri di sebelah sisi ranjang .
Pak Fariq pun memgusap kepala Bunga yang masih berada di alam mimpinya , Lalu mengecup kening Bunga .
"Papa lebih suka melihat putri Papa nakal dari pada seperti ini !" ucap Pak Fariq dengan mata sudah berkaca kaca , melihat Bunga terbarik lemah tak berdaya .
Mama Indah juga mendekati ranjang Bunga , melakukan hal yang sama . Mama Indah mencium kening Bunga dan mengusap kepalanya .
"Cepat sembuh ya ! Putri Mama ! , Mama kangen dengan ejekanmu sama Mama !" ucap Mama Indah . lagi , ia mencium kening putri yang di besarkan tangannya itu .
"Kak Bunga ! cepat sembuh dong ! , Sofia janji ! , gak palak Kak Bunga lagi !" ucap Sofia kepada Kakak no duanya itu , meneteskan air matanya .
"Nak Arya ! , kami pulang dulu ya ! , besok Mama kesini lagi !" pamit Mama Indah .
"Iya Ma !"
Arya berdiri dari tempat duduknya , berjalan mendekati kedua mertuanya dan menyalamnya .
Pak Fariq menepuk bahu Arya pelan ," Sabar ya Nak Arya , Bunga pasti sembuh !. Bunga adalah anak yang kuat !" ucapnya .
"Iya Pah !" balas Arya .
"Kalau begitu kami pamit dulu !" Pamit Pak Fariq lagi ,yang di angguki Arya . kemudian ikut berjalan ke arah pintu , mengantar mertuanya keluar dari ruang perawatan Bunga .
Rania yang masih berada di ruang perawatan Bunga . Rania mencium kening Bunga , meskipun Bunga bukan adik kandungnya . Tapi ia sangat menyayangi Bunga , layaknya adik kandung .
"Kenapa sih Arya ! kamu tidak sabar menunggu Bunga lulus sekolah dulu , baru kamu nikahi ?" tanya Rania kepada Arya , setelah hanya mereka berdua tinggal di ruangan itu .
"Kenapa ?" tanya balik Arya , menatap Rania sengit .
"Apa kamu masih dendam samaku ?"tanya Rania lagi .
"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan . Mending kamu pulang aja !" usir Arya .
"Atau jangan jangan kamu menikahi Bunga , untuk memanas manasi aku ?."
"Jaga ucapanmu Rania ! , aku rasa hubungan kita sudah lama berlalu ,aku sudah melupakannya sejak lama . Aku menikahi Bunga karna aku mencintainya , tidak ada embel embel apapun" ujar Arya.
"Arya ! aku berselingkuh , karna aku kehilangan harapan untuk mendapatkanmu Arya . Tidak mungkin aku melawan perjodohan kalian , tidak mungkin aku menantang perjodohan yang di buat kakek Samsul . Kamu juga tau sendiri , letak posisiku ,yang hanya sebagai cucu dari anak angkat." ungkap Rania .
"Sudahlah Rania , semuanya sudah menjadi masa lalu !" balas Arya .
"Aku tau ! , tapi aku belum bisa melupakan kenangan kita Arya !" ujar Rania .
Arya diam menajamkan pandangannya ke arah Rania yang sudah menangis menitihkan air mata .
"Buanglah jauh jauh kenangan itu ! , Buatlah kenangan baru dengan pria lain ! , Karna aku sudah membuangnya sejak lama !" ujar Arya ." Sekarang pulanglah !" usir Arya . kemudian mendudukkan tubunya di kursinya tadi .
Tanpa bicara lagi , Rania pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan perawatan Bunga . Sambil menghapus air matanya .
.
.
__ADS_1
.