
"Sepertinya aku demam" ucap Bunga , memegangi lehernya dan keningnya yang terasa panas dan ia merasa tubuhnya menggigil .
Bunga melihat jam yang menempel di dinding kamarnya , sudah menunjukkan jam sembilan malam , sepertinya Bu Ipa sudah tidur .
"Pak Arya sudah pulang apa belum ya ?" tanya Bunga entah sama siapa . Ia ingin menanyakan apakah ada obat penurun demam .
Bunga turun dari tempat tidur , berjalan keluar kamar . Melangkahkan kakinya menaiki anak tangga ke lantai dua .
"Pak Arya !" panggil Bunga sambil mengetok pintu .
Tidak ada jawaban dari dalam .
Bunga pun mencoba membuka pintu kamar Arya ternyata tidak dikunci .
"Pak Arya !" panggil Bunga lagi , menyembulkan kepalanya , melihat apakah Arya ada di dalam atau tidak . Dan ternyata tidak ada , kamar Arya kosong dan nampak rapi .
"Ternyata ia belum pulang !" gumam Bunga . Menutup pintu kamar kembali dan turun kelantai bawah .
Di tempat lain disebuah restoran mewah . Arya tampak duduk bersama Zoya dan kedua orang tuanya . Mereka mengadakan acara makan bersama merayakan kemenangan Zoya mendapatkan juara satu lomba cerdas cermat tinggat propinsi .
Zoya tampak begitu cantik dengan dress selutut berwarna abu abu yang melekat di tubuhnya , dengan model bagaian atas terbuka menampakkan bagian dadanya . wajahnya yang putih mulus di beri sentuhan make up tipis , menambah kecantika alaminya , rambut panjangnya di ikat rapi ke belakang , memperlihatkan leher jenjangnya . sepertinya ia sengaja ingin menarik perhatian Arya dan kaum adam lainnya .
Arya , ia hanya menggunakan kemeja berlengan pendek berwarna biru donker , di padukan dengan celana jins berwana hitam . Meski dengan pakaian sederhana dan tampak santai , itu tidak akan mengurangi ketampanan Arya .
"Pak Arya ! trimakasih sudah membimbing putri kami !" ucap Pak Sanjaya , orang tua Zoya .
"Itu sudah tugas saya sebagai guru pak !" balas Arya .
"Zoya sangat ingin melanjutkan kuliahnya ke luar Negri . Itu sangat membantunya" ucap Pak Sanjaya lagi .
Arya hanya tersenyum menganggukkan kepalanya .
Zoya dari tadi mencuri curi melirik Arya yang duduk di sampingnya . Melihat itu Pak Sanjaya tersenyum , melihat tingkah putrinya .
"Bagaimana kalau Pak Arya melamar putri saya ?, saya lihat kalian cocok !" ucap Pak Sanjaya lagi .
__ADS_1
"Papa !" ucap Zoya , malu malu senang ." Pak Arya sudah memiliki tunangan Pah !" ucap Zoya lagi , harap harap Arya menyangkalnya .
"Oh ! sudah ya !" kecewa Pak Sanjaya .
"Sudah Pak !" jelas Arya . Ia tidak ingin mengakui pernikahannya dengan Bunga . Bukan tanpa alasan , Jangan sampai ada yang tau soal pernikahan mereka , bisa rusak reputasi sekolah milik Kakek Samsul . Mereka harus merahasiakannya sampai Bunga lulus SMA .
"Bagaimana kalau Pak Arya menjadi guru les matematika Zoya ! , sepertinya Zoya nyaman belajar dengan anda !" ucap Pak Sanjaya lagi .
"Maaf Pak ! bukan saya tidak mau , tapi sangat sulit bagi saya membagi waktu" jawab Arya , menolak secara halus.
"Sekali seminggu saja ! , di hari minggu mungkin ?" bujuk Pak Sanjaya .
"Papa..!" tegur Zoya , terlihat Papanya seperti memaksa , di dalam hati ia bersorak gembira.
"Maaf Pak !" tolak Arya
Perbincangan mereka pun terus berlanjut , mulai dari masalah pendidikan , perkembangan pembangunan daerah , politik dan ekonomi daerah sampai dengan bisnis .
Di kamar Bunga , semakin lama ia merasa tubuhnya semakin kedinginan dan menggigil .
Selesai Bunga membuat segelas teh hangat yang di campur dengan madu . Ia pun membawanya ke kamarnya . Meminumnya sedikit sedikit di atas tempat tidur sampai habis , dan langsung meletakkan gelasnya di atas meja nakas . Kemudian Bunga membaringkan tubuhnya , menarik selimut sampai menutupi kepalanya , dan hanya menampakkan wajahnya . Memejamkan matanya mencoba untuk tidur .
Arya masuk ke dalam rumahnya yang tampak sunyi , melangkahkan kakinya langsung ke arah kamar Bunga . Ia ingin melihat istri tercintanya sebelum ia pergi ke kamarnya untuk istirahat .
Arya memutar knop pintu perlahan dan mendorongnya .Baru satu langkah kakinya masuk , suhu ruangan yang terasa panas langsung menyapa kulitnya .
Kenapa ac nya mati ?,batin Arya , melihat ac di kamar Bunga benaran mati .Apa rusak ?" batin Arya lagi .
Dilihatnya Bunga tidur hanya dengan menampakan wajahnya saja , terlihat bercucuran keringat . Arya pun berjalan mendekati ranjang Bunga.
Kenapa dia bisa tidur panas panas begini ?, batin Arya lagi . Menyibak selimut yang menutupi tubuh Bunga , kemudian mengambil tissu melap keringat yang membasahi wajah dan leher Bunga .
"Ya Tuhan ! ternyata dia demam !" kaget Arya , saat ia mencium kening Bunga .
"Sayang !" panggil Arya membangunkan Bunga , menepuk nepuk pipi Bunga ."Sayang ! bangun sayang !" kawatir Arya .
__ADS_1
"Pak Arya ! jangan tinggalin aku ! , aku sudah gak punya siapa siapa lagi di Dunia ini ! . Semua pergi meninggalkanku ! , aku takut ! aku takut hidup sendiri !, aku takut di Dunia ini ! , Jangan tinggalin aku !" berbicara dengan mata terpejam
"Sayang...!" lirih Arya , mengangkat Bunga ke atas pangkuannya , mendekap tubuh Bunga dalam pelukannya , mencium pipi Bunga dengan perasaan bersalah tidak mengetahui istrinya sakit .
"Aku tidak akan meninggalkanmu sayang !, kecuali Tuhan mencabut nyawaku . Aku juga hanya memiliki kamu sayang !, kamu adalah harta paling berhargaku !."
Arya berdiri dari tempat duduknya , membawa Bunga keluar kamar . Ia ingin membawa Bunga berobat ke Rumah Sakit .
Bukan tadi ia tidak mengajak Bunga , hanya saja Bunga menolaknya , katanya malas . Karna Arya sudah terlanjur mengiyakan undangan makan malam dari orang tua Zoya , akan terasa tidak enak hati jika Arya tidak datang . Tadi ! Arya pikir Bunga akan mau di ajak pergi bersamanya .
Bunga terbangun dari tidur lelapnya , karna ia merasa haus . Bunga mengerutkan keningnya , merasa ada yang menimpa tubuhnya . Perlahan ia pun membuka mata , tampak rungan yang asing bagi Bunga .
Aku dimana ?,batin Bunga , memutar pandangan keseluruh ruangan yang serba putih , di lihatnya di sampingnya ada tiang infus .Rumah Sakit !, batinnya lagi . Kemudian mengingat ingat kenapa ia sampai di Rumah sakit , seingatnya tadi malam ia merasa demam .
Pandangannya ia palingkan kesebelahnya lagi , dilihatnya Arya lah yang menimpa tubuhnya , memeluknya secara posesif , seperti takut akan kehilangan . Bunga memandangi wajah Arya yang tertidur pulas .
Dia benar benar sangat tampan ,batin Bunga , tangannya yang di tusuk jarum infus terangkat menyentuh wajah Arya , yang memiliki ketampanan hampir sempurna . Bunga mengelus lembut kedua alis tebal Arya bergantian . Meraba pipi Arya , pindah kehidung mancungnya . Pandangan Bunga berpindah ke bibir Arya yang tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis . Bunga menyinggungkan senyumnya mengingat bibir di depannya itu sering sekali menciumnya , mengecup bibirnya , bahkan pernah mencium dalam bibirnya . Bunga meraba sudut bibir Arya dengan jempol tangannya , lembut ! itu yang Bunga rasakan . Tidak tahan melihat bibir yang tampak menggoda di depannya , Bunga pun mendekatkan wajahnya kemudian mengecup bibir Arya .
Benarkah wajah tampan ini sudah menjadi milikku ?, Bahkan aku bisa mengecup bibir si burung gagak ini . Bunga mengecup bibir Arya lagi , lagi dan lagi .
Bunga tersenyum setelah ia puas mengecupi bibir yang selalu memarahinya dan memberinya hukuman disekolah itu . Seketika ia lupa akan niatnya untuk tidak terjatuh sejatuh jatuhnya ke dalam cinta Arya .
Di usianya yang masih sangat muda , ia tidak memiliki pendirian yang teguh . Apa yang ia pikirkan dan yang ia rasakan , masih bersipat sesaat . Masih mudah berobah obah , tergantung situasi dan kondisi yang dia hadapi pada saat itu .
Arya yang sudah terbangun dari tadi , tersenyum dalam hati menikmati sentuhan tangan mungil di wajahya , membiarkan Bunga terus mengecup bibirnya .
Saat Bunga ingin mengecup bibirnya lagi , Arya langsung membuka matanya . Sontak membuat Bunga kaget dan mengurungkan niatanya , dan langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karna malu .
"Kenapa gak jadi sayang ?" Arya mengulum senyumnya ."Padahal aku sangat mengharapkannya !" ucapnya lagi .
.
.
.
__ADS_1