
Arya mendudukkan Bunga di sofa ruangannya , lalu memberi Bunga minum menggunakan sedotan dari botol air kemasan .
"Tadi pagi aku sudah bilang sayag !, kontrol emosi !" ucap Arya lembut , setelah Bunga menelan air di mulutnya .
"Mereka orang jahat !" ucap Bunga , wajahnya masih tampak emosi .
"Kamu harus tahan emosi ! , kamu bisa pendarahan lagi sayang ! , aku gak mau kamu kenapa kenapa lagi sayang ! . Aku hanya punya kamu !, aku tidak punya siapa siapa lagi selain kamu !" bujuk Arya , menarik Bunga ke dalam pelukannya , mengusap usap kepala Bunga dari belakang .
"Kalau kamu ingin kita cepat punya anak !, kita bisa langsung membuatnya setelah kamu selesai datang bulan sayang !" goda Arya .Biasanya dengan cara seperti itu , biasanya Bunga cepat hatinya membaik.
Langsung Bunga memukul dada bidang Arya dengan tinjunya .
"Dasar guru mesum !" maki Bunga , mengerucutkan bibirnya .
Arya langsung tersenyum , kalau sudah seperti itu , berarti emosi istri labilnya itu sudah mereda .
"Ehem uhuk uhuk !" Gandi berpura pura batuk mendengar ucapan guru tampan yang terkenal galak dan selalu menjaga wibawanya itu . Dari tadi Gandi Vani dan Tari ada di ruangan itu , tapi sepertinya Arya dan Bunga sedang lupa diri .
"Oh ! maaf !"ucap Arya tersenyum , tersadar kalau bukan hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu .
"Ini Pak !, kertas kertas ujian ini tarok dimana ?" tanya Gandi .
"Kalian gak buru buru pulang 'kan ?. Bapak minta tolong ! , kalian temani Bunga dulu di sini . Bapak harus menyerahkan kertas ujian itu dulu kepada guru yang bersangkutan ke kantor guru !" tanya balik Arya . Melepas pelukannya dari Bunga , dan langsung berdiri mengambil kertas kertas ujian mereka tadi dari tangan Gandi .
"Iya Pak ! , tapi jangan lama lama !" jawab Vani .
"Sebentar saja !"Arya langsung keluar dari ruangannya , berjalan ke menuju ruangan kantor guru .
Sepeninggal Arya , Vani dan Tari langsung mendekati Bunga yang duduk di atas sofa di ruangan Arya .
"Bubu ! apa setiap hari kamu di mesumin Pak Arya ?" tanya Vani kepada Bunga yang wajahnya memerah karna malu . Tari pun menganggukkan kepalanya setuju dengan pertanyaan Vani .
"Hei kalian berdua ! kepo banget , itu rahasia suami istri !, malah di tanyain" ujar Gandi .
"Yah ! apa salahnya gitu ! , bagi bagi pengalaman sama sahabat sendiri !" balas Vani ."Secara ! Pak Arya itu ganteng banget , cool , ferfec , bikin kaum hawa penasaran gimana caranya mesumin cewek gitu ! . Pasti kayanya Bunga klepek klepek deh !" ucap Vani , otaknya sudah traveling kemana mana .
Bunga yang mendengar ucapan Vani dan melihat Vani sudah menghayalkan Arya suaminya , langsung manarik rambut Vani .
"Pak Arya itu suamiku !, berani beraninya otakmu itu membuat suamiku jadi bahan halusinasimu !" geram Bunga tidak terima ,Bunga cemburu .
"Sakit Bunga !" keluh Vani , membalas menarik rambut Bunga .
"Rasain !"
Tari dan Gandi geleng geleng kepala , tanpa ada niatan memisahkan kedua orang yang saling menarik rambut itu .
"Lepas Bunga ! sakit tau !" ujar Vani .
"Kamu yang duluan melepas rambutku !" balas Bunga .
"Iya !" Vani langsung melepas tangannya dari rambut Bunga . entah apa yang di makan Bunga , meski ia terlihat sakit dan masih lemah , ternyata tenaganya masih kuat . mereka pun sama sama merapikan kembali rambut mereka .
"Awas aja kalau kamu naksir sama suamiku ! , aku akan menghabisimu sampai ke akar akar !" ancam Bunga .
"Bagaimana kalau suamimu yang naksir sama aku ?" tanya Vani .
"Gak akan ! , kecuali kau pelet !" jawab bunga . Vani mengembangkan senyumnya , solah mendapatkan ide cemerlang .
"Kamu kenapa senyum senyum ?" tanya Bunga heran .
"Barusan kamu memberi ide , baiklah aku akan mencoba menggunakan pelet , supaya Pak Arya naksir samaku !" jawab Vani .
"Awas aja kalau kamu berani" geram Bunga .
__ADS_1
"Kenapa gak ?"
Bunga merapatkan gigi giginya , memandang Vani dengan tatapan permusuhan . Kemudian mengangkat tangannya siap menarik rambut Vani lagi , yang langsung di cegah Tari , dan Gandi pun menarik Vani , menjauhkannya dari Bunga .
"Kalian berdua ini ! kaya bocah aja !" ujar Gandi .Vani yang di tarik Gandi , mengerucutkan bibirnya .
"Bunga yang mulai !" ucapnya .
Tok tok tok !
"Permisi !, Ini ada makanan untuk kalian !" ucap seorang tukang kantin setelah mengetok pintu ruangan Arya yang terbuka ."Pak Arya yang menyuruh saya mengantarnya kesini !" ucap tukang kantin itu lagi .
Gandi yang paling dekat dengan pintu pun menghampiri Ibu tukang kantin itu , mengambil kantong kresek yang berisi lima kotak makanan , dan ada juga minuman kemasan .
"Trimakasih Bu !" ucap Gandi .
"Sama sama !, kalau begitu saya permisi dulu " balanya sekalian pamit , lalu pergi .
Gandi langsung membawanya ke meja sofa , lansung di serbu gadis ABG yang lagi masa pertumbuhan itu . Dengan wajah senang mereka langsung membuka kotak makanan di tangan masing masing dan langsung melahapnya .
"Pak Arya..sudah tampan , dermawan lagi !" puji Vani , hanya karna Arya membeli mereka makanan , menyuapkan potongan batagor ke mulutnya .
"Mulai lagi !" desah Gandi .
Bunga yang mendengarnya menatap tanjam ke arah Vani , tidak suka .
"Makanannya sudah di antar ?" tiba tiba Arya datang , masuk ke ruangannya .
"Sudah Pak ! malah sudah habis !" cengir Vani . masih menyimpan makanan suapan terakhir di mulutnya .
Arya melangkahkan kakinya ke arah Bunga , mendudukkan tubuhnya di samping Bunga setelah Tari bergeser dari samping Bunga .
"Suapin sayang !" pinta Arya , membuka mulutnya supaya Bunga menyuapinya . Bunga menganggukkan kepalanya , lalu menyuapkan makanan ke mulut Arya .
"Nikah dulu Vani..nikah ! bukan kawin !" ujar Gandi .
"Sama aja !" sergah Vani .
"Kamu mau nikah Vani ?" tanya Arya , menglihkan tatapannya ke arah Vani ." Tuh ada Gandi ! , dia cocok untukmu !" tuduh Arya dengan dagunya kepada Gandi .
"Aku maunya cowoknya tampan seperti Bapak ! . Apa sama sekali Bapak gak punya adik atau sepupu yang mirip Bapak ?,untuk di jodohin denganku ?" ujar Vani .
"Gak ada !"sanggah Bunga cepat ."Seperti suamiku ini cuma satu !"ketusnya lagi .
Arya mengangkat satu tangannya mengacak acak ujung kepala Bunga , gemas melihat Bunga yang posesif kepadanya . Itu berarti Bunga sudah benar benar mencintainya .
"Amit amit punya bini kaya si Vani !, ada gila gilanya !" cela Gandi bergidik ngeri .
"Enak aja bilangin aku ada gila gilanya , mau ngajak berantem ya ?" sanggah Vani , menatap tajam Gandi dengan bibit mengerucut .
"Van ! Gan ! , pulang yuk !, mau belajar untuk ujian besok lagi !" ajak Tari , karna mereka sudah cukup lama menemani Bunga .
"Kalian sudah mau pulang ?" tanya Arya , mendengar Tari mengajak pulang .
"Iya Pak !" jawab Tari .
"Trimakasih ya !, sudah nemanin Bunga tadi !" ucap Arya .
"Gak apa apa Pak ! , kalau begitu kami pulang duluan Pak !" pamit Tari ."Bunga ! kami duluan ya !" pamit Tari lagi kepada Bunga sahabat mereka .
"Iya Tar ! , trimakasih sudah nemanin !" balas Bunga .
"Pak Arya ! Bunga ! kami pulang dulu !" pamit Vani lagi .
__ADS_1
"Sanah ! pulang !" ketus Bunga mengusir Vani .
"Dasar tidak tau terima kasih !" cibir Vani .
"Uwek !" Bunga malah memeletkan lidahnya kepada Vani , membuat sahabatnya itu mendengus kesal , lalu keluar dari ruangan Arya .
"Gak boleh seperti itu sayang !" tegur Arya .
"Kalau sama Vani boleh !" ucap Bunga tersenyum .
"Pak Arya ! Bunga ! kami pulang duluan !" pamit Gandi lagi , langsung melangkahkan kakinya keluar mengikuti Tari dan Vani . Mereka pun sama sama berjalan ke arah parkiran kenderaan mereka masing masing .
Kini tinggal Arya dan Bunga di ruangan itu , Arya pun menutup pintu ruangannya dan mengucinya rapat rapat .
"Kok pintunya di kunci ? , bukankah kita juga mau pulang ?"tanya Bunga heran .
Arya tidak menjawab , ia kembali mendudukkan tubuhnya di samping Bunga . Tanpa aba aba , Arya langsung mencium bibir Bunga dalam . Seminggu tidak memberi hukuman istrinya di atas ranjang , membuat kepala atas dan kepala bawah Arya sama sama pusing . Tapi Arya harus menahannya , karna Bunga belum sembuh .
"Aaryan ! aku masih datang bulan !" Bunga menahan tangan Arya yang akan membuka bajunya .
"Aku tau sayang !, tapi aku sudah gak tahan sayang ! . Kamu bisa membantuku dengan cara seperti ini !" ucap Arya .
Blush !
Wajah Bunga langsung memerah seperti tomat , Bunga mengalihkan pandangannya ke arah lain saat tangannya menyentuh angka satu milik Arya .
"Ini di sekolah Aaryan ! , para guru guru masih banyak di sekolah , bagaimana kalau ada yang datang mengetok pintu ?." Bunga mencoba mencari alasan , Bunga sangat malu apa yang di suruh Arya .
"Mereka lagi sibuk semua !" jawab Arya , membuka satu persatu kancing kemeja seragam Bunga .
"Nanti di rumah aja ya !" tawar Bunga .
"Ayolah sayang !" bujuk Arya , menciumi bagian atas tubuh Bunga yang sudah terpangpang . Tiba tiba ...
Tok tok tok !!!
"Bunga !!! , HPku ketinggalan di atas meja !!!" teriak dari luar , terdengar seperti suara Vani .
Bunga langsung mendorong tubuh Arya supaya menjauh , dan langsung mengancing kembali bajunya dengan buru buru . Kemudian mengambil HP Vani yang terletak di atas meja membawanya ke arah pintu , dan langsung membuka pintu tersebut , menghiraukan Arya yang duduk frustasi di atas sofa .
"Nih !" ucap Bunga memberikan HP Vani .
"Trimakasih !" Vani langsung menerima HPnya dan langsung pergi .
"Tutup pintunya dan kunci" suruh Arya .
"Mau apa lagi , kita pulang aja !" ucap Bunga , berusaha menghindar .
"Sayang...!" mohon Arya dengan tatapan mengiba .
"Kan bisa sendiri !, tuntaskan aja di kamar mandi" suruh Bunga .
"Kalau aku menuntaskan sendiri dengan tanganku , itu dosa sayang , berzina sendiri namanya ! , lagian ada kamu istriku , itulah gunanya kamu sayang !" Arya masih mencoba sabar menjelaskan kepada Bunga guna menikah , meski ia hampir di ujung tanduk .
"Aku 'kan lagi halangan !" Bunga berjalan pelan kembali ke sofa, dengan bibir mengerucut .
Arya menarik tangan Bunga mendudukkan Bunga di pangkuannya ."Kamu bisa memuaskanku dengan cara lain sayang !" ucap Arya , kembali mencium bibir Bunga .
Akhirnya Bunga pasrah .
.
.
__ADS_1
.