
"Queen mau sama abang Olion !" tangis Queen.
"Orion..!" tegur Arya, anak sulungnya itu suka sekali menggoda Queen.
Orion malah tertawa tawa, membuat Queen menangis suatu kesenangan untuknya. Ia sangat suka menggoda Queen. Menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.
"Kalau mau sama abang sini !, cium abang !"ucap Orion. Menurunkan tubuhnya, berjongkok lalu merentangkan tangannya.
Langsung saja Queen berlari ke arah Orion, melingkarkan kedua tangannya ke leher Orion, dan mencium pipi Orion. Orion pun langsung membalas mencium pipi Queen.
"Suka sama Abang ?" tanya Orion, Queen menganggukkan kepalanya.
"Cium di sini !" tunjuk Orion ke bibirnya.
"Orion...!!!"
Plakk !
Langsung saja Bunga berteriak, dan melempar Orion dengan buku majalah, mengenai kepala Orion.
"Sakit Ma..!" keluh Orion.
"Jangan mengajari yang gak gak sama anak kecil. Mau kamu kunikahkan sekarang dengan Queen ?, Hah !!!" marah Bunga. Kenapa pula gesreknya menurun sama anaknya itu.
"Orion bercanda Ma..!" lagian Queen juga belum balik dewasa, gak dosa Ma..!" bela Orion.
"Gigimu !, gak usah sok menggurui !" omel Bunga.
"Tuh ! calon mertuaku aja gak keberatan !" tunjuk Orion dengan dagunya ke arah Vani.
"Anak sama Bapak ! sama saja !, sama sama suka anak kecil !" omel Bunga lagi. Tersinggunglah pria yang sudah matang di sampingnya.
"Sayang..!" tegur Arya tak suka.
Kalau istrinya itu sudah kumat, satu yang berbuat salah, sering sekali Arya ikut kena getahnya. Mentang mentang Istrinya itu satu satunya perempuan di rumah itu. Merasa jadi ratu sejagat dia. Arya juga heran dengan perubahan istrinya itu. Dulu bandelnya minta di tabok, setelah menjadi emak emak, galak dan cerewetnya minta ampun.
Anak Bunga semua laki laki, semua sifatnya dan babdelnya menyerupai dirinya. Sepertinya Tuhan membalas perbuatannya dulu, yang menjadi anak yang tak bisa di atur. Tapi anehnya, anak anak mereka semua patuh kepada Arya, Itu dia herannya Bunga.
Padahal Arya hanya berbicara pelan dan hanya sekali, langsung nurut semua. Sedangkan Bunga, hampir urat lehernya putus berteriak marah marah. Anak anak mereka malah tidak mendengarnya.
__ADS_1
"Itu dulu sayang !, sekarang Gak lagi !" ucap Bunga, menyadari bayi tuanya itu tersinggung.
"Ayo Queen ! ikut abang beli jajanan !. Entar kalau kita disini, ratu sejagat bisa marahnya sapai besok !" ajak Orion, menggendong tubuh Queen membawanya keluar dari rumah.
Queen pun menganggukkan kepalanya, menghapus air matanya. Lalu tersenyum kepada gadis yang duduk di samping Bunga, yang memandangnya tak suka. Queen pun menjulurkan lidahnya kepada Kezia.
Vani tersenyum lalu tertawa cekikikan, melihat tingkah putrinya. Vani pun melirik gadis cantik yang duduk di samping Bunga, yang sudah wajahnya sudah masam kaya jeruk purut.
Begitu juga dengan yang lainnya, para orang orang tua itu sama sama mengulum senyum, melihat tingkah Queen. Mereka juga setuju, Kalau Queen dan Orion di jodohkan.
Bukan itu saja, malah anak anak Bunga dan Arya, sudah di pinang para sahabat sahabatnya, untuk di jodohkan kepada anak anak mereka. Bahkan itu yang masih di dalam kandungan, itu pun sudah ada pemiliknya.
"Sayang !, aku yakin ! Orion akan jadi menantu kita !" ucap Vani kepada Gandi, dan langsung mengecup bibir Gandi yang duduk di sampingnya, menghiraukan semua orang yang ada di sana.
Membuat Gandi hanya bisa mengelus dada dengan segala tingkah, sifat dan perbutan istrinya yang aneh. Banyaknya wanita di Dunia ini, kenapa Tuhan harus membuatnya jatuh cinta kepada sahabat itu. Seperti sudah tidak ada stok wanita lain lagi di Dunia ini. Gandi sering kasihan kepada dirinya sendiri.
Bunga dan Tari memutar sama sama memutar bola mata mereka jengah melihat Vani yang mengecup bibir Gandi di depat mereka. Bunga yang sudah lama menikah aja, gak pernah mencium bibir Arya di depan halayak rame, meski suaminya itu lebih guanteng dari pada Gandi. Ah ! itu menurut Bunga, tapi menurut Vani juga, Gandi lah yang paling guanteng di Dunia ini.
Tak lama kemudian, Orion dan Queen sudah kembali dengan membawa dua kantong besar jajanan.
"Ayo Queen ! kasih mereka sebagian" suruh Orion.
Queen menganggukkan kepalanya, kemudian menyeret dua kantong plasti yang di letakkan Orion di lantai. Lalu membagikannya kepada semua anak anak yang ada di situ.
"Sayang ! makannya jangan terlalu banyak !, nanti bayinya besar, susah lahirnya !" tegur Aryan melihat Bunga menambah makanan ke piringnya lagi, padahal dia sudah habis satu piring.
"Sekali aja gak ngaruh lah !, udah mau lahir juga dedenya. Nanti kalau sudah lahiran, aku gak bisa makan banyak lagi, karna aku harus diet" balas Bunga.
"Nanti setelah lahiran, kamu gak usah diet sayang. Bagaimana pun kamu, yang penting kamu sehat" ucap Arya.
Selama ini Arya memang tidak pernah menuntut Bunga harus menjaga bentuk tubuhnya, ia menerima Bunga apa adanya. Tapi Bunga sendirilah yang ingin merawat tubuhnya. Katanya, ingin memanjakan mata suami, itung itung nambah pahala, membuat hati suami senang, pikir Bunga.
"Aw !"
Tiba tiba Bunga merasakan perutnya sakit, sepertinya kontraksinya datang kembali.
"Sayang..!" tegur Arya, melihat Bunga seperti kesakitan memejamkan matanya rapat rapat.
Yang lain pun mengalihkan tatapan mereka ke arah Bunga, dan langsung menghentikan makan mereka. Melihat Bunga kesakitan, membuat mereka ikut kawatir.
__ADS_1
"Aaryan..!" refleks Bunga mencengkram tangan Arya kuat. karna mengalami kontraksi yang sangat sakit.
"Sayang !, minum dulu, kita ke rumah sakit sekarang ya !"ucap Arya, memberi Bunga minum, yang langsung di terima Bunga. Kemudian Arya melap bibir Bunga denga tissu.
Arya hendak mengangkat tubuh Bunga dari kursi meja makan. Namun Bunga menggeleng gelengkan kepalanya. Bunga menggeram sambil mencengkam tangan Arya. Sepertinya bayinya mendesak ingin keluar.
"Pak Arya ! bawa Bunga ke kamar, sepertinya anak kalian sudah akan keluar !" suruh Aldo. Sekarang ia sudah berpropesi sebagi Dokter, meski bukan Dokter kandunga. Sedikit banyak pasti dia bisa menolong orang yang melahirkan. Apa lagi dia juga sudah pernah membantu istrinya melahirkan anak anaknya di rumah sakit.
Arya pun gegas mengangkat tubuh Bunga membawanya ke masuk ke kamar, di ikuti yang lainnya. Arya pun meletakkan tubuh Bunga di atas kasur yang sudah di alasi sprei anti air sebelumnya.
Para lelaki kecuali Aldo dan Arya pun keluar dari kamar itu.
"Sayang..!" tegur Arya, meneteskan air matanya, melihat Bunga kesakitan. Tangannya mengusap usap kepala Bunga.
"Sakit Aryaan !" ucap Bunga mengernyit menahan sakit.
"Sabar ya !" hanya itu yang bisa Arya ucapkan.
"Ini kepalanya sudah mau nongol !" ucap Aldo yang memeriksa jalan lahirnya.
Mendengar itu hati Arya panas, dia cemburu, Aldo melihat barang berharga milik istrinya. Apa lagi Aldo mantan kekasih Bunga, sampai sekarang Arya masih ada rasa cemburu. Tapi ia harus menahannya demi keselamatan anak dan istrinya. Sepertinya anak mereka sengaja, mau buat Papanya cemburu. Habis ngerebut pacar orang sih !"
"Ayo Bubu ! tarik napas, keluarkan sekalian ngedan" Suruh Aldo, sebagai pemandu kelahiran anak yang sudah ingin melihat dunia ini.
Bunga pun menarik napasnya dalam, lalu mengedan kuat. Arya pun membatu Bunga membungkukkan punggungnya ke depan. memberikan satu tangannya sebagai pegangan Bunga. Bunga pun terus mengedon sesuai intruksi Aldo sahabat kecilnya.
"Ayo sedikit lagi Bubu ! terus Bubu ! stop Bubu !" Ucap Aldo, yang siap menangkap bayi Bunga.
Tak lama kemudian terdengar suara tangis bayi yang sangat nyaring memenuhi kamar itu.
Oe oe oe .... !!!
"Selamat ! anak kalian cowok lagi !" ucap Aldo. Meletakkan bayi itu di atas dada Bunga, dengab posisi tengkurap. Karna Aldo harus mengeluarkan ari ari bayi itu lagi.
Membuat Bunga mengerucutkan bibirnya, sudah ingin sekali ia memiliki anak cewek. Ini sudah anak ke enam, malah dapat cowok lagi.
"Sabar sayang !, kita bisa mencobanya lagi !" ucap Arya tersenyum, kemudian mencium kening Bunga." Trimakasih banyak ya cintaku !" ucap Arya lagi.
Aldo mendengus mendengar itu, Dasar perebut pacar orang !, batinnya.
__ADS_1
.
.