
Rania berhasil kabur dari rumah milik Bunga dengan membawa surat sertipikat kekayaan Bunga lewat balkon kamar Bunga. Rania berlari masuk ke dalam mobilnya, dan langsung melajukannya dengan kecepatan tinggi keluar dari pekarangan rumah yang ia tempati dan keluarganya selama ini. Tanpa Rania sadari ada polisi yang mengikutinya dari belakang. Rania juga tidak tau kalau Arya sudah memantaunya lewat cctv jalan melalui handphon janggih Arya dari restoran tempat Arya dan Bunga mengisi perut mereka.
Tidak ada yang tau, kalau Arya adalah seorang hacker yang sering di sewa polisi jasanya. Sehingga dengan mudah Arya meretas cctv jalanan. Dan ia pun akan dengan mudah meminta bantuan polisi. Jangan bermain main dengan Arya, ia tidak akan berpiki dua kali untuk memenjarakan orang yang melakukan pelanggaran hukum, dan tidak peduli siapa pun orangnya.
Duduk manis dengan sang istri di dalam restoran. Bunga dan Arya sama sama memantau kemana arah mobil Rania melaju. Arya terus mengusap usap kepala Bunga yang bersandar di dadanya, sesekali mencium ujung kepala Bunga yang masih sedih dan kecewa dengan Rania kakaknya.
"Tenanglah !, dia tidak akan berhasil membawa kabur surat sertipikat itu !. Semua akses keluar dari kota ini sudah di jaga polisi setempat"ucap Arya.
Bunga menganggukkan kepalanya dindada Arya, ia lebih memilih percaya ucapan suaminya, dari pada berpikir yang buruk buruk.
"Kenapa kamu bisa memantau cctv jalanan dari handphonmu ?"heran Bunga, mendongakkan kepalanya ke wajah Arya.
Arya tersenyum, apakah Arya harus memberitahu istrinya siapa dirinya ?, yang seorang hacker di kota tempat mereka tinggal. Yang bertugas memantau dan melindungi situs ke kepemerintahan di daerah mereka yang sering di serang black hack lain.
"Kalau aku bilang, kalau aku ini seorang hacker, apa kamu percaya ?"bisik Arya di telinga Bunga, supaya tidak ada yang mendengarnya.
Bunga membolakan matanya, menatap Arya, percaya tidak percaya.
"Itu rahasia sayang !, jangan sampai ada yang tau !"ucap Arya tersenyum.
"Tadi yang kamu telephon siapa ?"tanya Bunga.
"Polisi untuk menangkap Rania"jawab Arya. Arya sangat cepat bergerak, seperti bisa membaca pikiran orang meski dari jarak jauh. Bukankah Rania tadi sudah di kurung Sofia di dalam kamar Bunga ?. Kenapa Arya seperti bisa menduga, Rania akan tetap bisa kabur dari kamar Bunga ?. Sering bekerja sama dengan polisi, membuat Arya bisa berpikir sigap dan tanggap.
Seorang maling yang tertangkap basah, akan memiliki seribu cara untuk bisa lolos, meski harus melakukan adengan berbahaya. Arya sudah bisa menangkap pikiran maling bodoh seperti Rania. Bukankah maling kecil sangat suka keluar masuk lewat jendela ?, anak anak juga tau itu.
Rania yang sudah sadar di ikuti polisi, semakin menambah laju kecepatan kenderaannya di jalan raya. Rania langsung panik, ia pun terlihat mengenderai mobilnya dengan ugal ugalan dan terus membunyikan klaksonnya supaya pengendara lain menyingkir.
"Aaa....!!!!" jerit Bunga tiba tiba, sontak membuat kaget pengunjung restoran. Tiba tiba tubuh Bunga melemah dan tak sadarkan diri. Ia melihat di HP milik Arya mobil yang di kendarai Rania tabrakan dengan mobil kontainer.
"Sayang !" panggil Arya, melihat Bunga pingsan di pelukannya. Arya pun segera mematikan phonselnya.
"Ada apa ?"tanya salah satu pengunjung kepada Arya.
"Tidak apa apa , sepertinya ia shok melihat vidio kecelakaan di HP. Ia memiliki trauma"bohong Arya. Ia juga tidak kalah shok melihat vidio kecelakaan Rania, tapi Arya bisa menguasai dirinya.
"Oo !" pengunjung wanita itu pun membuka tasnya, mengambil sesuatu dari dalamnya, memberikannya kepada Arya."Coba oleskan ini ke hidungnya, supaya dia bangun !"ucap wanita itu.
__ADS_1
"Trimakasih !"Arya pun menerima minyak kayu putih yang di berikan wanita itu. lalu membuka tutupnya, menumpahkannya sedikit ke ujung jarinya, mengoleskannya ke hidung Bunga.
Benar! bunga langsung bangun dan membuka matanya.
"Sayang !"panggil Arya.
"Kak Rania..!"tangis Bunga.
"Sssttt....! maaf !"ucap Arya, merasa bersalah, seandainya ia tidak menyuruh polisi mengejar Rania, mungkin Rania tidak mengalami kecelakaan. Arya menenggelamkan wajah Bunga kedadanya, supaya tangis Bunga yang pecah tidak terlalu terdengar kencang, mengganggu pengunjung lain.
Tiba tiba handphon Arya berbunyi, ia sudah bisa menebak kalau yang menelephonnya itu adalah polisi yang mengikuti Rania.
"Halo !"sapa Arya, setelah mendial tombol hijau di layar phonselnya.
"Kami sudah membawa Rania ke rumah sakit Pak !, kami menemukan surat sertipikat di dalam tasnya"ucap polisi itu.
"Bagaimana keadaannya ?"tanya Arya.
"Luka luka dan tidak sadarkan diri !"jawab dari sebrang telephon.
"Trimakasih !, saya akan segera kesana"ucap Arya, langsung mematikan sambungan telephonnya.
"Sisanya ambil aja !" ucap Arya, setelah menyimpan dompetnya kembali. Ia pun segera berdiri, dan langsung mengangkat tubuh Bunga yang masih menangis, membawanya keluar dari dalam restoran. Tentu mereka menjadi pusat perhatian orang orang yang melihatnya, Arya tidak peduli dengan itu.
Sampai di parkiran motornya, Arya mendudukkan Bunga di atas motor.
"Kak Rania..!"tangis Bunga, bagaimana pun juga, ia tidak ingin Rania mengalami hal yang buruk, meski Rania sudah melakukan kesalahan. Selama ini Rania menyanyanginya seperti adik sendiri, meski itu tak gratis. Hanya saja karna putus asa karna tidak mendapatkan Arya lagi, Rania berobah jahat, cinta sudah membutakan hatinya.
"Maaf ! aku juga tidak menginginkan itu terjadi" ucap Arya, satu tangannya terangkat menghapus air mata Bunga.
Bunga hanya bisa menangis, Ia tidak menyalahkan Arya, karna Rania lah yang salah sudah melarikan sertifikat harta warisan miliknya. Tapi Bunga tidak ingin hal yang buruk terjadi kepada kakaknya Rania.
"Polisi sudah membawanya ke rumah sakit, kita nyusul kesana ya !. Doakan saja semoga dia tidak apa apa !"ucap Arya. Mengambil helem, kemudian memasangkannya ke kepala Bunga, dan juga memasang helem ke kepalanya.
"Gak apa apa aku kehilangan hartaku, yang penting aku gak kehilangannya !"ucap Bunga cigukan. Tidak ada arti dari harta kekayaan tanpa ada keluarga di sekitar kita, itu yang Bunga pikirkan saat ini.
"Dia pasti baik baik aja !" ucap Arya menenangkan Bunga.
__ADS_1
Setelah memperbaiki posisi duduk Bunga, Arya pun naik ke atas motor, duduk di depan Bunga. Arya mengambil tangan Bunga, melingkarkannya ke pinggangnya, supaya Bunga memeluknya, kemudian melajukan motornya, setelah terlebih dahulu menghidupkan mesinnya.
Bunga yang duduk di belakang Arya, masih terus menangis menggumamkan nama Rania kakaknya. Kehilangan , Bunga sangat takut kehilangan anggota keluarganya.
Sampai mereka di Rumah Sakit, Arya langsung memarkirkan motornya. Bunga langsung turun dan berlari ke arah ruang UGD, disana sudah ada polisi yang membawa Rania ke Rumah sakit. Arya yang melihat Bunga berlari pun gegas turun dari atas motor, berlari mengejar Bunga. Arya menangkap tubuh Bunga, memeluknya.
"Sabar sayang !" ucap Arya, mengusap usap punggung Bunga dari belakang, yang tidak berhenti menangis dari tadi. Arya pun menuntun Bunga untuk duduk di kursi tunggu di depan ruang UGD.
"Pak Arya !, kalau begitu kami permisi dulu !"pamit salah satu polisi yang membawa Rania ke Rumah Sakit.
"Iya Pak !, trimakasih atas bantuannya !"balas Arya, mengulurkan tangannya, menyalam dua orang polisi itu bergantian.
"Sama sama Pak !" balas polisi itu, kemudian segera pergi.
Arya mendudukkan tubuhnya di samping Bunga , kemudian mengeluarkan phonselnya dari saku celananya untuk menelephon mertuanya, mengabari apa yang sudah menimpa Rania. Mengatakan Rania masih di periksa di ruang UGD. Arya pun memutuskan sambungan telephonnya setelah selesai berbicara kepada Pak Fariq mertuanya.
Tak lama kemudian pintu ruang UGD terbuka, Seorang Dokter laki laki paru baya krluar. Arya dan Bunga langsung berdiri berjalan mendekat ke arah Dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan Kakak saya Dok ?"tanya Bunga langsung.
"Keluarga pasien.. ?" tanya Dokter itu.
"Korban kecelakaan yang di antar polisi Dok !"Arya yang menjawab.
"Pasien mengalami patah kaki, dan mungkin kebutaan, karna mengalami luka di bagian kepala dan area matanya" jawab Dokter itu.
Bunga terdiam, air matanya luruh kembali mendengar penuturan Dokter yang menangani Rania.
"Pasien harus segera di operasi, silahkan kalian tanda tangani surat persetujuannya dan biaya administrasinya!" ujar Dokter itu lagi.
"Lakukan yang terbaik untuk Kakak saya Dok !"mohon Bunga .
"Kami akan mengusahakannya !"balas Dokter itu." kalau begitu saya permisi !"pamitnya.
"Iya Dok !" balas Arya, Dokter itu pun langsung pergi.
"Tunggulah disini !, biar aku yang mengurus semuanya. Sebentar lagi Papa sama Mama akan sampai"ujar Arya, mendudukkan Bunga kembali ke bangku tunggu. Kemudian Arya langsung pergi, mengurus administrasi, supaya Rania segera di operasi.
__ADS_1
.
.