Guru Galak Itu Suamiku

Guru Galak Itu Suamiku
Bab 16


__ADS_3

Arya menuruni anak tangga rumahnya dengan raut wajah yang terlihat masih sedih . melangkahkan kakinya menuju arah meja makan untuk sarapan pagi .


"Bu ! apa Bunga belum bangun ?" tanya Arya , kepada pembantu di rumahnya .


"Belum nak Arya ! , tadi Ibu sudah bangunin , tapi Bunganya gak mau bangun !" jawab Bu Saripa .


Arya pun memutar tubuhnya berjalan ke arah kamar yang Bunga tempati, membuka pintu kamar Bunga dengan pelan , dilihatnya Bunga masih tidur dengan posisi tengkurap , mulut menganga sampai sebagian bantalnya basah terkena air liur , dan kaki direnggangkan dengan lebar . Untung Bunga tidur dengan memakai celana selutut , kalau gak ? , bisa dibanyangkan kan ! , bagaimana indahnya pemandangan di pagi hari !.


Arya menggeleng gelengkan kepalanya , entah gadis seperti apa yang dicintainya itu . Arya mendekti Bunga di atas ranjang , kemudian membungkukkan tubuhnya .


"Kalau kamu gak bangun ! aku cium !" ucap Arya di telinga Bunga .


"Hia !"


Bukh !


Refleks Bunga membalik tubuhnya dan langsung melayangkan tinju ke wajah Arya . membuat Arya kaget dan meringis kesakitan memegangi pipinya .


"Sepertinya kamu minta di hukum !" ucap Arya kesal menatap Bunga dengan tajam . Sudah tidak dapat malam pertama , malah dapat bogeman , sungguh sial .


"Maaf Pak ! ,maaf Pak ! , Bunga gak sengaja !" ucap Bunga cengar cengir .Ia takut Arya akan memarahinya .


"Sekarang berdiri satu kaki di depan rumah !." perintah Arya , memberi Bunga hukuman


"kaya bayi baru lahir aja , pagi pagi berjemur."


"Atau kucium !" ancam Arya .


" Iya iya.. aku berjemur , tapi dua kaki ya !" tawar Bunga , turun dari atas tempat tidur berjalan keluar dari dalam kamar ." Disekolah dapat hukuman , disini juga !" memberenggut , Bunga menghentak hentakkan kakinya berjalan menuju halaman rumah .


Arya tidak menjawab , ia hanya memperhatikan Bunga dari belakang dengan mengulum senyumnya . Kemudian Arya pun keluar dari kamar yang di tempati Bunga , berjalan kembali ke meja makan .


"Bu ! , bisa buatkan pecal untuk Bunga ?" tanya Arya kepada Bu Ipa .


"Bisa nak Arya !" jawab Bu Ipa .


"Tolong buatkan ya Bu ! , nanti kalau udah selesai , panggil Bunga untuk sarapan" ucap Arya , kemudian pergi meninggalkan meja makan , berjalan masuk ke arah kamar mendiang Neneknya .

__ADS_1


Arya menghela napas beratnya , saat ia hendak membuka pintu kamar di depannya . Membuka pintu itu perlahan , dan langsung melangkahkan kakinya . Mata Arya kembali berembun , terasa panas ingin mengeluarkan cairannya . Sekelebat kenangan bersama Neneknya terlintas begitu saja di benaknya .


Arya mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur yang biasa ia duduki jika ia masuk ke kamar Nenek Marni . Kemudian memutar pandanganya kesetiap sudut ruangan . Canda tawa bersama Nenek Marni terus terngiang di telinganya . Sekarang semua tinggal kenangan .


Di halaman rumah , berkali kali Bunga menghentakkan kakinya dan memberenggut kesal , memaki Arya di dalam hati , karna mendapat hukuman di hari ke dua ia di rumah Arya .


"Kalau seperti ini , mending aku pulang ke rumah . Masa bodo ! si burung gagak itu , dia kan sudah besar , sudah tua pula , ngapain juga harus di temanin ?" ucap Bunga berbicara sendiri .


"Eh ! tunggu tunggu tunggu ! , kenapa pula aku harus patuh ? , ini kan bukan di sekolah ! " ucapnya lagi sendiri , sadar dengan kebodohannya .


Bunga pun mengendap endap masuk ke dalam rumah lewat pintu samping . Masuk kembali ke dalam kamarnya .


"Apa kamu memilih untuk di cium ?"


Suara berat itu mengagetkan Bunga , sampai ia terlonjak kaget memegangi dadanya . Apa dia dari tadi disini ?,batin Bunga .


"nggak Pak ! hehehe...!" cengir Bunga kembali keluar dari dalam kamar . Awas kamu Burung gagak !, batin Bunga .


"Nak Bunga ! sarapannya sudah Ibu siapkan" sahut Bu Ipa . Bunga langsung membalikkan Badannya yang hampir keluar pintu .


"Gak Bu ! , Bunga harus menyelesaikan hukuman Bunga berdiri di bawah terik matahari" jawab Bunga , dengan wajah pura pura sedih , minta dikasihani .


" Bunga gak ingin sarapan Bu !" Bunga langsung membalik badannya berjalan kembali ke tempatnya berdiri tadi , tepat di bawah terik matahari .


Bu Ipa menggeleng gelengkan kepalanya , tidak mengerti dengan kedua majikannya itu . Bu Ipa pun kembali ke dapur .


"Bunga mana Bu ?" Sekarang Arya sudah berada di meja makan .


"Dia berjemur di bawah matahari , katanya dia gak ingin sarapan !" jawab Bu Ipa .


"Ibu makanlah ! , biar Arya yang memanggilnya." Arya berdiri dari tempat duduknya , berjalan ke arah pintu depan rumahnya , untuk mengajak istri kecilnya sarapan .


Arya melangkahkan kakinya ke arah Bunga , tanpa bicara ditariknya tangan Bunga , membawanya masuk ke dalam rumah .


"Jangan pegang pegang !" Bunga menarik tangannya , tapi tidak lepas , karna Arya memegangnya kuat .


Menghiraukan Bunga yang meronta , Arya terus menarik Bunga sampai ke meja makan . Dan mendudukkan Bunga dikursinya tadi .

__ADS_1


"Menurut atau aku cium !" ancam Arya terdengar seperti perintah . Membuat Bunga langsung diam di kursinya .


Kenapa sekarang aku seperti bonekanya ?, ini tidak bisa di biarkan ! , aku harus segera pergi dari tempat terkutuk ini , batin Bunga .


" Nak Arya ! , jangan galak galak ! , masa istrinya di hukum berdiri di bawah terik matahari . Kasihan Bunganya nak Arya ! , nanti kulitnya bisa gosong !" tegur Bu Ipa .


"Itu hukuman bagi istri durhaka Bu ! , dia sudah berani menonjok wajah suaminya." Arya membela diri .


"Dasar pedopil !" maki Bunga .


"Apa kamu bilang ?" Menajamkan tatapannya kepada Bunga .


"Pe..do..pil ! , menikahi gadis di bawah umur !" jelas Bunga menatap Arya dengan tidak kalah tajamnya . Ia belum terima menjadi istri Arya , guru yang paling tidak di sukainya .


"Jaga ucapanmu !" sergah Arya dengan suara dingin . wajah dan matanya terlihat marah . sampai membuat Bunga merinding ketakutan .


"Nak Arya !" tegur Bu Ipa , wanita paruh baya yang sudah dianggap Ibu oleh Arya . Karna melihat wajah Bunga memucat ketakutan .


Bunga berdiri dari tempat duduknya dan langsung berlari keluar rumah . Ia ingin pulang ke rumah orang tuanya saat itu juga , yang lansung di kejar Arya .


"Maaf !"


Arya menangkap tangan Bunga yang hampir keluar dari gerbang halaman rumahnya ,menarik Bunga ke dalam pelukannya .


"Lepasin !" teriak Bunga , meronta di dalam pelokan Arya .


"Ayo sarapan dulu , setelah itu aku akan mengantarmu pulang !." ucap Arya , membawa Bunga kembali masuk ke dalam rumah .


"Aku gak mau ! , aku mau pulang sekarang !." tolak Bunga . air matanya sudah tumpah membasahi wajahnya .


Kenapa ia harus menikah dengan pria galak ?, sudah tua lagi !. Bunga tidak bisa di kerasin , semakin di kerasin , maka hatinya semakin keras . Hanya Aldo lah yang mengerti dirinya , yang paham akan dirinya , Aldo selalu tau apa dan bagaimana maunya .


"Aldo......!" teriak Bunga , memanggil nama Aldo . Ia butuh Aldo untuk menenangkannya , ia butuh Aldo untuk memeluknya .


Jangan salahkan Bunga , atau mengatakan Bunga istri durhaka . karna ia tidak menginginkan pernikahannya dengan Arya , dan saat ini ia belum tau arti menikah . Pelajarannya belum sampai kesana , dan otak minimalisnya belum sanggup mencerna apa itu menikah .


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2