
Bunga membuka pintu ruang perawatan Rania, setelah mengetoknya terlebih dahulu. Bunga datang bersama Arya dan Sofia. Selama Pak Fariq dan Mama Indah menjaga Rania di Rumah sakit, Sofia ikut tinggal di rumah Arya.
Bunga melangkahkan kakinya mendekati Rania yang masih berbaring di atas brankar.
"Kak Rania ! apa kabar !"sapa Bunga.Rania hanya diam saja, tak ingin menjawab.
"Kak Rania ! ini aku Sofia !, apa kabar kak ?"tanya Sofia, menangis. Lagi, Rania diam saja.
"Ma ! Pa !, kak Rania kenapa ?"tanya Sofia, karna Rania tidak mengindahkan mereka.
"Sini sayang !" panggil Mama Indah, supaya Sofia duduk di sampingnya. Jangankan sofia dan Bunga yang menegurnya, Pak Fariq dan Mama Indah saja sebagai orang tuanya, Rania tetap membungkam mulutnya sendiri. Dan Dokter fsikiater pun sudah di panggil, namun Rania tidak mengubris, ia mengunci bibirnya rapat rapat.
Arya, ia hanya diam saja, tak ingin menegur mantan kekasihnya itu. Ia pun mendudukkan tubuhnya di sofa bergabung bersama Mama Indah dan Pak Fariq.
"Apa Kak Rania sudah makan ?, ini Bunga bawa makanan kesukaan Kak Rania, Bunga suapin ya Kak !" ucap Bunga lembut, menyentuh tangan Rania. Masih saja, Rania membatu, tidak meresphon siapa saja yang menegurnya, semenjak ia sadar, dan ingat penyebab kenapa ia berhujung di rumah sakit, dan menjadi buta.
Pak Fariq, menghela napas kasar, Mama Indah kembali menitihkan air mata. Melihat putri tertua mereka, hanya diam tidak mau di ajak bicara.
"Apa kak Rania, gak sayang sama Bunga lagi ?" tanya Bunga, menghapus air matanya yang sempat mengalir.Bunga memang sempat marah kepada Kakaknya Rania, tapi melihat kondisi Rania, ia kasihan kepada Kakaknya.
Melihat Bunga menangis, Arya berdiri dari tempat duduknya, berjalan mendekati Bunga, langsung memeluk Bunga. Arya juga kawatir, mental Bunga terpukul, mengingat Bunga juga baru mengalami depresi ringan.
"Sssttt...!, biarkan Rania istirahat sayang !, dia butuh waktu, mungkin dia masih shok !" ucap Arya, menuntun Bunga berjalan ke sofa.
.
.
"Pah ! aku gak mau di jodohkan dengan kak Rania. Dia jauh di atas usiaku, lagian ! bukankah sekarang dia mengalami Buta, dan gak bisa berjalan. Ada ada aja deh Pah !."
"Surat nikah kalian sudah Papa urus !, tidak bisa di batalkan lagi"ucap Pak Siddiq. keluar dari kamar putranya.
"Ma ! tolong bantu David Ma !, bilang sama Papa untuk membatalkan perjodohan gila itu. David masih sekolah Ma !, David belum mau menikah !" mohon David kepada sang Mama.
"Mama sudah mencobanya sayang !, tapi sepertinya Papamu tetap pada keputusannya" ucap wanita yang terlihat sudah tak muda lagi itu. Mengusap bahu David putra satu satunya.
__ADS_1
"Ma..!"panggil David, frustasi mengacak acak rambutnya kasar, karna Mamanya juga keluar kamar meninggalkannya sendiri.
Wanita paru baya itu pun masuk ke dalam kamarnya dengan suami. Disana sudah ada Pak Siddiq duduk bersandar di kepala ranjang. Istri dari Pak Siddiq itu pun naik ke atas ranjang , duduk di samping suaminya.
"Pah !, apa gak di batalkan saja perjodohannya. Kasihan anak kita Pah !, umurnya masih kecil. Dan calonnya juga sekarang lagi sakit tidak bisa berjalan, dan buta" bujuknya kepada Pak Siddiq.
Pak Siddiq menghela napasnya, tidak enak hati jika mereka yang membatalkan perjodohan itu. Karna awalnya dialah yang menggebu gebu untuk menjodohkan anaknya dengan Rania putri sahabatnya.
"Pernikahan itu harus tetap terjadi Ma !, mungkin dengan seperti itu, David bisa berhenti pacar pacaran dan main perempuan. Papa sudah tidak bisa hitung lagi, berapa perempuan yang di pacari David, anak itu benar benar !. Papa takut dia melakukan hal yang tidak tidak di luar sana, kita gak tau !"ucap Pak Siddiq.
"Tapi Pah ! bukan dengan wanita yang sakit dan buta. Bagaimana Rania nanti bisa mengurus rumah tangganya dengan keadaan buta ?. Pikirkan sekali lagi Pa !, itu pasti akan merepotkan anak kita nanti !"bujuk istri dari Pak Siddiq itu.
"Ma ! dulu Papa ini adalah anak jalanan, anak seorang pemulung. Kalau bukan Pak Fariq yang memperkrnalkanku dengan Kakek samsul, dan membiayai pendidikanku sampai ke tingkat sarjana. Kita tidak akan hidup enak seperti sekarang ini Ma!. Mungkin hidup kita jauh dari kata layak"jelas Pak Siddiq.
"Tapi Mama gak mau Pah !, mengorbankan anak kita. Lebih baik Mama hidup miskin Pah !, dari pada harus mengorbankan kebahagiaan anak kita satu satunya. Apa Papa gak ingat, kita mendapatkanya sangat sulit, kita menunggu kehadirannya sampai lima belas Tahun Pah !"ujar istri Pak Siddiq, marah.
"Ma..!" panggil Pak Siddiq lembut, melihat istrinya itu berbaring dan langsung membelakanginya.
"Papa gak bisa membatalkannya Ma..!, kecuali Pak Fariq sendiri yang membatalkannya. Papa merasa gak enak hati Ma..!" bujuk Pak Siddiq kepada istrinya. Istinya itu diam tidak mendengarkannya lagi. Pak Siddiq menghela napasnya pasrah, membaringkan tubuhnya menarik sambil menarik selimut menutupi tubuhnya dan istrinya yang lagi marah.
Besok harinya, pulang sekolah, David si ketua osis langsung melajukan motornya menuju rumah sakit dimana tempat Rania di rawat. Sampai di rumah sakit, Davit berjalan langsung ke arah meja resepsionis untuk menanyakan di kamar mana calon istrinya itu di rawat.
"Atas nama pasien Rania Fadilah di rawat di kamar mana ya sus ?" tanya David kepada petugas resepsionis.
"Tunggu sebentar yan Dek !" Suster itu kemudian mengeceknya di layar komputernya."Di lantai tiga ,kamar Angreg no dua !"jawabnya kemudian.
"Trimakasih sus !"David langsung melangkahkan kakinya ke arah lif di lantai satu Rumah Sakit itu. David masuk ke dalam lif untuk mengantarnya ke lantai tiga. setelah sampai di lantai tiga, David melangkahkan kakinya ke arah kamar yang tidak jauh dari lif.
Tok tok tok !!!
"Masuk !"sahut Pak Fariq, mendengar ada yang mengetuk pintu ruang perawatan.Mama Indah hanya diam mengarahkan tatapannya ke arah pintu, menunggu siapa yang akan masuk.
David langsung mendorong daun pintu di depannya sembari melangkah masuk, setelah di persilahkan masuk.
"Selamat siang Om ! Tante !"sapa David, menutup pintu kembali.
__ADS_1
"Selamat siang juga Nak David !" balas Pak Fariq.
David mengalihkan pandangannya ke arah brankar, di lihatnya Rania terbaring lemah, dengan mata terbuka tak berkedip.
Kak Rania memang cantik, tapi kalau dia buta, bagaimana bisa kujadikan istri?, aku juga tidak mencintainya, batin David. kemudian melangkahkan kakinya mendekati pak Fariq dan Mama Indah yang duduk di sofa.
"Ayo silahkan duduk Nak !"suruh Pak Fariq.
David pun mendudukkan tubuhnya di sofa sebelah Pak Fariq. Menghembuskan napasnya sebelum menyampaikan niat kedatangannya.
"Sebelumnya David minta maaf Om !, Tante !"David menjeda kaliamatnya, menggigit bibir bawahnya, berpikir untuk menyusun kaliamat yang tepat, untuk menyampaikan maksudnya.
"Om sudah paham maksud kedatanganmu Nak !, tidak apa apa !, Om memakluminya. Om juga tidak mungkin menyerahkan putri om dalam keadaan tidak layak kepada laki laki manapun. Kecuali laki laki itu sendiri yang brnar benar menerima kekurangan putri Om !"ucap Pak Fariq dengan mata berkaca kaca, wajahnya tampak amat sedih.
"Maafin David Om ! Tante !"ucap David menunduk, merasa tidak enak hati. Belum David menyampaikan maksudnya, Pak Fariw sudah langsung bisa menebak maksud kedatangannya.
"Tidak apa apa Nak !, Om paham !"balas Pak Fariq. Mama Indah hanya diam saja. Ia juga semenjak Rania bangun, dan membisu, Mama Indah juga kebanyakan diam, sedih memikirkan nasib putri sulungnya itu.
"Trimakasih Om !, sudah mengerti David !, kalau begitu David pamit pulang Om ! Tante !" ucap David sekalian pamit. David berdiri dari temoat duduknya, kemudian menyalam tangan Pak Fariq dan Mama Indah bergantian. David berjalan ke arah brankar Rania, memandang Rania dengan tatapan kasiahan.
"Kak Rania ! semoga cepat sembuh !"ucap David, yang tidak di gubris Rania sama sekali. Melihat itu, David berbicara lagi."Aku memiliki banyak pacar, apa kak Rania mampu bersaing dengan pacar pacarku itu ?. Kalau kak Rania mau, Kak Rania bisa menjadi pacar kesekianku !. Lumayan Kak Rania punya brondong tampan sepertiku !"canda David, David juga sudah tau dari Mamanya, Rania yang tidak mau bicara sama sekali.
Seketika air mata Rania keluar dari sudut matanya, yang dari tadi ia tahan, saat mendengar pembicaraan David dan Pak Fariq, yang membatalkan perjodohan mereka. Rania berpikir, tidak akan ada lagi laki laki yang menyukainya, karna keadaannya yang buta.
David kasiahan melihatnya, tapi ia juga tidak bisa memperistri wanita yang buta. Akan lebih kasiahan dirinya nanti.
"Maaf kalau kak Rania tersinggung dengan ucapanku !. Aku hanya bercanda, aku dengar Kak Rania gak mau bicara sudah empat hari, makanya aku mengajak kak Rania berbicara. Apa kak Rania gak takut ?, napas Kak Rania bau, karna tidak pernah di masuki udara ?" tanya David lagi. Davin tidak segan berbicara kepada Rania, karna keluarga mereka sudah dekat sejak dulu, dan mereka juga saling kenal.
Rania memalingkan wajahnya ke arah lain, malas mendengar gurauan David.
"Aku pulang dulu, semoga Kak Rania cepat sembuh !" pamit David akhirnya, tak ingin memaksa Rania mau berbicara lagi.
"Om ! Tante ! David pamit" pamit David sekali lagi, dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruang perawatan Rania.
.
__ADS_1
.