
Tok tok tok !!
"Masuk !"
Vani yang mengetok pintu ruang perawatan Bunga pun , mendorong pintu di depannya dan langsung melangkahkan kakinya masuk , di ikuti Tari dan Gandi .
"Selamat Sore Pak Arya !" sapa Vani .
"Selamat sore juga !" balas Arya tersenyum sedikit , sambil tangannya menyuapi Bunga memakan buah yang sudah di potong potong . Duduk di kursi samping brankar menghadap Bunga .
"Selamat sore Bunga !" sapa Vani , Karna Bunga hanya diam sibuk dengan game online di HPnya .
Bunga diam tidak menjawab , menoleh pun tidak .
"Tari ! Gandi ! ayok kita pulang !" ucap Vani , kesal melihat Bunga yang tidak menyambut ke datangan mereka .
"Sayang...!" tegur Arya , karna Bunga hanya diam , sibuk dengan game online nya, sambil mengunyah potongan apel di mulutnya .
"Selamat Sore !" ucap Bunga , tanpa menoleh , membuat Vani geram .
"Sepertinya kamu ngajak berantem ya Bunga !." geram Vani , meletakkan buah buahan yang ia bawa di atas brankar , kemudian menyingsingkan lengan bajunya, berkacak pinggang ke arah Bunga . Bunga benar benar keterlaluan , mereka sudah datang menjenguknya , Bunga malah menganggap mereka mahluk tak kasat mata.
Bunga mencebikkan bibirnya , Karna Vani sudah mengganggu konsentrasinya .
Gandi dan Tari , mereka hanya diam saja , mereka berjalan ke arah sofa , mendudukkan tubuh mereka disana . Dengan santai Gandi mengeluarkan phonselnya , menghidupkan layarnya , mencari no kontak Bunga , dan langsung mendialnya , melakukan panggilan .Sontak Bunga mengeram kepada Gandi , Karna game online nya terhenti .
"Ayo kita tinju gandi !" kesal Bunga , hidungnya sudah kembang kempes , menahan kekesalan .
"Makanya kalau datang tamu itu ,disambut dengan ramah tamah !" ucap Gandi santai tanpa merasa berdosa . Bunga memanyunkan bibirnya , memandang Gandi dengan menyipitkan matanya .
"Udah dulu main game nya sayang !, sudah dari tadi , apa gak capek jempolnya itu ?".ucap Arya lembut ,menyuapkan lagi potongan buah ke mulut Bunga . Mengambil handphon dari tangan Bunga .
"Dari tadi aku belum pernah menang ! , sepertinya kemampuanku sudah memudar di telan buku buku setiap hari setiap malam" ujar Bunga jemberut . Ia sudah jarang sekali bermain game , Karna Arya sering memberinya tugas tambahan di rumah dari semua mata pelajaran di sekolah . Jika Bunga tidak mengerjakannya atau tugas tambahannya tidak selesai , maka Arya akan menghukumnya di atas kasur sebanyak tiga ronde . Dan benar saja , pernah Bunga sekali tidak mengerjakan tugas tambahannya , Arya benar benar menghukumnya dengan hukuman nikmat dan melelahkan .
__ADS_1
Arya mengacak acak ujung kepala Bunga gemas . Melihat tingkah Bunga yang kadang jadi preman sekejap bisa berobah menjadi manja .
Pak Arya romantis banget sih ! , lembut , perhatian , sayang banget sama Bunga , jauh berbeda saat di sekolah . Pantas saja Bunga mudah melupakan Aldo .batin Vani , yang masih berdiri di dekat brankar Bunga , masih berkacak pinggang .
"Woi ! Vani ! ngapain masih berdiri di situ ?" seru Gandi .
"Mau ngajak Bunga brantemlah !" jawab Vani .
"Bilang aja lihatin suamiku yang tampannya kebangatan ini !" cibir Bunga .
"Punya suami tampan itu bikin makan hati , banyak yang ngincar ! . Mending biasa biasa aja , aman jika di lepas keluar sana , gak ada yang godain" balas Vani tidak mau kalah , tidak peduli dengan Arya yang ada disitu . Kemudian Vani berjalan ke arah sofa , bergabung duduk bersama Tari dan Gandi .
Bunga terdiam , benar yang di katakan Vani , punya suami tampan , sering membuat hati gelisah tidak tenang , Karna pasti banyak yang menggoda , dan tebar pesona . Kawatirnya suaminya tidak kuat iman , menjadi tergoda dan meninggalkannya .
"Lihat tuh ! Bunga jadi diam ! , kamu sih ! ngomong gak di saring . Apa lagi dia sudah ngalamin sendiri sampai berakhir di rawat di Rumah Sakit !" bisik Tari ke telinga Vani .
"Aku 'kan cuma bercanda !" bela Vani .
Arya menghela napasnya, melihat Bunga sedih , nampak wajahnya berkaca kaca .
"Bercanda Bunga ! bercanda ! , ya elah ! , sensitif amat !" ujar Tari , mencebikkan bibirnya .
"Vani..!" geram Tari berbisik , sambil menyikut lengan Vani .
Bunga membaringkan tubuhnya , dengan posisi miring membelakangi Arya .Bunga teringat lagi , apa yang di alaminya di sekokah . Hati Bunga sakit , sakit karna di perlakukan seperti manusia sampah . Karna kecemburuan orang orang yang menyukai Arya , Ia harus berakhir di rumah sakit dan kehilangan calon bayinya .
Tiba tiba emosi Bunga memuncak , Bunga mengepal kedua tangannya kuat , sampai kukunya terlihat putih . Bunga mengeraskan rahangnya , sampai giginya terdengar menggemeletuk , tubunya pun nampak bergetar , sangking emosinya , mengingat ingat wajah yang menyeretnya dan menghempaskan tubuhnya .
"Sayang !" panggil Arya berdiri dari kursinya , membungkukkan tubuhnya kepada Bunga , membalik tubuh Bunga supaya menghadapnya.
Bunga diam memandang Arya dengan mata yang memerah dan berkaca kaca .
"Sayang !" panggil Arya ,kawatir melihat ekspresi Bunga yang terlihat sangat marah . Arya langsung menarik Bunga ke dalam pelukannya , mencium kening Bunga , sambil mengusap usap kepalanya ." Tenangkan dirimu sayang !" ucap Arya .
__ADS_1
Vani Tari dan Gandi pun , mendekati brankar Bunga .
"Bunga ! kamu kenapa ? , tadi aku hanya bercanda Bunga ! , aku minta maaf !" ujar Vani kawatir .
"Iya Bunga ! kamu kenapa ?, jangan buat kami kawatir deh Bunga !" sambung Tari .
"Iya Bunga !" sambung Gandi lagi .
Bunga masih bergeming , tubuhya sangat kaku dan bergetar . Dan tiba tiba tubuh Bunga melemah dan memejamkan matanya .
"Sayang !" panggil Arya kawatir , langsung memencet tombol berwarna merah di dekat kepala ranjang untuk panggilan darurat . Tak terasa Arya sudah meneterkan air matanya .
"Sayang ! sayang ! , bangun sayang !" ucap Arya menggoyang goyangkan wajah Bunga ."Bangun sayang !" tangis Arya .
Tidak lama kemudian Dokter dan perawat masuk keruang perawatan Bunga . Mereka melihat pasien tak sadarkan diri .
"Apa yang terjadi ?" tanya Dokter itu berjalan cepat ke arah brankar . Vani Tari dan Gandi pun menjauh , supanya tidak menghalangi pergerakan Dokter dan perawat yang akan memeriksa Bunga .
Arya membaringkan Bunga lagi , kemudian menceritakan kepada Dokter, kenapa Bunga bisa pinsan . Dokter laki laki yang berkisar lima puluh Tahunan itu pun langsung memeriksa Bunga .
"Dok ! , Pasien mengalami pendarahan !" ucap perawat yang membantu memeriksa Bunga . melihat darah mengalir di bawah kaki Bunga .
"Cepat minta bantuan , untuk membawa pasien ke ruang IGD!" ujar Dokter yang memeriksa Bunga .
Arya yang mendengar Bunga pendarahan lagi , tubuhnya langsung melemah dan menjatuhkan tubuhnya kelantai , karna merasakan lututnya tidak bertenaga lagi . Arya sangat takut , terjadi hal yang buruk kepada Bunga .
"Pak Arya !" seru Tari Vani dan Gandi bersmaan , berlari ke arah Arya . Gandi pun membantu Arya berdiri , dan menuntunnya berjalan ke arah sofa dan langsung mendudukkan Arya .
Kemudian Gandi langsung berlari ke arah brankar , mengangkat tubuh Bunga . Perawat wanita itu pun langsung sigap mengambil cairan infus Bunga . Kemudian mengukuti Gandi membawa Bunga keluar dari kamar perawatan , dan langsung di ikuti Dokter yang mengecek kondisi Bunga .
"Aku minta maaf Pak Arya ! , aku gak tau !" tangis Vani menyesal . Vani benar benar tidak tau seperti apa kondisi Bunga . Karna ia melihat Bunga sudah membaik . Vani Tari dan Gandi tidak tau , kalau Bunga mengalami depresi ringan .
.
__ADS_1
.
.