
Pak Fariq dan Mama Indah berjalan tergopoh gopoh ke arah ruang Unit gawat darurat. Disana Bunga duduk sendirian menangis di bangku tunggu.
"Bunga ! bagaimana keadaan kakakmu sayang ?"tanya Mama Indah.
"Mama..! Papa..!"tangis Bunga, berdiri dan langsung memeluk Mama Indah."Kata Dokter Kak Rania mengalami patah kaki dan luka kepala, kemungkinan Kak Rania akan mengalami kebutaan!"jawab Bunga di dalam tangisnya.
"Kenapa Rania bisa mengalami kecelakaan ?" tanya Mama Indah lagi, menangis. Mama Indah melepas pelukannya dari Bunga, kemudian memeluk suaminya. "Pah ! putri kita Pah !"ucap Mama Indah.
Pak Fariq diam, ia hanya bisa mengusap usap punggung Mama Indah di dalam pelukannya.
"Kak Rania mengambil semua sertifikat harta warisan dari kakek Samsul dan ingin membawanya kabur. Arya langsung melaporkannya ke polisi, dan polisi langsung mengejar kak Rania. Dan.." Bunga menghentikan bicaranya, karna tidak sanggup untuk mengatakan kejadian kecelakaan yang menimpa Rania.
"Mama ! Papa !" sapa Arya, melihat kedua mertuanya sudah datang. Ia baru selesai mengurus administrasi rumah sakit Rania, untuk melakukan tindak operasi.
Mama Indah dan Pak Fariq mengalihkan tatapan mereka kepada Arya yang baru datang.
"Ma ! Pah !, maaf ! seharusnya Arya tidak melaporkan Rania ke polisi" ucap Arya.
"Kamu gak salah Nak Arya, mungkin ini teguran untuknya" balas Pak Fariq. Ia juga tidak menyangka putrinya itu berbuat nekat.
Arya melangkahkan kakinya ke arah Bunga, yang duduk di bangku dengan wajah sembabnya. Arya mendudukkan tubuhnya di samping Bunga, menarik Bunga ke dalam pelukannya.
pintu ruang UGD terbuka, nampak brankar di dorong keluar oleh tiga orang perawat. Rania terlihat berbaring lemah di atasnya dengan mata terpejam, dan ada luka luka di wajahnya. Pak Fariq, Mama Indah, Arya dan Bunga langsung mendekati brankar tersebut, melihat keadaan Rania.
Mama Indah langsung menangis memeluk dan mencium putri sulungnya itu.
"Kenapa kamu seperti ini sayang !" ucap Mama Indah.
Bunga juga mendekati Rania, menangis, prihatin dengan keadaan Rania.
"Kak Rania ! kamu boleh mengambil harta Bunga semuanya. Tapi berjanjilah untuk sembuh !"ucap Bunga di selah selah tangisnya.
"Maaf Bu !, kami harus segera membawa pasien ke ruang operasi" ucap salah satu perawat wanita yang memakai seragam berhijab. Kemudian mendorong brankar dengan kedua temannya, setelah Mama Indah dan Bunga menjauhinya. Mereka pun mengikuti brankar itu dari belakang, berjalan menuju arah runga operasi. Mereka pun duduk di bangku tunggu , menunggu Rania selesai di operasi.
"Nak Arya !, bawalah Bunga pulang, ini sudah malam, besok Bunga harus ujian, biar Papa sama Mama saja yang menunggu dinsini" suruh Pak Fariq.
Bunga menggelengkan kepalanya yang sedari tadi menyandar di dada Arya."Gak Pah !, Bunga juga ingin menunggu kak Rania sampai selesai operasi."Bunga menajamkan pandangannya kepada Pak Fariq, dengan tatapan meneduh.
"Iya sayang !, nanti kamu lelah, kamu juga baru sembuh sayang!"bujuk Arya. Karna mungkin masih lama operasinya baru selesai. Bunga menggelengkan kepalanya lagi.
"Aku sudah sehat"ucap Bunga.
"Kamu juga harus belajar sayang !"Mama Indah yang berbicara. Membujuk Bunga supaya mau di bawa pulang. Bunga menggelengkan kepalanya lagi.
__ADS_1
"Ya udah !" pasrah Arya, mengusap usap kepala Bunga, dan mengecup ujung kepalanya, memahami perasaan Bunga, yang kawatir dengan kakaknya Rania yang berjuang di meja operasi.
Lama mereka menunggu, akhirnya Dokter yang menangani di ruang operasi pun keluar.
Mama Indah dan Pak Fariq langsung mendekati Dokter tersebut. Bunga, ia sudah tertidur di pelukan Arya, membuat Arya harus tetap di tempatnya.
"Bagaimana keadaan putri kami Dok ?"tanya Mama Indah langsung.
"Operasinya lancar, Kita tunggu saja perkembangannya" jawab Dokter itu.
Mendengar itu Pak Fariq, Mama Indah dan Arya , bernapas lega.
Arya pun membagunkan Bunga,dengan menepuk nepuk pipi Bunga, sambil memanggilnya.
"Sayang ! sayang ! sayang !."
Namun Bunga napak bergrming. Arya menghela napasnya bingung bagaimana cara membangunkan Bunga. Sepertinya Bunga sudah kecanduan di bagunkan dengan cara di cium. Tidak mungkin Arya melakukan itu di tempat umum, terlebih di depan kedua mertuanya.
"Sayang !" Arya masih berusaha membangunkan Bunga. Mengingat ia dan Bunga ke Rumah Sakit menggunakan motor. Arya tidak bisa membawa Bunga pulang, kalau tidak bangun.
Duh ! bagaimana cara banguninnya ya ?, lelap banget tidurnya !, batin Arya. Gemas, ingin rasanya Arya melu*** bibir istri cabe cabeannya itu, saat itu juga karna susah di bangunin.
Arya pun berdiri kemudian menggendong tubuh Bunga dari bangku.
"Iya Nak Arya, kalian hati hati !" balas Pak Fariq, tidak tau kalau Arya dan Bunga tadi datang ke Rumah Sakit dengan menggunakan motor.
"Iya Pah !, kabarin Arya kalau ada apa apa, atau butuh bantuan" ucap Arya.
"Trimakasih Nak Arya"balad Pak Fariq.
"Kalau begitu kami pulang dulu, Assalamu alaikum !"pamit Arya lagi sekalian mengucap salam.
"Walaikum salam !"balas Mama Indah dan Pak Fariq bersamaan. Arya pun melangkahkan kakinya keluar dari Rumah Sakit, berjalan ke parkiran motornya tadi.
Sampai di parkiran, Arya mendudukkan Bunga di atas motor. Melihat ke sekeliling tidak ada orang, Arya pun langsung mencium bibir Bunga dalam. Ciuman itu agak lama, sampai Bunga terusik dan bangun dari tidur lelapnya.
"Sayang ! bangun !" ucap Arya setelah melepas ciumannya.
"Aaryan ! kenapa kamu membangunkanku, aku bertemu dengan anak kita di alam mimpi. Dia sangat tampan dan menggemaskan, dan juga sangat nakal"ucap Bunga tersenyum, masih dengan mata terpejam, berharap dia tertidur lagi, dan bermimpi bertemu anak mereka yang sudah tiada sebelum lahir.
"Sayang ! kita lagi di parkiran Rumah Sakit, Rania sudah selesai di operasi, Operasinya berjalan lancar, sekarang kita harus pulang sayang !, malam sudah larut" ucap Arya, sambil merapikan rambut Bunga ke belakang, mencium kening Bunga dengan mata berkaca kaca. Merasa sedih, karna kehilangan calon bayi mereka. Tapi Arya harus kuat, tidak boleh menunjukkan kelemahannya, demi Bunga istrinya.
"Aaryan, bagaimana kalau kita gak usah menunda punya anak. Aku ingin sekali kita punya keluarga kandung" ucap Bunga lagi memeluk Arya, menyandarkan kepalanya ke dada Arya, masih hanyut dengan mimpinya. Bunga seperti tidak mendengar jelas ucapan Arya, lupa kalau dari tadi ia menunggu Rania selesai di operasi.
__ADS_1
"Sayang ! sekarang kita harus pulang, soal itu nanti kita bahas di rumah ya !. Buka matamu sayang, Kita pulang pake motor bukan pakai mobil" balas Arya.
"Jawab Iya dulu !"rengek Bunga manja, mendongakkan kepalanya ke wajah Arya, memandang Arya penuh harap.
"Iya Bungaku..! Sayangku..! cintaku..! istriku..!"setiap kata, Arya mendaratkan kecupan di bibir mungil Bunga."sampai di rumah, kita langsung buat dede bayinya!" ucap Arya tersenyum genit.
Bunga mengangguk tersenyum malu malu. Arya pun semakin mengembangkan senyumnya. Sepertinya istri labilnya itu sudah kecanduan menerima hukuman di atas ranjang.
"Ayo duduk yang bagus" ucap Arya melepas pelukan Bunga, kemudian memperbaiki posisi duduk Bunga, lalu memasang helem ke kepala Bunga dan kepalanya. Arya naik ke atas motor, duduk di depan Bunga.Bunga pun tanpa di suruh, langsug memeluk Arya dari belakang, memeluknya erat.
.
.
Setelah dua hari tak sadarkam diri, Kini Rania sudah terbangun dari mimpi buruknya. Rania perlahan membuka kelopak matanya, kemudian memejamkannya kembali, membukanya kembali.
Apa mati lampu ya !, gelap amat, batin Rania . Ia tidak bisa melihat apa apa, meski ia sudah membuka matanya dengan sempurna.
"Sayang ! kamu sudah sadar nak ?" Mama Indah yang duduk di sofa, langsung berdiri berjalan ke arah brankar Rania.
"Mama ! kenapa gelap ?, apa mati lampu ?, Rania gak bisa lihat apa apa Ma !" tanya Rania.
Mama indah diam, tidak tau harus menjawab apa apa. Begitu juga dengan Pak Fariq, yang bersama Mama Indah di ruang perawatan Rania. Mama indah pun mengalihkan pandangannya ke arah Pak Fariq.
"Ma !" panggil Rania, berusaha menggerakkan tubuhnya ingin duduk.
"Aw !"ringis Rania, memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Sayang ! kamu habis mengalami kecelakaan, dan baru selesai di operasi, kamu sudah dua hari tidak sadarkan diri" ucap Mama Indah.Menitihkan air matanya, melihat kondisi putrinya yang benar benar mengalami kebutaan.
Rania terdiam, kemudian berusaha mengingat apa yang terjadi, kenapa ia sampai bisa mengalami kecelakaan.
Aku tidak bisa melihat, apa aku menjadi Buta ?, batin Rania. Tak terasa cairan bening langsung mengalir dari sudut matanya, tidak bicara apa apa lagi.
"Sayang !" panggil Mama Indah, melihat Rania hanya diam saja, membiarkan air mata terus mengalir membasahi pelupuk matanya.Mama Indah mengusap usap kepala Rania, mencium kening Rania dari samping, sambil menangis.
Tidak menjawab, Rania hanya menangis dalam diamnya.
"Rania !"panggil Pak Fariq, yang juga ikut menangis.Ia mendudukkan tubuhnya di kursi di samping brankar, mengambil tangan Rania yang tertusuk jarum infus, lalu menciumnya. Kasihan sekali melihat putrinya.
.
.
__ADS_1