
Bunga menuruni anak tangga ke lantai bawah . Nampak rumah sudah sepi , terlihat hanya ada pembantu sedang bersih bersih . Bunga pun melangkahkan kakinya ke arah dapur .
"Apa nak Bunga mau sarapan ?" tanya Bi Siti , pembantu yang biasa bertugas mengurus dapur .
"Iya Bi , Mama mana ?" tanya Bunga .
"Di kamarnya , katanya mau siap siap ke Rumah Sakit" jawab Bi Siti , wanita yang sudah berumur hampir enam puluh Tahun , yang sudah lama bekerja di kediaman Bunga .
Bunga hanya manggut manggut saja .
"Bi !"
"Iya nak Bunga ?"
"Apa Bibi mengenal kedua orang tua kandung Bunga ?. Seperti apa wajah mereka ? , kenapa gak ada photonya di rumah ini ? . Bukankah rumah ini, rumah peninggalan Kakek dan Nenek ?" tanya Bunga , lalu menyuapkan pecal yang baru diberikan Bi Siti ke mulutnya .
"Sayang..!" tiba tiba Mama Indah datang .
"Mama ! , Maaf Ma !" Bunga merasa tidak enak hati dengan Mama Indah , karna sudah menanyakan orang tua kandungnya ke asisten rumah tangga mereka .
Mama indah menarik kedua sudut bibirnya ke atas , menyentuh bahu Bunga dengan lembut . mendudukkan tubuhnya di samping Bunga .
"Papa sama Mama menyimpannya , bukan maksud Mama atau Papa menyembunyikannya darimu sayang . Kami tidak ingin membuat kamu bingung , selama ini kami berpikir belum saatnya kami memberitahumu . Maafkan Mama sama Papa ya !" ucap Mama Indah lembut .
"Mama sama Papa gak salah !" balas Bunga . mengaduk aduk pecal di piringnya , menahan kesedihan di hatinya . Sedih tidak sempat mengenal orang tuanya dan makamnya pun tak ada untuk Bunga jiarahi , karna jasat kedua orang tuanya tidak di temukan saat kecelakaan pesawat yang jatuh ke laut 14 Tahun yang silam .
Mama Indah yang melihatnya pun , mengambil sendok dari tangan Bunga . menyendok pecal kesukaan Bunga , menyuapkannya ke mulut Bunga .
"Meski kamu bukanlah putri kandung Mama , tapi kasih sayang Mama kepada kamu, Rania dan Sofia sama . Kamu adalah putri kedua kami, terlahir dari hati Mama sama Papa." ucap Mama Indah , satu tangannya mengusap ujung kepala Bunga .
"Mama..!" Bunga memeluk Mama indah , tangisnya tumpah ." Boleh Bunga melihat photo orang tua kandung Bunga ?."Bunga mendongakkan kepalanya ke arah wajah Mama Indah .
"Tentu boleh sayang !" Mama indah membalas pelukan Bunga , mencium kening Bunga ." Ayo habiskan sarapanmu , setelah itu kita lihat Photo almarhum kedua orang tuamu ." Mama indah mengusap usap punggung Bunga dari belakang .
"Iya Ma !" Bunga menghapus air matanya . lalu menerima suapan dari Mama Indah lagi .
Setelah Bunga menghabiskan sarapannya , Mama Indah pun membawanya masuk ke dalam kamar . Sampai di dalam kamar , Mama indah membuka sebuah laci meja . Dan mengeluarkan beberapa bingkai Foto dan Album . Membawanya duduk ke pinggir tempat tidur , kemudian memberikannya kepada Bunga .
Bunga pun menerima bingkai photo yang nampak di dalamnya kedua orang tuanya memakai pakaian pengantin . Bunga meraba wajah photo kedua orang tuanya bergantian , tanpa Bunga sadari senyum terbit dari bibirnya . Melihat kedua orang tuanya cantik dan tampan , menurut Bunga .
Kemudian Bunga pun melihat photo photo lainnya . Tiba tiba Bunga mengerutkan keningnya saat melihat Photo keluarga yang terdiri dari Kedua orang tua Bunga , Pak Fariq , Mama Indah ,dan kakek Bunga . Ia melihat photo bocah laki laki berdiri di depan kakeknya . Sepertinya Bunga sangat mengenali wajah itu .
"Dia adalah Arya ! cucu Nenek Marni" Ucap Mama Indah tersenyum .
__ADS_1
"Kenapa dia ada di photo ini ? . dia 'kan bukan anggota keluarga kita !" ucap Bunga tak suka .
Mama Indah terkekeh geli " Dia adalah cucu kesayangan kakek Samsul" jawab Mama Indah .
"Coba aku lahir laki laki , pasti perjodohan koyol itu batal . kenapa gak kakak Rania atau Sofia aja sih Ma ! yang dijodohkan dengan guru gila itu ?." ucap Bunga memberenggut , masih tak terima perjodohannya .
"Masa kamu gak tertarik dengan Arya ?, tampan begitu !" ujar Mama Indah .
"Tampan juga kalau galak ! buat apa ?"
Mama Indah mencebikkan bibirnya " Dia itu gak galak tapi tegas " bela Mama Indah .
"Sepertinya Mama naksir deh ! sama guru galak itu . Aku bilangin Papa !" Bunga membalas menggoda Mama Indah .
"Papamu juga gak kalah tampan kali ! waktu masih muda !" sanggah Mama Indah , tentu ia memuji suaminya tampan , meski tidak tampan tampan amat . Menurut Mama Indah suaminyalah pria yang paling tampan sejagat raya ini . Membuat Bunga memutar kedua bola matanya jengah . Karna Pak Fariq Papanya , tampannya dikit aja .
"Ma !" panggil Bunga .
"Apa sayang ?"
"Boleh Bunga pindahin Photo photo ini ke kamar Bunga ?" tanya Bunga . menajamkan tatapannya ke Mama Indah .
"Tentu Boleh sayang !, photo photo itu adalah milikmu" jawab Mama Indah .
"Mereka adalah adik adik Mama !, pasti Mama merawatnya" balas Mama Indah mengulas senyumnya .
"Trimakasih Ma !" ucap Bunga lagi . Mama Indah menganggukkan kepalanya .
"Yuk kita antar ke kamarmu , setelah itu kita jenguk Nenek Marni ke Rumah Sakit." Bunga pun menganggukkan kepalanya .
Sampai di Rumah sakit , Bunga dan mama Indah langsung masuk ke ruang ICU .
"Assalamu alaikum Nenek !" Bunga menyalim tangan Nenek Marni dan menempelkannya ke keningnya .
"Walaikum salam cucu Nenek !" balas Nenek Marni tersenyum , nampak kebahagian di raut wajahnya, meski tubuhnya tidak baik baik saja .
"Apa Nenek sudah makan ?" tanya Bunga .
"Sudah ! tapi Nenek ingin makan di suapi cucu Nenek yang cantik ini" Ucap Nenek Marni dengan semangat .
Bunga tersenyum menganggukkan kepalanya . Mama Indah membantu Nenek Marni duduk bersandar ke kepala ranjang dengan memberikan bantal di belakang punggung Nenek Marni .
"Saya merasa punya cucu perempuan " ucap Nenek Marni, setelah menelan bubur yang disuapkan Bunga ke mulutnya . Bunga hanya menarik kedua sudut bibirnya ke atas mendengar ucapan Nenek Marni .
__ADS_1
"Nenek sudah menyuruh Arya mengurus surat surat nikah kalian"
Dug dug dug dug...!
Jantung Bunga langsung berpacu dengan kencang . Bersusah payah Bunga menelan salipanya . Berarti ia akan segera menikah dengan Arya . Ingin rasanya Bunga berlari dari ruang ICU itu , ia ingin berlari memeluk Aldo , menumpahkan keluh kesahnya .
Aldo ! , dimana Aldo ?, Semenjak tadi malam mereka pulang dari cafee . Bunga belum melihat Aldo , dan Aldo belum ada mengabarinya .
"Jika Nenek tiada nanti , tolong jangan tinggalkan Arya ya Nek !."
"Nenek bicara apa ! , Nenek pasti sembuh . Nenek harus semangat untuk sembuh !" Mama Indah yang berbicara .
Bunga semakin menajamkan pandangannya ke arah Nenek Marni . Bunga memaksakan bibirnya tersenyum , meski dadanya sesak karna jantungnya yang terus bergemuruh seperti memberontak , tidak menerima perjodohan yang di ciptakan mendiang kakeknya .
"Arya tidak memiliki siapa siapa selain Nenek . Jangan biarkan dia hidup sebatang kara " Nenek Marni Berbicara dengan wajah mengiba .
"Iya Nek !" balas Bunga , tidak tega dengan Nenek yang sudah tua renta itu memohon padanya . Jiwa sosialnya meronta , biarlah ia menyingkirkan cintanya .
Nenek Marni juga tau , Kalau sebenarnya Bunga tidak menyukai cucunya , karna sering menghukum Bunga di sekolah . Tapi perjodohan itu harus tetap terlaksana , demi kake Samsul yang mereka cintai .
Tok tok tok !!!
"Assalamu alaikum Nenek !"
"Walaikum salam !" jawab mereka serentak .
Arya melangkahkan kakinya berjalan mendekati brankar Nenek Marni . Kemudian mencium pipi kendur nenek Marni ,Nenek kesayangannya .
"Kenapa pulang cepat !" tanya Nenek Marni .
"Buat nemanin Nenek di sini " jawab Arya , Matanya melirik ke arah Bunga .
"Sekarang Nenek ada yang nemanin . Sanah ajak Bunga untuk membeli cincin pernikahan kalian" suruh Nenek Marni kepada Arya .
"Nenek ! gak bagus Nek ! yang bukan muhrim pergi berduaan tanpa ada yang menemani . Ntar ada setan menggoda Nek !" tolak Bunga halus . sok mengingatkan orang yang sudah bosan memakan garam dilaut membawanya ke gunung memakannya dengan asam .
Membuat mama Indah dan Nenek Marni tertawa cekikikan . Arya , membuang muka ke arah lain , supaya Bunga tidak melihatnya mengulum senyumnya .
.
.
.
__ADS_1