Guru Galak Itu Suamiku

Guru Galak Itu Suamiku
Bab 51


__ADS_3

Kini Bunga sudah di pindahkan ke ruang perawatan . Meski kondisinya sudah membaik , tapi Bunga belum sadarkan diri . Ia masih terbaring lemah dibatas ranjang Rumah Sakit dengan tangan tertusuk jarum infus .


Dari tadi Arya tidak pernah melepas tangan Bunga , berkali kali mengecupnya, tanpa melepas netranya dari wajah Bunga yang masih pucat .


Tok tok tok !!!


Refleks Arya langsung menoleh ke arah pintu , melihat siapa yang datang .


"Mama ! Papa !" ucap Arya , melihat kedua mertuanyalah yang datang .


"Arya ! bagaimana keadaan Bunga ?" tanya Mama Indah , berjalan ke sebelah sisi ranjang Bunga .


"Dia belum sadar dari tadi Ma !" jawab Arya dengan tatapan meneduh .


Mama Indah pun mengusap usap kepala Bunga , mencium kening putri nakalnya itu dengan penuh rasa kasih sayang . Mama Indah sudah sangat merindukan putrinya itu , menyesal sudah meninggalkan Bunga .


Pak Fariq mendekati Arya , menepuk bahu Arya pelan . Mengerti dengan kesedihan Arya yang kehilangan calon buah hatinya .


"Maafin Arya Pah ! Mah ! , Arya sudah melanggar janji Arya !" ucap Arya . Arya tidak memberitahu sama sekali kepada kedua mertuanya , kalau ia sudah menggauli Bunga . Menurutnya itu adalah aib suami istri , hal yang memalukan untuk membicarakannya kepada metuanya .


"Tidak apa apa ! , semenjak Bunga sah menjadi istrimu . Kamu berhak sepenuhnya kepada Bunga" balas Pak Fariq .


"Aku terpaksa melakukannya Pah !" ucap Arya , kemudian menceritakan semua apa yang terjadi , mulai dari Bunga terkena obat sialan itu , sampai orang orang yang tidak menyukai Bunga , sampai Bunga yang di seret dan di tuduh berzina , yang mengakibatkan Bunga mengalami keguguran .


Mama Indah yang mendengarnya pun , merapatkan gigi giginya , geram . "Ayo Pah ! , sekarang kita kesekolah !. Mama Ingin memberi pelajaran kepada orang orang yang menyakiti Bunga Pah !." Mama Indah berjalan ke arah Pak Fariq menjauhi Bunga .


"Sabar Ma ! , kita juga baru sampai disini , masa langsung pergi !" ujar Pak Fariq .


Bunga mengerjapkan matanya , membukanya perlahan , karna mendengar suara suara di sampingnya . Melihat itu Arya langsung berdiri dari tempat duduknya , membungkukkan tubuhnya ke arah Bunga .


"Sayang ! kamu sudah sadar ?" tanya Arya , terharu , ia begitu lega , akhirnya Bunga membuka matanya , setelah beberapa jam tidak sadarkan diri . Mama Indah dan Pak Fariq pun mendekati brankar Bunga .

__ADS_1


"Aaryan.." panggil Bunga lemah .


"Iya sayang ! , dimana yang sakit ? katakan sayang ?" Arya menciumi wajah Bunga .


"Bunga ! maafin Mama sama Papa !" ucap Mama Indah , mengambil sebelah tangan Bunga .


Bunga langsung mengalihkan pandangannya ke arah Mama Indah dan Pak Fariq .


"Mama ! Papa !" air mata Bunga langsung luruh tak terbendung melihat kedua orang tuanya datang . Ia sudah sangat merindukan mereka .


"Maafin Mama sama Papa ya Nak !"ucap Pak Fariq lagi .


"Papa sama Mama jangan tinggalin Bunga lagi !" ucap Bunga , bibirnya bergetar .


"Iya sayang ! , kami gak ninggalin Bunga lagi" Mama indah langsung memeluk Bunga , dan menciumi seluruh wajah Bunga , ia juga sudah sangat merindukan putrinya itu ,putri yang suka membuatnya selalu kesal dan jengkel dengan sikap tengilnya .


"Papa gak ingin peluk Bunga ?" tanya Bunga , melihat Pak Fariq masih berdiri .


"Mamanya nempel gitu sama Bunga , gimana Papa mau peluk , entar Mamanya yang kena peluk !" jawab Pak Fariq .


"Sakit Mama !, Bunga 'kan lagi sakit !" Bunga mengerucutkan bibirnya sambil mengelus elus hidungnya .


"Rasain !" Mama Indah pun menjauhi Bunga .


"Papa ! aku kangen Papa !" ucap Bunga setelah Pak Fariq memeluknya .


"Papa juga kangen dengan putri nakal Papa ini !"balas Pak Fariq , kemudian mencium kening Bunga .


"Kembalilah ke rumah Pah ! , Itu rumah Papa dan Mama ! . Selama ini Papa dan Mama tinggal dimana ?" tanya Bunga .


"Di rumah Mama yang di pinggir kota !" jawab Pak Fariq .

__ADS_1


"Ck ! ada rumah yang besar , malah suka tinggal di rumah yang kecil" decak Bunga . ia sudah tau , rumah Mama Indah yang berada di pinggir kota sangatlah kecil , hanya berukuran 6×10 meter . Rumah itu adalah rumah orang tua Mama Indah .


"Kalau kami kembali ke rumah itu , apa kamu masih mau kembali ke rumah itu ?. Bukankah kamu sudah betah tinggal di rumah suamimu ?"tanya Pak Fariq tersenyum .


Bunga diam berpikir , kemudian di alihkannya pandangannya ke arah Arya , yang duduk di kursi di samping brankar. Bunga berpikir , apa dia akan kembali juga ke rumahnya jika keluarganya kembali tinggal disana ? . Bunga bingung , apa dia akan meninggalkan Arya sendiri di rumahnya ?. Sepertinya Bunga sudah terbiasa dengan Arya di sampingnya , sudah terbiasa tidur di pelukan Arya .


"Terserah kamu mau tinggal di mana sayang ! , mau di rumahku atau di rumahmu , aku akan menurutimu !" ucap Arya , mencium punggung tangan Bunga yang tidak pernah ia lepas dari tadi .


Bunga mengalihkan pandangannya ke arah Pak Fariq dan Mama Indah." Mah ! Pah ! , boleh Aaryan tidur di rumah kita ?" pertanyaan polos itu meluncur begitu saja dari bibir Bunga .


"Emang kalau Mama gak bolehin , kamu gak mau kembali kerumah itu ?" tanya balik Mama indah .


Bunga diam tidak menjawab , kalau Arya gak boleh tidur di rumah mereka, apa dia gak mau kembali ke rumah mereka ?. Sepertinya Bunga gak mau , dia gak mau tidur terpisah dengan suaminya .


"Bukankah kamu gak menyukai guru galakmu itu ?" goda Mama Indah ."Dulu aja nolak nolak mau di nikahkan , sekarang kok malah nempel kaya pranko ?" cibir Mama Indah lagi .


"Mama !" rengek Bunga manja , mengerucutkan bibirnya .


"Pah ! boleh ya ! Aaryan tidur di rumah kita ?" tanya Bunga lagi ke Pak Fariq .


"Tentu boleh dong sayang ! , emang kamu mau tidur terpisah lagi dari suamimu ?" Pak Fariq ikut menggoda Bunga , Bunga semakin mengerucutkan bibirnya , jelas Bunga gak maulah tidur terpisah dengan si burung gagaknya .


"Emang Arya mau pindah rumah , ninggalin rumahnya begitu saja ?" tanya Mama Indah lagi kepada Bunga . Bunga mengalihkan tatapannya langsung kepada Arya , seperti meminta jawaban . pikiran Bunga tidak akan sampai kesana , bukankah setelah menikah ia ikut tinggal di rumah suaminya ? , ia akan ikut kemanapun suaminya membawanya ?.


Arya juga diam tidak menjawab , jika ia tinggal di rumah Bunga , dimana harga dirinya sebagai suami , tentu Arya tidak mau tinggal di rumah Bunga , apa lagi harus tinggal satu atap dengan mertuanya , pasti itu tidak akan terasa nyaman. Kalau untuk sesekali berkunjung di ke rumah keluarga Bunga dan tidur disana , tidak masalah bagi Arya . Dan untuk tinggal terpisah dengan Bunga , Arya juga tidak mau lagi , ia juga sudah terbiasa dengan kehadiran Bunga tidur di sampingnya .


Hening


Bunga dan Arya sama sama diam saling berpandangan . Apakah Arya akan kembali ke perjanjian sebelum menikah , Bunga akan tinggal bersama keluarganya sampai lulus sekolah ?. Jika Bunga masih ingin tinggal bersama keluarganya , Arya tidak bisa memaksa Bunga , ia hanya bisa pasrah . Apa lagi Arya sudah melanggar satu janjinya , untuk tidak menggauli Bunga . Semua keputusan ada pada Bunga .


Bunga yang masih pemikirannya belum dewasa , ia berharap Arya mau tinggal bersamanya di rumah keluarganya . Bunga masih ingin tinggal dengan keluarganya , tapi Bunga juga tidak ingin tinggal terpisah dari Arya , bingungkan ?.

__ADS_1


.


.


__ADS_2