
Setelah lima hari di rawat di rumah sakit , kini Bunga sudah pulang ke rumah . Dan hari ini Bunga akan masuk sekolah untuk mengikuti ujian kenaikan .
Arya menurunkan laju kenderaannya ketika hendak memasuki gerbang sekolah . Semua mata yang melihatnya , langsung tertuju kepada mobil hitam milik Arya . Mereka sudah menebak , kalau Bunga ikut di dalam mobil tersebut .
"Sayang !" Panggil Arya , mengusap kepala Bunga ."Ingat ! kontrol emosi ya !, tidak usah menghiraukan tatapan orang , apa lagi mendengarkan omongan orang ! , pokus aja sama ujianmu !, oke !" ucap Arya .
Bunga menganggukkan kepalanya lemah , karna kesehatannya belum pulih total , tapi ia harus mengikuti ujian supaya ia bisa naik kelas .
"Jangan takut ! , tidak akan ada lagi yang berani mengganggumu lagi " ucap Arya , Bunga menganggukkan kepalanya lagi . Arya pun membuka pintu di sampingnya , dan langsung turun dari dalam mobil . Berjalan memutari bagian depan mobilnya ke arah pintu di samping Bunga , dan lalu membukanya , membantu Bunga keluar dari dalam mobil .
"Pelan pelan aja sayang !" ucap Arya , menutup pintunya kembali setelah Bunga keluar . Semua itu tentu tidak luput dari perhatian siswa dan siswi , meski masih banyak yang tidak menyukai Bunga /atau lebih tepatnya iri . Tapi sudah tidak ada lagi yang berani berbicara , semua bungkam , dari pada masuk penjara ! pikir mereka .
Tanpa peduli dengan tatapan orang orang , Arya pun melingkarkan satu tangannya ke pinggang belakang Bunga , menuntun Bunga berjalan , mengantarnya sampai ke kelasnya , karna Bunga masih agak lemah .
Sampai di dalam kelas Bunga akan mengikuti ujian , Arya pun membantu duduk di bangkunya .
"Sayang ! aku pergi dulu ya !" pamit Arya tangannya mengusap kepala Bunga .
"Iya !" jawab Bunga tersenyum lemah,sambil menganggukkan kepalanya . Arya pun mencium kening Bunga , kemudian keluar dari dalam kelas .
Melihat itu , siswa siswi yang berada di dalam kelas , diam tidak ada yang berani berbicara atau sekedar berbisik . Bunga yang merasa di perhtikan pun, diam saja , menganggap tidak ada orang di dalam kelas .
"Bunga...!"
Pemilik suara cempreng itu langsung berlari ke arah Bunga dan langsung memeluknya . Siapa lagi kalau Bukan Vani , datang bersama Tari dan Gandi .
"Ngapain kalian datang kesini ? , ini 'kan ruangan kelompok A , kalian kelompok B" tanya Bunga . Dari dulu Bunga tidak pernah satu ruangan dengan ketiga sahabatnya itu .
"Pak Arya membuat kami masuk ke kelompok A , jadi kami mengikuti ujian disini !" jawab Vani , di angguki Tari dan Gandi .
"Leo mana !, perasaan aku gak pernah melihat dia ?" tanya Bunga lagi, semenjak ia sakit , Leo tidak pernah datang menjenguknya datang bareng ketiga sahabatnya .
"Dia pindah sekolah !"jawab Gandi .
"Oo !" Bunga mengangguk anggukkan kepalanya , percaya .
Gandi Vani dan Tari pun mendudukkan tubuh mereka di bangku yang berada di samping kiri dan kanan Bunga .
"Benar meja kalian di situ ? , apa gak salah ?" tanya Bunga , melihat ketiga temannya duduk satu baris dengannya .
"Pak Arya yang mengaturnya !" jawab Vani lagi .
Bunga mencebikkan bibirnya , ia merasa sudah seperti di kawal bodigart . Arya sudah sungguh terlalu berlebihan menurut Bunga . Bunga 'kan bukan penakut , ngapain juga harus di kawal , pikir Bunga .Bikin malu miss bajing loncat aja ! .
Seluruh peserta ujina sudah duduk di bangku masing masing , karna bel pertanda ujian akan segera mulai sudah berbunyi . Dan Para pengawas ujian pun sudah berjalan menuju kelas masing masing .
"Selamat Pagi !"
Sapaan itu langsung mengalihkan pandangan murid peserta ujian yang ada di kelas Bunga ke arah pintu .
__ADS_1
"Selamat pagi juga Pak..!" seru semua murid . Melihat Arya yang masuk menjadi pengawas ujian , semua murid menghela napas lemah . Karna Arya akan sangat ketat mengawasi mereka , dan tidak akan mentoleri orang yang ketahuan mencontek , dan akan merobek kertas ujian bagi siapa yang ketahuan .
"Silahkan kumpul buku atau sejenisnya ke depan !. yang boleh di atas meja hanya pena saja" perintah Arya . Sebagian murid pun maju ke depan , mengantar buku yang ada di laci masing masing . Setelah itu baru Arya membagi kertas soal ujiannya . Selesai membagikannya , seperti biasa , Arya berjalan ke arah bangku belakang kelas , mengawasinya dari belakang .Semua murid pun mulai membaca soal dan menjawab pertanyaan . Hening ! semuanya nampak sibuk .
Lima menit
Lima belas menit
Setengah jam
Empat puluh menit
Bunga yang merasa tubuhnya lemah pun menyangga dagunya dengan satu tangan , dan satu tangannya lagi sibuk menulis . Sesekali Bunga nampak memijit keningnya yang pusing , mikirin jawaban soal ujiannya .
Melihat itu , Arya melangkahkan kakinya ke arah bangku Bunga ."Kenapa sayang ?" tanya Arya kawatir , Bunga mendongakkan kepalanya ke arah Arya yang berdiri di sampingnya ."Pusing ?" tanya Arya lagi .
Bunga menganggungkan kepalanya ," pusing mikirin jawabannya !" jawab Bunga . Tiba tiba..
TAKK !
"Aw !"
Gemas , Arya pun mendaratkan satu sentilan di kening Bunga . Membuat Bunga mengerucutkan bibirnya sambil tangannya mengusap usap keningnya .
"Cepat kerjakan , sebentar lagi waktunya habis !" ujar Arya .
"Vani ! , kumpulkan kertas ujianmu !" suruh Arya .
"Belum selesai Pak !" jawab Vani .
Arya pun kembali ke bangku barisan paling belakang , mengawasi siswa siswinya dari sana .
Ujuan pun berlangsung selama dua jam ,sampai bel pertanda waktu ujian hari ini berakhir .
"Kumpul semua kertas ujiannya ke depan , dan silahkan pulang !" perintah Arya berjalan ke arah meja guru di depan kelas .
"Baik Pak !" seru semuanya . Kemudian mengantar lembaran ujian masing masing ke meja guru dan langsung keluar kelas .
"Bubu ! kantin yuk ! , lapar !" Ajak Vani , setelah mereka keluar dari dalam kelas , di Angguki Tari dan Gandi .
"Ayok ! aku juga lapar nih ! " balas Bunga . Mereka berempat pun berjalan bareng ke kantin . Dengan posisi Bunga di tengah tengah Vani dan Tari , sedangkan Gandi berjalan di belakang mereka seperti pengawal .
"Kamu udah sembuh Bubu ?, kamu masih kelihatan lemah gitu !" tanya Gandi , terlihat Bunga berjalan , tidak seperti si Bunga si Miss bajing lompat .
"Udahlah ! , hanya saja kekuatanku belum kembali sempurna . Sepertinya aku butuh tujuh malam kliwon untuk mengembalikan kekuatanku yang hilang" jawab Bunga .
"Aku lupa ! yang di tanya bukan orang waras !" balas Gandi , kemuadian memutar kedua bola matanya malas .
Di perjalanan ke kantin , tiba tiba Bunga memperlambat jalannya , karna melihat salah satu orang yang menyeretnya dari dalam toilet kemarin berjalan datang dari arah berlawanan .
__ADS_1
Vani dan Tari yang melihatnya juga , langsung memegangi tangan Bunga , yang langsung di tepis Bunga , kemudian melangkahkan kakinya kepada sisiwi yang bernama Dewi itu . Tanpa aba aba dan berbicara , Bunga langsung menarik rambut Dewi dengan sekuat tenaga , membuat dewi langsung menjerit kesakitan .
"Aaaa....sakit ...!!!" jerit Dewi , membuat orang orang di sekitarnya langsung menoleh ke arah sumber suara kesakitan itu .
Bunga tidak peduli , amarah sudah menguasainya , Bunga pun semakin manarik kencang rambut Dewi .
"Bagaimana ? , sakit ! , itu belum seberapa dengan sakit yang kurasakan saat aku harus kehilangan calon anakku ! . Bagaimana jika nyawa di bayar dengan nyawa ?" tanya Bunga , berbicara dengan rahang mengeras .
Dewi tidak menjawab , ia sibuk berusaha melepas tangan Bunga dari rambutnya .
"Bagaimana Dewi ?, apa kamu siap menggantikan nyawa anakku ?" geram Bunga .
"Bubu ! Bubu ! , sudah Bubu ! , kontrol emosimu Bubu !" ucap Tari . Ia dan Vani berusaha melepas tangan Bunga dari rambut Dewi .
"Aku harus menghabisinya !" ucap Bunga .
"Tolong lepas rambutku Bunga !, aku mengaku salah ! , bukankah masalahya sudah selesai , dan sudah berdamai ?" ucap Dewi , menahan rasa sakit di kepalanya .
"Tapi aku tidak ingin berdamai !, aku akan mencari keadilan untuk anakku ! . Bukankah kau yang mengatakan aku hamil saat itu !, lantas kenapa masih saja kau mencampakkanku ke tanah dengan kuat ?" tanya Bunga .
"Sayang..!" Arya yang baru datang di jemput Gandi , langsung memeluk Bunga ."Sayang ! sudah ya !" bujuk Arya , mencoba melepas tangan Bunga dari rambut Dewi .
"Nggak ! Aaryan ..! , gara gara dia kita harus kehilangan bayi kita !" ucap Bunga menangis , tidak mau sama sekali melepas rambut Dewi .
Arya menghela napasnya , sebenarnya juga ia marah , tapi ia harus menahan diri . Karna semua permasalahan juga sudah selesai dengan jalan damai . Dan jika ia juga ikut marah , siapa yang akan menenangkan Bunga .
"Sabar sayang ! , tahan emosi , kamu belum sembuh total sayang , tidak bagus untuk kesehatanmu !" bujuk Arya , mengecup ngecup ujung kepala Bunga .
"Aku minta maaf Bunga !" ucap Dewi, sudah menitihkan air mata karna kepalanya yang terasa sangat sakit , serasa kulit kepalanya mau jopot .
"Vani ! Tari ! , tolong bantu lepaskan tangan Bunga dari rambut Dewi !" suruh Arya . Karna Bunga tak mau melepasnya juga .
"Lepas ya sayang !" bujuk Arya lembut .
"Gak Aaryan..!" bantah Bunga , dadanya sudah naik turun di pelukan Arya .
Sampai tangan Bunga pun berhasil di lepaskan Vani dan Tari . Arya langsung menggendong Bunga ala brydal stile membawa Bunga dari kerumunan . Di ikuti Vani Tari dan Gandi , sahabat Bunga paling setia .
"Dia itu pembunuh Aaryan..!" tangis Bunga di dalam gendongan Arya .
"Sssttt....! sabar ya sayang !, anak kita sudah tenang di surga . kalau kamu seperti ini , anak kita pasti sedih sayang !" ucap Arya mencium kening Bunga ,sambil berjalan menuju ruangannya .
Sampai di depan ruangannya , Arya pun menurunkan Bunga . Karna ia harus mengambil kunci di saku celananya . Setelah membuka pintu ruangannya , Arya pun menuntun Bunga masuk .
.
.
.
__ADS_1