
Hari berganti minggu dan Bulan, Rania sudah bisa berjalan, meski tidak bisa melihat. Rania sudah pasrah dengan takdirnya, yang mengalami kebutaan karna perbuatannya sendiri, Rania sudah berdamai dengan keadaannya, sudah tidak terpuruk lagi. Sekarang Rania hanya di rumah saja, tidak bisa kemana mana kalau tidak ada yang membawanya.
Bunga, sekarang ia sudah duduk di bangku kelas tiga , satu smester lagi ia akan lulus. Ia sudah Rajin belajar tanpa di suruh lagi, dan bangun pagi tanpa di bangunin lagi. Setiap Pagi Bunga sudah turun tangan sendiri menyiapkan sarapan untuk mereka, dan sore hari memasak makan malam .Meski tak seenak masakan Bu Ipa , yah ! lumayanlah dilidah !. Arya akan dengan semangat memakan makana istri tercintanya itu. Sudah sangat banyak perubahan dalam hidup Bunga, menikah benar benar membuatnya cepat berpikir dewasa.
Arya suami tampan yang merangkap menjadi guru sekaligus menjadi wali kelasnya itu. Masih sama, tetap galak saat di sekokah dan akan berobah menjadi kucing peliharaan ketika di rumah atau saat mereka berdua saja. Sering kali Arya menghukumnya karna tidak mengerjakan PR, padahal karna ulahnya sendiri, sering mengganggu Bunga ketika akan mengerjakan PRnya. Jika Bunga menolak, Arya selalu bilang 'Menolak suami itu berdosa sayang !'.Malamnya di hukum di atas tempat tidur, besok harinya di hukum lagi di sekolah. Seperti hari ini..
"Kumpulkan semua PRnya, bagi yang tidak mengerjakan PR, silahkan ke depan berdiri satu kaki !" suruh Arya.
Langsung saja Bunga menatap Arya dengan tatapan permusuhan. Bunga memilih masuk ke jurusan IPS, seharusnya Arya tidak masuk ke dalam kelas mereka, karna tidak ada pelajaran matematika di jurusan itu. Meski ada yang berhitung, itu hanya pelajaran akutansi saja. Arya yang otaknya di atas rata rata bisa menguasai seluruh mata pelajaran, ia bisa mengajar mata pelajaran apa saja. Dan karna Arya adalah pihak pengelola sekolah milik istrinya itu, suka suka dia mau mengajar di kelas mana dan mata pelajaran apa. Arya juga memilih menjadi wali kelas di Kelas IPS2, Karna ada istrinya disana. Seolah tidak ada bosannya, Arya selalu ingin sering sering melihat istri tombay imut imut manja menggemaskannya itu.
Arya tersenyum dalam hati, melihat Bunga menatapnya dengan marah karna ulahnya tadi malam.
.
.
kilas balik
Usai makan malam, Bunga dan Arya masuk ke dalam kamar mereka. Bunga langsug berjakan ke arah meja belajarnya, mengingat ia memiliki banyak PR, terutama Mapel Akutansi dan Sejarah. Bunga mengeluarkan buku bukunya dari tas sekolahnya, kemudain mendudukan tubuhnya di bangku meja belajarnya.
"Sayang !" panggil Arya menjatuhkan dagunya di bahu Bunga, mengendus leher Bunga.
"Aaryan !"tegur Bunga karna ke gelian, bagaimana bisa ia konsentrasi belajar, jika kucing jantannya itu mengganggunya. Biasaya selesai makan malam, Arya pergi lagi mengecek usahanya, ini kenapa malah mengganggunya ?.
"Sudah tiga hari aku pulang kerja, kamu sudah tidur. Sekarang aku gak bisa nahan lagi sayang !. Ayo sayang ! tunaikan kewajibanmu menjadi istri yang soleha!" ucap Arya di telinga Bunga. Membuat bulu bulu halus Bunga meremang.
"Gak mau !, PRku banyak ! aku gak mau kamu menghukumku besok di sekolah !" tolak Bunga.
"Janji besok aku gak menghukummu sayang !" Arya sudah mencium telinga Bunga hingga basah, sesekali menghembuskan napas hangatnya.
"Aaryan !"
Suara Bunga terdengar sudah berobah, Arya tersenyum, semakin menjadi jadi memancing gairah istri labilnya itu. Entah karna pengaruh usia masa puber atau apa, tidak sulit bagi Arya membangkitkan birahi istrinya yang sudah bertambah bobot berat badannya itu. Arya sendiri sudah kewalahan saat menggendong istrinya itu. Semenjak mengkonsumsi obat penunda kehamilan, Berat badan Bunga naik derastis, dan nafsu makannya bertambah. Tapi Arya tidak mempermasalahkan itu, menurutnya Bunga terlihat bertambah seksi dan menggoda imannya.
"Aaryan..!" Bunga masih berusaha menolak, saat Arya mengangkat tubuhnya, membawanya ke kasur.
"Aku tau kamu tidak bisa menolak sayang !, sebentar saja !, nanti aku bantu ngerjain PRnya" Arya sudah menindih Bunga, mulai melancarkan aksinya.
Satu jam berlalu, Arya menjatuhkan tububnya di samping Bunga yang sudah lemah tak berdaya, yang membelakanginya.Memeluk Bunga lalu memejamkan matanya, menikmati sensasi sisa sisa percintaan mereka dengan napas yang masih memburu dan keringat yang masih bercucuran.
Satu menit
Lima menit
Sepuluh Menit
Lima belas menit
__ADS_1
"Aaryan !" panggil Bungan, karna tidak merasakan pergerakan Arya dari tadi. Terdengar napas Arya teratur dan mendengkur halus. Bunga memutar pelan tubunya di dalam pelukan Arya , ke arah Arya. Dilihatnya Arya sudah tertidur pulas, membuat Bunga mengeram kesal. Selalu seperti itu, Kalau sudah merasakan enak, Arya pasti langsung tertidur pulas, lupa segalanya.
Bunga yang merasa badannya sudah lelah pun, tidak peduli dengan PRnya lagi. Bunga pun memutuskan untuk menyusul Arya ke alam mimpi, meski dengan rasa dongkol.
Off
.
.
Bunga berdiri dari bangkunya, berjalan langsung ke sudut kelas, berdiri satu kaki.
Arya berdiri dari kursinya , berjalan ke arah papan tulis untuk melanjutkan pelajaran berikutnya. Arya mengulum senyumnya setelah ia menghadap ke papan tulis. Jelas Bunga bisa melihatnya, karna ia berdiri sejajar dengan Arya.
Lihat saja, aku gak mau memberimu jatah lagi, batin Bunga, cemberut, Bunga memicingkan matanya ke arah Arya, yang sudah memulai proses mengajarnya.
Pulang sekolah, Bunga tidak menunggu Arya lagi, ia berjalan ke arah gerbang. Ia ingin pergi entah kemana karna marah kepada Arya. Arya benar benar keterlaluan, Dua mata pelajaran, Arya menghukumnya. Kenapa pula Arya mengajar di kelasnya dengan dua mata pelajaran ?. Bunga kesal dengan suami tampan kebangatannya itu.
"Bubu !, tunggu !" teriak Vani dari belakang.
Bunga memutar tubuhnya," Apa ?" ketus Bunga.
"Kamu mau kemana ?"tanya Vani.
"Mama mobilmu ? ayo bawa aku jalan jalan, aku lagi pemgen cari hiburan !"berbicara dengan nada kesal.
Bunga berdecak tak ingin menjawab, gak mungkin juga Bunga menceritakan apa yang dilakukan guru galak itu kepadanya tadi malam.
"Mana mobilmu ?"tanya Bunga lagi, kesal.
"Gak bawa !, tadi kutinggalin di bengkel untuk di servis" Jawab Vani.
"Tari sama Gandi belum keluar dari kelas mereka ?"tanya Bunga lagi. Semenjak kelas tiga, mereka pisah kelas karna mengambil jurusan yang berbeda.
"Sepertinya belum !"jawab Vani.
"Nongkrong di cafee yuk !, kita sudah lama gak kesana !" ajak Bunga.
"Kita berdua ?"tanya Vani.
"Ajak Tari sama Gandi , sms aja mereka, kota tunggu disana" ucap Bunga. Vani menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kemudian mengeluarkan phonselnya dari saku roknya, lalu mengirim pesan kepada dua sahabat mereka Tari dan Gandi.
"Ayo cepat kita pergi dari sini, jangan sampai si burung gagak keluar !"ujar Bunga, menarik Vani berjalan masuk ke dalam angkot yang sengaja berhenti di depan gebang sekolah.
Sampai di dalam cafee, Bunga dan Vani mendudukkan tubuh mereka di salah satu meja kosong. Mereka pun memesan minuman dingin karna merasa sangat haus. Bunga cemberut , berulang kali melihat layar phoselnya, Arya tidak mengirim pesan kepadanya, menayankan dimana keberadaannya. Seharusnya 'kan Arya bertanya diamana dia, kenapa gak menunggunya.
"Van ! apa sudah ada kabar dari Tari sama Gandi ?"tanya Bunga.
__ADS_1
"Belum !" jawab Vani.
Tak lama kemudian minuman yang mereka pesan pun datang di antar pelayan. Bunga langsung memimunnya sekali sedot langsung tandas.
Vani, ia menyedot minumannya pelan dan santai, seskali melirik Bunga yang tampak sangat kesal.
"Bubu ! kamu kenapa ?, dari tadi mukanya masam gitu ?" tanya Vani.
"Gak tau ! gak semangat aja, lagi marah sama si burung gagak !" jawab Bunga." Van ! pesan makan aku lapar" suruhnya.
"Pesan aja sendiri !"tolak Vani.
Bunga kesal, ia pun melambaikan tangannya kepada pelayan di cafee itu.
"Apa ada yang bisa di bantu Kak ?"tanya pelayan cafee itu ramah, sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Saya mau pesan spageti dua porsi, jus jeruk satu" jawab Bunga.
"Itu aja Kak !, ada lagi ?. temannya ?"tanya Pelayan cafee itu. melihat ke arah Vani yang sibuk dengan gosip di phonselnya.
"Gak usah, dia sudah kenyang makan gosib aja !" jawab Bunga. Membuat pelayan yang di perkirakan masih anak sekolah itu tersenyum.
"Kalau begitu silahkan di tunggu kak !"Pelayan laki laki yang masih ABG itu pun undur diri, berjalan ke arah dapur cafee, menyampaikan pesanan Bunga kepada Shef yang akan memasaknya.
Tak lama menunggu, pesanan Bunga pun datang, karna cafee lagi sunyi.
"Silahkan Kak !" ucap Pelayan yang mengantar makanan pesanan Bunga, tersenyum ramah.
"Trimakasih !" balas Bunga terseyum dengan tidak kalah ramahnya.
Bunga lansung memindahkan spageti dari piring satu ke piring yang satunya. Nampa piring yang berada di depan Bunga menggunung. Bunga mengaduk aduk mie spageti di piringnya, kemuadian menyendoknya dengan garpu, dan langsung melahapnya.
Vani yang melihatnya, geleng geleng kepala. Sahabatnya itu kelihatan rakus, seperti sudah tidak makan tiga hari. Padahal Bunga makan tiga sampai empat kali sehari, di tambah lagi cemilan.
"Bubu ! apa kamu gak takut Pak Arya ilfil melihat bobot tubuhmu yang hampir seperti gajah ?" tanya Vani.
Bunga langsung menghentikan kunyahannya, menajamkan pandangannya ke arah Vani.
"Dia sangat menyukai tubuhku yang Mon- tok ! ini. Katanya empuk ! seperti bakpau baru di keluarin dari kukusan" jawab Bunga. melahap makanan di depannya lagi.
"Kamu tau sendiri banyak yang naksir dengan Pak Arya. Apa kamu gak takut ?, Pak Arya tergoda dengan wanita lain !" tanya Vani.
"Udah deh Vani, gak usah nakut nakutin !" ujar Bunga. Bunga yakin Arya mencintainya, bukan karna fisik atau kecantikan, apa lagi karna harta.
.
.
__ADS_1