Guru Galak Itu Suamiku

Guru Galak Itu Suamiku
Bab 71


__ADS_3

Dengan cepat Bunga berlari dari pintu ke arah gerbang dan langsung menaiki motor tukang ojek yang di pesannya terlebih dahulu. Bunga tadi tidak langsung berangkat ke sekolah, Bunga penasaran dengan maksud kedatangan orang tuanya, ia pun menguping di balik pintu. Tanpa sepengetahuan mereka, Bunga juga sudah mengetahui kejadian tadi malam di rumah warisan milik Kakeknya, dari Bi Siti pembantu di rumah itu. Tadi malam saat Arya pulang, Bunga juga tidak benar benar tidur, Bunga mengetahui kalau Arya menangis menahan isak.


"Ayo cepat jalan Pak !" suruh Bunga masih dengan napas ngosngosan bercampur sesak du dadanya, mengingat maksud kedatangan orang tuanya kerumahnya dan Arya pagi pagi. Bunga tidak menyangka jika kedua orang tuanya menuduh Arya suami melakukan tindak kekerasan.


Ini gak bisa di biarkan, Batin Bunga .


Sampai di depan gerbang sekolah, Bunga menyuruh Bapak tukang ojek yang membawanya masuk mengantarnya ke dalam sekolah.


"Pak ! masuk aja, aku sudah hampir telat" suruh Bunga .


"Emang boleh Dek ?"tanya si tukang ojek .


"Boleh Pak !"


Siapa yang berani melarang si pemulik asli sekolah itu, selain Arya. Si tukang ojek pun langsung melajukan kenderaanya memasuki gerbang sekolah.


Prrrriiiiittt....!!!


Satpam yang berjaga lansung menyetop si tukang ojek yang menyelonong masuk.


Bunga berdecak, lalu membuka helemnya karna si Bapak tukang ojek menghentikan laju kenderaannya. Ia sudah mau telat, malah si Pak Satpam menghalangi jalannya.


"Woi Pak satpam !, apa kamu ingin di pecat ?"sahut Bunga kesal. Bunga tidak serius dengan ancamanya, dia hanya kesal, ingat ! Bunga bukanlah orang yang sombong.


"Nak Bunga rupanya !" balas Pak Satpam itu.


"Ayo Pak ! antar aku sampai ke depan kelas !"suruh Bunga lagi ke si Bapak tukang ojek. Karna lima menit lagi ujian sudah akan di mulai.


"Bapak gak tau jalannya"ujar si tukang ojek, ada ada aja penumpangnya itu, menyuruhnya mengantar sampai depan kelas.


Bunga berdecak lagi," Bapak turun !, aku minjam motor Bapak sebentar !"Ujar Bunga.


"Tapi dek ! Bapak mau kejar uang setoran kredit motor saya !" tolak si Bapak tukang ojek. Kalau ia mengantar Bunga sampai ke depan kelas 'kan !, jadi lama , padahal ia harus mencari penumpang lagi .


"Aduh Pak ! aku sudah mau telat nih , nanti aku kasih uang lebih !, Okeh !." Bunga mendorong tubuh si Bapak tukang ojek yang duduk di depannya, sampai si tukang ojek itu turun dari atas motor.


Dengan cepat Bunga langsung melajukan motor bebek si tukang ojek ,menaiki teras sekolah. Melihat para murid murid sudah tidak ada yang berkeliaran, semua sudah pada masuk ke dalam kelas. Bunga pun melajukan kenderaan motor yang ia bawa dengan kecepatan tinggi, seperti pembalap propesional di koridor sekolah dengan terus membunyikan klasonnya. Tanpa Bunga sadari, Ia sudah memancing para seluruh siswa dan siswi berdiri dari bangku masing masing, mengintip dari kaca jendela kelas masing masing, karna mendengar suara kebisingan dari motor yang ia bawa. Melihat Bungalah pelakunya, semua kembali duduk ke bangku masing masing , Mereka sudah tidak heran lagi dengan kelakuan pewaris pemilik sekolah itu.


Bunga menghentikan laju motor tukang ojek itu tepat di depan kelasnya. Langsung Turun setelah mematikan mesinnya, masuk ke dalam kelas berjalan ke bangkunya dan langsung duduk.


"Bubu ! kenapa kamu telat ?, jangan bilang kamu dan pak Arya sama sama telat karna anu anu tadi malam!" tanya Vani sekalian menuduh.


Bunga yang masih napasnya memburu, karna barusan melakukan adegan buru buru, tidak mendengarkan sahabat yang duduk di sebelahnya berbicara, sehingga membuat Vani kesal.


"Bubu !" panggil Vani, karna merasa di kacangi.

__ADS_1


"Selamat pagi semua !" seorang pengawas masuk ke dalam kelas membawa kertas lembaran ujian mereka .


"Selamat pagi Pak...!" jawab semuanya seretak dengan suara lemah, melihat siapa pengawas yang masuk.


Dia lagi !, batin mereka semua , melihat Arya lagi lah yang menjadi pengawas mereka . Kenapa begitu ?, jawabannya pasti karna Bunga istri dari guru tampan mereka.


Bunga melihat Arya kilas yang ternyata melihat ke arahnya juga. Arya nampak menghela napas kasar, terlihat seperti kelelahan, dan langsung membagikan kertas ujian tanpa berbicara lagi. Baru pagi pagi, Arya sudah nampak berkeringat . Sepertinya Arya berjalan buru buru atau berlari dari parkiran tadi, mengejar supaya tidak terlambat masuk ke dalam kelas .


Aduh ! sepertinya Aaryan melihat aku tadi memawa motor si Bapak tukang ojek sampai ke depan kelas . Sepertinya si Bapak tukang ojek itu belum mangambil motornya, Batin Bunga , karna belum ada mendengar suara motor yang ia parkirkan di depan kelas .


"Bunga ! cepat kerjakan soal ujianmu ! , kenapa masih bengok !" suara berat itu langsung menbuyarkan lamunan Bunga.


"Iya Pak !" balas Bunga tanpa menoleh ke arah Arya yang sudah berdiri di bagian belakang kelas.


Dari barisan bangku belakag , Arya menajamkan netranya ke arah Bunga, pikirannya terpokus kepada Bunga . Arya yakin Bunga tadi menguping pembicaraannya dengan kedua orang tua Bunga . Karna melihat Bunga membawa motor tukang ojek dan memarkirkannya di depan kelas. Arya menarik napas dalam lalu mengeluarkannya perlahan.


Aku sangat yakin , Pak Arya sama Bunga tadi malam melakukan adegan berbahaya . Pasti mereka melakukannya ber ronde ronde , sampai sampai mereka terlambat ke sekolah karna telat bangun!, batin Vani . Bukannya memikirkan jawaban soal di depannya , ia malah sibuk mikirin urusan dapur rumah tangga orang.


Tari dan Gandi mereka hanya sibuk dengan ujian mereka, tanpa peduli sedikit pun dengan Bunga sahabat mereka. Karna apa pun yang di lakukan Bunga, baik itu yang biasa maupun yang luar biasa, Itu sudah biasa bagi mereka.


Di luar pagar sekolah, si Bapak tukang ojek yang bertubuh besar itu melap keringatnya dengan kesal. Ia sudah kecapean mendorong motornya sejauh kurang lebih dua ratus meter, karna ulah penumpang langganannya yang selalu memesannya secara manual itu. Ia belum sarapan pagi, malah ia sudah menguras tenaganya banyak banyak. Dan pelanggannya itu juga belum membayar ongkosnya.


Usai ujian hari ini, Bunga langsung keluar dari dalam kelas setelah Arya mempersilahkan semua murid keluar . Bunga berjalan dengan cepat menghiraukan ketiga sahabatnya yang memanggil manggilnya.


"Bubu !" seru Vani Gandi dan Tari bergantian, mereka ingin mengajak Bunga ke kantin mengisi perut sebelum pulang.


Sampai di depan gerbang, Bunga langsung menaiki angkot yang berhenti di depan gerbang, menunggu anak sekolah pulang.


"Jalan Pak !"suruh Bunga, setelah mendudukkan tubuhnya .


"Tunggu sebentar Dek !, mobilnya belum penuh, masih muat lima orang lagi" ujar si supir angkot.


Bunga langsung mengeluarkan uangnya dari dalam saku roknya, dan memberikan uang dua lembar berwarna merah.


"Saya sangat buru buru Pak !, biar aku yang menutupi kekurangannya!"


Si supir angkot itu menajamkan pandangannya ke arah Bunga yang duduk di belakang kursinya.


"Saya minta tolong Pak !"ucap Bunga lagi, wajahnya terlihat memohon.


"Baiklah!" supir itu pun menerima uang dari tangan Bunga, dan langsung melajukan kenderaannya.


Di dalam kelas, Arya menghela napasnya, melihat gelagat Bunga, sepertinya dugaan Arya benar, tadi sudah menguping pembicaraan mereka saat di rumah. Arya pun keluar dari dalam kelas.


.

__ADS_1


.


Bunga turun dari dalam angkot , melangkahkan kakinya ke dalam sebuah restoran . Bunga membuka pintu yang berada di dalam restoran itu dengan kasar.


Brankk !!!


Bunga melangkahkan kakinya ke meja yang berada di dalam ruangan itu. Tanpa peduli dengan pengunjung dan karyawan yang kaget melihat ke arah ruangan yang ia buka.


"Apak maksudmu Kak Rania ? Hah !!!"


Brakk !!!


Bunga memukul meja Rania keras dengan kedua tangannya. Napas Bunga memburu, dadanya naik turun karna emosinya yang meluap. Bunga tidak terima kakaknya Rania memfitnah dirinya dan Arya suaminya.


Rania yang di bentak Bunga, terlihat tenang, menajamkan pandangannya ke arah Bunga. Ia sudah menduga, Bunga pasti datang menemuinya, Rania sudah mempersiapkan diri untuk itu.


"Jangan pikir Kak Rania bisa merebut Arya dariku !"Bunga berbicara dengan merapatkan gigi giginya.


"Sebegitu yakinkah kamu kalau Arya mencintaimu ?. Bisa saja dia menikahimu karna hartamu !"ujar Rania berbicara santai, melipat kedua tangannya di depan dada, dengan posisi duduk menyender di kursi hangatnya.


"Cih ! Gak usah Kak Rania mempengaruhiku !. Kak Rania mungkin sangat mengenal Frisilia dan Zoya. Mereka memiliki kekayaan yang lebih banyak dariku, tapi Aaryan tidak memilih di antara mereka!" decih Bunga.


"Atau mungkin Arya hanya ingin memanas manasiku karna dulu sudah selingkuh darinya !, bagaimana kalau Arya hanya ingin balas dendam kepadaku dengan memanfaatkanmu ?" tanya Rania.


Bunga menarik bibirnya kesamping mendengar penuturan Rania."Apa aku harus percaya ?."


Rania mengedikkan bahunya, lalu berbicara."Terserah !"


Bunga menggeleng gelengkan kepalanya menyiratkan kekecewaan, ia tidak menyangka Kakaknya Rania, yang Bunga tau baik dan menyayanginya, bisa berbuat keji dengan memfitnah suaminya.


Bunga memutar pandangannya keseluruh ruangan Rania , kemudian berbicara."Masih hidup menjadi benalu aja sudah belagu !. Aku tau restoran ini kamu yang membagunnya. Tapi dengan menggunakan uangku !" ucap Bunga, menatap Rania dengan pandangan meremehkan.


Meski Pak Fariq dan Mama Indah membesarkannya dengan kasih sayang. Bunga tetap merasa kecewa telah menyembunyikan kebenaran darinya selama belasan Tahun. Selama ini, Bunga merasa dialah yang menompang hidup, dialah yang menjadi benalu.


"Aku harap ! saat kalian nanti pergi meninggalkan kota ini, kalian tidak membawa sepersen pun uangku !"ucap Bunga, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Rania.


Selama beberapa bulan ini, Bunga sudah mempelajari seberapa banyak harta peninggalan mendiang Kakeknya. Sudah mengetahui seluk beluk kemana saja uangnya di pakai. Yang selama ini Bunga tidak mengetahuinya sama sekali.


Ah ! hati Bunga sedikit sakit, selama ini duitnya selalu di batasi . Sedangkan kakaknya Rania, bebas memakai uang dari kekayaannya.


Sampai di luar restoran, Bunga memperlambat jalannya, karna melihat Arya berada di sana seperti menunggunya. Darimana Arya tau kalau ia datang ke restoran Rania ?.


Arya memandang Bunga, dengan posisi menyender di badan mobilnya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2