
Melihat Bunga masih berdiam di sampingnya , Arya menyendok makanan di piringnya lalu menyuapkannya ke mulut Bunga .
"Aa ! buka mulutnya sayang !, kamu gak percaya masakanmu enak" ucap Arya .
Dengan ragu ,Bunga perlahan membuka mulutnya, menerima suapan dari Arya . Bunga mengunyah makanan di mulutnya dengan sangat pelan .
"Bagaimana ?"
Bunga menganggukkan kepalanya seraya tersenyum . Benar ! Arya tidak bohong , kalau rasa masakannya benar enak . Padahal 'kan Bunga baru pertama kali memasak . Tanpa Bunga ketahui , Bu Ipa sudah menambahkan bumbu ke masakannya tadi . Dan tentu itu Arya bisa menebak , kalau masakan Bunga ada campur tangan Bu Ipa .Besok Bunga akan memasak lagi untuk makan malam mereka.
Arya mengusap kepala Bunga dengan sayang . Arya senang , melihat perubahan Bunga yang sedikit demi sedikit . Tidak di pungkiri Arya , kalau ia senang , Bunga mau memasak makanan untuknya .
Arya menambah nasi dan sop ke piringnya . Sebagai hadiah istrinya yang sudah menyiapkan makan malam mereka . Arya ingin menyuapi Bunga makan sampai istri labilnya itu kenyang .
"Aku makan sendiri aja !" ucap Bunga
"Tapi aku ingin menyuapimu cintaku !"balas Arya tersenyum." Buka lagi mulutnya sayang !" ucap Arya , mendekatkan sendong ke bibir Bunga , yang langsung di terima Bunga .
Selesai makan , Arya dan Bunga kembali ke kamar mereka yang berada di lantai dua . Sampai di dalam kamar , Arya langsung membuka laci meja nakas yang berada di samping tempat tidur . Ia mengeluarkan sesuatu dari sana .
"Sayang ! buka mulutnya " suruh Arya , setelah mengeluarkan satu biji pil kecil dari kemasannya .
"Apa itu ?" tanya Bunga yang sudah duduk menyender di kepala ranjang , siap untuk belajar , mempersiapkan ujian besok .
"Penunda kehamilan !" jawab Arya , duduk di pinggir tempat tidur menghadap Bunga .Kemudian memasukkan pil kecil itu ke mulut Bunga ,lalu memberi Bunga minum air putih ." Kamu belum boleh hamil , karna baru ke guguran , harus tunggu beberapa bulan lagi !" ucap Arya tersenyum , satu tangannya mengusap kepala Bunga .
"Apa aku harus meminumnya setiap hari ?" tanya Bunga .
__ADS_1
"Iya sayang !" Arya meletakkan gelas yang sudah di minum separoh di atas meja nakas ."Aku tinggal sebentar gak apa apa ?, aku harus mengunjungi cabang counter yang di daerah XX . Aku janji cepat pulang !" ucap Arya lagi , meminta ijin kepada istrinya . Arya harus ngecek usahanya , karna itu adalah penunjang biaya hidupnya dengan istrinya .
"Tapi janji cepat pulang !" manja Bunga , dengan berat hati ia harus membiarkan Arya pergi lagi untuk mengecek usahanya .
"Iya sayang ! , sebentar aja" ucap Arya , mengecup kening Bunga , kemudian berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah pintu .
"Nanti bawain Burger dua !" seru Bunga sebelum Arya sempat keluar pintu . Maklum , Bunga masih masa pertumbuhan , biar pun baru selesai makan , sebentar lagi ia akan lapar kembali . Sepertinya perut Bunga ada kantong cadanganya .
"Oke cinta !" Arya mengangguk seraya tersenyum , kemudian menutup pintu kamar mereka . Meninggalkan istrinya belajar sendiri . Arya tidak pernah mempermasalahkan istrinya yang tukang makan , sekali pun nanti berat badan istrinya naik 60 kilo , sepertinya tidak masalah bagi Arya . Arya mencintai Bunga , titik ! , tidak peduli seperti apa istrinya itu .
Sampai di halaman Rumah , Arya masuk ke dalam mobilnya , dan langsung melajukannya keluar dari halaman rumahnya .
Bunga yang di tinggalkan Arya pun , langsung membaca bukunya , Bunga sudah berniat rajin belajar , supaya mendapatkan nilai yang bagus . Bunga ingin membuktikan kepada orang orang , kalau ia pantas untuk Arya , kewat kepintarannya , ia ingin membuktikan , kalau ia tidak sebodoh yang orang lain pikirkan . Bunga tidak bodoh bodoh amat , selama ini ia hanya malas belajar .
.
.
"Arya ! apa yang kamu lakukan kepada Rania , sampai dia terluka luka pulang dari rumahmu ?" tanya Pak Fariq . Entah apa yang di adukan Rania , sampai Pak Fariq berasumsi buruk kepada Arya .
Arya menghela napasnya kasar , ia tidak menyangka Rania melakukan hal licik , untuk mengadu dombanya dengan mertuanya . Menjatuhkan nama baiknya kepada Pak Fariq dan Mama Indah .
"Rania membuat Bunga pergi meninggalkan rumah Pah ! . Aku hanya menyeretnya keluar dari rumah" jawab Arya .
"Tapi kenapa Rania sampai bisa terluka Arya ?" tanya Pak Fariq yang lebih percaya kepada putrinya .
"Ranianya mana Pah ?, aku ingin melihat di bagian mananya yang terluka !" tanya Arya . Arya tidak percaya Rania terluka luka , Arya hanya menyeret Rania keluar dari dalam rumahnya , dan tadi sore Rania kelihatan baik baik saja menunggunya di teras rumahnya .
__ADS_1
"Papa ! Arya memukulku sampai aku terjatuh di halaman rumahnya Pah ! . Padahal aku ke rumahnya mau minta maaf kepada Bunga Pah !" tiba tiba Rania datang ke ruang tamu , sudut bibitnya nampak pecah dan sedikit memar , entah siapa yang membuatnya .
"Mau kamu apa Rania ?, kamu ingin aku menceraikan Bunga , lalu menikahimu ?. Sampai kamu memfitnahku dengan tuduhan melakukan kekerasan !" tanya Arya , menatap Rania dengan tatapan marah .0
"Di rumah saya ada cctv Pah ! , Papa bisa mengeceknya sendiri . Apakah aku melakukan tindakan kekerasan kepada Rania atau tidak , Bunga dan Bu Ipa juga ada disana sebagai saksi mata . Assalamu alaikum !" setelah berbicara , Arya langsung keluar dari rumah Pak Fariq . Masuk ke dalam mobilnya , dan langsung melajukannya .
Arya baru sampai di rumahnya , di lihatnya jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam . Arya membuka pintu kamar mereka perlahan dan langsung masuk . Di lihatnya Bunga tertidur dengan posisi duduk menyender di kepala ranjang . Arya melangkahkan kakinya ke arah ranjang , meletakkan Burger pesanan Bunga di atas meja nakas , mengambil buku buku yang berada di atad pangkuannya meletakkannya di atas meha , lalu memperbaiki posisi tidurnya .
Arya mendudukkan dirinya di samping Bunga ,memandangi wajah Bunga yang tertidur pulas di sampingnya . Arya membelai wajah Bunga . Arya mengembangkan senyumnya , ia tidak menyangka akan jatuh cinta dengan seorang gadis remaja . Murid yang paling bandel dan bodoh , Arya tidak tau apa yang membuatnya jatuh cinta kepada Bunga .
Arya menghela napas beratnya , mengingat apa yang terjadi di rumah Pak Fariq . Arya merasa kecewa dengan mertuanya itu , menuduhnya tanpa mencari bukti terlebih dahulu , menelan mentah mentah apa yang di katakan putri mereka Rania . Arya membungkukkan tubuhnya mencium kening Bunga agak lama . Arya tidak bisa menebak akan seperti apa reaksi Bunga , jika mengetahui masalah baru yang menerpa mereka . Arya akan berusaha menyembunyikan itu serapat mungkin kepada Bunga . Supaya Bunga tidak kecewa , apalagi membenci kepada keluarga yang sudah membesarkannya . Arya tidak menyangka Rania bisa berbuat licik seperti itu , Rania yang di kenalnya , gadis yang lemah lembut .
Tak terasa Arya meneteskan air matanya , sangat sakit hatinya mendapat tuduhan dari mertuanya . Terlebih tidak ada Neneknya lagi sebagai tempatnya berkeluh kesah , tidak ada tempatnya bercerita . Bibir Arya bergetar menahan isak tangis , sungguh malang nasibnya bersama istrinya , sudah tidak memiliki keluarga kandung lagi . Kenapa Tuhan mengambil orang tua mereka secara bersamaan , tidak menyisakan satu orang pun . Saat saat seperti ini , Arya juga sangat membutuhkan belaian tangan seorang orang tua di kepalanya . Seandainya masih ada orang tua kandung mereka , pasti sudah ada yang membelanya .
Tak ingin larut dalam kesedihan , Arya berdiri dari tempat duduknya , melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi . Selesai urusannya di kamar mandi , Arya pun keluar . Arya berjalan ke arah ranjang , membaringkan tubuhnya di samping Bunga . Merapatkan tubuh mereka , memeluk Bunga dengan posesif , mengecup pipi Bunga lalu memejamkan matanya , menyusul Bunga ke alam mimpi .
.
.
"Rania !, apa kamu punya bukti , kalau Arya benar memukulmu sampai terluka ?" tanya Pak Fariq . Seharusnya Pak Fariq menanyakan itu kepada putrinya sebelum menyuruh Arya ke rumahnya . Tapi melihat putrinya pulang dengan wajah memar dan terluka , Pak Farik langsung mencerna semua ucapan Rania , tanpa berpikir dulu , Pak Fariq langsung percaya , dan tersulut emosi . Begitu juga dengan Mama Indah yang kawatir dengan putrinya , langsung percaya begitu saja .
Rania diam tidak menjawab dengan kepala yang menunduk dalam .
"Jawab Papa Rania..!" tekan Pak Fariq , mau di taro dimana mukanya , sudah menuduh Arya tanpa mencari tahu dulu kebenarannya .
"Apa Papa tidak lihat luka di lutut dan di pipiku ?" tanya Rania , ingin meyakinkan Papanya ." Bunga juga ikut mendorongku Pah !". Cinta benar benar sudah membutakan hati seorang Rania . Rania sudah tidak ada harapan untuk mendapatkan Arya , Rania berniat tidak akan membiarkan hidup kedua orang yang saling mencintai itu hidup tenang . Sudah terlanjur bermain api juga , sekalian aja terbakar sampai gosong . Pikir Rania .
__ADS_1
"Papa akan membawanya ke jalur hukum !" ucap Pak Fariq , kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar .
"Pah !" panggil Mama Indah , mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar .