
Bunga dan bayi nya sudah selesai di bersihkan. Kini semua orang yang ada di rumah mereka, sudah berkumpul di kamar Arya dan Bunga, untuk melihat bayi yang baru saja lahir ke Dunia itu.
"Bubu ! namanya siapa ?" Bayi yang menutup rapat matanya itu, sudah berada di gendongan Tari.
Bunga tidak menjawab, Ia mengalihkan tatapannya ke wajah Arya yang duduk di sampingnya. Yang sedari tadi tangannya tidak berhenti mengusap usap kepalanya.
"Bilal Al Biruni Aaryan Putra" jawab Arya, tersenyum.
"Kok nama belakangnya beda sendiri sayang ?" tanya Bunga. Kelima anaknya yang lain, nama belakangnya Alfarizqi, ini anak paling bontot di kasih nama yang paling istimewa sama suaminya.
"Kalau di kasi nama Bilal Al biruni Alfarizqi, Al nya jadi dua kali sayang. Namanya jadi kurang kreatif, dan pemborosan pengucapan Al" jawab Arya.
"Sepertinya tadi karna Pak Arya sempat cemburu tuh !. Karna Aldo sempat melihat anu nya si Bubu, saat menangkap baby Bilal !" celetuk Vani." Jadi Pak Arya ingin menegaskan kepada semua orang, kalau baby Bilal putranya !" ujar Vani lagi.
"Aldo bukan saingat berat saya, buat apa cemburu !" ketus Arya.
"Pak Arya ngaku aja deh !, tadi aku melihat ekspresi Bapak !. Menatap Aldo dengan wajah memerah, seperti tak sudi !" ujar Vani lagi.
Arya mendengus, mengarahkan pandangannya kepada Aldo dengan tatapan tak suka. Yang ditatap pun menatap sinis kepada Arya.
"Masa lalu vs masa depan" gurau Bunga malah, lalu tertawa cekikikan. Melihat suami dan mantan kekasihnya itu, seperti sama sama mengibarkan bendera permusuhan.
Shasa istri Aldo, sudah mengerucutkan bibirnya. Suaminya itu masih saja tidak bisa hilang dari bayang banyang Bunga. Meski sudah belasan Tahun mereka menikah.
"Al ! lihat tuh binimu !, ntar kamu gak di bolehin bobo di kamar !" ujar Leo, melihat Shasa cemberut.
Aldo langsung mengalihkan tatapannya kepada Shasa yang duduk di sampingnya. Lalu menarik Shasa ke dalam pelukannya, mengecup pipi Shasa dari samping.
"Gak usah cemburu sayang !, kamu jauh lebih cantik dari pada si Bubu !. Dulu aku hanya khilaf aja suka sama dia. Untung aku cepat ketemu kamu, jadi aku cepat insaf. Hanya saja aku gak suka di kalahkan sama laki laki tua itu !" tunjuknya dengan dagu ke arah Arya.
"Gak usah merasa tampan deh Al !, bilang aja kamu minder dengan ketampanan suamiku ini. Makanya kamu mundur teratur, ngumpet ke lobang semut" ketus Bunga. Enak saja Aldo bilang khilaf menyukainya dulu, padahal Aldo yang mengajak dia pacaran.
"Alah ! sekarang aja kamu memujinya, dulu aja kamu selalu mengatakannya si burung gagak !" cibir Aldo.
"Benaran sayang ?, kamu dulu mengataiku si burung gagak !" tanya Arya, menajamkan pandangannya ke wajah Bunga, yang masih terbaring di atas tempat tidur.
"Itu 'kan karna kamu galak dan suka menghukumku di sekolah sayang !" jawab Bunga sembari tersenyum." Sekarang kamu adalah burung gagahku !" ucap Bunga.
Arya menarik hidung Bunga gemas, sudah beranak enam, masih saja gesreknya gak hilang.
__ADS_1
"Genit !" ucap Arya, tersenyum sampai menampakkan gigi giginya yang berjejer rapi, memandang Bunga penuh cinta.
"Ehem ehem ! sepertinya sudah waktunya kita pulang !" sindir Leo. Untuk menyadarkan sepasang suami istri yang saling merekahkan senyum, saling memandang, persis seperti orang yang baru kasmaran.
"Sepertinya begitu !, yuk kita pulang !" sambung Vani, langsung berdiri dari tempat duduknya. Di ikuti semuanya.
Tari pun meletakkan baby Bilal ke dalam box bayi. Kemudian berpamitan kepada Arya dan Bunga.
"Bunga ! Pak Arya ! kami pamit pulang dulu. Selamat untuk kelahiran anak ke enam kalian !" ucap Tari terseyum, kemudian memeluk Bunga sambil menempelkan pipinya bergantian ke pipi Bunga.
"Trimakasih !" balas Bunga tersenyum.
Begitu juga dengan Vani, Sofia dan Rania, melakukan hal yang sama kepada Bunga. Dan para kaum lelaki hanya berpamitan saja tanpa ada embel embel salaman apa lagi berpelukan.
Arya pun mengantar para sahabat sahabat mereka ke depan rumah.Dan mengucapkan banyak terima kasih sudah datang untuk merayakan ulang Tahun istrinya.
"Trimakasih banyak, kalian sudah datang !" ucap Arya.
"Sama sama Pak !" Gandi yang membalas.
"Trimakasih Al !, sudah membantu persalinan istriku !" ucap Arya lagi kepada Aldo. Meski masih ada rasa tak rela, Aldo sudah melihat gua tempat persemedian burung gagaknya.
Arya menatap Aldo tajam, hatinya bergemuruh, rasanya ia ingin sekali menonjok mantan muridnya yang sudah menjadi Dokter itu. Melihat senyum Aldo yang seperti meledeknya.
Dulu ia melihat Aldo dan Bunga berciuman di belakang sekolah. Sekarang Aldo malah memiliki kesempatan melihat anunya si Bunga, Arya cemburu !.
Gak akan kubiarkan kamu melihat milik istriku lagi Dokter cabul !, batin Arya, rahangnya mengeras. Menatap mobil Aldo keluar dari pekarangan rumahnya.
Bubu ! kamu masih berada di tempat yang sama di hatiku. Meski kamu tak dapat kumiliki, aku bahagia melihatmu bahagia. batin Aldo, melajukan kenderaannya ke jalan raya.
Al ! sampai kapan kamu menjadikan aku pelampiasanmu ?. Tapi tak apa Al !, asal kamu selamanya bersamaku !, aku sudah bahagia. Batin Shasa, melirik Aldo yang nampak wajahnya memikirkan sesuatu, terlihat dari kerutan di keningnya.
.
.
Di mobil lain
"Sayang ! kita nambah anak lagi ya !" ucap Vani kepada Gandi yang duduk menyetir di sampingnya.
__ADS_1
"Bukankah kamu kemarin kamu bilang cukup tiga aja !" balas Gandi.
"Nambah satu lagi anak cowok, biar pas dua pasang !" ucap Vani lagi. Mengingat betapa menggemaskannya tadi baby Bilal.
"Terserahmu aja !" balas Gandi, pokus memperhatikan jalan di depannya.
"Kok bilang terserahku aja !, aku mana bisa bikin anak sendiri !" ujar Vani, menajamkan pandangannya ke wajah Gandi. apa maksud suaminya itu ?.
"Iya sayang ! nanti kita buat sama sama !" balas Gandi, satu tangannya terangkat mengusap kepala Vani.
Vani langsung sumiringah, kemudian mendaratkan satu kecupan di sudut bibir Gandi.
"Mama suka cium cium Papa !" celetuk anak ketiga mereka dari kursi belakang.
"Kata Mama ! kalau sudah suami istri, itu gak apa apa !" komentar Queen.
"Mama sama Papa juga suka cium cium kita !" sambung anak kedua mereka, yang sudah duduk di bangku kelas satu SD.
"Kita 'kan anak Mama sama Papa !" balas Queen.
"Jadi kita sama Papa sama Mama, suami istri ?" tanya si anak kedua yang berjenis kelamin laki laki.
"Bukan ! ikh !" kesal Queen, karna adiknya gak paham, tapi Queen juga gak bisa ngejelasinnya.
Gandi menghela napasnya, mendengar pembicaraan ketiga anak anaknya. Pasti ini gara gara ulah istri gesreknya. Entah apa yang di jelasin sama anak anak mereka saat ia tidak di rumah.
Istrinya juga, suka sekali mengecup bibirnya di depan anak anak. Anak anak mereka 'kan !, mata dan pikirannya terkontaminasi, hal hal berbau dewasa.
"Sayang ! jangan di biasain cium cium di depan anak anak !" tegur Gandi akhirnya.
"Emang kenapa ?" tanya Vani
Apa salahnya ?, mereka adalah pasangan yang halal.
"Apa pun yang kita lakukan, nanti itu yang di tiru anak anak kita. Nanti mereka melakukan apa yang kamu lakukan ke aku barusan" jelas Gandi. Kepada istrinya berotak kerdil itu.
.
.
__ADS_1
.