Guru Galak Itu Suamiku

Guru Galak Itu Suamiku
Bab 07


__ADS_3

Mendengar pintu ruang UGD terbuka , mereka sama sama mengalihkan tatapan mereka ke arah pintu . Arya pun langsung berdiri , melihat Dokter yang memeriksa Neneknya keluar .


"Bagaimana keadaan Nenek saya Dokter ?" tanya Arya langsung .


Dokter pria yang nampak sudah separoh baya itu menggarut sedikit keningnya .


"Kondisinya sudah membaik , tapi harus tetap dirawat . Dan.. kondisi jantungnya sudah semakin parah" jawab Dokter itu .


"Boleh saya melihatnya Dok ?" tanya Arya .


"Silahkan !, sebentar lagi Nenek anda akan di pindahkan ke ruang ICU . kalau begitu saya permisi" jawab Dokter itu mempersilahkan dan sekalian pamit .


"Trimakasih Dok !" balas Arya , Langsung masuk setelah Dokter itu pergi .


"Nenek !" Arya melangkahkan kakinya berjalan mendekati brankar Nenek Marni .


Nenek Marni mengembangkan senyumnya ."Menikahlah dengan Bunga sekarang ! , biar Nenek bisa tenang jika nenek harus pergi "ucap Nenek Marni lambat dengan suara hampir tak di dengar , jika Arya tidak mendekatkan telinganya Kemulut Nenek Marni yang di tutup oksigen .


"Nenek bicara apa ?, Arya akan menikahi Bunga . Tapi Nenek harus sembuh !" balas Arya , mendudukkan tubuhnya di kursi di samping brankar , mengambil sebelah tangan Neneknya yang sudah keriput , lalu menciumnya . Apapun demi Neneknya , ia akan mematuhinya .


"Kamu adalah cucu kesayangan Nenek ! . Nenek yakin , Bunga akan menjadi istri yang baik untukmu . Sabarlah menghadapinya nanti , bersikap ramahlah kepadanya , jangan terlalu galak" ucap Nenek Marni . ia sudah tau dengan sikap cucu satu satunya itu , galak dengan anak muridnya . Bersikap dingin dengan orang lain , tapi itu semua tidak berlaku kepadanya . Arya akan menjadi bocah kecil yang manja jika bersamanya .


"Iya Nek !" Cairan bening pun lolos dari sudut mata Arya . Melihat kondisi Neneknya , Arya takut , takut kehilangan Neneknya , satu satu keluarganya yang tinggal . Arya tidak punya siapa siapa lagi jika ia kehilangan Neneknya . Jika pun ada saudara sepupu Arya , itu hanya sepupu tiri . Cucu dari anak sambung Nenek marni . Mereka tidak peduli dengan Arya dan Nenek Marni dan mereka tidak menyukainya .


"Maaf Pak !, kami harus segera memindahkan pasien ke ruang ISU" ujar salah satu perawat .


"Baik Sus !" Arya pun berdiri dari tempat duduknya .


"Nek ! Arya keluar dulu ya !, Nenek harus cepat sembuh , kalau Nenek ingin melihat Arya menikah" Ucap Arya , memberi Neneknya semangat .


Nenek Marni hanya menganggukkan kepalanya lemah sambil tersenyum . Dan Arya pun keluar dari ruang UGD tersebut .


"Bagaimana kondisi Nenekmu ?" todong Pak Fariq langsung , melihat Arya keluar .


"Sudah membaik Om ! . sekarang akan di pindahkan ke ruang ICU" jawab Arya .

__ADS_1


"Yang sabar ya ! , semoga Nenek Marni lekas sembuh . Jangan sungkan meminta bantuan Om ! . Sebentar lagi juga kamu akan menjadi menantu Om !. kalau begitu kami pulang dulu , besok Om akan kesini lagi .


"Trimakasih Om !" Ini kunci mobil Arya Om ! .Arya gak bisa ngantar Om sama tante . Gak ada yang jagain Nenek !" Arya memberikan kunci mobilnya kepada Pak Fariq .


"Tidak usah Nak !, Om sudah menyuruh supir menjemput kami" tolak Pak Fariq .


"Kalau begitu sekali lagi trimakasih Om !" balas Arya . Pak Fariq menganggukkan kepalanya sembari tersenyum .


"Nak Arya ! , Tante sama Bunga pulang dulu ya !. kabari Tante kondisi Nenek ya !" pamit Mama Indah .


"Iya Tante , trimakasih sudah ikut mengantar Nenek !" balas Arya .


"Sama sama , kita adalah kekuarga , gak usah sungkan sama Tante!" ucap mama Indah , dengan senyum khas keibuannya . Mengusap bahu Arya , seolah memberi dukungan kepada Arya , supaya Arya tidak merasa sendiri .


"Ayo salam calon suamimu !" suruh Mama Indah kepada Bunga , bermaksud menggoda Bunga .


"Gak mau ! belum halal , dosa !" tolak Bunga , berbicara dengan bibir manyun . Kemudian langsung membalik badannya , berjalan meninggalkan Pak Fariq dan Mama Indah . Membuat Mama Indah terkekeh pelan .


Arya , ia hanya mengembangkan senyum tipisnya melihat tingkah Bunga calon istrinya .


"Iya Tante !" balas Arya .


Pak Fariq pun memukul pelan bahu Arya . Om pulang dulu ,salam buat Nenekmu ."ucap Pak Fariq .


"Iya Om !"


Mama Indah dan Pak Fariq pun , meninggalkan Arya sendiri di depan ruangan UGD .


Esok harinya , Arya melangkahkan kakinya masuk ke kelas tempatnya mengajar dengan langkah tidak semangat , tepatnya di kelas Bunga . Ia tidak semangat karna Neneknya sakit . Hari ini sebenarnya ia tak ingin mengajar , tapi Neneknya kekeh menyuruhnya harus bekerja . Lagian Neneknya di rawat di ruang ICU , sudah ada perawat khusus yang menjaganya . Kondisi Nenek Marni pun sudah jauh membaik .


"Selamat pagi semua !" sapa Arya , setelah satu langkah ia masuk ke dalam kelas .


"Selamat pagi Pak..!" balas semua murid .


"Kumpulkan semua PRnya . Bagi yang tidak mengerjakan PR , silahkan keluar . berdiri di lapangan menghormat bendera degan satu kaki selama pelajaran saya berlangsungs " ucap Arya dengan wajah datarnya . Pandanganya tertuju pada dua bangku kosong yang biasa diduduki Aldo dan Bunga.

__ADS_1


Jika Bunga terlambat atau tidak masuk jam mata pelajarannya , itu sudah biasa . Aldo, kemana murid teladan itu ? . Arya tidak ingin ambil pusing , ia pun melanjutkan proses mengajarnya .


Di kediaman Bunga , ia masih bergulung di bawah selimut . Tadi malam ia tidak bisa tidur memikirkan nasibnya yang akan menikah dengan guru galak nan tampan rupawan .


"Ya ampun Bunga ! , Mama pikir kamu sudah bangun !" ucap Mama Indah masuk ke kamar Bunga .


Tadi ia sudah membangunkan Bunga , menyuruhnya segera mandi dan berangkat sekolah . Taunya Bunga kembali tidur menggulung badannya dengan selimut tebal , setelah Mama Indah keluar dari kamarnya .


"Bunga masih ngantuk Ma ! . lagian juga Bunga sudah terlambat kesekolah . Biarkan Bunga lanjut tidur lagi" Bergumam dengan mata terpejam ." Sebentar lagi 'kan Bunga akan menikah , biasanya orang mau menikah itu melakukan pingit , gak boleh keluar rumah . Sekarang Bunga lagi melakukan proses pingit." lanjut Bunga .


Ia akan menyimpan perasaannya , meski itu berat . Ia akan terlihat santai dan ceria di depan keluarganya . Meski kegundahan menghimpit dadanya , itu sudah biasa Bunga lakukan semenjak mengetahui kalau ia bukan anak kandung dari kedua orang tua yang membesarkannya .


Mama indah menggeleng gelengkan kepalanya . Tidak habis pikir dengan pemikiran Bunga , putri kedua mereka . Bunga memang tengil dan bandel , tapi ia tidak pernah membangkang melawan kedua orang tuanya dengan meninggikan suaranya . Bunga akan selalu memiliki seribu alasan dan jawaban yang masuk akal , meski tidak dapat dibenarkan . Ia akan menjawab dengan santai dan suara lembut .


"Ayo cepat bangun dan mandi , gak ada acara pingit pingitan . Ayo kita ke Rumah Sakit kalau kamu tidak mau sekolah." Mama indah menarik paksa selimut Bunga hingga terlepas .


"Mama..!" Bunga memberenggut , bibirnya sudah maju lima senti .


"Ayo cepat !" Mama indah tidak mau kalah menghadapi putri tengilnya . Mama indah pun menarik paksa Bunga , supaya bangun dari tempat tidur dan menariknya ke kamar mandi .


"Mama kejam amat !" ucap Bunga , mendudukkan tubuhnya di atas toilet duduk .


"Mama akan kejam kalau kamu gak bangun . Perlu Mama mandiin lagi ?. Ayo cepat mandi !"


"Ternyata Ibu angkat lebih kejam dari Ibu tiri !" Bunga bangkit dari atas kloset dengan wajah cemberut bibir manyun lima senti . Selain sifatnya yang tengil , ternyata bibir Bunga juga lemes .


"Apa kamu bilang ? Hm..!" Mama Indah menarik hidung Bunga dan memencetnya agak kuat . biasanya kalau seorang Ibu marah kepada anak akan menjewer telinga . Beda dengan Mama Indah , ia akan menarik hidung putri putrinya jika lagi memarahinya .


"Ampun Mamaku sayang ! , Bunga gak bisa napas !" ucap Bunga .


"Cepat mandi ! , Mama tungguin !" perintah Mama Indah .


"Iya iya iya ! , tapi Mama kekuar dong ! , Bunga 'kan malu kalau aset Bunga nampak sama Mama !" usir Bunga kepada Mama Indah .


Mama Indah memutar kedua bola matanya jengah ." Dulu juga Mama yang mandiin kamu" ucapnya keluar dari dalam kamar mandi .

__ADS_1


__ADS_2