
“Hay boleh berkenalan dengan ku.” Sapa seorang pria pada Ara. Dia berdiri di depan Ara dengan senyum lebarnya. Dary pria berusia dua puluh dua tahun dan senior di University of Nevada. Dia juga di sebut pria paling tampan di seluruh University of Nevada. Saat melihat Ara dari jauh yang baru keluar dari mobil Lamborghini terbaru nya semakin membuat jantung Dary berdetak kencang.
Dary menatap penampilan Ara yang cukup sangat seksi. Ya Ara memang selalu memakai pakaian seksi di tubuhnya.
Tak hanya itu pria play boy yang suka bergonta-ganti wanita. Karna banyaknya wanita yang ingin menjadi kekasihnya. Dary sering mempermainkan mereka.
Ara mendongak karna pria di depannya jauh lebih tinggi dengannya lalu balik tersenyum padanya. Dan senyum Ara sungguh membuat hati Dary berdetak lebih kencang melihat senyum di bibir gadis di depannya.
“Kau sangat cantik girl.” Puji nya pada Ara yang di tanggapi wajah biasa dari Ara.
“Terima kasih.” Sahut Ara melangkah lagi. Tapi Dary menghentikan langkah Ara lagi dengan berdiri di depannya.
“Tunggu dulu girl kau belum mengatakan siapa namamu.” Tanyanya lagi penuh harap.
“Queensa.” Jawab Ara melangkah pergi meninggalkan Dary yang mematung di tempatnya seperti orang bodoh. Tak lama Dary tersadar dari lamunannya saat seorang wanita mengagetkan nya.
“Apa yang kau pikirkan.” Ketus Mishel pada Dary yang terlihat seperti orang bodoh.
“Tidak ada.” Jawabnya singkat dan berbalik menatap punggung kecil Ara yang berjalan menjauh.
Sementara Ara yang mencari dimana ruangan kelas miliknya masih terlalu bingung. Ara bertanya pada beberapa gadis cantik yang berjalan melewatinya. Tapi mereka hanya menatap Ara sinis dan tersenyum miring.
Ara hanya menggelengkan kepalanya. Dia tak mengerti, padahal dirinya hanya bertanya bukan menyusahkan mereka. Tapi mereka menanggapinya dengan tatapan sinis.
Ara kembali lagi mencari dimana ruangan kelas miliknya dan setengah jam kemudian, Ara kembali lagi di kagetkan dengan pria yang bertemu dengannya di halaman sebelumnya.
“Mencari kelas mu.” Ara menganggukan kepalanya mendengar pertanian pria di depannya. “Seni dan Disain.” Imbuh Ara tersenyum lebar.
Sett..
Ara spontan menarik tangannya saat pria di depannya tiba tiba menarik tangannya.
__ADS_1
“Ah maaf girl aku akan mengantamu. Bukankah kau mencari ruang kelas milikmu, Seni dan Desain.” Imbuh Dary yang sebenarnya juga kaget melihat reaksi gadis di depannya. Tak lama di tersenyum lebar saat melihat senyum di bibir Ara.
“Apa kau takut dengan ku girl. Tenang saja aku tak memakanmu.” Ara terkekeh mendengar candaan Dary di depannya. Dia mengikuti langkah Dary yang berjalan lebih dulu.
Dary yang notabene pria play boy gampang sekali mencari topik pembicaraan. Dan Ara yang masih polos jelas saja menanggapi nya. Pembicaraan mereka mengalir begitu saja hingga mereka berdua sampai di salah satu gedung yang cukup luas.
“Apa ini kelasku.?” Tanya Ara mendongak ke atas dan membaca tulisan di atas kepalanya. Tak lama senyum Ara semakin lebar saat menyadari jika ini benar adalah kelasnya.
“Kau sangat cantik girl.” Puji Dary terang terangan pada Ara.Ara menoleh dan melempar senyum pada Dary tentu saja jantung Dary berdetak lebih kencang saat melihat senyum paling manis Ara untuknya.
“Terima kasih.” Sahut Ara melangkah masuk ke dalam kelasnya.
Begitu masuk ke dalam, Ara kembali lagi menjadi pusat perhatian. Mereka menatap Ara tanpa berkedip pada Ara. Begitu juga dengan seorang wanita yang berdiri di area paling depan. Ya hari pertama masuk kuliah Ara sudah terlambat. Itu karna Ara yang berkeliling mencari dimana kelasnya. Apalagi melihat tatapan wanita yang saat ini memberikan materi di depan, terlibat sangat menyebalkan bagi Ara.
“Queensa.” Panggilnya kemudian.
“Ya sorry, aku tersesat.” Sahut Ara menundukkan kepalanya.
Ara menganggukan kepalanya mendengar perintah dosennya. Dia mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk yang masih kosong, dan itu ada di pojok kanan paling belakang.
Arah pandang mereka mengikuti langkah Ara yang berjalan ke depan. Salah satu dari mereka tersenyum miring melihat Ara yang berjalan ke arahnya. Dia mengangkat kakinya ke samping dan tentu saja Ara yang tak tau terjatuh di lantai dan kedua lututnya terluka.
Hahaha...
Satu ruangan hampir tertawa semua melihat Ara yang terjatuh di lantai. Mereka semua menertawakan Ara yang sangat lucu. “Selain tubuhnya yang seperti kurcaci kau juga sangat ceroboh nona.” Kekeh wanita yang menjegal kaki Ara.
“Nona kau sangat ceroboh rupanya.” Kata salah satu wanita tak jauh dirinya lagi. Mereka benar-benar tertawa melihat Ara yang terjatuh. Tak ada yang menolong Ara untuk berdiri dari jatuhnya.
Sementara sebagian pria yang berada di dalam hanya tersenyum saat melihat Ara yang terjatuh.
Dan Ara yang tak tau menoleh ke samping dan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Maaf aku tak melihatnya tadi.” Sahut Ara meminta maaf. Dan tentu saja membuat mereka semakin tertawa mendengarnya. Mereka mengira Ara benar-benar bodoh dan sangat lugu.
Ara memang sangat lugu, tapi dia tau yang sebenarnya terjadi. Dia masih ingat pesan daddynya, jika dia tak boleh berbuat ulah.
Ara berbalik lagi dan melangkah pada tempat duduknya. Tak jauh dari Ara remaja yang sama lebih tua dari Ara melirik ke arah Ara yang mendudukan bokongnya.
Sementara Ara yang langsung mengeluarkan buku pelajarannya. Tak terasa hampir satu jam Ara dudukan di kursinya. Dan tak lama kemudian pelajaran selesai.
Hampir mereka semua membubarkan diri keluar dari kelas yang begitu menyita perhatian dan otak mereka. Tak terkecuali dengan gadis di depan Ara. Di melirik ke arah Ara dan tersenyum.
“Emma..” Ucapnya tiba-tiba mengulurkan tangannya pada Ara. Ara yang masih membereskan buku miliknya mendongak, kemudian melemparkan senyum pada gadis memakai kacamata di depannya.
Tentu saja Ara mengulurkan tangannya padanya.
“Queensa..” sahut Ara singkat, tanpa menyebutkan nama panjangnya. biarkan saja mereka tak tau. dan mungkin beberapa dosen yang tau siapa dia apa adanya.
“Aku tau.” Sahut Emma, dan Ara mengerutkan keningnya mendengar jawaban Emma di telinganya. “Kau sudah mengenalkan dirimu tadi.” Tak lama Ara terkekeh lucu saat menyadari kebodohannya.
“Aku lupa.” Sahut Ara masih dengan kekehan di bibirnya.
“Kantin..” Tawarnya pada Ara di belakangnya.
“Boleh.”
Mereka berdua keluar dari kelas bersamaan. Emma gadis yang sedikit cupu dan kutu buku, tak terlalu sulit berbasa-basi dengan Ara gadis yang periang dan tentunya sedikit cerewet. Mereka berdua tak terasa berjalan hingga sebuah kafe yang masih berada di lingkungan universitas.
“Apa kaki mu bengkak.” Tanyanya saat mengingat Ara yang sempat terjatuh pagi tadi.
Ara mengangkat rok yang di pakainya. “ Hanya biru.” Jawabnya singkat. “Mereka tak menyukaimu.” Imbuh Emma menatap Ara iba.
“Aku tau.”
__ADS_1