
“Apa maksud Airin, apa selama ini pernikahan mereka tak baik baik saja.” Gumam Robert menipiskan bibirnya.
Tak lama kemudian Robert keluar dari kamarnya dan melangkah ke dalam dapur saat tenggorokannya terasa kering. Sampai di dalam dapur, Robert melihat Airin memakai pakaian seksi yang bisa di katakan selembar lingerie di tubuh moleknya.
Seketika sesuatu yang tersembunyi selama ini tiba-tiba bangkit dan mengembang. Robert memejamkan matanya dan mendekati Airin dari belakang.
Sett..
Cup...
Tubuh Airin seketika menegang mendapatkan sentuhan di punggung polosnya. Apalagi saat bibir basah itu merayap dan mengecup punggung nya tak hanya satu kali, tapi berkali kali.
Ahh..
Airin mendesah lirih, hasrat yang selama ini dia tahan datang dan langsung menguasainya. Airin masih belum menyadari siapa pria yang memeluknya dan mengecup punggungnya. Dia mengira jika pria jadi belakangnya adalah Elard suaminya. Itu sebabnya, tubuhnya langsung bereaksi dan meresponnya lebih. Di tambah lagi sejak dulu Airin ingin seperti ini.
Mendengar suara ******* Airin, Robert memberanikan dirinya mengangkat kedua tangannya dan mendarat kan di dua gunung kembar yang menonjol.
Ahh..
Tubuh Airin semakin bergetar merasakan sensasi panas yang sudah menguasainya. Apalagi saat tangan itu meremas di buah kenyal miliknya yang menggantung. Airin semakin dibuat panas dan melayang.
“Ah sayang,” rintih Airin merasakan buah kenyal miliknya terasa linu karna pria yang dia pikir suaminya telah meremas nya terlalu kuat.
Bukan hanya Airin yang sudah terpancing gairahnya. Robert yang sebelumnya tak tau jika respon Airin seperti ini juga tak kalah panas. Senjata miliknya bangkit dan berontak di dalam celana panjang miliknya. Robert pikir Airin akan langsung menolaknya, tapi nyatanya Airin terlihat seperti wanita yang haus belaian.
Robert kembali menurunkan tangannya kebawah. Mengusap area permukaan gundukan kecil yang tertutup kain segi tiga. Sungguh perlakuan Robert membuat Airin semakin kehilangan kewarasannya. Dia bahkan tak berhenti mendesah dan merintih.
“Kau menyukainya.” Bisik Robert di telinga Airin.
Seketika hasrat Airin yang sebelumnya melambung jatuh ke dasar bumi saat mendengarkan suara bisikan di telinganya. Airin membuka matanya yang sebelumnya terpejam. Dia secepat kilat menolak dan shock mendapati Robert lah pelakunya
“Kau..” geram Airin dengan gigi gemerutuk menahan emosi yang luar biasa. Nafasnya memburu dan dadanya naik turun karna emosi yang memuncak.
“Pria brengsek.” Teriak Airin tak perduli seseorang akan mengetahuinya.
Robert yang mendengar suara teriakan Airin mendorong Airin hingga tubuhnya bersandar di belakang kulkas. Jelas saja Robert emosi karna Airin berani berteriak padanya.
__ADS_1
“Jangan berani berteriak padaku Airin.”
Airin mengepalkan tangannya mendengar ancaman Robert padanya.
“Menyingkir dari ku, atau aku akan mengatakan nya pada suamiku.” Balas Airin tak kalah emosi. Dan Robert tersenyum miring mendengar nya. Dia berpikir kenapa dia tak menyadarinya dari dulu. Kenapa dia baru menyadarinya sekarang.
“Kau yakin, ku pikir kau juga sama seperti ku Airin.”
“Brengsek.. “
Robert membungkam bibir Airin dengan bibirnya saat Airin kembali lagi berteriak padanya. Sementara Airin berontak di pelukan Robert. Dia memukul Robert dan berusaha menyingkirkan Robert dari nya. Tapi tak lama kemudian tubuh Airin kembali menegang saat tangan Robert masuk ke dalam kain lingerie yang di pakainya.
Mengusap pahanya mulus, dan masuk ke dalam kain berenda milik Airin.
Ahh..
Rain melangkah masuk ke dalam mension, seperti biasanya dia pulang selalu lewat tengah malam. Malam ini Rain tak membawa wanita bersamanya kembali pulang ke mension. Dia sudah ketahuan oleh Elard, saudara yang sangat di bencinya.
Sampai di ruang tengah, Rain mengerutkan keningnya saat mendengar suara ******* dan rintihan seorang wanita. Rain mendekati sumber suara yang terdengar jelas di telinganya.
Prang...
Airin menatap Robert emosi dengan wajah merah padamnya. Tak lama berbalik secepat kilat dan melangkah mendekati sumber suara. Setelah Robert melepaskan nya. Airin berharap dia adalah suaminya Elard. Tapi sayangnya dia adalah putra pria brengsek yang baru saja menyentuh nya.
“Apa yang kau lakukan.” Tanya Rain melihat nafas Airin yang terdengar. Airin tak menjawab pertanyaan Rain, dia melangkah terburu buru menaiki anak tanggung dan masuk ke dalam kamarnya.
“Brengsek..”
*
Elard kembali membuka matanya saat mengingat sesuatu. Dia membuka selimut yang menutupi kaki Ara. Elard mengusap luka di lutut Ara yang sudah sembuh dan meninggalkan bekas.
Cup..
“Maaf sayang.” Lirih Elard mengecup kedua lutut Ara yang terluka dan bangkit dari ranjang. Elard mencari sesuatu yang kemarin sempat di belinya.Ya Elard membeli salep untuk luka di lutut Ara beberapa hari yang lalu. Tapi sayangnya Elard tak mem berikan nya pada Ara.
Elard mengambil salep di dalam laci dan berbalik menghampiri Ara. Mengoles luka Ara yang meninggalkan bekas dengan salep di tangannya. Elard mengeraskan rahangnya melihat semua ini. Dia paling benci melihat tubuh Ara yang terluka seperti ini.
__ADS_1
“Satu kali lagi kalian melukai milikku, aku tak akan memaafkan mu nona.”
*
Pagi harinya.
Ara menggeliatkan tubuhnya setelah tidur nya semalam sangat nyenyak. Dia mengucek matanya yang masih terasa berat untuk terbuka. Padahal matahari sudah meninggi di luar.
Ara mengerutkan keningnya melihat di sekitar. Terlihat seperti asing kamar ini di matanya. Ya ini bukan kamar miliknya.
“Nona sudah bangun.”
Hah..
Ara spontan bangunan mendudukkan bokongnya mendengar suara di sampingannya. Dia menoleh ke samping dan mendapati wanita paruh baya membawa satu gelas besar dan sandwich di atas nampan.
“Kau siapa.?” Tanya Ara bingung mengedarkan pandangannya. Dia lupa dengan kejadian semalam. Dimana dia di ganggu dengan tiga pemuda yang mencoba memecahkannya.
“Tuan meminta anda meminum susunya dan sarapan anda nona.” Sahut wanita paruh baya yang menundukkan kepalanya.
“Tidak, aku tidak mau. Siapa kau sebenarnya, kenapa aku ada di sini.” Pekik Ara bangkit dari ranjang dan keluar dari kamar. Ara mengedarkan pandangannya dan melangkah mencari pintu keluar.
“Nona, nona mau kemana, tuan meminta anda untuk sarapan terlebih dahulu.”
Ara tak menggubris teriakan wanita paruh baya yang mengejarnya. Dia menuruni anak tangga dan sampai di bawah, Ara takjub dengan keadaan ruangan yang sangat mewah.
“Apa mereka akan menjual ku dan menukarnya dengan barang mewah itu.” Ara menggelengkan kepalanya. Dia berlari secepat kilat mendekati sebuah pintu yang di yakini pintu keluar. Tak perduli dengan suara teriakan wanita paruh baya di belakangnya.
*
“Huh.. Kenapa aku bisa ceroboh.” Gumam Ara setelah dia keluar dari gedung apartemen. Dia menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya menghadang taksi.
Di dalam taksi Ara mengingat ngingat kenapa dia bisa ada di dalam sebuah apartemen asing dan mewah. Ara yakin jika apartemen itu milik seorang pria. Terlihat dari cat dan poster yang menggantung di dinding.
Ara terus berpikir bagaimana bisa dia berada di sana. Tak lama Ara kembali mengerutkan keningnya saat mengingat sesuatu.
“Bukankah semalam aku pergi bersama Dary dan Emma.” Ara kembali lagi mengingat ngingat lagi. Tak lama Ara mengingatnya, saat tiga pemuda mencoba mengganggunya saat Dary dan Emma meninggalkan nya sendiri. Setelah itu Ara tak mengingat apapun lagi.
__ADS_1
“Nona sudah sampai.”