
Elard menarik sudut bibirnya melihat Ara yang duduk gelisah di kursinya. Tatapan matanya sama sekali tak berpaling dari gadis mungilnya yang sekarang sudah remaja.
Sementara Ara yang di tatap oleh Elard, menundukkan wajahnya. Pikirannya masih melayang mengingat semalam dirinya yang tidur di sebuah apartemen mewah.
Apa apartemen itu miliknya pria yang duduk di depan sana.?
Setengah jam kemudian jam sudah menunjukan bahwa pelajaran telah usai. Ara membereskan buku miliknya ke dalam tas miliknya terburu buru. Entah kenapa dia merasa pemilik universitas ini menatap nya sedari tadi.
“Queen aku keluar lebih dulu.” Kata Emma bangkit dari kursi miliknya dan pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Queensa. Tentu saja Emma pergi lebih dulu, selain Elard yang menatap nya tajam ke arahnya, Elard juga mengusirnya dari tatapan matanya. Itu sebabnya Emma pergi terlebih dahulu.
“Emma..” Seru Ara bangkit dari duduk nya dan mengejar temannya. Tapi lagi lagi Ara yang gugup ditinggal sendiri tersandung kakinya sendiri, hingga dia terhuyung ke depan.
Beruntungnya Elard menolongnya dan menarik pinggang nya. Membawanya ke dalam pelukannya hampir tanpa jarak sedikitpun. Tubuh mereka menempel satu sama lainnya.
“Jangan ceroboh,” bisik Elard di telinga Ara. Matanya terpejam saat hidung mancung nya mengendus aroma mawar di tubuh Ara. Seketika hasrat yang selama ini terpendam mengintip nya kembali. Meski ini bukan yang pertama kalinya, kali ini Elard tak bisa mengontrol jiwanya yang menginginkan Ara. Padahal semalam mereka bahkan tidur bersama dan memeluknya juga. Bukan hanya itu, dia bahkan mencium bibir Ara.
“Kau sangat harum sayang.” Lirih Elard lagi.
Sementara Ara tubuhnya menegang merasakan sensasi asing yang baru dia rasakan. Bukan hanya menegang, tapi jantungnya berdetak lebih kencang saat tubuhnya menempel sempurna pada pria dewasa yang memeluknya.
Gugup dan takut, itulah yang Ara rasakan saat ini. Tapi entah kenapa tak ada niat Ara mendorong Elard yang sudah lancang memeluknya.
“Tu_”
Cup..
Elard tak bisa menahannya lagi melihat bibir Ara yang sangat dekat dengannya. Dia sungguh tak bisa menahannya, sejak semalam bibir Ara sudah menggodanya. Dan dia belum puas dan tak akan pernah puas menyesap madu yang ada di bibir gadis kecilnya.
Hasrat nya yang selama ini dia pendam pada gadis belia yang jauh dan tak bisa dia sentuh, terbayar sudah saat takdir membawa Ara kembali padanya setelah bertahun-tahun lamanya dia meninggalkan nya.
Elard tak perduli siapa dia dan siapa Ara lagi. Sudah cukup baginya tersiksa karna memendam hasrat dan jiwanya pada gadis kecilnya. Berulang kali dia menolak rasa dan mengabaikan cintanya. Tapi semua itu justru membuatnya semakin tersiksa.
Sementara Ara yang kaget merasakan sesuatu yang kenyal dan basah menempel di bibirnya mematung. Kedua matanya berkedip menatap wajah pria yang sangat dekat dengannya. Wajah yang sepertinya tak asing di ingatan nya.
Ya tentu saja wajah inilah yang sudah beberapa kali dia lihat. Dan pria ini yang kemarin lalu juga marah padanya dan merusak manekin nya. Dan sekarang dia menciumnya.
Ara masih diam mematung di tempatnya berdiri. Hanya matanya yang tak berhenti berkedip. Lalu kemudian, Ara memejamkan matanya saat dia merasa jika dia pernah merasakan ciuman hangat yang seperti ini sebelumnya.
Tapi tak lama kemudian Ara tersadar dari hal gilanya sendiri. Dia membuka matanya lebar lebar menyadari jika ini adalah salah. Ara memukul dada bidang Elard dengan tangan kecilnya.
__ADS_1
Bug..
Bug..
Elard membuka matanya saat merasakan tangan kecil Ara memukul nya. Tak lama Elard melepaskan tautan bibirnya pada Ara. Dan mengusap bibir Ara yang basah dan sedikit bengkak.
“ Huaa...” Elard kaget melihat reaksi Ara yang menangis kencang. Dia memeluk Ara, berharap gadis kecilnya diam. Tapi sayangnya Ara justru memukulnya lagi.
Bug..
“Sayang.” Elard bingung melihat reaksi Ara. Dia mengutuk dirinya sendiri yang tak bisa menahan nya dan membuat Ara ketakutan. Dan sekarang Ara pasti takut padanya dan tentu saja menangis.
“Sayang.. “seru Elard lagi, kali ini dia lebih bingung mendengar tangisan Ara yang tak berhenti dan justru semakin kencang.
Tangannya terulur kembali dan menenangkan Ara, tapi lagi lagi Ara menyingkirkan nya dan memukulnya lagi. Dan Elard tak perduli Ara memukulnya, dia tetap memeluk Ara dan mengusap punggungnya.
“Om mencuri ciuman pertama ku.” Jerit Ara mendongakkan kepalanya. Kali ini Ara menangis segukan dan mengusap hidungnya yang mengeluarkan ingus. Tapi bukan dengan tisu, melainkan dengan kemeja Elard.
Sementara Elard tak perduli kemejanya terkena ingus. Dia justru mematung mendengar suara terikan Ara. Bukan karna kaget dan marah Ara berteriak padanya. Tapi karna mendengar teriakan Ara yang mengatakan itu adalah ciuman pertamanya.
Benarkah.?
Bug..
“Ara.. Ara.. “
Ara tak menggubris teriakan pria di belakangnya. Dia mengutuk dosen barunya yang sudah berani mencuri ciuman pertamanya. Kakinya yang kecil terus melangkah keluar dari kelas miliknya.
Ara tak perduli dengan beberapa siswa melihat kearah nya.
“Tuhan kenapa aku bodoh, gadis itu pasti marah padaku.” Umpatnya mengutuk dirinya sendiri yang bodoh tak bisa mengontrol dirinya.
“Bagaimana jika dia membenciku, ****..” masih dengan umpatan yang keluar dari bibirnya Elard kembali ke ruangannya dan menyambar kunci mobilnya mengejar mobil yang di kendarai Ara. Tapi sayangnya, mobil miliknya bannya kempes. Elard menarik rambutnya frustasi, dia menendang ban mobil nya. Tak perduli beberapa siswa dan guru yang melihatnya.
Elard tak bisa berbuat apa-apa, selain menatap mobil Ara yang melaju kencang meninggalkan kampus.
“Tuan butuh bantuan, kebetulan saya membawa mobil.” Tawar seorang wanita yang menjadi guru di Universitas nya.
Elard diam saja, jangankan menatapnya meliriknya saja Elard tak melakukannya. Dia melangkah lebar ke jalan dan menghadang taksi.
__ADS_1
Sementara Ara di dalam mobil berulang kali mengusap bibirnya yang baru saja di cium oleh pria yang beberapa kali bertemu dengannya. Dia tak percaya jika pria dewasa itu akan menciumnya.
“Ishh, dia sudah mencurinya.” Serunya mencebikkan bibirnya.
*
Sampai di apartemen..
Ara langsung masuk ke dalam kamarnya. Bibirnya terus menggerutu dan mencebik mengingat ciuman pertama nya sudah di rampas oleh pria dewasa yang baru beberapa kali dia temui. Pria dewasa yang menjadi dosen di Universitas nya. Bukan hanya itu, dia juga pemilik Universitas tempatnya menuntut ilmu.
Ara mengambil ponsel miliknya dan menscrol nama Lional Elard Roberto. Dan tak lama mata Ara melotot saat melihat data tentang pria dewasa yang baru menciumnya tadi.
“Ishh dia punya istri.”
Bruk..
Ara membanting tubuhnya di ranjang miliknya sendiri. Mengutuk Elard yang sudah berani menciumnya. Padahal dia memiliki istri dan yang lebih membuat Ara marah, istrinya cantik.
“Rakus..” dengusnya mengatai Elard yang tak puas dengan satu wanita. Dan sialnya dialah korban selanjutnya.
Sementara Elard, dia tak bisa membiarkan Ara membencinya. Dia duduk gelisah di dalam taksi.
“Apa kau tak bisa lebih cepat sedikit.” Teriak Elard emosi saat taksi yang di tumpangi nya berjalan seperti siput. Padahal taksi yang di tumpangi nya melaju dengan kecepatan tinggi.
Elard semakin gelisah di tempatnya duduk, dia yakin jika Ara mencari tau tentang nya. Ya Ara juga bukan gadis yang bodoh. Setelah dia menciumnya, gadis kecilnya pasti akan mencari tahu, siapa dirinya. Dan Elard jelas tak ingin Ara berpikiran macam macam tentangnya.
Elard berulang kali mengutuk kebodohan nya sendiri yang tak bisa menahan dirinya pada Ara. Tapi dia tak menyesal dan tak akan menutupi siapa dirinya pada Ara. Hanya saja dia belum mengatakan pada Ara siapa dirinya, tapi dia sudah lebih dulu tak bisa mengontrol dirinya sendiri.
“Brengsek..” umpat nya mengutuk kebodohannya dulu yang menikahi Airin. Dan sekarang, bagaimana jika Ara membencinya.
Sampai di apartemen, Elard turun dari mobil yang di tumpangi nya. Dan melangkah lebar masuk ke dalam lift naik ke lantai atas dimana apartemen Ara berada. Sementara sang supir taksi hanya diam mematung melihat pria yang baru keluar dari mobilnya pergi begitu saja.
“Shit..” umpat Elard mengingat dia belum membayar taksi miliknya. Dia merogoh ponsel miliknya dan menghubungi Jefri. Tak lama Elard menyimpan ponsel miliknya kembali dan keluar dengan langkah lebarnya mendekati pintu apartemen Ara.
Dia menempel kan kartu access di tangannya dan membuka pintu apartemen Ara. Dari mana Elard memilikinya, tentu itu hal yang mudah bagi Elard.
Elard mengedarkan pandangannya dan melangkah lebar menuju ke salah satu pintu yang di yakini kamar Ara. Tanpa mengetuk dan basa basi, Elard membuka pintu kamar Ara begitu saja.
Clek..
__ADS_1
Arkk..