Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab.60# Dimana Ara


__ADS_3

“Aku putri Luis, tentu bisa melakukan apapun tanpa kau duga tuan.”


Brakkk


Brukk..


Pria berpakaian hitam terjengkang ke belakang saat sebuah vas bunga berukuran besar menghantam nya. Sementara Ara tersenyum tipis, mendengar umpatan pria yang jatuh tersungkur. Tak lama lagi datang kembali tiga orang pria menyerang Ara. Dan Ara mau tidak mau juga menyerang mereka. Dia tak ingin mereka menyakitinya lagi. Apapun yang terjadi dia membela dirinya. Ara tak perduli akan membunuhnya sekalipun kali ini.


Sementara di dalam kamar Kikan kembali membuka pintu kamarnya dan melotot melihat Ara yang yang melawan tiga pria bertubuh tinggi besar sendirian. Tak lama dia terkesiap saat melihat salah satu dari mereka membawa senjata tajam dan mengarahkannya pada Ara.


Dor.


Bruk.


Ara kaget dan menoleh ke belakang saat mendengar suara tembakan di telinganya. Seorang pria tergeletak bersimbah darah dan itu karna Kikan yang menembaknya.


Sett


“Brengsek..”


Ara tersenyum mendengar umpatan pria di depannya. Di tangannya sebuah pisau dapur terkena noda darah dari pria yang berteriak dan mengumpat dirinya.


“Siapa yang mengirim anda padaku tuan.?” Tanya Ara berjalan melangkah mendekatinya. Nafasnya memburu dan dadanya naik turun, lelah melawan lima orang pria dewasa dan besar sekaligus. Terlebih ini adalah pertama kali nya Ara menunjukkan dirinya pada orang lain. Ara tak pernah sebrutal ini sebelumnya, dia hanya menunjukkan wajah ketakutannya saat dia di sakiti.


“Apa kau juga kelompok mereka yang ingin menabrakku siang tadi tuan.”

__ADS_1


Sementara pria yang memegang dadanya yang berdarah terkekeh melihat keberanian Ara pada mereka. Ternyata gadis di depannya ini bukanlah gadis yang lemah dan bisa dia bunuh. Dia mengumpat wanita yang sudah membayarnya. Ternyata dia sudah berbohong padanya dan menipunya jika gadis di depannya ini hanyalah gadis kecil. Ternyata dia sudah berbohong padanya.


“Aku hanya di utus untuk membunuh mu nona.” serunya emosi bukan main melihat gadis kecil di depannya ternyata pintar bela diri.


Sett ..


Brukk..


“Ara.” Kikan berteriak kaget melihat pria itu melemparkan pisau lipatnya pada Ara. Dan Ara sendiri yang kaget menghindar dan jatuh. Beruntungnya pisau itu tak mengenai dirinya. Ara menoleh dan dia terkesiap kembali melihat sebuah benda tajam mengarah padanya.


Jlebb.


*


“Tuan..” sapa Sara pada Elard yang berjalan terburu buru ke luar dari dalam lift. Sara tak tau kemana Elard malam hari ini, tapi bagi Sara ini kesempatan untuk nya.


Ya Sara sedikit marah saat pria asing di depannya ini mengabaikan nya. Padahal dia sudah bercerita panjang lebar padanya, tapi pria bule di depannya ini sama sekali tak menggubrisnya sedikitpun.


“Tuan, saya tau dimana tempat wisata paling bagus dan banyak di minati oleh wisatawan asing. Tuan pasti tak rugi datang ke sana. Saya yang akan menjadi pemandu anda nanti. Bukankah anda datang kemari ingin mengunjungi tempat wisata.” Papar Sara panjang lebar pada Elard.


Ya dia tau dari bos tempat nya bekerja jika Elard datang ke Indonesia sebenarnya bukan untuk berbisnis, tapi untuk berwisata. Itu sebabnya dia datang kemari, apalagi jika bukan untuk merekomendasikan tempat itu sekaligus ingin dekat dengannya. Sara tak takut sudah beberapa kali Elard menolaknya bahkan Elard juga pernah mempermalukan di depan teman karyawan nya.


“Menyingkir dari hadapanku nona.” Desis Elard dingin menatap Sara tajam dan penuh emosi.


Sementara Sara kaget mendengar jawaban Elard. Dia bahkan sedikit menciut saat mendengar nada dingin Elard di telinganya.

__ADS_1


“Tuan..”


“Menyingkir dari harapanku atau aku akan membunuhmu nona.” Geram Elard semakin emosi bukan main. Dan Sara semakin kaget mendengar nya. Terlebih melihat mata pria di depannya ini yang menyalak tajam padanya.


Elard mendorong Sara hingga Sara terhuyung dan hampir saja terjengkang ke belakang.


Sementara Elard melanjutkan langkahnya menuju parkiran dan pergi ke rumah Ara yang lumayan jauh dari pusat kota. Bibirnya mengumpat wanita itu yang membuatnya semakin emosi. Jika ini di perusahaan miliknya dan negaranya dia yakin sudah menembaknya sejak pertama kali bertemu.


Dan Sara tak percaya saat lagi lagi dirinya mendapatkan. Penolakan dari Elard. Apalagi saat mendengar suara dingin Elard di telinganya. Dia seperti orang jahat yang suka membunuh. Sara menggelengkan kepalanya mengusir pikiran bodohnya. Mana mungkin pria setampan itu seorang kriminal, ya pasti bukan. Dia bisa merayunya besok lagi bukan, saat ini cukup dirinya di perlakukan seperti ini.


“Sara jika ingin mendapatkan nya, kau harus menebalkan wajahmu.” gumam Sara tak kapok dan kembali berjalan keluar dari lobi hotel. Dia tak perduli dengan beberapa karyawan yang melihat ke arahnya penuh tanda tanya. Dalam hati Sara mereka pasti akan kaget dan memujinya saat dia mendapatkan Elard.


*


Elard duduk gelisah di dalam mobil yang di kendarai Jefri. Pikirannya tak tenang memikirkan Ara yang pastinya saat ini berada dalam bahaya. Airin ternyata lebih cepat mencari tau dan ingin membunuh Ara. Padahal dia baru tiga hari berada di Indonesia, Airin sudah tau.


“Lebih cepat lagi Jefri.” Seru Elard yang di angguki Jefri, padahal mobil yang di kendarai Jefri sudah melaju kencang. Tak sampai setengah jam mobil yang di kendarai Jefri sampai di depan halaman rumah sederhana di mana Ara dan Kikan tinggal selama ini.


Elard mengerutkan keningnya melihat pagar halaman rumah Kikan terbuka. Tak lama Elard berlari masuk ke dalam dan mengambil senjata miliknya yang berada di punggungnya.


Wajah Elard semakin kaget dan shock melihat pintu rumah Kikan terbuka dan rusak. Elard masuk begitu saja dan dia semakin shock saat melihat ke adaan rumah yang hancur berantakan. Jantungnya berdetak lebih kencang mengingat gadis miliknya.


Elard melangkah lebar menuju kamar Ara dan membukanya. Wajahnya pucat bukan main saat menyadari Ara ternyata tak ada di dalam kamarnya. Elard kembali lagi melangkah ke kamar yang di yakini kamar Kikan. Dan Elard juga sama tak menemukan keberadaan Ara dan Kikan, kamar Kikan kosong.


Elard mengusap wajahnya kasar, dia melangkah ke dalam kamar mandi dan di dalam kamar mandi juga kosong. Bukan hanya kamar mandi, Elard juga memeriksa dapur dan mencari keberadaan Ara di belakang rumah. Tapi sayangnya Ara tak ada dimana mana.

__ADS_1


Sementara Jefri meneliti mayat yang tergeletak di lantai. Dia mengedarkan pandangannya dan melihat rumah Kikan yang terlihat berantakan dan hancur. Jika mereka mati di sini, lalu dimana nona Ara dan Kikan saat ini.


__ADS_2