
“Turun kan Ara.”Elard menghentikan langkahnya mendengar suara Ara tepat di telinganya. Tak lama Elard menggelengkan kepalanya dan melangkah kembali menuju lift.
“Turun kan Ara om!” Lagi suara yang terdengar dingin di telinga Elard.
Mendengar tak ada sahutan dari Elard Ara beringsut turun dari gendongan Elard. Tapi Elard tak membiarkan Ara turun dari gendongannya. Ara hanya pasrah saat Elard tak mau menurunkannya. Dia membiarkan Elard menggendongnya sampai di parkiran. Lagi pula kakinya terasa lemas dan tak bertenaga. Yang harus dia lakukan sekarang adalah menyembunyikan wajahnya di dada bidang Elard. Dia tak ingin mereka melihat wajahnya.
Tentu saja malu, jika tak seperti ini. Ara tak akan mau Elard menggendongnya.
Elard menurunkan Ara di samping kursi kemudi miliknya. Memasangkan sabuk pengaman pada gadis yang masih menangis segukan.
Sementara Ara menundukkan wajahnya masih terisak. Dia benar-benar takut bukan main setelah mengalami kejadian yang seperti ini.
“Jangan perca_”
Elard kaget melihat pipi Ara yang memerah. Dia menyingkirkan rambut yang menutupi pipi dan dagunya. Seketika emosinya memuncak melihat pipi Ara benar-benar merah bekas telapak tangan seseorang. Di tambah lagi ada darah yang mengering di bibirnya. Jangan lupakan dagunya yang juga tergores.
“Siapa yang melakukannya sayang.” Tanya Elard, mengeraskan rahangnya emosi. Nafasnya memburu menahan emosi yang memuncak.
Ara menyingkirkan tangan Elard di pipinya dan memalingkan wajahnya. Tangannya terus mengusap pipinya yang basah. Dia tak menjawab pertanyaan Elard.
Dia hanya tak percaya Elard akan memanfaatkan dirinya. Benarkah semua itu, jika ayahnya membunuh ayah dari pria di sampingnya. Dan saat ini, pria di sampingnya ini akan membalaskan dendamnya.
“Sayang.” Lirih Elard menyentuh bahu Ara dan sang empu langsung berjengit kaget.
“Ara mau pulang.” Ucapnya dengan nada serak karna menangis sembari menyingkirkan tangan Elard di puncaknya.
Sementara Elard yang emosi mengendurkan kepalan tangannya. Mencoba mengontrol emosinya yang memuncak, karna gadis miliknya ternyata terluka. Entah siapa yang berani melukainya. Dia pastikan akan membalas lebih dari yang dia bayangkan.
“Ya sayang.” Elard melangkah menuju kursi kemudi. Dia menginjak pedal gasnya meninggalkan perusahaan miliknya. Ekor matanya terus melirik Ara yang sama sekali tak menoleh ke arahnya. Ya Elard tau Ara pasti membencinya. . Elard menghentikan mobilnya di rumah sakit terbesar di pusat kota.
__ADS_1
Ara menoleh ke arah Elard dan mengedarkan pandangannya. “Kita obati dulu lukamu sayang.” Kata Elard seolah tau apa yang ada di pikiran Ara.
Ara masih diam dia mengunci bibirnya. Masih terisak mengingat semua yang terjadi. Ara sungguh tak percaya dan tak pernah menyangka akan mendapatkan perlakuan kasar seperti ini.
“Aku baik baik saja om.” Sahut Ara tanpa mengalihkan pandangannya pada Elard.
“Tidak sayang, kau harus mengobatinya.” Kekeh Elard membuka pintu mobilnya. Tapi Elard menghentikan kakinya kemudian dan terkesiap.
“Apa om dengar, aku baik baik saja.” Teriak Ara emosi. Air matanya kembali merebak keluar. Elard menoleh, melihat tangis Ara kembali mengulurkan tangannya pada Ara. Tapi Ara menghindarinya dan menatap dingin padanya.
“Sayang.” Seru Elard menatap Ara dengan pandangan memohon. Sungguh Elard tak bisa melihat Ara membencinya. Apalagi melihat tatapan mata Ara padanya.
“Jangan memanggilku sayang, aku membencimu.” Pekik Ara lagi, dadanya naik turun marah dan benci pada pria di depannya.
Jantung Elard seperti di tusuk ribuan jarum mendengar teriakan Ara lagi. Dia benar-benar membencinya. “Sayang om tak pernah_”
“Jadi semua itu benar om.” Isaknya menatap Elard dengan pandangan kecewanya. Elard menggeleng keras mendengar pertanyaan Ara di telinganya.
“Sayang.” . Tak ada sahutan dari Ara. Jangankan menyahut seruan Elard, menoleh saja Ara sama sekali tak melakukannya. Dan Elard tentu saja sangat sakit melihat Ara marah padanya. Sumpah demi apapun, Elard tak pernah berniat membalas Luis. Apalagi menjadikan Ara sebagai tawanannya.
Elard memang membenci Luis, tapi dia sama sekali tak ingin membalasnya. Ya kebenciannya pada pria yang sudah mengasuhnya memang sangat dalam. Sebelumnya Elard memang ingin membalas Luis, tapi lagi lagi dia tak bisa mengabaikan gadis kecilnya. Dan mana mungkin dia membalas Luis, gadis kecil di depannya ternyata benar-benar membuatnya melupakan segalanya.
Ara masih diam di kursi samping kemudi. Entah kenapa Elard masih diam dan tak menjalankan mobilnya. Telinganya hanya mendengar suara Elard yang sedang menelpon seseorang.
Tak sampai sepuluh menit dua orang pria dan wanita datang menghampiri Ara dan membuka pintu mobilnya. Ara menatap keduannya yang memakai baju kebesaran miliknya. Ara mengepalkan tangannya, menyadari Elard telah memanggil dokter kemari.
“Nona ingin masuk ke dalam.”
Ara menatap pria paruh baya di depannya yang mengeluarkan salah satu alat medisnya.
__ADS_1
“Aku baik baik saja dokter.” Sahut Ara. “Dokter jangan disini.” Imbuhnya lagi dan Elard bernafas lega mendengar ucapan Ara di telinganya.
“Luka anda harus di obati nona, kalau tidak bisa infeksi hemm.” Kata dokter mengobati luka di dagu Ara setelah mereka sampai di salah satu ruang VIP kamar rawat pasien.
Elard sama sekali tak menjauh dari Ara. Tatapan matanya sama sekali tak berpaling dari wajah Ara yang lebam. Giginya gemerutuk menahan emosi yang lagi lagi menguasai nya.
Shh..
“Sayang apa sakit.” Tanya Elard melihat ringisan Ara. Ara masih diam tak menjawab pertanyaan Elard. Dan dokter melirik ke arah Elard. Dia tau siapa Elard. Apalagi Lionel Elard Roberto adalah pemilik saham terbesar di rumah sakit ini.
Elard sungguh tak bisa berbuat apa apa saat melihat Ara sama sekali tak menoleh ke arahnya.
*
Sementara Robert yang terkapar tak berdaya di ruangan Elard mencoba bangkit dari lantai.
“Anda sangat menyedihkan tuan,” ejek Jefri pada Robert. Ya sejak pertama kali Jefri mengadukan kesetiaannya pada Elard. Dia tak pernah menyukai pria tua yang tergeletak diatas lantai dan mencoba bangun dari lantai.
“Brengsek.” Maki Robert menatap tajam Jefri yang berdiri menjulang tanpa membantunya. “Aku akan menyingkirkan mu sialan.” Imbuhnya lagi, nafasnya sesak merasakan sakit yang luar biasa di tubuhnya.
Aggrr...
Jerit Robert saat dia menggerakkan tubuhnya dan kakinya. Jefri tersenyum miring mendengar suara kesakitan Robert.
“Saya yakin, tuan akan memberikan hadiah yang jauh lebih berharga dari pada ini tuan.” Ledek Jefri lagi. Dan Robert tak menggubris ucapan Jefri, hanya tatapan matanya yang menatap tajam pada asisten keponakannya itu.
“Tunggu saja pembalasan ku.” Gumam Robert meringis kesakitan. Dia tak percaya Elard akan membunuhnya demi gadis itu. Robert mengepalkan tangannya mengingat semua itu.
Gara-gara gadis itu, tubuhnya remuk redam dan nyawanya juga hampir melayang. Semua ini karna gadis brengsek itu. Lihat saja dia pasti akan membalas nya. Lion tak boleh terpengaruh lagi oleh Sky atau pun putrinya. Ya saat ini Elard sudah menyumbangkan semua kekayaan mendiang ayahnya. Sampai membuat dirinya tak punya apa-apa.
__ADS_1
Dan sekarang dia tak ingin tak mendapatkan apa yang dia incar selama ini. Selama bertahun-tahun lamanya, dia sudah menyingkirkan anggota lainnya demi mendapatkan harta peninggalan Edwin. Dan semua itu tak boleh sia sia dan gagal.
Dia harus menyingkirkan gadis itu, apapun yang terjadi, Lion tak boleh menendangnya dari mension mewahnya.