Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab.34# Gadis polos


__ADS_3

“Shit..” umpat Elard berdiri dari duduknya dan meninggalkan rekan bisnisnya. Ya Elard lembur meeting bersama dengan rekan bisnisnya malam ini.


Sementara pria yang menjadi rekan bisnisnya ikut berdiri. Tapi Jefri mengatakan padanya jika dia yang akan menggantikan tuannya meeting malam ini.


Sementara Elard melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi keluar dari perusahaan miliknya. Dia sudah menghubungi bawahannya untuk mencari Ara di apartemen miliknya dan kampus. Tapi mereka bilang Ara tak ada di sana.


Wajah Elard merah padam mendengar penuturan mereka. Tangannya mencengkram erat setir kemudi miliknya.


“Temukan Ara brengsek.” Teriaknya pada beberapa bawahannya di sebrang telpon, lalu membuang ponsel milik nya ke sembarang arah.


Elard mengumpat dirinya sendiri yang bodoh. Seharusnya dia memberikan Ara sesuatu agar memudahkannya untuk mencarinya.


“Bodoh..” umpat nya lagi.


Sepuluh menit kemudian ponsel yang di buangnya berdering kembali. Elard menghentikan mobilnya dan mengambil ponsel miliknya.


“Dimana.?”


Elard mengeraskan rahangnya mendengar penuturan bawahannya yang mengatakan mobil Ara di sebuah hotel. Untuk apa Ara pergi ke sana dan siapa yang sudah membawanya. Elard meremas ponsel di tangannya emosi. Dadanya bergemuruh hebat membayangkan apa yang di lakukan Ara saat ini.


Tapi tak lama kemudian Elard mengerutkan keningnya saat mengingat sesuatu.


“Brengsek.”


Elard kembali membuang ponsel miliknya dan menyalakan mobilnya dan menginjak pedal gasnya. Berbagai pikiran buruk hinggap di kepala Elard membayangkan Ara yang berada di dalam hotel. Entah bersama siapa saat ini gadis kecilnya.


Apa Ara datang ke pesta itu, atau mungkin dia bersama seorang pria dan berada di dalam kamar.


“Aku akan membunuhmu jika berani menyentuhnya brengsek.”


*


 “Hey dia sangat cantik.”


Airin menoleh ke samping saat salah satu sahabatnya berseru. Dia mengerutkan keningnya melihat gadis belia berpakaian mini berada di tengah tengah pesta. Datang ke pesta hanya memakai pakaian biasa. Dan jangan lupakan tatanan rambutnya.

__ADS_1


“Kampungan.” Ucapnya tersenyum sinis. Sementara yang lainnya hanya tertawa mendengar perkataan Airin.


“Dia masih kecil, belum bisa merawat dirinya dan berdandan.”


“Aku rasa, dia akan sangat cantik jika berdandan.” Sahut yang lainnya pada Airin.


Airin hanya mendengus dan melirik sinis pada sahabatnya. “Dia tidak lebih cantik daripada aku.” Sahutnya ketus. Ya Airin akui jika gadis itu sangat cantik.


Sementara Ara masih mengedarkan pandangannya melihat suasana pesta yang begitu meriah. Dia tak percaya jika pesta ini sangat mewah.


“Kenapa daddy tak pernah mengajakku ke pesta.” Ara menggerutu mengingat Sky yang tak pernah mengajaknya ke pesta. Padahal Ara sangat senang, apalagi melihat banyaknya warna warni beraneka minuman dalam gelas. Bukan hanya itu, gelas itu juga terlihat sangat lucu dan imut.


“Hey girl,”


Ara menoleh saat seseorang menyapanya, meski tak memanggil namanya, Ara tau pria di sampingnya berbicara padanya.


Ara tersenyum malu melihat dua pria dewasa dan satu wanita dewasa berdiri di depannya dan tersenyum padanya. Dan Ara menunduk melihat dirinya sendiri dan mendongak menatap mereka satu persatu dan mengedarkan pandangannya. Tak lama kemudian Ara meringis malu. Menyadari jika dia ternyata hanya memakai pakaian biasa berbeda dengan mereka.


“Kau sangat lucu girl.” Kekeh salah satu pria berusia hampir lima puluh tahun.


“Cantik kau datang dengan siapa sayang.?” Sang istri bertanya pada Ara dengan senyum lebar di bibirnya. Dia bahkan mencubit pipi Ara yang terlihat cabi dan menggemaskan.


“Em nyonya aku_”


“Kau sangat lucu girl.” Kekeh pria satunya lagi, kali ini dia mengelus rambut Ara yang di cepol.


Dan Ara membalasnya dengan menampilkan deretan giginya yang putih.


“Bagaimana jika dia menjadi menantuku.” Tanya Denise pada kakak perempuannya dengan bibir yang tersenyum lebar. Sementara Sherly mendengus mendengarnya. Dia memukul adiknya dan melotot padanya.


“Mana mau dia sama putramu yang Playboy itu.” Sahutnya yang di balas dengan tawa adik dan suaminya. Sementara Ara bingung melihat mereka bertiga.


“Sayang nikmati pestanya hemm, aunty tinggal dulu. Kau bisa memilih kue di sebelah sana.” tunjuk Sherly ke samping dimana beranekaragam kue dan minuman berjejer rapi.


“Benar aunty, Ara bisa mencobanya.” Pekik Ara, tak lama dia menutup mulutnya saat menyadari kebodohannya. Tentu saja Ara sangat senang bukan main. Apalagi saat melihat berbagai jus berwarna-warni berjejer rapi yang dari tadi menggodanya.

__ADS_1


Sherly tertawa melihat gadis di depannya terlihat senang bukan main. “Siapa namamu tadi sayang, Ara.?” Tanya Sherly lagi.


“Arabelle, aunty.” Sahut Ara tersenyum.


Sherly menganggukan kepalanya, mengelus kepala Ara dan meninggalkan Ara sendiri lagi bersama adik dan suaminya mengapa para tamu undangan.


Airin yang melihat itu tersenyum sinis dan mendengus melihatnya. Dia tak percaya jika nyonya Sherly dan suaminya akan terlihat akrab dengan gadis kampung itu.


Sementara Ara, melangkahkan kakinya menuju meja panjang yang menyajikan berbagai jus dan minuman di atasnya. Senyumnya sangat lebar bukan main. Matanya bahkan berbinar saat dirinya semakin dekat dengan meja.


Ara bahkan tak perduli dirinya menjadi bahan tertawaan kali ini. Mungkin juga sebagian besar dari mereka menatapnya sinis dan mengatakan kampungan. Memang pada dasarnya Ara tak pernah melihat beraneka minuman berwarna-warni.


Sementara Emma yang berada di belakang di ruang ganti, kebingungan mencari keberadaan Ara. Emma mengutuk kebodohan nya sendiri yang meninggalkan Ara sangat lama.


Ara mengambil salah satu gelas berukuran kecil dan tinggi. Yang lebih aneh lagi bagi Ara. Mereka mengisinya hanya sedikit, tak lebih kurang dari setengah gelas. Ara lalu mengedarkan pandangannya dan berdecak.


“Kenapa mereka hanya mengisinya setengah. Apa pemilik pesta ini pelit.” Gumam Ara mencebikkan bibirnya. “Jus jeruk dan melon penuh. Lalu kenapa jus Srowbery hanya sedikit.” Imbuhnya lagi mengangkat gelas di tangannya.


Keningnya mengkerut saat hidungnya menghirup aroma yang aneh dan asing. Ara mencobanya sedikit dan tak lama kemudian dia mengeluarkan lidahnya yang terasa terbakar dan rasa pahit bercampur manis menyapa lidah dan tenggorokannya.


“Ishh.. Rasanya aneh, seperti ada api dan cabainya.” Gumam Ara lagi. Tangannya mengangkat lagi hendak mencobanya lagi, tapi tiba-tiba saja seseorang memanggilnya.


“Queensa.”


Ara menoleh ke samping dan mengerutkan keningnya melihat Dary berjalan ke arahnya. Bukan hanya itu kali ini Dary memakai jas dan pakaian formal di tubuhnya. Terlihat lebih dewasa dan tampan, tapi menurut Ara Dary terlihat biasa saja.


“Kau ada di sini.?” Kata Dary lagi, dia tak percaya jika gadis yang di lihatnya dari tadi ternyata adalah Queensa. Dia mengenalinya dari pakaian yang di pakai Queensa yang terlihat sama saat di kampus tadi.


“Aku mengantar Emma.” Sahut Ara. Dan Dary hanya menganggukan kepalanya meski tak tau, untuk apa Ara mengantar Emma kemari. Setidaknya dia senang melihat Ara ada di sini.


“Dan kakak.?” Tanya Ara pada Dary.


“Ini adalah pesta paman ku yang aku bilang tadi saat mengajakmu.“ sahutnya tersenyum lebar yang di angguki oleh Ara. Tak lama Dary mengerutkan keningnya melihat wine yang di pegang oleh Ara.


“Kau biasa meminumnya.” Dary menyunggingkan sudut bibirnya pada Ara. Dalam hatinya berpikir,’apa ini kesempatan untuk nya.’

__ADS_1


Ara melirik ke arah gelas di tangannya. “ Ya,” jawab Ara asal, bibirnya tersenyum tipis pada Dary.


“Ternyata kau tak sepolos wajahmu.”


__ADS_2