
Ara mengikuti langkah pria yang melangkah lebih dulu. Dia tak tau untuk apa dia di panggil ke ruang guru. Tapi tidak dengan Mishel yang tau, kenapa Ara di panggil oleh mereka. Apalagi jika bukan untuk menghukumnya.
Firdaus melirik ke belakang, dia tak tau jika di kampus ada gadis cantik sepertinya. Ya dia baru menyadari jika dia adalah siswi baru di Universitas ini.
“Siapa namamu.?” Tanyanya pada Ara dan melirik Ara dengan ekor matanya.
Sementara Ara yang mendengar pertanyaan untuknya mendongak. “Queensa,” Jawabnya menundukkan kepalanya lagi mengikuti langkah pria di depannya.
Firdaus tersenyum tipis mendengar namanya. Nama yang sangat cantik seperti orang nya, pikirnya.
Tak sampai lima belas menit Firdaus membuka pintu ruang meeting dan membawa Ara masuk ke dalam. Sementara Ara bingung melihat beberapa pria dan wanita duduk di depan meja yang cukup luas.
Elard menatap gadis belia yang berdiri di depan pintu. Jantungnya kembali berdetak lebih kencang saat melihat gadis itu kembali.
Elard menatap Ara dari atas sampai bawah, dan terlihat lebam di lututnya. Dia berdiri dari duduknya, kemudian melangkah mendekati Ara.
Jantungnya yang berdetak lebih kencang, semakin berdetak kencang dan tak terkendali saat dia semakin dekat dengan gadis di depannya.
Ara yang menundukkan kepalanya mendongak, melihat wajah Elard yang berdiri di depannya.
Jika Elard semakin berdetak jantungnya, berbeda dengan Ara yang mengerutkan keningnya melihat wajah pria di depannya. Dia seperti pernah melihatnya, tapi Ara tak tahu di mana dia melihatnya.
“Apa tak ada pakaian yang lebih seksi lagi.” Seru Elard menatap Ara. Entah kenapa bibirnya justru mengatakan hal itu pada Ara. Padahal sebelumnya bukan itu yang ingin dia katakan padanya.
Mereka semua menatap ke arah Lion bingung. Lion tiba tiba saja menghentikan meeting mereka saat mendengar pintu yang terbuka. Padahal meeting baru berlangsung sepuluh menit yang lalu.
“Obati lukamu,” Seru Elard pada Ara.
Dan Ara mendongak ke arah Elard kembali, kemudian tersenyum masam. Dia melirik ke arah guru lainnya yang masih menatapnya. Ara menghembuskan nafasnya perlahan. Dia di panggil kemari hanya untuk ini.
__ADS_1
“Saya pikir saya sudah melihatnya di ruang kesehatan tadi. Terima kasih sudah memberikannya untuk ku tuan.” Sahut Ara mengambil salep di tangan Lion, kemudian berbalik dan melangkah pergi. Tak perduli dengan mereka yang melihat ke arahnya.
Sementara Elard yang melihat gadis di depannya berbalik hanya mematung. Benarkah dia memanggilnya hanya untuk memberikannya salep.
Brak..
Mereka semua berjengit kaget mendengar suara pintu yang tertutup rapat. Begitu juga dengan Elard yang masih berdiri mematung. Bingung dan tak tau caranya. Padahal sebelumnya dia ingin mengobatinya.
Ara melangkah perlahan dengan bibir yang menggerutu. Dia mengumpat pria yang sudah memanggilnya. Sudah di ruang kesehatan, tapi di panggil ke ruang guru dan hanya di berikan salep.
“Ishh menyebalkan, apa yang pria tua memang seperti itu.”
Sementara di dalam ruangan meeting Elard masih diam di kursi miliknya. Dia tak perduli dengan meeting yang sedang berlangsung.
Mata itu seperti gadis kecilnya. Sangat imut dan bersinar. Mata yang sudah membuat dia jatuh cinta pada pandangan pertama nya dulu.
“Ara.. “ Gumam Elard dalam hati. Dia menyentuh dadanya yang terus berdetak kencang. Sudah empat belas tahun, kali ini pasti Ara sudah kelas tiga sekolah menengah ke atas. Seperti dulu, dimana dia baru menerima penghargaan dari sekolahnya. Tapi saat itu juga dia mengetahui jika Sky lah yang sudah membunuh ayahnya. Lalu kemudian dia pergi tanpa pesan dan tanpa berpamitan pada Ara.
“Siapa namanya.?” Cetus Elard tiba-tiba di tengah tengah meeting. Mereka semua menoleh ke arah Elard yang duduk di kursi utama.
“Gadis tadi tuan.?”Kali ini Jefri yang bertanya. Dia sudah menduga dengan tuannya yang tak fokus sama sekali dari tadi.
Elard melirik kearah Jefri dan kemudian melirik ke arah mereka semua.
“Namanya Queensa tuan.” Jawab Firdaus setelah menyadari jika Lion menatapnya.
Elard mengerutkan keningnya mendengar nama gadis itu. Tak lama kemudian dia menghembuskan nafasnya perlahan. Dia pikir gadis itu benar benar Ara, gadis kecilnya.
Sementara di dalam kelas Ara duduk di kursi miliknya. Mereka yang melihat Ara kembali bingung. Mereka pikir Ara akan di hukum oleh tuan Leon ternyata tidak, dia masih baik baik saja.
__ADS_1
Apalagi Elina, dia mendengus melihat Ara baik baik saja.
*
“Kau baik baik saja.” Tanya Emma berbisik keluar dari kelas mereka. Ara menoleh dan menganggukan kepalanya. Mereka kembali berjalan menuju parkiran. Emma menoleh ke arah Ara dan mobil berwarna putih yang masih terlihat baru.
“Ini mobil milikmu.” Tanya Emma yang belum percaya. “ Kupikir mobil ini bukan milikmu kemarin. Kau pasti dari keluarga kaya mobil ini edisi terbatas dan kau bisa membelinya.” Imbuh Emma lagi.
“Hadiah dari daddy.” Senyum lebar di bibir mungil Ara terlihat dan itu menambah pacu jantung pria yang berada di dalam mobil tak jauh dari Ara.
Elard, dia meminta Jefri menunggu beberapa menit saat asisten sekaligus tangan kanannya itu menyalakan mobilnya.
Mata Elard tak berkedip melihat gadis belia tak jauh darinya. Dia bisa melihatnya yang berjalan sedikit perlahan. Elard tau kenapa, lututnya pasti masih sakit.
Tak lama Elard menggelengkan kepalanya, gadis itu bukan Ara. Ya gadis itu bukan Ara.
“Jalan.”
Jefri menginjak pedal gasnya dan pergi meninggalkan halaman parkir kampus setelah mendengar penuturan tuannya. Dia melirik ke arah tuannya yang duduk di kursi belakang. Entah apa yang sedang di pikirkan tuannya tentang gadis itu. Tapi terlihat jika tuannya tak baik baik saja.
*
Malam harinya..
Di dalam kamar, Elard memijit kepalanya yang pusing. Sejak melihat gadis itu, pikirannya terus tertuju pada gadis itu. Padahal jelas jelas dia bukan Ara. Lalu kenapa jantungnya tak berhenti berdetak. Seperti dulu, saat pertama kalinya dia melihat mata Ara untuk pertama kalinya.
Ya mata indah Ara, wajah bulat dengan hidung yang sangat kecil. Dulu dia sering menggigit hidung kecil Ara hingga gadis kecilnya berontak.
Pipinya yang cabi, bibirnya yang mungil dan sering dia cium saat malam. Bibir mungil yang selalu menciumnya. Bibir mungil yang selalu merengek padanya. Bibir itu juga yang sudah membuat nya tergila gila. Entah apa yang dia rasakan, dia seperti maniak.
__ADS_1
Menyukai balita berusia empat tahun, terdengar sangat lucu dan menjijikkan jika seseorang mendengarnya mungkin. Tapi itulah yang Elard rasakan. Dia mencintai gadis mungilnya, gadis balita yang menjadi adiknya. Sebelumnya Elard tak tau rasa di hatinya. Tapi setelah dia pergi dari mension Sky dan seiring berjalannya waktu. Dia baru menyadari jika dia tak bisa melupakan Ara. Cinta yang dia miliki di hatinya bukan cinta pada adik mungilnya. Tapi cinta sebagai seorang pria pada seorang wanita.