
“Om.. “ teriak Ara mendelik pada Elard. Dia tak tau jika pria dewasa ini ternyata sudah mengobrak abrik lemarinya.
Sementara Elard terkekeh mendengar suara teriakan Ara. Lucu mengingat dia dulu yang ingin Ara memanggilnya uncle bukan kakak. Dan sekarang Ara justru memanggilnya Om padanya. Entah besoknya lagi, Ara akan memanggilnya apa. Tapi Elard berharap Ara akan memanggilnya sayang dan menjadi miliknya.
Elard sungguh tak perduli dengan siapa dirinya.
Bukankah dia sudah menikah dengan Airin. Lalu kenapa dia yakin bisa mendapatkan Ara untuknya. Apalagi berharap Ara akan menerimanya dengan sepenuh hati, tanpa melihat statusnya nanti.
Ya statusnya nanti, Elard sudah berencana akan menceraikan Airin. Sudah cukup baginya pernikahan palsu tanpa adanya cinta di dalamnya.
Dia hanya ingin gadis miliknya, bukan Airin atau wanita lain di luar sana. Dia akan menjadikan Ara cinta pertama dan terakhir. Meski dia tau itu akan sulit, terlebih saat mengingat siapa orang tua Ara sebenarnya. Elard harus menghapus dan memaafkan Sky yang sudah membunuh ayahnya.
Tapi untuk saat ini, Elard masih belum bisa memaafkan Sky. Egois memang, tapi itulah yang terjadi dan dia rasakan. Dia belum bisa memaafkan Sky, tapi dia menginginkan Ara menjadi miliknya, putri pria yang membunuh ayahnya dan di bencinya.
Elard kembali menutup lemari Ara dan menghampiri Ara yang duduk di atas ranjang. Elard menarik alisnya ke atas saat melihat Ara yang membuang wajahnya.
“Ada apa sayang.” Tanya Elard.
Ara menoleh ke arah Elard dsn menatap nya tajam. “Om mau apa datang ke apartemen ku dan menciumku. Bukankah om sudah punya istri, lalu kenapa om menciumku.” Teriak Ara saat otak nya kembali bekerja.
Elard menghembuskan nafasnya perlahan mendengar penuturan Ara. Dia sudah menduga, jika Ara pasti akan protes padanya dan marah padanya. Elard berjongkok di depan Ara lalu kemudian menjereng kain segi tiga berenda di depan Ara.
“Sayang ayo, angkat kakinya.”
Ara melirik ke arah bawah dan seketika wajahnya memerah seperti tomat melihat apa yang di lakukan Elard padanya.
“Sayang..”
*
Sementara di mension, Airin keluar dari kamarnya dan kembali berpapasan dengan Robert. Airin membuang wajahnya dan melangkah, tapi Robert menarik tangan Airin dan menatapnya.
__ADS_1
“Kau beraninya.” Geram Airin melotot pada Robert. Menyentak tangannya dari cekalan tangan Robert yang memegang nya erat.
“Aku tau kau juga menginginkan nya Airin. Jangan sungkan padaku, aku akan memberikan apa yang kau inginkan.” Kata Robert yakin pada Airin. Ya semalam dia bahkan tak bisa tidur, karna menahan hasrat nya pada wanita yang menjadi istri keponakannya.
Airin menggeram emosi mendengar penuturan Robert. Dia menatap benci pada Robert yang kurang ajar padanya.
“ Jangan macam macam padaku paman, aku bisa mengatakan nya pada suami ku jika kau kurang ajar padaku.” Ancam Airin dengan nafas yang memburu menahan emosi.
Sementara Robert yang mendengar Airin mengancamnya mendorong Airin kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengecup bibirnya rakus.
Brakk..
Terdengar suara pintu kamar yang tertutup rapat dari dalam. Ya Robert sudah tak bisa menahannya lagi. Menduda cukup lama dan semalam dia yang lebih dulu menggoda Airin ternyata justru memancing hasrat birahi nya.
Entah ada angin apa, dia juga akan menggoda Airin dan bersikap seperti ini pada Airin. Padahal sebelumnya, dia sama sekali tak pernah berniat menggoda Airin dan menginginkan Airin.
Karna melihat Airin yang hanya memakai lingerie di tubuhnya membuat hasrat Robert bangkit. Jiwa kelelakian nya yang lama tak tersalurkan kembali datang karna melihat tubuh molek Airin. Jika ingin di salahkan seharusnya adalah Airin.
Dia sudah tau jika penghuni mension ini bukan hanya dirinya dan Elard, tapi dia dengan berani hampir setiap hari memakai lingerie di tubuhnya. Apalagi mayoritas di mension ini adalah seorang pria.
Tapi semalam Robert benar benar tak bisa menahan hasratnya pada Airin. Hingga akhirnya pintu yang terkunci terbuka, dan tentu saja Robert memanfaatkan kesempatan ini.
“Brengsek, lepaskan.” Teriak Airin berontak di bawah kungkungan Robert.
“Aku tau kau juga menginginkan nya Airin.” Bisik Robert kembali membungkam bibir Airin dengan bibir keriputnya. Tangannya bergerilya kesana kemari dan mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.
Tak ingin usahanya sia sia, Robert menyusupkan tangannya masuk ke dalam dan menyusupkan salah satu jarinya pada area sensitif Airin yang lembab.
Ahh..
Akhirnya Airin tak bisa menahan gejolak hasrat yang di berikan Robert. Bibirnya meracau saat jari tua Robert memuaskan apa yang selama ini tak dia dapatkan.
__ADS_1
Hingga Airin menjemput nirwana nya sebanyak dua kali oleh tangan Robert.
“kau menyingkir dari ku brengsek.”
Robert tak menghiraukan teriakan Airin, dia menyatukan senjatanya pada milik Airin dan memulai permainan nya bersama dengan istri keponakannya nya.
Hingga setengah jam lebih Robert ambruk di atas tubuh Airin. Robert tersenyum penuh kemenangan, saat dia melepaskan cairannya pada Airin. Dia sama sekali tak berpikir tentang kedepannya. Pada dasarnya Airin sudah bersuami.
Jadi Robert berpikir ini tak masalah. Padahal Airin dan Elard tak pernah melakukan hubungan suami istri. Mungkin karna Airin yang sering juga sering kali melakukan hubungan badan dengan seseorang di luar sana. Itu sebabnya Robert tak mengetahuinya.
Ya Airin sering melakukannya bersama dengan seseorang. Tak pernah mendapatkan haknya sebagai istri, membuat jiwa Airin haus oleh sentuhan seseorang. Terlebih sebelum menikah dengan Elard Airin juga pernah melakukannya.
*
“Om tidak tidak pulang.” Ketus Ara melihat Elard masih berkeliaran di apartemen mewahnya. Sementara dirinya ingin pergi keluar dan mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Elard tersenyum tipis, dia mendekati Ara dan menggendong Ara tanpa permisi.
“Om, turunkan aku.” Teriak Ara memukul kepala Elard. Tapi tak lama Ara menatap mata Elard yang terus menatap ke arahnya. Ara membuang wajahnya saat melihat tatapan Elard yang terus menatapnya intes. Dan itu membuat jantungnya tak nyaman dan terasa aneh saat ini.
“Om mau membawa ku kemana.?” Tanya Ara bingung menoleh ke belakang.
“Tentu saja makan sayang.” Sahut Elard mendudukkan Ara di salah satu kursi makan. Ara mengerutkan keningnya melihat bebey menu di depannya. Matanya mengedarkan pandangannya ke arah dapur dan mencari keberadaan seseorang.
“Mencari siapa sayang.?”
“Kemana nani yang sudah masak om, Ara belum memberinya uang.” Seru Ara menoleh ke arah Elard. Elard tersenyum mendengarnya. Ara berpikir dia sudah menyewa pembantu malam ini.
“Dia tak menginginkan uang sayang.”
*
__ADS_1
Hai hai Hai mak, dukung otor ya.
beri hadiah like dan komentarnya.