Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab.16# Gadis kecilnya


__ADS_3

“Arabelle Queensa, tuan.”


Deg..


Jantung Elard berdetak lebih kencang mendengar penuturan Jefri. Dia merebut berkas di tangan Jefri dan membacanya ulang. Didalamnya hanya ada nama Arabelle Queensa dan Freya Felisha sebagai orang tua. Nama belakang keluarga Romanov juga tak tercantum disana. Tapi Elard yakin dia Arabelle.


Elard mengusap wajahnya kasar. Itu artinya dia benar-benar Ara gadis kecilnya. Elard tau kenapa namanya tak tercantum di biodata Ara dan hanya nama Freya di dalamnya.


“Tinggal dimana dia dengan siapa dia tinggal, apa dia baik baik saja sekarang.. **** .” cerocos Elard khawatir berjalan mondar-mandir.


”Jefri apa kau mendengar ku.” Teriak Elard lagi mengagetkan Jefri yang bingung melihatnya. Elard bahkan membuang jas miliknya ke sembarang arah.


“Dia tinggal di apartemen xx tuan sendiri.” Sahut Jefri.


“Shit...”


Brakk...


Pyarr...


Elard menendang meja di sampingnya hingga terbalik dan hancur berkeping-keping. Emosinya meluap ketika mendengar Ara tinggal seorang diri di sebuah apartemen. Bagaimana jika dia terluka atau ada orang yang ingin menculiknya.


“Brengsek.. “ Umpatnya lagi melangkah lebar keluar dari ruang CEO miliknya. Jefri yang melihat tuannya melangkah terburu-buru berusaha mengejarnya dan mengikuti langkah tuannya.


“Kita kemana tuan.?” Tanya Jefri karna pada dasarnya Jefri sama sekali tak tau masa lalu Elard.


“Jangan sampai aku memecahkan kepalamu sekarang juga Jefri.” Geram Elard menatap tajam pada Jefri yang duduk di kursi depan. Jefri hanya menelan ludahnya cekat mendengar ancaman tuannya. Ya Jefri tau siapa Lionel Elard Roberto.


Jefri menginjak pedal gasnya, dan mengendarai mobilnya keluar dari basmen perusahaan milik tuannya.


Empat puluh lima menit Jefri menghentikan mobilnya di sebuah gedung apartemen. Tak lama di melirik ke arah tuannya yang duduk di belakang. Jefri tak tau apa tuannya ingin datang kemari atau tidak, karna dia hanya mengira ngira saja.


Elard lagi lagi mengusap wajahnya kasar. Dia masih duduk di jok belakang. Padahal mobil sudah berhenti dari tadi dan Jefri juga sudah membukakan pintu untuknya.


Elard memijit kepalanya yang pusing. Apa yang harus dia lakukan.?


“Kembali ke perusahaan.” Titahnya menyenderkan punggung lebarnya. Dia melirik ke atas dan tangannya mengepal erat. Jantungnya bergemuruh hebat dan nafasnya memburu menahan emosi, marah, kecewa dan rindu menjadi satu.

__ADS_1


Mengingat gadis kecilnya tinggal sendiri di sebuah apartemen.


“Hentikan mobilnya.” Seru Elard membuka kaca mobil dan menatap gadis dengan rambut yang di cepol asal dan berjalan memakai dress pendek di atas lutut berwarna putih bunga, menuju ke arah salah satu mobil sambil menunduk dan terlihat pincang.


“Ah brengsek..” umpatan yang kesekian kalinya keluar dari bibir Elard saat menyadari jika Ara kemarin jatuh dan terluka.


Jantung Elard berdetak lebih kencang melihat penampilan dan kecantikan Ara. Wajahnya yang terkena sinar matahari terlihat bersinar seperti bidadari. Wajah yang imut dan cantik luar biasa sungguh semakin membuat jantung Elard berdetak lebih kencang.


Hidung kecilnya yang sering kali dia gigit hingga Ara menjerit dan memukulnya. Mata bulatnya yang di hiasi dengan bulu mata cantiknya yang hitam dan panjang. Di tambah lagi bibirnya yang akan terbuka saat dia tertidur.


Brakk..


Elard berjengit mendengar suara pintu mobil yang tertutup rapat. Seketika kesadarannya kembali saat melihat mobil Lamborghini berwarna putih keluar dari parkiran.


Elard mengepalkan tangannya saat membayangkan masa lalunya dan juga membayangkan wajah imut Ara.


“Kembali.” Titahnya lagi pada Jefri. Dia menatap mobil yang melaju membelah jalan kota Las Vegas. Elard tau akan pergi kemana Ara saat ini.


kemana lagi jika bukan pergi ke kampus.


Elard kembali mengepalkan tangannya saat menyadari mobil milik Ara. bibirnya terus menggerutu. bagaimana mungkin Luis membelikan Ara mobil yang sangat mewah untuknya.


Brukk..


Elard menjatuhkan bokongnya dan terus memijit kepalanya yang pusing. Mengingat Ara yang sendiri di kota Las Vegas, sungguh membuat dia tak percaya.


“Kapan gadis itu tiba di sini Jefri.” Tanyanya tanpa menoleh kearah Jefri. Kepalanya pusing bukan main mengingat gadis kecilnya ada di sini dsn tinggal sendiri di sini.


“Dua Minggu yang lalu tuan,” jawab Jefri berdiri tak jauh dari tuannya.


Elard mengingat kebelakang. Bukankah waktu itu dia juga ada perjalanan bisnis. Elard semakin mengepalkan tangannya saat mengingat pertemuannya dengan Ara ternyata saat mereka ada di bandara.


Cih..


“Apa tujuanmu tuan Luis, apa kua bisa mengelabuhi ku dengan putrimu. Kau sengaja mengirim putrimu kemari bukan. Aku tak akan tertipu dengan tujuan mu Luis.” Geram Elard dengan gigi gemerutuk menahan emosi.


“Selamat siang tuan.” Elard dan Jefri menoleh ke arah pintu yang terbuka dan menampilkan wanita berusia tiga puluh dua tahun masuk ke dalam dengan wajah menunduk nya.

__ADS_1


“Ada apa.?” Tanya Elard tanpa basa basi.


“Nyonya menelpon dan ingin berbicara anda tuan.” Sahut sang sekertaris menundukkan kepalanya dalam.


Elard mengerutkan keningnya mendengar penuturan sekertaris nya. Jefri sendiri hanya melirik ke arah tuannya melihat tuannya hanya diam dan tak mengambil ponsel yang di sodorkan oleh Diva.


Tak lama terdengar suara umpatan Elard di telinga Jefri dan Diva. Ya Elard lah yang mengumpat. Pria berusia hampir tiga puluh tiga tahun itu melupakan siapa dirinya. Melupakan jika dia sudah memiliki istri saat ini.


Mengingat gadis kecilnya, Elard bahkan langsung melupakan Airin dan status dirinya yang sudah memiliki istri. Tentu saja Elard langsung melupakan Airin, karna pada dasarnya Airin sama sekali tak berarti apa-apa dengan Elard dan Elard tak pernah sedetikpun mencintai Airin.


Itu sebabnya dia langsung melupakan Airin dan pernikahannya. Apalagi karna mengingat gadis kecilnya, gadis yang menjadi cinta pertama nya.


“Sayang, bagaimana kabarmu. Disini sedang turun salju honey.” Ucap Airin dengan nada riang dan semangatnya terdengar di telinga Elard.


“Ada apa.?” Tanya Elard seperti biasanya, tanpa menjawab pertanyaan Airin.


Sementara Airin sendiri mengepalkan tangannya mendengar nada ketus Elard di telinganya.


“Apa kau tak ingin menyusulku,” tanya Airin berharap suaminya akan menyusulnya kali ini. Semenjak menikah mereka tak pernah berbulan madu. Jangan kan berbulan madu, berjalan jalan berdua saja Elard tak pernah melakukannya bersama Airin.


“Aku terlalu sibuk untuk bersenang senang Airin.” Sahut Elard tanpa perasaan menutup sambungan ponselnya dan memberikan ponselnya pada pemiliknya.


Sementara Airin di sebrang sana mengepalkan tangannya emosi. Jantungnya bergemuruh hebat mendengar penuturan Elard di telinganya. Elard sama sekali tak ada waktu untuknya. Hanya pekerjaan yang ada di mata Elard saat ini.


Tentu saja dada Airin bergemuruh hebat. Apalagi Elard lagi lagi memutuskan sambungan telponnya lebih dulu.


“Brengsek..” umpat Airin tak lama dia membanting ponsel di tangannya.


Prakk..


“Kapan kau akan menerimaku Lion.”


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2