
“Sayang.”
Ara membuang wajahnya mendengar Elard lagi lagi memanggilnya. Masih tak ingin berbicara pada Elard untuk saat ini. Terlalu shock dan tak percaya dengan semua ini. Apalagi dirinya mendapatkan perlakuan yang seperti ini.
Elard menatap tak percaya melihat Ara memalingkan wajahnya.
“Ara om_”
“Ara ingin pulang om.”
Tak ada yang bisa Elard lakukan untuk saat ini. Dia membawa Ara kembali pulang apartemen. Tak ingin gadis kecilnya semakin marah dan membenci nya. Dia hanya bisa menuruti semua keinginannya.
Tak sampai satu jam, Elard memarkirkan mobilnya di basmen apartemen mewah miliknya.
Brak..
Elard kaget melihat Ara yang turun terlebih dahulu dari mobil. Dia keluar dari mobil dan mengejar Ara yang berlari menuju lift tau jauh darinya.
“Ara... “ seru Elard dan sialnya pintu lift tertutup. Elard menekan tombol di sampingnya. Tapi sialnya pintu lift di sampingnya juga sama.
Tak sampai lima menit pintu lift di sampingnya terbuka, Elard masuk ke dalam dan naik ke atas, dia mana apartemen miliknya berada.
Ting.
Deg.
Tubuh Elard mematung melihat siapa yang berdiri di depannya. Ara, gadis kecilnya berdiri di depan pintu lift dengan koper di tangannya.
“Sayang.”
“Biarkan Ara tinggal sendiri om, Ara tak ingin di tuduh menjadi simpanan om.” Sahut Ara dengan nada datar tanpa ekpresi pada Elard. Tak ada senyum di bibir seksinya. Hanya ada rasa kecewa dan tak percaya.
Elard kaget mendengar penuturan Ara di telinganya. Dia menggelengkan kepalanya dan melangkah dan mengambil koper di tangan Ara. Tapi sayangnya Ara tak melepaskan koper di tangannya dia justru menyingkirkan Elard dan menatap tajam Elard.
“Jangan membuat Ara semakin membenci mu om.”
Elard lagi lagi mematung mendengar suara dingin Ara di telinganya. “ jangan seperti ini sayang, daddy mu sudah menitipkan mu padaku.”sahut Elard lirih.
__ADS_1
“Jika benar om tak memanfaatkan Ara, jangan mencegah Ara pergi dari sini.”
“Sayang.”
Ara berbalik dan masuk ke dalam lift tanpa menoleh ke arah Elard. Sementara Elard sendiri, tubuhnya mematung tak bisa mencegah Ara pergi darinya. Hanya menatap ke arah pintu lift yang tertutup rapat.
Tak lama Elard terkesiap mendengar ponsel miliknya bergetar di saku celananya. Dia mengambil ponsel miliknya dan menempelkan ponselnya di telinganya. Rahang Elard mengeras mendengar penuturan pria di sebrang telpon. Emosinya semakin menjadi mengingat pipi Ara dan luka gores di dagunya.
“Aku akan membunuhmu Airin.”
Prakk..
Elard membanting ponsel miliknya dan melangkah masuk kedalam lift. Sampai di parkiran dia tak menemukan mobil Ara, itu artinya Ara benar-benar pergi dari apartemen miliknya tampan mendengar penjelasan darinya terlebih dahulu.
*
Brak.
Elard menendang pintu mension mewahnya. Dan melangkah lebar mencari keberadaan Airin.
“Kak.”
“Kak ada apa, apa kau tak merindukan ku.” Kata Selia menatap Elard tak yang mendorongnya. Elard tak menjawabnya, dia melangkah lebar mendekati pintu kamar Airin dan mengabaikan Selia. Sementara Selia yang di abaikan oleh Elard mencebikkan bibirnya. Dia kembali lagi kekamar miliknya.
Brak..
Airin berjengit kaget mendengar suara pintu yang terbuka lebar. Dia menoleh ke samping dan tersenyum lebar melihat suaminya berdiri di depan pintu. Airin yang baru mandi dan masih menggunakan handuk di kepalanya berdiri menghampiri Elard.
“Honey kau pulang.” Sapanya pada Elard.
Elard yang melihat Airin mendekatinya mencengkram erat dagu Airin dengan tangan kanannya.
“Sayang.” Kaget Airin melotot kan matanya dan memukul tangan Elard agar melepaskan lehernya.
“Beraninya menyakiti nya Airin.” Desis Elard dengan suara dingin di telinga Airin. Airin kaget mendengar penuturan Elard di telinganya. Dia memukul tangan Elard, tapi sayangnya Elard justru mengencangkan cengkraman tangannya.
“A_pa maksudmu sa_yang.” Kata Airin memukul tangan Elard. “Lepaskan aku.” Imbuh Airin lagi. Dadanya mulai sesak dan lehernya sakit bukan main karna cengkraman Elard di lehernya.
__ADS_1
Bruk..
Elard melepaskan tangannya dari Airin hingga Airin terjatuh di atas lantai dan terkulai lemas. Airin meraup udara sebanyak-banyaknya mengisi paru parunya yang sesak.
Elard berjongkok dan menarik rambut Airin. Airin yang kaget dan shock memegangi rambutnya. “Lion.” Lirih Airin.
“Berani menyentuh nya lagi, aku yakin membunuhmu Airin.”
Airin tertawa mendengar penuturan Elard telinganya. Dia meringis saat Elard mengencangkan tangannya pada rambutnya. “Siapa maksudmu Lion.” Sahut Airin mendongak memegangi tangan Elard di rambutnya.
Elard diam saja mendengar pertanyaan Airin. Rahangnya mengeras menahan emosi yang memuncak. Membunuh Airin, rasanya tak mungkin. Selain wanita ini adalah istrinya, dia juga yang akan membantunya nanti. Ya dia masih membutuhkan Airin saat ini. Tentu saja untuk Robert, permainan Airin dan Robert yang akan mengusir mereka semua yang berada di dalam mension mewahnya.
“Kenapa kau melakukan ini Lion.” Lirih Airin pada Elard. Elard yang mendengar pertanyaan Airin mengepalkan tangannya. Dia semakin mengencangkan tangannya pada rambutnya lagi.
“Siapa gadis itu Lion.” Desak Airin. Dadanya bergemuruh hebat menahan cemburu buta yang menguasainya.
“Kau akan tau siapa dia Airin. Jadi, jangan sekali kali kau mengusiknya atau menyentuhnya lagi. Aku bisa membunuh mu kapan saja.” Bisik Elard di telinga Airin dan melepaskan tangannya dari rambut Airin.
Elard kemudian berbalik dan melangkah keluar dari kamar Airin. Sampai di luar Elard berpapasan dengan Rain yang berjalan sempoyongan. Elard berdecih melihat mereka yang sama sekali tak berguna.
“Lion,” Sapa Rain mendekati Elard, tangannya menunjuk Lion. “Gara-gara kau kekasihku membenciku, dia memutuskan ku dan mengatakan aku tak bisa menyenangkan nya.” Gumam Rain meracau tak jelas. Sementara Lion menatap datar Rain, masih tak bergeming di tempatnya berdiri.
“Kau brengsek, semenjak kedatangan mu di mension ini. Kau sumber masalah, kau sumber kesengsaraan ku. Anak sia_”
Bug..
Brakk..
Elard emosi mendengar Rain mengatakan dirinya anak sialan. Dia mendekati Rain dan menginjak dada Rain dengan sepatu fantofel miliknya.
Tentu saja Rain meringis kesakitan. Dia memukul kaki Elard yang menginjak dadanya. Tapi pukulan orang mabuk sama sekali tak berguna.
“Bukan aku yang anak sialan, tapi kau lah yang anak sialan. Kau dan ayahmu hanya menjadi benalu di mension ku. Lihat saja aku akan menendang kalian semua dari sini.” Ucap Elard menekan kakinya pada Rain. Hingga Rain meringis kesakitan.
Elard lalu meninggalkan Rain yang terkapar tak berdaya. Sementara di balik tembok, Airin mendengar ancaman Elard pada Rain.
“Apa maksud Lion. Apa Lion akan menendang Robert, bukan menendangnya.” Gumam Airin. Dia sendiri sangat senang mendengar jika suaminya akan mengusir Robert dan kedua anaknya. Tapi dia sendiri juga was was karena Lion juga mengancamnya.
__ADS_1