
Elard mengerjapkan matanya dan tersenyum mengingat percintaan panasnya bersama Ara. Dia meraba raba di sampingnya dan membuka matanya perlahan saat tak menemukan Ara di sampingnya.
Elard kaget saat Ara benar benar tak ada di sampingnya. Dia bangun dan menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya lalu berjalan menuju kamar mandi.
“Ara.. Sayang..” tak ada sahutan dari dalam, Elard mendobrak pintu kamar mandi, hingga terbuka lebar. Padahal pintu kamar mandi sendiri tak terkunci dari dalam.
“Ara.. “ seru Elard saat tak menemukan Ara di kamar mandi. Wajahnya pucat pasi dan berbalik mendekati pintu kamarnya. Elard mengumpat saat menyadari dirinya sama sekali tak berpakaian. Elard menyambar boxer miliknya dan memakainya asal, lalu kemudian keluar dari kamarnya.
“Tuan.” Jefri kaget melihat pintu yang terbuka dari dalam saat dirinya hendak mengetuk pintu kamarnya.
“Dimana Ara Jefri,” Seru Elard melangkah lebar mencari keberadaan Ara dan berteriak memanggil Ara. “Ara, Queen.” Teriak Elard mengedarkan pandangannya ke sembarang arah.
Belum hilang rasa terkejut nya melihat tuannya keluar tak memakai pakaian, Jefri di buat terkejut lagi mendengar suara teriakan Elard di telinganya. Dia mengikuti langkah tuannya turun kebawah, yang berteriak dan mengedarkan pandangannya.
“Jefri dimana Arabelle,” Elard berteriak kencang pada asistennya.
“Nona,”
“Ya Arabelle, dimana dia.” Ulang Elard dengan nada dinginnya.
“Saya tidak melihat nona Ara sejak saya datang tuan.” Sahut Jefri menundukkan wajahnya, Jefri sendiri tak tau ada apa dengan tuannya. Banyak luka gores di dada Dan lengan tuannya, dia yakin jika itu adalah bekas kuku. Tapi kuku siapa yang menggores tubuh tuannya dan kenapa dia mencakar tuannya.
Mendengar jawaban Jefri di telinganya wajah Elard semakin ketakutan. Ara tak ada, itu artinya Ara pergi usai mereka ber cinta. Elard mengutuk kebodohannya sendiri, kenapa dia bisa tertidur sangat pulas semalam dan tak tau Ara pergi meninggalkan nya.
Ya selama ini Elard memang tak pernah tidur nyenyak dan tenang. Dia akan selalu mengigau dan terbangun saat dirinya tidur sebentar saja dan tak akan bisa tidur lagi meski matanya terpejam sekalipun. Semua ini terjadi sejak bertahun-tahun lalu, semenjak dirinya pergi dari mension Sky.
__ADS_1
Elard berpikir semua itu karna rasa dendamnya terhadap Sky, dia tak bisa tidur dan gelisah karna rasa bencinya. Tapi semenjak bertemu dengan Ara tiga tahun lalu, untuk pertama kalinya lagi, ternyata semua itu karna Ara. Rasa cinta nya yang terpendam pada gadis kecil miliknya lah yang membuatnya tak bisa tidur selama ini.
Itu sebabnya saat Ara di sampingnya, dia tertidur sangat pulas, bahkan sangat pulas. Terlebih dia baru saja mendapatkan pelepasannya yang selama ini dia pendam pada gadis nya.
Elard berlari menaiki anak tangga lagi dan masuk ke dalam kamar nya, Elard membuka lemari pakaian nya dan menyambar pakaian miliknya dan memakainya. Hanya butuh waktu beberapa menit Elard mengambil ponsel dan kunci mobilnya kembali keluar dari kamarnya. Tak perduli dia yang belum membersihkan dirinya sekalipun. Elard juga tak perduli bau feromon yang tercium di tubuhnya. Saat ini hanya Ara yang ada di kepalanya.
Jefri kembali lagi, kaget melihat tuannya kembali keluar kamarnya dengan langkah lebarnya.
“Tuan.”
Elard sama sekali tak melirik atau menoleh sekalipun pada Jefri. Dia menuruni anak tangga dengan langkah lebar dan keluar dari apartemen miliknya tanpa menghiraukan Jefri yang mengikutinya.
“Ara, angkat ponselnya sayang.”
*
“Apa robeknya sangat lebar.” Gumam Ara kembali men scrol ponsel miliknya, mencari tau tentang apa yang dia alami saat ini. Sejak keluar dari apartemen Elard, Ara sudah mencari tau di ponselnya.
Ara keluar dari apartemen Elard sejak empat jam yang lalu saat Elard benar-benar tertidur pulas. Dengan tertatih menahan rasa sakit di area sensitif nya, dia berhasil keluar dari apartemen Elard tanpa di sadari oleh Elard.
Ara sengaja, pergi diam diam dari Elard. Dia tak ingin menjadi bodoh, dan terlihat menyedihkan di depan Elard. Apalagi harus meratapi nasibnya yang malang di depan Elard karna kehilangan keperawanannya.
“Jadi benar benar robek, Tuhan apa benar seperti ini.” Desah Ara mengusap wajahnya berulang kali. Menyesal, jelas saja dia sangat menyesal telah berbuat bodoh. Tapi untuk menangisi apa yang sudah terjadi, dia tak akan melakukannya, karna sebenarnya dia sendiri rela melepaskan mahkotanya pada Elard. Mungkin karna rasa di hatinya, dia rela melepaskan nya untuk Elard.
Tapi ada sedikit rasa benci dan sesal jika apa yang dia pikirkan benar adanya. Bagaimana jika Elard hanya memanfaatkan nya demi membalaskan dendamnya pada ayahnya. Jika semua itu benar, dia akan sangat membenci dirinya sendiri yang bodoh. Telah melepaskan keperawanannya pada pria yang memanfaatkan nya.
__ADS_1
Ara sendiri tak tau, kenapa dia bisa terbuai begitu saja dengan Elard. Dia diam saat Elard membawanya dan membopongnya ke apartemennya. Dia sama sekali tak menolak, bahkan dia sendiri justru merasa bahagia mendapatkan perlakuan lembut dan manis Elard semalam.
“Bagaimana jika daddy tau,”desah Ara berulang kali mengusap wajahnya kasar.
Tak lama ponsel di sampingnya berdering dan membuat Ara berjengit kaget. Ara menyambar ponsel di sampingnya dan memejamkan matanya saat melihat siapa yang menelponnya.
“Ya, maaf aku akan datang sebentar lagi.” Ara membuang ponselnya kembali di sampingnya dan berjalan menghampiri lemari pakaian nya. Hari ini dia lupa jika ada pemotretan di salah satu agency. Ara sedikit kesal dan mengutuk dirinya sendiri yang bodoh dan melupakan semuanya.
*
Bruk..
Rain terjengkang ke belakang saat tubuhnya di dorong oleh Airin. Tangannya terkepal dan rahangnya mengeras melihat Airin yang berani padanya.
“Jangan pernah melakukannya lagi padaku Airin.”
“Apa, hemm. Apa kau akan mengancamku Rain. Dengar Rain, aku sudah memberikan apa yang kau inginkan selama ini. Tapi kau sama sekali tak bisa melakukan apa yang ingin ku inginkan. Kau gagal membunuhnya, brengsek.” Teriak Airin di dalam kamarnya, dia mengamuk pada Rain.
“Kau berjanjikan akan membunuh gadis itu untukku. Tapi apa Rain, jangankan membunuhnya, melukainya saja kau tak bisa sama sekali. Dan Elard justru membawa nya bersamanya semalam Rain, kau dengar itu.” Airin masih berteriak keras pada Rain.
Marah dan emosi saat lagi lagi dia harus gagal membunuh Ara. Terlebih dia melihat bagaimana Elard menciumnya lalu kemudian membopongnya masuk ke dalam mobilnya. Dia yakin mereka pasti menghabiskan malam bersama lagi. Seperti sebelumnya, tinggal di apartemen yang sama.
“Brengsek.”
__ADS_1