Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab. 42# Emosi Elard


__ADS_3

“Lion.” Seru Robert mengeratkan giginya emosi mendengar penuturan keponakannya. Tak lama kemudian Robert menggelengkan kepalanya, Elard tak mungkin melakukan semua itu padanya. “Jangan bercanda Lion, perbaiki milik paman. Paman tak bisa menggunakannya.” Lanjut Robert mengeluarkan dompetnya dari dalam saku celananya.


Elard tersenyum miring melihat Robert. “Apa untuk membeli mobil untuk putri mu paman.” Robert mengangguk mengiyakan ucapan Lion.


Elard mengambil sesuatu dari dalam laci miliknya dan menulis jumlah nominal lalu memberikannya pada Robert.


“Apa ini Lion,” tanya Robert mengambil satu lembar kertas di tangan Elard. “Untuk mengganti uang mu, hadiah dari ku untuk putrimu. Anggap saja mobil itu dariku.” Sahut Elard.


Robert semakin mengeratkan giginya emosi mendengar penuturan Lion. Wajahnya merah padam, jika Elard ternyata benar-benar melakukannya. Memblokir semua kartu ATM miliknya. “Apa maksudmu Lion,” geramnya menahan emosi dengan dada yang naik turun.


“Tidak ada, aku rasa itu sudah cukup untuk mu selama ini paman. Aku membebaskanmu bukan berarti kau bebas melakukan apa pun dan menghabiskan semua uang milik opa, paman.” Jawab Elard.


“Lion,_”


“Paman sudah menghabiskan hampir separuh uang milik opa. Aku rasa itu sudah cukup selama ini.” Potong Elard lagi.


“Apa semua ini gara gara gadis sialan itu Lion.” Desis Robert, wajahnya semakin merah padam mengingat putri Sky. Ya gadis itu pasti yang sudah menghasut Elard. Selama ini Elard tak pernah mempermasalahkan semua itu. Dan tiba-tiba saja Elard memblokir semua kartu ATM yang ada padanya, kecuali miliknya sendiri dan semua itu pasti karna putri Luis.


“Jangan pernah menyebutnya gadis sialan brengsek.” Teriak Elard emosi saat telinganya mendengar Robert mengatakan Ara gadis yang tak baik.


Robert terkekeh mendengar suara teriakan Elard. “Kenapa Lion, apa kau sudah lupa jika dia adalah putri dari pria yang sudah membunuh ayahmu.” Seru Robert.


Elard diam mendengar seruan Robert. Hanya matanya yang menatap tajam pada pria paruh baya yang selama ini dia anggap orang tua. Tapi lama kelamaan Elard tau tujuan Robert yang sebenarnya. Dan dia juga tau tujuan keluarga nya yang lainnya. Tapi selama ini Robert lah yang sudah mengusir mereka dari mension.


Ya Elard akui dia berhutang banyak pada Robert. Itu sebabnya dia membiarkan Robert memakai uang itu. Tapi Elard mengganti nya selama ini. Dan dua hari lalu, Elard memblokir semua kartu ATM yang ada pada Robert. Elard sudah menyumbangkan semua uang itu untuk pantai asuhan dan gelandangan.


“Ingat Lion, dia gadis dari pria yang sudah membunuh ayahmu. Seharusnya kau memanfaatkannya dan membalaskan dendam mu pada Luis.” Seru Robert kembali dan Elard hanya diam saja mendengarnya.


“Aku tau apa yang harus kulakukan Robert. Memanfaatkannya atau membalaskan dendam ku pada Luis itu bukan urusan mu.” Desis Elard.

__ADS_1


Sementara Ara yang berdiri di depan pintu meneteskan air matanya mendengar penuturan yang keluar dari bibir Elard. Sejak tadi dia terus memikirkan ucapan wanita yang menjadi istri pria yang menjadi suruhan ayahnya. Tapi setelah dia mendengar semuanya dengan telinganya sendiri. Ara sungguh kecewa dan shock. Ternyata dia bukan suruhan ayahnya, melainkan orang yang memanfaatkan dirinya untuk membalaskan dendamnya pada ayahnya.


Kaki Ara terasa lemas bukan main. Luka di pipi dan dagunya sama sekali tak terasa di bandingkan dengan perasaan kecewanya pada Elard. Tanpa sengaja tangannya yang bergetar menjatuhkan buku yang di pegangnya.


Bruk.


Jefri dan Robert berbalik mendengar suara jatuh dari luar. Begitu juga dengan Elard, dia mendongak menatap pintu yang sedikit terbuka. Matanya seketika melotot melihat siapa yang berdiri di depan pintu ruangan miliknya.


“Ara.” Jantung Elard berdetak lebih kencang melihat Ara berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka. Elard yakin jika itu adalah Ara.


Ara berjongkok mengambil buku miliknya yang terjatuh. Sementara Elard dia berdiri dari kursi kebesarannya dengan jantung yang berdebar kencang. Melangkah perlahan mendekati pintu dan membuka pintu ruangannya sedikit lebar lagi.


“Sayang, kau baik baik saja.” Tanya Elard dengan nada yang gugup dan takut. Ya Elard takut bukan main melihat Ara saat ini. Dia takut Ara mendengar semua dan membencinya. Elard tak akan bisa jika gadis kecilnya membencinya.


“Ara baik baik saja.”


Jantung Elard semakin berdetak lebih kencang dan hatinya seperti di remas mendengar suara serak Ara di telinganya.


“Ara.” Kata Elard lirih. Ara masih tak bergeming mendengar panggilan Elard. Dia mengambil buku yang berserakan di atas lantai. Tangis yang sebelumnya dia tahan akhirnya keluar bebas dengan sendirinya.


“Apa kau mendengarnya nona.?”  Robert tiba tiba menghampiri mereka berdua.


Elard mengepalkan tangannya mendengar penuturan Robert. Tangannya terulur membantu Ara mengambil lembar kertas putih yang masih berserakan. Sepertinya Ara baru saja mendapatkan tugas kuliah.


Robert emosi mengingat karna gadis belia di depannya ini lah yang sudah membuat dia malu dan sial. Dia menarik rambut Ara hingga Ara yang tak tau hampir tersungkur.


“gadis ******.”


Bug..

__ADS_1


Brak..


Kali ini Elard benar benar emosi, dia melayangkan kepalan tangannya pada Robert. Hingga Robert terjengkang ke belakang dengan darah segar mengalir di hidung dan mulutnya. Ya Elard tak tanggung tanggung melayangkan kepalan tangannya barusan.


Emosi melihat rambut Ara di tarik oleh Robert. Beraninya Robert menyakiti Ara, terlebih di depannya langsung.


“Lion, apa kau akan membunuh ku karna perempuan sia_”


Buk..


Prang..


Kali ini Elard menendang Robert hingga tubuhnya menghantam Gucci besar di sudut ruangan. Jefri menatap Gucci yang hancur berkeping-keping. Sepertinya tuannya sangat marah besar kali ini.


Ara semakin bergetar ketakutan mendengar suara benda hancur di telinganya. Dia masih menundukkan kepalanya takut. Tak berani mendongak atau menatap siapa yang terluka.


Elard mendekati Robert dan berdiri di depannya. “Jangan pernah menyentuhnya sedikitpun.” Geramnya menatap tajam Robert yang terkapar tak berdaya di atau lantai. Elard tak perduli dia pria yang sudah merawatnya sekalipun. Elard tau apa tujuannya.


Robert menatap Elard yang berdiri menjulang di depannya. Dia tak percaya jika keponakannya akan akan memukulnya dan hampir membunuhnya.


Sementara Elard menghampiri Ara dan menggendong Ara seperti koala. Tak perduli Ara akan marah padanya dan berontak sekalipun. Tapi ternyata Ara tak berontak di gendongannya.


“Ara membencimu om.” isak Ara di gendongan Elard, wajahnya bersembunyi di ceruk leher Elard. Tangisnya seketika pecah di pelukan Elard. Sementara Elard sendiri tak perduli dengan Robert yang berada di dalam ruangannya. Apalagi saat merasakan tubuh Ara yang bergetar. Dia yakin Ara shock dan ketakutan saat ini.


Elard masuk ke dalam lift dan keluar begitu saja bersama Ara di gendongannya. Elard tak perduli tanggapan karyawan nya yang menggendong Ara.


 


 

__ADS_1


__ADS_2