
Ara mengerjakan matanya saat mendengar suara berisik di telinganya. Dia menoleh ke samping dan mengerutkan keningnya melihat dua wanita sedang membongkar salah satu box yang berukuran sedikit besar.
Ara bangun dan mendudukkan bokongnya di atas ranjang, dia mendesah kasar saat melihat hari yang hampir malam. Ara mengingat kembali kenapa dia bisa ada dalam sini dan tak lama dia ingat jika sebelumnya Elard datang menemuinya saat di sini melakukan pemotretan. Menciumnya di depan para karyawan dan tak lama dia tak tau lagi apa yang terjadi.
Dan sekarang dia berakhir di salah satu kamar, yang cukup mewah dan bersih.
“Nona.”
Ara berjengit mendengar seruan salah satu wanita di sampingnya. Dia tersenyum membalas sapaannya dan melirik gaun putih yang cukup mewah di tangan mereka.
“Siapa kalian, kenapa aku ada dalam sini.?” Tanya Ara mengedarkan pandangan nya ke sembarang arah.
“Nona sebaiknya anda membersihkan diri terlebih dahulu.”
Ara mengerutkan keningnya mendengar penuturan salah satu dari mereka. “Ayo nona anda saya yakin anda akan sangat cantik makam ini memakainya.”
Ara yang bingung berdiri dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia berpikir mungkin akan ada pemotretan selanjutnya. Karna sebenarnya dia masih belum berpikir jernih.
Sementara Elard melirik kearah pria tua yang duduk tak jauh dari nya.” Anak muda, aku sudah terlalu lama menunggu nya.”
Elard mendesah kasar, “Setengah jam lagi tuan,” sahut Elard.
*
Ara bingung menatap dirinya di depan cermin yang berukuran besar. Dia melirik ke arah tubuhnya sendiri lalu menggelengkan kepalanya mengusir pikiran bodohnya. Gaun panjang yang terlihat sangat mewah melekat di tubuhnya yang ramping dan kecil.
Dia bingung, apa dia terlibat pemotretan malam ini. Kenapa dia memakai gaun panjang seperti ini. Di mana asisten pribadinya, kenapa tak mengangkat telponnya sejak tadi. Entah apa yang dia lakukan sebenarnya, kenapa dia memakai pakaian seperti ini, tapi dia sendiri tak ada di sampingnya.
“Pergi kemana dia,” gumam Ara tak lama dia menoleh ke arah dua wanita yang menemaninya sejak tadi.
“Gaunnya sangat pas di tubuh anda nona. Anda juga sangat cantik.”
Ara tersenyum “Terima kasih, kalian terlalu berlebihan.” Sahutnya, masih tak mengerti. “Ayo nona, tuan sudah menunggu anda.” Ucap salah satu wanita di sampingnya.
Dan Ara dia masing bingung dan mengerutkan keningnya mendengar penuturannya. Tak ayal dia berjalan mengikuti arahan dari kedua wanita di sampingnya. Tangannya mengangkat gaun panjang berwarna putih tulang. Ara mengedarkan pandangan nya ke sembarang arah. Tempat ini terlihat tak asing menurutnya. Dia sering menjumpai tempat seperti ini, tapi dia yakin dia tak pernah datang kemari
Tak jauh darinya Elerd berjalan menghampiri Ara dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
Jantungnya berdetak kencang melihat gadis kecil milik nya terlihat sangat cantik. Dia seperti putri di negri dongeng yang pernah dia lihat.
Sementara Ara yang melihat Elard semakin tak mengerti. Dia menoleh ke belakang bingung saat tak mendapati dua wanita di belakangnya. Dia pikir mereka berdua mengikutinya, ternyata mereka tak mengikutinya sama sekali.
“Aku menunggumu dari tadi.”
Ara berjengit kaget mendengar suara serak di telinganya. Dia menoleh dan seketika jantungnya berdetak kencang saat melihat Elard sudah berdiri tempat di depan nya.
“Kau sangat cantik, sayang.” Puji Elard menarik lembut telapak Ara agar mengikutinya. Sementara Ara, pandangan nya tak beralih menatap wajah Elard yang terlihat sangat berbeda hari ini. Kakinya terus melangkah bersama Elard hingga Elard mengajaknya berhenti.
“Apa tuan dan nona sudah siap.”
Lagi-lagi Ara berjengit kaget mendengar suara asing di telinganya. Dia menoleh ke samping dan mengerutkan keningnya melihat seorang pria tua berdiri di depan nya.
“Kita akan menikah sayang.”
Deg..
Jantung Ara berdetak semakin kencang mendengarnya. Dia menoleh ke arah Elard, pandangan matanya menatap mata elang Elard yang terlihat sayu. Sungguh apa yang di dengar nya kali ini membuatnya tak percaya. Dia akan menikah hari ini bersama Elard. Bagaimana mungkin Elard akan menikahinya tanpa bicara dulu dengannya.
“Maaf sekali lagi saya bertanya, apa anda berdua siap menikah.”
Bukan karna dia yang sudah merebut mahkotanya, tapi karna dia benar-benar mencintai nya dan ingin menjadikan Ara miliknya.
Elard tersenyum, paksa melihat Ara yang diam. Itu artinya Ara tak ingin menikah dengannya. Apa dia salah tiba-tiba membawa nya kemari dan ingin menikahinya. Ya seharusnya dia mengatakannya lebih dulu pada Ara.
“Tuan seba_”
“Ya saya bersedia.” Elard menoleh kembali mendengar jawaban Ara.
“Ya aku bersedia menikah dengan nya.”
*
“Tuan Lion membawa pergi wanita itu nyonya.”
Airin mengepalkan tangannya mendengar suara di balik telpon genggamnya. Kemana mereka pergi. Elard bahkan tak pernah datang saat dia fashion show, apalagi datang untuk pemotretan. Tapi ini dia bahkan datang menjemput wanita itu lalu membawa nya pergi bersamanya.
__ADS_1
“Nyonya apa saya perlu mengirimkan fotonya untuk hari ini.”
“Ya.”
Airin mematikan sambungan telponnya, dan tak lama beberapa notif pesan di ponselnya masuk. Tanpa menunggu lama Airin membuka pesan di ponselnya yang di yakini adalah foto Elard.
Prak..
“Brengsek, kau ****** aku akan membunuh mu.”
Hua.. Hua...
Airin menoleh dan semakin mengeratkan giginya emosi mendengar suara tangis balita di bawah kakinya. Dia semakin emosi saat tangannya memegang kakinya.
“Menyingkir dari ku.”
Huaa..
Tangis putranya semakin kencang hingga terdengar di telinga Robert. Dia mengeratkan giginya emosi melihat Airin memarahi putranya.
“Apa yang kau lakukan Airin,” teriak Robert semakin emosi pada Airin saat dia melihat Airin melepaskan paksa tangan kecil putranya hingga dia jatuh terduduk di atas lantai.
“Kenapa Robert, karna dia aku bercerai dengan Elard. Karna dia aku hancur seperti ini Robert. Dan ingat Robert kaulah yang menginginkannya lahir di dunia ini. Jadi jangan paksa aku untuk bersikap lembut padanya.
“Kau memang ****** Airin.”
“Ya aku memang ******, aku ****** karna kau dan putra mu yang brengsek itu Robert.” Airin balas berteriak pada Robert. Sementara Robert mematung mendengarnya. “Kaulah yang ****** Airin.”
Airin tak perduli dengan putranya, apalagi perduli dengan Robert. Dia hanya menginginkan Elard.
“Airin.” Robert berteriak memanggil Airin yang meninggalkan putranya menangis di lantai. Dia mengeratkan giginya emosi. Robert berjalan menghampiri putranya dan memanggil salah satu pelayan agar membawa putranya.
Dan tak lama kemudian seorang pelayan wanita berjalan menghampiri majikannya dan menggendong balita berusia hampir tiga tahun kedalam gendongan nya.
“Lion Lion dan Lion, kau memang brengsek Lion.” Umpat Robert emosi. Tak lama kemudian ponselnya berdering di saku celananya. Robert mengerutkan keningnya melihat nomor asing di ponselnya.
“Halo.”
__ADS_1
“Kau ingin mension mu hancur tuan,”
“Kau, apa maksud mu.”