
Airin turun dari mobilnya dengan langkah gontai masuk ke dalam mension mewah suaminya. Hari sudah larut dan dia baru kembali dari pesta. Dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan mobil suaminya dan ternyata mobil Elard tak ada di salah satu jajaran mobil itu.
Airin mengepalkan tangannya mengingat Elard lagi lagi tak kembali pulang. Airin mengambil ponsel miliknya dan menghubungi seseorang.
“Apa kau sudah menemukan siapa wanita itu.”
Airin mengeratkan giginya emosi mendengar penuturan pria di balik telpon genggamnya. Dadanya bergemuruh hebat mengingat Elard menyembunyikan perempuan lain yang menjadi selingkuhan nya.
“Cari wanita itu dan bunuh dia, dia sudah merebut suami ku dariku.” Teriak Airin mematikan sambungan telponnya dan melangkah cepat masuk ke dalam mension.
Brak..
Sampai di kamarnya Airin menutup pintu kencang dan melemparkan tas mewah miliknya ke sembarangan arah.
“Brengsek.”
“Darimana saja kau baru pulang Airin.”
Airin berjengit mendengar suara tak jauh di telinganya. Airin menyalakan lampu di belakangnya dan tak lama emosi Airin semakin memuncak saat melihat siapa pria yang turun dari ranjang besar miliknya.
“Beraninya brengsek.” Teriak Airin nyaring.
Robert tersenyum mendengar teriakan Airin. Dia berjalan mendekati Airin dan memeluknya. Tapi sayangnya Airin mendorong tubuhnya hingga tubuh tuanya terlepas begitu saja dari pelukan Airin.
“Jangan pernah berani padaku brengsek.”
Robert tak mengindahkan teriakan Airin. Dia kembali memeluk Airin dan mengecup tengkuk leher Airin yang terbuka.
“Aku menginginkan mu Airin.” Nafas Airin semakin memburu menahan emosi yang memuncak. Dadanya bahkan kembang kempis mendengar permintaan Robert di telinganya.
“Menyingkir dari ku brengsek.”makinya lagi. Airin emosi bukan main melihat wajah Robert yang menatap nya penuh nafsu padanya.
“Aku tau kau sangat kesepian Airin. Kau dan aku sama. Jadi aku bisa tau kau juga menginginkan nya. Anggap saja jika aku suami mu.” Papar Robert panjang lebar pada Airin yang menatap nya benci.
Cih..
“Aku tak sudi tidur dengan mu lagi Robert. Masih banyak yang menginginkan ku di luar sana. Jadi jangan macam macam padaku apalagi menyentuh ku.” Teriaknya keras hingga menggema di seluruh ruangan.
Robert mengepalkan tangannya mendengar teriakan Airin padanya. Dia mencengkram erat bahu Airin, tapi Airin lagi lagi menyingkirkan nya.
“Pergi dari sini atau Elard akan mengetahui ke brengsekanmu tuan.” Ancam Airin menatap Robert penuh kebencian. Aku yakin suami ku akan mengusir mu dari mension ini.” Imbuhnya lagi.
Dan Robert mengepalkan tangannya mendengar ancaman Airin. Sementara Airin membuka pintu kamarnya lebar dan menatap tajam pada Robert agar keluar dari kamarnya.
Tentu saja mau tak mau Robert keluar dari kamar Airin. Dia tak ingin Airin mengadukannya pada Elard. Apalagi melihat tatapan Airin padanya. Robert yakin Airin akan mengadukannya pada Elard.
__ADS_1
Brak..
“Brengsek.”
*
Cup.
“Sayang bangun.” Bisik Elard di telinga Ara yang masih tertidur pulas. Pagi ini, jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Elard membangunkan Ara bukan untuk kuliah dan sebagainya, tapi karna Ara melewatkan sarapannya.
“Sayang.”
Cup.
Ara terusik dan menggeliat dalam tidurnya. Dia mengerjapkan matanya berulang kali. Elard yang melihat mata Ara mengedip mengecup keduanya.
Dan Ara menyingkirkan wajah Elard yang membuatnya geli. Ara mengedarkan pandangan nya dan kembali menoleh pada Elard yang duduk di sampingnya. Tak lama Ara melototkan matanya menyadari hari sudah siang.
“Om Ara terlambat kuliah.” Pekik Ara membuang selimut yang menutupi tubuhnya dan turun dari ranjang. Tapi karna kepalanya yang masih pusing akibat semalam dan baru bangun, Ara jatuh dan terjerembab ke lantai.
Bruk..
Aw..
“Om Ara terlambat,” sahut Ara berkaca kaca jika dia terlambat datang ke kampus.
Elard menghembuskan nafasnya perlahan mendengarnya. Dia menggendong Ara dan membawanya ke kamar mandi. Ara yang masih pusing hanya diam saja. Tapi tak lama kemudian, Ara mengerutkan keningnya saat dia tak memakai baju dan bra miliknya.
Seketika Ara menutupi barang berharga miliknya dengan kedua tangan tangannya.
“Sayang ayo man_”
“Stop om jangan melihat ku,” seru Ara dan Elard justru melihat kearah nya karna kaget mendengar teriakan Ara.
“Om.” Jerit Ara saat Elard tak mengindahkan peringatannya.
Elard membuang wajahnya kembali melihat mata Ara yang melotot padanya.
“Om keluar.” Usir Ara pada Elard.
“Sayang kau belum mandi.” Sahut Elard berbalik tapi kemudian dia kembali ke posisi semula saat melihat wajah Ara yang marah padanya.
“Keluar.” Usirnya lagi.
“Sayang biarkan om yang meman_” Elard menutup bibirnya mengingat sesuatu. Tak lama dia mengumpat dirinya yang bodoh. Tentu saja Ara bukan balita, tapi gadis remaja yang punya rasa malu.
__ADS_1
“Om.”
“Ya sayang om akan menunggu di depan pintu. Beritahu om om jika sudah selesai.” Elard melangkah mendekati pintu dan keluar dari dalam. Elard menunggu Ara di depan pintu dan bersandar di tembok. Dia takut Ara akan terjatuh, karna dia tau Ara masih terpengaruh oleh alkohol.
Di dalam kamar mandi. Ara membuang pakaiannya dan masuk ke dalam bathub yang sudah di siapkan Elard. Ara belum menyadari jika tubuhnya banyak tanda merah dari Elard.
Dan tak lama kemudian Ara keluar dari bathub dan membersihkan dirinya di bawah shower.
Akkrr..
Brak..
“Sayang ada apa,” tanya Elard mendobrak pintu dan menghampiri Arabelle.
Bug..
*
Elard melirik ke arah Ara yang melipat wajahnya. Dia meletakkan susu dan sarapan untuk Ara. Elard mengulas senyum tipisnya mengingat saat di kamar mandi. Ara berteriak ketakutan karna shock melihat tanda merah di dada dan lehernya.
“Kenapa om tidak bilang di kamar ini ada semutnya.” Keluh Ara yang mengira tanda merah di leher dan dadanya karna semut.
“Maaf sayang, om lupa menyemprot nya.” Sahut Elard menyakinkan kebohongan nya sebelumnya.
Ck..
Ara berdecak dan kembali mengangkat kaca yang lumayan besar di tangannya. Melihat lehernya dan meraba nya kembali.
“Apa semutnya sangat besar, hingga Ara tak merasakan sakit.” Beonya kebingungan dan menoleh ke arah Elard yang berdiri tak jauh dirinya.
Elard hanya mengangguk-angguk kepala nya mendengar penuturan Ara.
“Ara tidak mau tinggal disini, di apartemen Ara tak ada semut om.” Serunya lagi.
“Tidak sayang, kau tuduh boleh kemana mana. Di sana lebih berbahaya untuk mu.” Menambah kebohongan lagi. Elard menyodorkan gelas susu pada Ara dan roti panggang untuknya.
Tanpa menolak Ara menerima susu yang Elard berikan. Tapi bibir nya mencebik mendengar penuturan Elard di telinganya.
“Besok om akan menyemprotnya sayang, om janji.”
Cup..
“Ara akan kembali tinggal di apartemen kalau masih ada semut besar disini.” Sahutno mengedarkan pandangannya ke sembarang arah. Ya Elard bilang semalam Elard melepaskan baju dan bra miliknya karna Elard yang melihat semut merayap di dalam tubuhnya. Itu sebabnya banyak tanda merah di tubuhnya sekarang.
__ADS_1