Hasrat Terpendam Sugar Daddy

Hasrat Terpendam Sugar Daddy
Bab. 20# Benci dan rindu


__ADS_3

Elard keluar dari mobil dan melangkah lebar menghampiri pintu mension mewahnya. Jefri yang berjalan mengikuti langkah tuannya dari belakang juga bingung. Setelah mengamuk di perusahaan dan memecat karyawan miliknya. Tuannya pulang ke mension mewahnya dan kembali mengamuk.


Bug..


“Bodoh.” Seru Elard pada salah satu pengawal mension mewahnya yang berdiri di depan pintu.


“Maaf tuan.”


Robin yang melihat keponakannya mengamuk mengerutkan keningnya. Dia melangkah mendekati Elard yang masih memukul dua bawahannya.


“Ada apa ini Lion.”


Bruk..


“Aku tak suka, mereka yang tak menunduk padaku.” Seru Elard melangkah lebar masuk ke dalam mension. Tak perduli dengan Robin yang melihatnya aneh dan bertanya tanya. Kali ini Elard hanya ingin melampiaskan amarahnya pada siapapun yang ada di depannya.


Brukk..


“Honey kau tak menjemput ku di bandara. Aku merindukanmu.” Ucap Airin memeluk Elard tiba-tiba. Dia memang merindukan suaminya saat ini.


Sementara Elard mengeraskan rahangnya melihat Airin tiba-tiba memeluknya. Apalagi saat mendengar penuturan Airin di telinganya. Elard mendorong  Airin dan mencengkram bahunya erat.


“Jangan melebihi batasanmu Airin. Aku sama sekali tak menyukainya, kau mengerti.” Desis Elard melotot tajam pada Airin. Emosi dengan kenyataan yang mengatakan jika Ara adalah putri dari Luis terus saja masih menguasainya. Elard masih belum bisa memaafkan Luis dan masih sangat membencinya. Tapi lagi lagi Elard tak bisa membuang rasa cintanya pada gadis belia yang sudah mencuri hatinya sejak kecil.


Kejadian beberapa hari yang lalu, saat dia menghancurkan manekin milik Ara terus berputar di kepalanya. Apalagi saat mengingat mata Ara yang berkaca kaca, sungguh Elard tak bisa mengabaikan nya begitu saja. Bagaimana jika Ara membencinya.


“Sayang, apa yang kau lakukan padaku. Aku baru pulang Lion.” Seru Airin menatap suaminya tak percaya. Bukan hanya Airin yang kaget, Robin juga tak kalah kaget melihat Elard menyakiti Airin.


“Lion ada apa ini,?”


Elard melepaskan Airin dan melangkah lebar menaiki anak tangga tanpa menoleh ke belakang lagi. Sampai di kamarnya Elard masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan air shower.


Dadanya masih bergemuruh hebat. Nafasnya masih memburu menahan emosi yang Elard sendiri tak tau apa alasannya. Kenapa dia harus semarah ini hari ini. Bukankah dia sudah tau dan ingin membenci putrinya.

__ADS_1


“Luis brengsek, apa yang kau rencanakan sebenarnya. Cih.. “


Pyar..


Elard meninju kaca kamar mandi di kamarnya. Hingga tangannya terluka dan berdarah, Elard sama sekali tak merasakan semua itu. Emosi, benci dan rindu pada gadis miliknya masih terus menguasainya.


Jantungnya tak berhenti berdetak kencang mengingat nama Arabelle. Apalagi sekarang dia bisa melihat wajah cantik gadis pujaan nya. Bertahun tahun, dia memendamnya dan mencoba mengusir bayang bayang wajah mungil Ara. Gadis itu justru kembali muncul di depan matanya.


Wajah cantiknya, hidung kecilnya yang selalu dia gigit, di tambah lagi bibirnya yang selalu terbuka saat dia tertidur. Saat ini gadis kecilnya sudah remaja beranjak dewasa.


Bukan hanya kenyataan yang mengatakan jika Ara putri Luis. Tapi juga melihat Ara yang di cium oleh teman seniornya di kampus. Sungguh dadanya sangat panas dan bergemuruh hebat, emosinya kembali memuncak mengingat nya.


“Apa aku harus membunuhnya.” Gumam Elard tersenyum miring. Darah yang mengucur dari tangannya jatuh bersama air yang mengalir.


*


Sementara Arabelle memoles wajah cantiknya dengan bedak tabur miliknya. Ara tersenyum lebar di depan kaca besar di depannya. Malam ini dia akan pergi bersama dengan Emma menonton bioskop.


Baru pertama kalinya dia akan pergi bersama dengan Emma keluar malam seperti ini. Apalagi ini menonton bioskop terbesar di kota Las Vegas. Sebelumnya dia tak pernah menontonnya.


Ara mencebikkan bibirnya, mendengar ucapan Emma. Tak lama dahinya mengkerut melihat seorang pria tersenyum padanya.


“Dary..” serunya melirik ke arah Emma. Emma menundukkan kepalanya melihat sahabatnya menatap ke arahnya. Sementara Dary tersenyum melihat Queen yang kaget melihatnya. Dia mendekati Queen dan menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. Dan Ara hanya menghembuskan nafasnya perlahan. Dia pikir mereka hanya berdua, ternyata Dary ikut bersama mereka.


“Maaf Queen aku yang memaksa ikut.” Kata Dary.


Sementara Ara hanya melirik ke arah Emma saat Dary mendorongnya ke dalam mobil. Dia melirik ke arah Dary yang masuk di sampingnya. Ara yakin jika ini adalah mobil Dary.


Dary mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke tempat tujuan.


Matanya berulang kali melirik ke arah Queen yang duduk di sampingnya. Queen sangat cantik, dia seperti bidadari. Wajahnya yang imut, semakin terlihat cantik saat terkena lampu remang di dalam mobilnya.


Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai Dary sampai di dalam gedung bioskop terbesar di kota Las Vegas. Ara tersenyum lebar turun dari mobil Dary. Dia senang bukan main, ini adalah waktu pertama kalinya dia datang di tempat yang seperti ini.

__ADS_1


“Emma, ramai sekali.” Seru Ara menatap ke depan.


“Ayo.” Dary menarik tangan Ara dan masuk ke dalam gedung. Ara menoleh ke kanan dan ke kiri. Sesekali dia akan menghindari seseorang yang hampir menabraknya.


“Dary, kenapa kita tak masuk ke dalam.” Tanya Ara sedikit mendekatkan wajahnya pada Dary. Sementara Dary yang mendengar penuturan Queen tersenyum dan membawanya ke tempat yang tak terlalu ramai.


“Tunggu aku disini bersama Emma dan jangan kemana mana. Aku yang akan membeli tiketnya.” Seru Dary tersenyum melihat Queen yang tak sabar untuk masuk ke dalam.


Ara yang tak tau apa yang Dary ucap kan hanya menganggukan kepalanya mengerti. Tak lama kemudian Ara melihat Dary yang menjauhi nya dan meninggalkan nya bersama Emma.


“Emma, Dary bilang apa tadi.?” Bisik Ara, karna memang dia tidak tau. “Queen tunggu aku di sini, oke. Jangan kemana mana.” Sahut Emma kemudian berlari mencari sesuatu.


Sementara Ara kaget melihat Emma yang juga pergi meninggalkan nya.


“Emma.”


*


Sementara di mension, Elard kembali di buat berang saat mendengar jika Ara keluar dari apartemen bya dan pergi bersama dengan seorang pria.


Elard keluar dari kamarnya dengan wajah khawatir dan takut bukan main. Bagaimana jika seseorang melukainya dan bagaimana jika pria itu berbuat macam macam pada Ara.


“Brengsek aku akan membunuhmu sialan.” Umpat nya melangkah lebar keluar dari mension mewahnya.


Airin yang keluar dari dapur mengerutkan keningnya melihat suaminya pergi terburu-buru. Apalagi dia jelas mendengar umpatan suaminya di telinganya.


“Sayang kau mau pergi kemana.?” Seru Airin berusaha mencegah Elard.


“Sayang kau mau kemana.?”


Elard tak menggubris teriakan Airin. Dia masuk begitu saja ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya seorang diri dengan kecepatan tinggi menuju ke gedung bioskop, dimana Ara dan seorang pria berada di sana. Elard mencengkram erat setir kemudi nya.


“Berani menyentuh nya, aku akan membunuhmu brengsek.”

__ADS_1


 


__ADS_2